Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Putra sang penguasa (End)


__ADS_3

9 bulan kemudian, Zeno benar-benar panik dan mondar-mandir di depan kamarnya saat Turse berteriak kesakitan karena sedang melahirkan. Sebagai seorang ayah yang baru saja memiliki pengalaman pertama, Zeno benar-benar cemas dan hampir setengah mati disaat mendengar suara istrinya.


Dengan ditemani oleh para pilar yang mencoba untuk menenangkan Zeno yang tidak bisa begitu tenang. Namun, seketika suasana menjadi pecah saat terdengar suara tangisan bayi yang menggelegar. Membuat Zeno begitu bahagia sambil mengusap matanya.


“Selamat yang mulia, Anda telah resmi menjadi seorang ayah.” Leght sang pilar cahaya memberikan ucapan selamat terlebih dahulu.


“Akhirnya, ada sosok pangeran istana Nirwana yang akan membuat istana ini benar-benar menjadi ramai.” Drake begitu senang.


“Kau terlalu cepat untuk menyimpulkan, kita tidak tahu yang lahir pangeran atau putri.” Fore langsung menatap sinis Drake.


Pintu kamar Zeno terbuka, sosok tabib menggendong sosok bayi yang menangis dengan wajarnya karena baru saja keluar dari rahim ibundanya. Kemudian, Zeno melirik ke dalam kamar, melihat Turse yang tersenyum senang meskipun dia bermandikan keringat di keningnya.


“Selamat yang mulia, pangeran tampan lahir dengan sangat sehat.”


Zeno tidak bisa berkata-kata lagi, kemudian dia langsung menggendong sosok putranya yang begitu kecil dan sangat menggemaskan. Siapa yang menyangka, saat pangeran kecil itu digendong oleh Zeno, dia sedikit meredakan tangisannya dan kembali terdiam.


Selain itu, dia juga benar-benar tidak menyangka telah menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya di umurnya yang berumur 27 tahun. Sayangnya, kedua orang tua Zeno, dan dewi Luna sudah tiada, mungkin jika mereka melihatnya, mereka akan sangat senang.


“Yang mulia, apakah Anda sudah memutuskan siapa nama pangeran muda ini?” Tanya Winder sambil menyentuh pipi bayi yang berwarna merah.


“Kita putuskan di dalam”, Zeno langsung masuk ke dalam kamarnya dan mendekat ke arah Turse yang sama sekali tidak menghilangkan senyumannya. Kemudian, sembari menggendong putranya yang baru lahir, Zeno mengusap kening istrinya dan menciumnya.


“Terimakasih, kau benar-benar sudah berusaha keras.” Kata Zeno sambil mengangkat kepalanya usai mencium kening Turse.


"Itu memang sudah kewajiban."


“Dia benar-benar sangat mirip denganmu Turse.” Puji Zeno sambil membandingkan wajah anaknya dan Turse.

__ADS_1


“Jika dia dewasa, dia akan benar-benar sekuat dirimu. Kau tahu? Semasa di kandungan dia selalu menendang-nendang dengan sangat keras.” Kata Turse.


“Benarkah?” Zeno mengangkat alisnya dan memperhatikan putranya yang terlihat menguap seolah kantuk.


“Kau beri nama siapa Une?” Turse bertanya.


Zeno berpikir sejenak untuk memikirkan sebuah nama. Pasalnya, baru kali ini dia memutuskan sebuah nama untuk seorang anak, sehingga baginya itu benar-benar membuatnya begitu sulit. Namun, seketika sebuah nama terlintas di otaknya, “Theon? Fang Theon, putra ayah kini bernama Theon. Apakah kau setuju Turse?”


“Theon ya.” Turse tersenyum, “Nama yang cukup bagus.”


Zeno langsung meletakkan Theon kecil di sisi Turse agar dia bisa tertidur di samping ibunya. Kemudian, dia kembali mencium kening Turse dan mengusap lembut pipi Theon. “Jadilah anak ayah yang paling hebat, setidaknya bisa mengalahkan ayah. Karena Theon sudah diberkati delapan elemental yang berbeda-beda.”


Kemudian, Zeno ingin keluar untuk membiarkan istri dan anaknya beristirahat. Namun, saat dia menghadap ke belakang, para pilar dan yang lainnya tengah terdiam dan tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Leght sang pilar cahaya menahan mulut Eghting agar tidak berbicara meskipun itu lirih.


Zeno memberikan isyarat melalui tangannya agar semua dewa keluar karena tidak ingin istrinya atau Turse terganggu istirahatnya. Sehingga, semua yang masuk ke dalam kamar Zeno langsung keluar karena perintah Zeno.


