
Azure langsung keluar dari gua karena dia ingin menjaga tuannya dari luar. Masalahnya, sangat repot apabila ada sesuatu yang ingin mengganggu, sedangkan dirinya ada di dalam, dan pengganggu tersebut akan dengan sangat mudah mengubur hidup-hidup Zeno dan juga Azure.
Dia bersedekap sambil berjalan-jalan disekitar gua, tampaknya sangat sulit apabila tidak ada penerangan sama sekali. Bola cahaya milik Zeno juga padam saat dia berkonsentrasi menyerap elemental crystal. Memanfaatkan penglihatannya yang terbatas pada kegelapan, Azure masih tidak gentar sedikitpun, dia juga menciptakan embun-embun yang menyebar untuk merasakan keberadaan musuh.
Tapi tak disangka, Azure merasa ada sebuah pergerakan yang terbaca di sensor embun airnya. Hal tersebut, membuat Azure langsung bersiaga dan menciptakan sebuah trisula air untuk melawan pengganggu.
Semakin mendekat, Azure semakin berwajah dengan serius, kemudian dia langsung berbalik badan dan mendorong trisulanya tanpa berpikir panjang. Namun, dia tidak merasa trisulanya mengenai musuh, sebaliknya dia merasakan adanya sebuah serangan yang akan dia terima.
Azure menciptakan puluhan gelembung air untuk disebar, di sisi lain dia merasakan ada kobaran api di dekatnya yang membuat dia harus mengeluarkan air pula untuk memadamkannya. Benar-benar sangat sulit, Azure menggertakkan giginya karena melawan musuh hanya mengandalkan pendengaran dan sensor embun begitu menyulitkan.
Memang, seketika dia bisa melihat saat ada kobaran api itu, tetapi dia tidak melihat siapa pengendali yang ada di belakangnya. Namun, apa yang dia lakukan adalah bergerak ke arah asal kobaran itu sekaligus untuk menjauh dari gua milik Zeno agar tuannya tidak terganggu.
Azure berhenti dan kembali menciptakan puluhan gelembung air lagi, kemudian, dia mengangkat tangannya ke atas dalam posisi mengepal. Kepalan tangan itu di buka secara cepat, sehingga sebuah aliran air keluar dan menghancurkan rindang pohon yang mengganggu cahaya rembulan.
Bersamaan dengan itu, Azure tiba-tiba melihat sebuah cakaran yang ternyata ada di depannya saat kondisi benar-benar terang, secara refleks, dia langsung mengusap tangannya sehingga sebuah aliran air memukul cakaran tersebut.
Untung gelembung air tersebut berhasil memantulkan sinar rembulan, apalagi terdapat puluhan gelembung yang membuat tempat tersebut bercahaya. Sehingga secara tepat waktu, dia bisa melihat cakaran tersebut, mungkin jika tidak, entah apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Sebuah auman muncul dari seekor singa yang memiliki surai menyala seolah terbakar bersamaan Azure memproyeksikan cahaya bulan menggunakan puluhan gelembung. Singa tersebut persis tepat di hadapan Azure yang membuat dia kembali mengangkat trisulanya untuk bersiap menghadapi elemental beast tahap prajurit dewa tahap ke sembilan sama sepertinya.
“Apa perlumu?” Tanya Azure sinis, menatap singa tersebut yang meneteskan air liurnya seolah ingin menerkam Azure.
“Tak ada, aku pikir aku bisa membunuh seorang dewa yang memiliki peringkat yang sama. Berani sekali kau berada di sini, dan tampaknya aku mencium seorang dewa selain kau. Di mana dia?” Kata singa itu.
Azure mengangkat ujung bibirnya sambil berkata, “Tampaknya kau tidak bisa membedakan bau manusia, dewa dan juga beast? Tapi yang kau katakan memang benar, walaupun tuanku manusia yang dianggap hina seorang dewa, tapi apabila dia berada di sini, dia seperti dewa sama seperti yang lainnya.”
