
"Kita sudah sampai. Jujur, aku adalah kepala desa di desa ini." Ucap Zeno sambil membuka pintu rumahnya, dengan beberapa obor yang menyala di dekat pintu karena kondisi benar-benar gelap dan sepi.
"Une menjadi kepala desa? Sejak kapan?" Tanya Turse sambil masuk ke dalam rumah Zeno, tidak, kini menjadi rumah keduanya.
"Hampir setengah tahun yang lalu. Dahulu, desa ini adalah desa terbengkalai yang sangat memprihatinkan. Namun, ada sebuah cerita yang mengharuskan aku menjadi kepala desa ini. Dan, syukurlah, aku berhasil membawa desa ini dalam masa kejayaan." Perjelas Zeno sambil mengunci pintu rumahnya, karena dia tidak ingin ada sesiapapun yang masuk ke dalam rumahnya.
"Saat masuk ke dunia ini, Turse berada dimana?" Sambungnya dengan bertanya.
"Aku ...." Turse ingin berkata dengan ragu, dia menundukkan kepalanya karena tidak ingin mengatakannya. Namun, dia tidak ingin membohongi Zeno, "Di Sebuah kekaisaran dewa air. Dan aku menjadi buronan di sana." Katanya secara terus terang.
Mendengar hal itu, Zeno mengerutkan dahinya dan bertanya dengan panik, "Bagaimana bisa? Apa yang kau lakukan?"
"Maafkan aku, lupakan saja. Ini bukan urusanmu, sehingga ketika aku menjadi buronan, ini tidak ada sangkut pahutnya denganmu."
"Turse! Kau tidak bisa begitu, tidak peduli apakah kau buronan karena melakukan sebuah kejahatan, atau mungkin karena kesalah pahaman. Aku akan tetap melindungimu." Protes Zeno sambil memegang kedua lengan Turse.
"Aku muncul di sebuah kekaisaran dewa air. Dan, aku melakukan penyerapan dari sumberdaya yang diberikan oleh Kiba dan yang lainnya selama empat bulan hingga aku mencapai peringkat tinggi seperti ini. Dan saat aku mencoba untuk menjelajahi ibukota kekaisaran, kau tahu? Anak kaisar tertarik kepadaku."
"Aku sempat menolak, dan lari, dibantu Kiba dan yang lainnya yang melawan anak kaisar tersebut. Tapi Une mengertilah, ketiganya memiliki peringkat yang rendah karena tidak sempat melakukan penyerapan untuk menjagaku, sehingga mereka tidak bisa mengalahkan anak kaisar yang memiliki peringkat raja dewa."
"Disuatu malam, di rumah yang kusewa untuk sementara. Terjadi penyerangan secara tiba-tiba, tampaknya anak kaisar dewa air ingin menculikku dengan beberapa pasukan. Kiba yang lainnya melindungiku, dan aku sempat melawan anak kaisar itu pula. Tapi sayangnya, aku terlalu berlebihan, sehingga meracuni anak kaisar tersebut hingga mati."
"Dan itulah mengapa aku menjadi buronan, lari dari kekaisaran dewa air, dan menuju kerajaan Fang yang berada dibawah naungan kekaisaran dewa angin." Turse menjelaskan secara rinci kepada Zeno mengapa dia telah menjadi seorang buronan.
Marah karena Turse menjadi buronan? Tentu saja tidak, dia menjadi buronan karena ingin melindungi dirinya sendiri dari kebejatan anak kaisar. Namun, dia terdiam karena tidak ingin memaafkan anak kaisar tersebut meskipun sudah mati.
"Une aku harap kau mengerti, ini bukan urusanmu, jadi jangan terlalu dipikirkan."
__ADS_1
"Tidak! Ini adalah urusanku. Kau menjaga kehormatan dan harga diri hanya untukku. Jadi aku akan tetap melindungimu meskipun tujuh kaisar dewa sekalipun mencarimu." Kata Zeno dengan nada yang sedikit tinggi, namun dia mencoba untuk menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Tenang saja, tak perlu dipikirkan. Aku akan menggendongmu menuju kamar." Katanya sambil mengangkat Turse seolah ingin menenangkannya.
"Terimakasih Une." Turse tersenyum senang di bawah wajah Zeno, "Tapi aku harap Une tidak lupa tentang perintah dewi Luna agar tidak memiliki anak sebelum mengalahkan Yashimaru."
Zeno tersenyum malu, "Tidak, aku akan melakukanya dengan berhati-hati malam ini."
….
