
Semua orang seketika terdiam saat salah satu peserta di arena dua memuntahkan seteguk darah segar setelah perutnya ditonjok dengan sangat kuat. Sebelumnya orang itu sudah menahan pukulan Zeno menggunakan tangannya, tapi tampaknya pukulan Zeno sangat kuat sehingga mengakibatkan tangan musuh Zeno menjadi remuk.
Zeno mundur ke belakang untuk menjaga jarak, mengingat musuhnya memiliki elemen petir. Sehingga apabila tersengat dari jarak dekat akan membuatnya berakhir. Itupun jika musuh Zeno masih sanggup berdiri dalam keadaan berdiri.
“Terdiam?” Zeno berkata dengan nada tinggi, tentunya kepada musuhnya atau para penonton yang mengoloknya sekalipun.
Yaah semuanya hanya bisa terdiam terkecuali penengah yang heboh sendiri karena menyiarkan pertandingan.
Meski begitu, ada beberapa orang yang mulai memprovokasi bahwa Zeno hanya beruntung saja mendapatkan musuh yang meremehkan dari awal. Pasalnya, apa yang mereka lihat, sosok yang melawan Zeno tidak menggunakan elemen sama sekali. Sehingga menganggap orang itu terlalu bodoh yaitu membiarkan kesempatan emas di depan mata.
Namun, orang yang ada di hadapan Zeno masih sanggup untuk berdiri walaupun tangannya menggantung remuk. Dia masih memiliki tangan satunya untuk menggapai tongkat andalan yang digunakan sebagai senjata guna mengeluarkan elemen angin dan petirnya.
“Baiklah, ini tampaknya cukup sulit, karena aku harus menghadapi tanpa elemen.” Zeno melangkahkan kakinya ke depan, berniat bertarung menggunakan fisik meskipun lawannya menggunakan elemen. Lagipula, dia sudah berpengalaman melakukan ini.
Orang tersebut mengulurkan tongkatnya, mengakibatkan pusaran angin keluar dengan tongkat yang ada di tengahnya, memunculkan elemen petir pula yang terlihat menyambar di antara pusaran tersebut. Dan, ketika saat Zeno mendekat, dia langsung melepaskan serangan itu.
Tapi, siapa yang berpikir bahwa Zeno bisa melewatinya meskipun kecepatan elemen angin yang dibubuhi elemen petir terlalu cepat. Pergerakan Zeno yang terlalu gesit dengan melompat ke samping membuatnya bisa menghindar dengan begitu mudah. Lagipula, dia tidak takut sama sekali karena dirinya menggunakan jubah yang merupakan sebuah Zirah untuk menahan 50% dari kekuatan asli milik musuh.
Tak mau kalah, musuh Zeno masih mengeluarkan elemen tersebut secara berulang kali. Keberadaan Zeno yang semakin mendekat dengan lari yang semakin melemah membuatnya menjadi amatir saat mengeluarkan elemen. Dia menelan ludah secara kasar karena pergerakan Zeno terlalu lincah.
Dan saat serangan terakhir sebelum benar-benar mendekat, dengan sangat mudah, Zeno menggenggam serangan pusaran angin itu dengan senyum di balik penutup wajahnya. Kemudian tanpa ragu, Zeno melemparkannya kembali.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Zeno melompat ke samping ketika musuh Zeno difokuskan oleh serangan sendiri yang mengarah kepadanya. Tentu saja, dia juga benar-benar terkejut bukan kepalang. Tak ada waktu untuk memikirkannya secara panjang, sehingga membuatnya ceroboh dengan mengeluarkan sambaran petir.
Memang, serangan yang dibalikkan kepadanya pecah. Namun, dia tidak bisa melihat adanya Zeno di belakang. Dan, bersamaan dengan itu, lehernya seperti terkena pukulan benda tumpul yang membuat dirinya terpental ke samping.
“Bagaimana bisa?” Banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana Zeno bisa membalikkan serangan dengan sangat mudah. Terlihat sangat tidak masuk akal, apalagi seharusnya Zeno yang tidak memiliki peringkat atau elemen pula akan hancur ketika terkena serangan itu.
Musuh Zeno kini babak belur, apalagi dia juga keluar dari arena yang membuatnya harus menerima kekalahan. Beberapa orang langsung masuk ke dalam area pertarungan untuk membawa orang tersebut untuk mendapatkan penyembuhan
Bersorak? Tidak ada yang menyoraki kemenangan Zeno, mereka menjadi mengalihkan pandangannya ke arena 1 ataupun 3 yang terlihat masih bertarung dengan sengit. Apalagi di antara kedua arena itu terdapat banjir elemen yang membuat seluruh tempat sedikit bergetar.
