Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Tak sengaja


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Zeno beranjak pergi dari kamar tamunya, keluar dari istana tanpa pamit sedikitpun terkecuali kepada Fang An yang memang tidak sengaja dia bertemu di jalan keluar kerajaan. Sebenarnya, Fang An menahan Zeno untuk pergi dan tinggal di istana untuk beberapa lama, tidak, bahkan selamanya, namun Zeno menegaskan berulang kali bahwa dirinya memiliki sebuah desa yang harus dia jaga.


Mau bagaimana lagi, Fang an menghargai keputusan Zeno, namun dia juga kembali menegaskan bahwa Zeno bebas keluar masuk untuk keluar dari ibukota, atau bahkan kerajaan sekalipun. Maka dari itu, Fang An memberikan sebuah lencana keluarga Fang atau kerajaan agar bisa keluar masuk dengan lebih mudah.


Kali ini, dia pulang dengan tidak terlalu tergesa-gesa, berjalan biasa melewati perkotaan di ibukota kerajaan Fang dengan begitu biasa. Sehingga, kemungkinan dia datang adalah esok malam.


Lagipula, dia juga ingin melihat bagaimana suasana kehidupan di ibukota, banyak perdagangan yang menawarkan beberapa sumberdaya yang menurut Zeno sangat bagus, tak jarang dia juga memperhatikan sebuah sumberdaya yang dijual, namun Zeno sendiri tak mengetahui itu benda apa.


Selain itu apa yang dia harapkan, di ibukota ini dia bertemu dengan Turse. Yaah hanya berharap saja, siapa tahu memang bertemu betulan. Karena pada dasarnya, Zeno memang benar-benar rindu dengan Turse, dia juga penasaran, Turse berada di peringkat apa?


Di sela-sela perjalanannya, Zeno melihat ada sebuah perkumpulan orang yang membuat Zeno sendiri penasaran apa yang terjadi. Masalahnya, orang-orang tersebut bagaikan seperti ingin mendaftarkan sesuatu, karena mereka sedang berbaris.


Penasaran, Zeno ikut berbaris, tepat di belakang, kemudian, dia bertanya kepada seseorang yang ada di depannya, “Jika boleh tahu, ini ada apa?”


“Kau tidak tahu? Ada sebuah kompetisi yang mana hadiahnya adalah kristal lima warna dengan peringkat raja dewa tingkat ke sembilan.” Jawab orang tersebut.


“Kristal lima warna?” Tanya Zeno penasaran.


“Ada lima unsur elemen yang terkandung dalam kristal tersebut, air, angin, petir, tanah, dan api. Sumber daya itu benar-benar sangat langka, setidaknya dapat meningkatkan lima tingkat ketika hanya memiliki satu elemental seed. Selain itu, kita bisa menyerapnya jika memiliki salah satu dari kelima elemental tersebut, atau bahkan keduanya, ketiganya, atau mungkin juga semuanya.” Perjelas orang itu sambil mengangkat ujung bibirnya ketika menatap Zeno, “Aku berani bersumpah dalam pertandingan pertama kau hanya akan menjadi bahan olokan.”


“Lagi-lagi orang-orang memandang aku tidak memiliki peringkat?” Batin Zeno sambil menatap jijik orang tersebut. Namun, hanya karena orang tersebut masih mau memberikan penjelasan, Zeno tidak memiliki rasa untuk menghajarnya.

__ADS_1


Hal tersebut tentu saja membuat Zeno benar-benar tertarik, kapanlagi mendapatkan sebuah sumberdaya dengan peringkat tinggi dengan usahanya sendiri? Selain itu dirinya juga ingin bertarung dengan serius, melihat ada beberapa orang yang mendaftar dengan peringkat dewa murni ke atas, namun Zeno masih belum menemukan seseorang dengan peringkat raja dewa sepertinya.


“Tidak, apakah ini sebuah keberuntungan?” Siapa yang menyangka, Zeno menoleh ada wanita yang memiliki peringkat raja dewa tingkat kedua, satu tingkat di atasnya. Tentu saja itu membuat dia dikerumuni banyak orang karena selain memiliki peringkat yang tinggi, wanita itu juga sangat cantik dengan busur panahnya yang dia pegang.


Zeno melihat dengan membuka mulutnya, wanita itu dilindungi oleh pria berambut merah, pria bertubuh sedikit hitam dengan kepalanya yang sedikit botak, serta satu wanita dengan mengenakan jaket harimau putih yang mana wanita itu tidak memasukkan lengannya ke jaket tersebut, seolah jaket itu hanya menggantung di pundaknya. Masing-masing penjaga memiliki peringkat dewa murni.


