Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Apa kau tidak memiliki elemental?


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, Zeno dan Azure bergerak menuju arah selatan untuk menuju wilayah yang dimaksud. Dengan perut kenyang dan tenaga yang cukup, matahari juga condong ke barat membuat mereka lebih semangat karena matahari tidak terlalu memancarkan energi panasnya.


Mereka hanya berjalan kaki tanpa takut adanya elemental beast yang menyerang. Karena jikapun ada, Zeno tak tangung-tanggung untuk membunuhnya. Selain untuk mendapatkan elemental crystal, dia juga ingin melatih ototnya. Sayangnya, semenjak dia berjalan kaki sejak tadi, tidak ada seekor pun yang dia temui.


“Tolong ....!”


Seketika Zeno dan Azure mendengar permintaan tolong yang begitu samar dan tidak hanya sekali, hal itu membuat mereka berdua berhenti dan menatap satu sama lain mengenai adanya suara tersebut. Penasaran, Zeno dan Azure langsung menghampiri asal suara tersebut yang tampaknya apabila terus-menerus di dengar, asal suara tersebut berada di utara, kebetulan mereka juga bergerak ke arah Utara pula.


Namun, mereka menyadari ada seorang wanita yang berlari ke arah Zeno dengan penuh luka di tubuhnya. Tidak hanya itu saja, seekor kijang liar yang merupakan seekor elemental beast peringkat prajurit dewa tahap kelima mengejarnya


Zeno berhenti sejenak, tampaknya ada seorang yang memerlukan pertolongan, selain itu, Zeno juga tidak melihat adanya sebuah peringkat elementalist yang ada pada wanita tersebut. Sehingga, ada dua kemungkinan, antara dia seperti Zeno itu sendiri yang mana ranah elementalistnya tidak dapat dilihat orang lain, atau mungkin wanita tersebut tidak memiliki elemental.


“Tuan tolong aku!” Wanita tersebut berdiri di hadapan Zeno dengan mata yang berkaca-kaca. Dia benar-benar menghela napas saat ada dua orang yang kebetulan ada di sini.


Melihat kijang tersebut yang seolah mengamuk, Zeno menyapu tangannya ke depan, sehingga sebuah kristal es membekukan langkah kijang tersebut.


Merasa geram, kijang tersebut langsung memainkan tanduknya untuk menghancurkan es yang membekukannya. Tidak hanya itu saja, saat es itu hancur, kijang tersebut seolah menendangkan kakinya ke permukaan tanah, sehingga permukaan tanah tersebut mengeluarkan sebuah gundukan yang bergerak ke arah Zeno.


Zeno hanya berdiri di tempat dan tidak panik sedikitpun, sedangkan wanita yang ada di hadapannya, Zeno mendorongnya karena dia merasa bahwa wanita itu sangatlah bodoh. Sudah tau ada sebuah serangan, namun dia tidak menghindar.

__ADS_1


Tepat saat gundukan itu akan mengenai Zeno, tiba-tiba gundukan tersebut berhenti. Kemudian, Zeno menginjaknya dengan sangat keras sehingga gundukan itu berubah menjadi tanah yang hancur.


Kijang itu sedikit kaget, bagaimana serangannya dapat dihentikan? Namun dia tidak ingin merasa kalah, apa yang dia lakukan adalah bergerak ke arah Zeno dan ingin menyerangnya menggunakan tanduknya. Selain itu, setiap hentakan kakinya yang menyentuh permukaan tanah, tanah tersebut sedikit bergetar yang membuat Zeno, Azure dan wanita tersebut merasakan getaran.


Zeno menghela napas, kemudian dia mencoba menghentikan getaran tersebut menggunakan kekuatan penguasa. Walaupun terlihat berlebihan, tetapi dia tidak ingin bertarung dengan sangat lama. Sehingga apa yang dia lakukan setelah menghentikan getaran tersebut adalah menembakkan sebuah ledakan cahaya ke arah kijang tersebut.


Tanpa melangkahkan kakinya, Zeno bisa membunuh kijang tersebut dengan sangat mudah, sehingga membuat sang wanita menjadi kagum dengan adanya Zeno.


“Tu .... tuan, terima kasih.” Kata wanita itu dengan sedikit gugup. Pasalnya, wanita tersebut seperti masih merasakan sedikit ketakutan karena dikejar elemental beast tersebut.


“Apa yang terjadi? Apakah kau tidak memiliki elemental?” Azure menatap wanita itu, pasalnya wanita tersebut tidak terlihat peringkatnya sama seperti Zeno. Namun, apabila peringkat tersebut tersembunyi, maka wanita tersebut seharusnya berani melawan elemental beast, sehingga besar kemungkinan wanita itu tidak memiliki elemental.