Zeno menutup pintunya secara perlahan karena tidak ingin putra kecilnya terbangun. Saat dirinya menatap ke depan, banyak tatapan mata para dewa yang seolah ingin mengucapkan selamat kepada Zeno.


“Benar yang mulia, kelahiran pangeran Theon memerlukan sebuah pesta besar. Setidaknya agar ras dewa dan manusia mengetahuinya.”


“Tak perlu sebesar itu, selain itu biarkan para manusia tidak mengetahui bahwa aku adalah sosok sang penguasa dewa. Sehingga, kita perlu melakukan pesta kecil-kecilan di istana saja.” Jawab Zeno dengan singkat.


“Baiklah yang mulia, aku akan mempersiapkannya.”


....


“Ayah, ibu lihat!” Kata seorang anak kecil dengan wajah yang begitu tampan, rambutnya berwarna hitam legam dengan kisaran berumur tujuh tahun. Selain itu, di atas tangan kanannya muncul sebuah cairan hijau yang begitu kental.

__ADS_1


Zeno dan Turse yang sedang berbicara langsung menghampiri anak tersebut, namun, mereka berdua begitu terkejut saat melihat bahwa anak tersebut sudah memiliki peringkat dewa pemula tingkat pertama yang merupakan tahap awal seseorang memiliki peringkat.


Akan tetapi, Zeno tidak langsung membahas hal itu, apa yang menjadi penasaran mengenai apa yang akan ditunjukkan anak berumur tujuh tahun tersebut? melihat cairan hijau yang ada di atas tangannya, Zeno menjadi tersenyum, karena itu adalah elemen racun yang hanya membuat seseorang sesak selama beberapa detik, dan Zeno tahu jelas.


“Coba kau jilat.” Pinta Zeno bercanda.


“Tidak, Theon jangan turuti kata ayahmu!” Teriak Turse dengan cukup keras. Sayangnya, anak yang bernama Theon itu langsung menuruti perkataan ayahnya yaitu menjilat cairan hijau tersebut.


Melihat hal itu, Turse langsung menggenggam tangannya dan memukul kepala Zeno dengan cukup keras, membuat Zeno sedikit terlempar karena tenaga Turse yang begitu kuat. Meskipun begitu, Zeno tidak marah, dia hanya tersenyum cengengesan sambil menahan rasa sakit di pipinya.


“Lihat! Racun tersebut tidak bereaksi pada Theon. Bagaimana anak ayah? Bagaimana rasanya?”


“Pahit ayah.” Kata Theon sambil menjulurkan lidahnya dan melepehkan cairan hijau tersebut.


“Theon, jangan coba-coba menjilat cairan hijau tersebut. Itu adalah elemen racun.” Kata Turse berjongkok sambil membelai kepala anaknya, wajahnya terlihat begitu datar saat menatap Zeno.


“Aku sudah meminta Izin para pilar untuk turun ke alam manusia. Sehingga, ini waktunya agar Theon bisa bertemu dengan para sepupunya. Hanya sebentar, dan tidak lama, mungkin untuk melepaskan rindu dan mengunjungi makam ibu.” Zeno mengalihkan pembahasan sambil mengangkat anaknya yang kini tengah berada di gendongannya.


Benar-benar tidak menyangka, bahwa dirinya sudah 7 tahun memiliki seorang putra yang tumbuh kembang elemennya begitu cepat ketika disebut dewa.


Pasalnya, seorang dewa akan memiliki elemental di umur kelima belas tahunnya, tetapi Theon sendiri berumur 7 tahun sudah memiliki elemental. Mungkin karena Turse dan tubuh Zeno pada dasarnya adalah manusia.


“Aku juga cukup senang, karena sudah lama aku tidak bertemu dengan Nora dan Selena.” Jawabnya dengan raut wajah semula.


“Tunggu sebentar, bukankah ayah adalah dewa yang paling kuat. Tetapi mengapa tidak bisa menahan pukulan ibu?” Theon di gendongan Zeno mengerutkan dahinya karena begitu penasaran.


“Theon tampaknya tidak tahu ya, mungkin para pilar lainnya yang menganggap bahwa Ayah merupakan seorang dewa terkuat yang akan melindungimu. Tetapi nyatanya, ibumu jauh lebih kuat daripada ayah, bahkan ibu bisa membuat ayah terkapar pingsan.” Kata Zeno sambil memutar bola matanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Turse hanya terkekeh sambil mengikuti kemana suami dan anaknya pergi. Lebih tepatnya, mereka akan turun ke alam manusia secara langsung, melalui kuil gerbang yang telah dibangun kembali usai dihancurkan oleh Zeno.


(End)


__ADS_2