....
Turse yang duduk bagaikan wanita pada umumnya, yaitu menaruh paha kanan di atas paha kirinya masih tidak bisa melupakan pertarungan di arena kedua. Masalahnya, orang tersebutlah yang memberikan harapan untuk menang. Selain itu, dia benar-benar tidak bisa meremehkan kemampuan orang tersebut. Meskipun tidak memiliki peringkat sekalipun, tampaknya orang yang dimaksud Turse masih cukup hebat untuk menggunakan kemampuan fisik.
.....
“Masih ada puluhan pertandingan lagi yang harus kulihat untuk melanjutkan menuju babak selanjutnya. Dan, aku akan melihat pertarungan Turse. Aku harap di babak kedua, aku tidak bertarung dengan Turse, melainkan di babak penentuan nanti atau babak akhir.” Batin Zeno sambil beranjak pergi.
“Tuan!” Benar-benar itu kau? aku merindukanmu.
Skarlos dalam wujud dewanya memeluk Zeno dari belakang yang membuat Zeno sontak kaget. Dia langsung melepaskan pelukan itu dan meloncat ke depan karena merasa jijik dengan pelukan berotot milik Skarlos.
__ADS_1
“Berhentilah seperti itu.” Tegas Zeno dengan nada tinggi kepada sosok pria berbadan kekar dengan kepala botak, yang mana Zeno bisa mengenalnya itu adalah Skarlos.
“Aku pikir tuan akan menyambutku dengan senyuman.” Kata Skarlos dengan wajah masam karena Zeno tidak menyambutnya.
“Kiba saja yang merupakan wanita seperti itu aku melarangnya dengan sangat keras, apalagi kau yang merupakan seorang pria. Datang memelukku dari belakang? Menurutmu aku apa?” Protes Zeno.
“Tuan, Anda tampak masih sehat. Dimana cacing air itu? Aku harap dia tidak meninggalkan tuan.” Ucap Flamon yang terlihat sangat rupawan, bahkan banyak wanita yang memandangnya dengan sangat kagum.
“Azure? Dia berada dalam tubuhku untuk melakukan penyerapan. Jangan berpikir dia lancang, aku yang memintanya.” Ujar Zeno, kemudian dia melanjutkan ucapannya, “Tunggu sebentar, seharusnya kalian menjaga Turse sekarang juga. Kenapa kalian berada di sini?” Zeno mengerutkan dahinya.
“Aku hanya ingin bertemu dengan tuan.” Sahut Skarlos. “Dan kini aku kami akan melaksanakan perintah tuan. Kami undur diri dulu.”
Zeno menganggukkan kepalanya, sehingga ketiga beast Zeno langsung pergi meninggalkan Zeno. Namun, sebelum mereka bertiga benar-benar pergi, Zeno menahan mereka, “Tunggu sebentar, apakah di antara kalian memiliki senjata semacam pedang? Maksudku pedang biasa saja.”
Flamon mengeluarkan sebilah pedang yang tampak biasa saja, namun Flamon masih menjelaskan bahwa pedang tersebut merupakan pedang berharga yang dapat mematahkan serangan elemen apapun, namun serangan itu hanya berasal dari seseorang yang berasal dari dewa alam ke bawah.
.....
Beberapa jam kemudian, setelah memperhatikan beberapa pertandingan di babak pertama yang mana El dan Rosy berhasil lolos. pada akhirnya Zeno mendengarkan bahwa Turse dipanggil dan masuk ke dalam arena pertama untuk melakukan pertarungan. Zeno turut senang, sekaligus dia berharap bahwa Turse bisa menang untuk melanjutkan menuju babak kedua.
Namun, siapa yang menyangka, Zeno memperhatikan bahwa Turse tampaknya mendapatkan musuh yang cukup merepotkan. Masalahnya, musuh Turse memiliki peringkat dewa alam tahap sembilan, dua tingkat di bawah Turse. Namun, bukan itu yang menjadi masalah yang sebenarnya, musuh Turse merupakan sosok pria berotot yang mana apabila melakukan pertarungan fisik besar kemungkinan musuh Turse yang menang.
__ADS_1
“Tidak, aku berpikiran bahwa Turse yang menang. Mengingat dia memiliki racun yang dapat melemahkan otot.” Batin Zeno mengalihkan pikirannya.