Seperti biasa, pagi-pagi buta, Zera datang ke rumah Zeno untuk melakukan aktivitasnya, yaitu membersihkan rumah Zeno meskipun Zeno tidak ada di rumah.
"Tunggu, rumahnya terkunci? Itu artinya tuan sudah pulang." Zera tersenyum, rumah yang terkunci itu menandakan bahwa Zeno berada di rumah dan tidak ada sesiapa yang ingin mengganggunya. Sedangkan, rumah yang tidak terkunci itu menandakan bahwa Zeno tidak ada di rumah dan dibiarkan untuk dibersihkan Zera.
Lagipula di dalam rumah Zeno tidak terdapat barang berharga apa-apa yang membuatnya tidak takut kecolongan.
Namun, beberapa detik kemudian, pintu rumah tersebut terbuka yang membuat Zera sedikit mengundurkan badannya. Zera terkejut, pasalnya yang muncul adalah wanita cantik dengan anting berwarna biru menatapnya dengan sangat aneh.
"Aku adalah anak mantan kepala desa yang ditugaskan untuk membantu semua pekerjaan rumah tuan Zeno. Tunggu, seharusnya aku yang bertanya, kau siapa? Mengapa kau berada di rumah tuan Zeno?" Zera juga menatap Turse dengan sangat sinis, namun dia juga semakin bersiaga dan menganggap curiga wanita yang ada di depannya.
"Pulanglah, Zeno sudah tidak memerlukanmu lagi. Semua pekerjaan rumah aku yang akan melakukannya." Jawab Turse dengan datar.
"Kau, beraninya kau memanggil tuan seperti itu, aku akan memanggil beberapa prajurit desa karena ada sosok penyusup di rumah kepala desa." Kata Zera yang bergegas pergi.
Turse, dia kebingungan dengan apa dan siapa wanita tersebut. Tetapi, dia langsung tidak mempermasalahkannya karena dia harus melakukan kewajiban seorang istri.
"Siapa?" Tanya Zeno yang keluar dari kamar.
"Entahlah, katanya seorang anak kepala desa yang memiliki tugas membantu pekerjaan rumahmu. Tapi aku sudah mengusirnya karena sudah ada aku yang membantu pekerjaan rumahmu."
__ADS_1
"Ternyata begitu, syukurlah, lagipula aku juga kurang senang saat dia menyelesaikan pekerjaan rumahku. Selain itu, aku juga jarang memakan masakan yang dia masak."
"Apa iya?" Turse mengangkat alisnya dengan curiga.
"Menurutmu aku berbohong?"
"Baiklah aku percaya." Turse memukul pelan perut Zeno sembari dia pergi.
"Keluar!"
Zeno dan Turse, keduanya tiba-tiba berhenti dari langkahnya saat mendengar suara paksaan keluar dari rumahnya. Tidak hanya terdengar satu orang saja, Zeno juga mendengar banyak sekali suara tersebut yang membuatnya terpaksa harus keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi.
Dan saat Zeno keluar rumah, Zeno dikejutkan oleh beberapa prajurit miliknya mengelilingi rumahnya sambil mengulurkan tombak. Di depan rumah Zeno juga Onard yang juga membawa sebilah pedang.
Zeno yang penasaran, dia bertanya kepada Onard, "Onard ada apa?"
"Maafkan aku kepala desa, tapi dari laporan Zera, ada sosok penyusup di rumah Anda." Kata Onard.
"Penyusup? Aku pikir itu tidak ada, pasalnya aku pulang tadi malam dan baru saja bangun. Dan aku tidak melihat adanya penyusup." Zeno mengerutkan dahinya.
"Aku yakin, dia adalah seorang wanita cantik yang tampaknya memiliki peringkat tinggi, tapi sayangnya aku tidak bisa melihat apa peringkatnya. Dia yang mengusirku." Zera yang ada di samping Onard berkata dengan nada tinggi.
Zeno menatap datar mereka semua, tampaknya ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang dilontarkan oleh Zera yang tidak tahu apa-apa. Tak ada yang namanya penyusup, yang Zera maksud adalah Turse atau istri Zeno sendiri.
Merasa kesal, Zeno akhirnya angkat bicara, "Penyusup? Maksudmu istriku sendiri?"
"Apa? Istri?" Kata semua prajurit dalam hari mereka, bahkan Onard san Zera pun kaget saat mendengar bahwa kepala desanya berkata demikian.
__ADS_1
Dan tidak beberapa lama kemudian, sosok wanita cantik yang tidak lain adalah Turse keluar dari balik pintu dan menatap datar mereka semua. Tampaknya, dia sedikit kesal karena dituduh seorang penyusup.