Ketiga penjaga itu menjaga wanita yang semenjak tadi Zeno pandang dengan dikerumuni banyak orang, yang mana ketiganya tidak membiarkan untuk menyentuh sang wanita yang mungkin itu adalah nyonya mereka.


Zeno tersenyum manis saat memandang wanita yang memegang busur panah itu, dia merasa ini adalah sebuah keberuntungan dan cukup senang saat melihat peringkat dari wanita itu cukup tinggi. Setidaknya, dia akan memiliki lawan yang begitu hebat.


“Tidak, tidak jangan memandang ke sini.” Zeno memperhatikan wanita penjaga yang mengenakan jaket kulit hewan yang tidak sengaja akan menatap dirinya.


Zeno langsung memalingkan wajahnya, berharap sang wanita itu tidak mengenalnya. Namun siapa yang menyangka, Zeno merasa dengan sedikit melirik bahwa, wanita berdada besar dengan jaket itu yang mana sebelumnya bersedekap langsung berdiri tegak dan melangkahkan kakinya.


“Sudah kuduga, dia pasti berpikir seribu kali untuk mengikuti kompetisi ini.” Batin pria yang ada di depan Zeno berdiri.


.....


“Nyonya, aku akan pergi sebentar.” Kata wanita berjaket itu kepada tuannya, selain itu hidungnya juga terlihat seperti bergerak seolah mencium bau sesuatu yang mana dia benar-benar menyadarinya.


“Kemana?” Tanya wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita berjaket tidak menjawab apa yang nyonyanya tanyakan, dia hanya beranjak pergi karena benar-benar harus bertemu dengan pria yang tidak lain adalah Zeno.


“Kiba, kau mau kemana!” Teriak wanita tersebut.


Wanita itu pergi menjauh, karena semakin sedikit penjaganya, itu akan membuat dia semakin dikerumuni orang lain yang membuat dia benar-benar sangat risih. Apalagi banyak pria berhidung belang yang menatapnya dengan kurang ajar.


....


“Sialan, aku hanya ingin membuat kejutan. Tetapi Kiba betina berdada besar, menyadarinya? Akh, aku lupa dia memiliki penciuman yang begitu tajam.” Zeno semakin berlari untuk menjauh, setidaknya ada tempat untuk pertarungan. Yaah benar, dia ingin bertarung dengan Kiba secara langsung, mengingat bahwa Kiba merupakan beast pertamanya.


“Tuan, aku tahu itu kau! Aku mohon berhenti!” Teriak Kiba yang berlari begitu cepat, bahkan hampir menyusul Zeno yang juga berlari biasa tanpa bergerak dengan kecepatan petir atau cahaya.


Menyadari bahwa Zeno sudah berlari dari tempat keramaian, Zeno langsung berbalik badan sambil menarik pedangnya untuk menebas Kiba secara mendadak.


Kiba mengeluarkan kuku tajam yang begitu panjang, menahan tebasan Zeno yang begitu kuat. Dia tampaknya sedikit kaget saat tuannya benar-benar tidak menyadarinya, mungkin, karena penampilannya yang seribu persen berubah? Mulai dari penampilan yang sebelumnya adalah harimau, berubah menjadi sosok orang, serta Zeno yang tahu bahwa Kiba adalah jantan, kini Kiba berubah menjadi wanita dewasa yang penampilannya terlalu membuat Zeno menggelengkan kepala.


Kuku Kiba patah, sehingga dia harus mundur untuk menjaga jarak serta harus menyadarkan tuannya.


Namun, Zeno mengeluarkan beberapa bilah angin ke arah Kiba dengan begitu banyak, disusul oleh tebasan tak terlihat tahap terakhir ke arah Kiba secara langsung. Bersamaan dengan itu, Zeno berkata dengan sengaja, dan pura-pura bodoh, “Kenapa kau mengikutiku?” Terus terang, Zeno sebenarnya ingin menyelipkan kata, ‘Dasar wanita ja*ang.’ Melihat penampilan Kiba. Tapi dia sadar bahwa Kiba adalah bawahannya.


Kiba langsung meregenerasi kukunya dan mengeluarkan bilah angin yang ditebaskan dari kukunya untuk melawan tebasan tak terlihat yang dia sadari. Tetapi, dia lebih menyadari bahwa dia harus melompat ke atas ala hewan buas untuk menghindari semua serangan Zeno.

__ADS_1


Melihat hal itu, tentu saja hidung Zeno hampir merah dan membuatnya hampir mimisan, tapi dia langsung mengingat bahwa Kiba adalah seekor harimau. Lagi Pula dirinya sudah memiliki seorang istri.


“Sayatan seribu angin, tahap ketiga.” Zeno mengulurkan tangannya dan mengeluarkan salah satu tekniknya ke arah Kiba yang berwajah penuh kebingungan.


__ADS_2