“Benar.” Wanita itu perlahan mundur karena menjadi sangat takut, takut mendapatkan perlakukan diskriminasi karena dirinya tidak memiliki elemental. Selain itu, tidak memiliki elemental membuat dirinya juga tidak bisa membaca Zeno dan Azure berada di peringkat berapa, sehingga apa yang dia takutkan, Zeno dan Azure berada di rank tinggi. Terbukti pria di hadapannya bisa membunuh kijang dengan sangat mudah.


Wanita itu tersenyum lega, namun dia memastikan apa yang dikatakan pria dihadapannya bukanlah sebuah kebohongan belaka.


Dia semakin tersenyum saat menatap bahwa raut wajah Zeno sama sekali tidak berbohong. Kalaupun berbohong, dirinya pasti akan dibiarkan mati begitu saja saat dikejar kijang tadi. Secara, seseorang yang tidak memiliki elemental memang harus dibunuh dan dianggap sampah.


“Kau dibuang oleh keluargamu?” Zeno bertanya, dirinya menjadi teringat saat dirinya juga dibuang oleh keluarga palsunya di sebuah hutan elemental beast hanya karena tidak memiliki elemental. Untung saja itu adalah keluarga palsu yang mana bukan keluarga aslinya.

__ADS_1


“Ayahku adalah seorang kepala desa di utara hutan ini yang merupakan bekas reruntuhan kerajaan, umurku sudah genap dua puluh dua tahun, namun sama sekali belum memiliki elemental sama seperti dewa lainnya. Alih-alih membunuhku karena malu, dia justru selalu melindungiku. Justru yang melakukan ini adalah kekasihku karena dia malu mempunyai aku yang tidak berelemen.”


Zeno tidak bisa berkata-kata lagi. Benar-benar sangat kejam, itulah sebuah perkataan yang tertulis di pikirannya untuk menyikapi kekasih wanita tersebut. Apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang ketika membuang orang terdekatnya yang sama sekali tidak memiliki elemental? Bukankah justru orang-orang seperti itu tidak pernah membahayakan? Justru orang-orang ber elemen lah yang sering memicu konflik.


“Kami akan membawamu pulang, kebetulan kami juga akan singgah ke desa yang kau maksud.” Azure menenangkan wanita tersebut.


“Benarkah?” Wanita itu meneteskan air matanya, dia sedikit senang karena ada seseorang yang mengantarkannya pulang.


“Ayolah, apakah kau akan menangis di situ saja. Tunjukkan kami jalan menuju desamu. Jangan khawatir apabila kami lari, karena kami tidak setega itu.” Ucap Zeno dengan nada yang sedikit tinggu.


“Ta .... tapi, aku juga tersesat. Aku tidak tahu arah.” Ungkap wanita tersebut.


Azure hanya menggelengkan kepala dan menghela napas, selain itu, dia juga langsung melangkahkan kakinya ke depan untuk memimpin perjalanan mereka kali ini. Dengan malas, dia berkata, “Kita berada di arah utara. Dan jika kita terus berjalan lurus, maka akan sampai di desamu.”


Zeno dan wanita itu akhirnya mengikuti Azure untuk menuju desa asal wanita tersebut.


“Tu .... tuan, siapa nama kalian, dan dari mana kalian berasal?”


Zeno terdiam seketika, ini merupakan pertanyaan yang sulit apabila bersangkutan dengan tempat asal. Pasalnya, Zeno sama sekali tidak tahu nama-nama desa, kerajaan, atau kekaisaran yang ada di alam ini sama sekali. Selain itu, rasanya juga sangat aneh apabila memberitahukan bahwa dirinya berasal dari alam manusia. Sehingga, dia diam saja dan menunggu Azure yang menjawab.

__ADS_1


“Namaku adalah Azure, dan yang ada di sampingku adalah tuan. Tidak, maksudku temanku yaitu Zeen. Kami berasal dari desa terpencil di sebelah selatan wilayah istana kekaisaran dewa air. Kau tahu kan?” Azure angkat bicara saat tuannya ternyata tidak berbicara karena tahu dirinya tidak mengetahui apa-apa.


“Jauh sekali.” Wanita tersebut menundukkan kepalanya saat tahu asal muasal kedua pria tersebut. Tidak heran, saat dia melihat Zeno bisa membunuh kijang itu tanpa berpindah tempat dengan sangat mudah. “Namaku adalah Zera, Shon Zera.” 


__ADS_2