Singa itu tertawa keras, dia benar-benar tidak menyangka bertemu makhluk rendahan. Namun, Azure hanya menghiraukan tawaan singa tersebut.
Dewa-dewa tertinggi yang memasuki elementalist ranah dewa abadi seperti dewa petir, dewa api atau dewa alam lainnya yang murni menguasai element, mereka memantau alam tersebut walaupun sangat jarang, dan mungkin bisa menciptakan bahaya atau kerusakan yang dapat merenggut nyawa manusia. Perlu diketahui, para dewa itu memang juga menciptakan badai atau mungkin tsunami, tetapi itu hanya sedikit dan menunjukkan murka mereka. Karena pada dasarnya, kebanyakan kondisi seperti itu bukan dari dewa, melainkan kekuatan alam itu sendiri.
Sehingga, para dewa tidak menyadari bahwa ada seseorang yang bisa menggerakkan kekuatan alam, karena bisa dibilang para dewa-dewa alam hanya membiarkan kondisi alam yang Zeno tempati berjalan dengan sendirinya tanpa mereka ikut campur. Karena mereka memilih untuk mengatur alam ini yang jauh lebih baik dan menganggap alam tersebut hanya sebuah debu yang tidak penting.
Apa yang dilakukan singa, dia langsung berlari ke arah Azure dengan niatan membunuh dan ingin merasakan rasanya daging manusia.
Azure langsung menjentikkan jarinya di saat singa itu sudah melompat di hadapannya. Sehingga, gelembung-gelembung yang diciptakan untuk memantulkan cahaya bulan meledak dengan sangat keras. Untung saja, posisinya berada sangat jauh dengan Zeno, walaupun dia yakin Zeno pasti mendengarnya.
__ADS_1
Alih-alih semakin gelap, kondisi justru semakin terang karena singa itu melompat dan membalut tubuhnya dengan elemen api untuk melindungi diri dari ledakan tersebut. Sedangkan Azure yang ada di balik asap ledakan, dia muncul sambil melesat ke arah singa tersebut dengan mengulurkan trisulanya.
Singa tersebut langsung bergerak sambil menyemburkan api, hal tersebut membuat Azure berhenti dan mengeluarkan air pula dari trisulanya. Sehingga api tersebut menjadi padam dan membuat air milik Azure melesat ke arah singa tersebut.
Namun, kondisi seketika menjadi sangat gelap, Azure tidak bisa memastikan apakah elemen airnya mengenai singa tersebut atau tidak? Tampaknya, dia benar-benar menjadi sangat kerepotan, sehingga apa yang dia lakukan adalah menciptakan puluhan gelembung air lagi untuk memantulkan sinar rembulan.
Tak disangka, Azure juga merasakan hal aneh yang ada di belakang, rasanya seperti udara panas yang semakin jelas. Selain itu, sebuah bayangannya sendiri yang semakin lama semakin membesar juga tercipta di depannya yang membuat dia menoleh ke belakang.
Seketika Azure langsung berubah ekspresi saat ada beberapa bola api yang hendak membakarnya. Sehingga, apa yang Azure lakukan adalah menyapu tangannya, sehingga beberapa bola air muncul untuk memadamkan api tersebut.
“Sial.” Azure menolah sekeliling, tampaknya tidak hanya di hadapannya, melainkan ada banyak bola api yang melesat ke arahnya dari berbagai sisi.
Tapi itu hanya api, sedangkan Azure merupakan elementalist air, sehingga dia memutar tubuhnya 360 derajat untuk menciptakan sebuah aliran air yang mengelilinginya. Tanpa berpikir panjang, dia meluaskan aliran tersebut sehingga memadamkan api-api di sekelilingnya.
Tidak berhenti, Azure langsung mengeluarkan aliran air di tangannya, aliran air tersebut dia arahkan secara acak untuk membunuh di mana singa tersebut. Pasalnya, pantulan rembulan juga tidak cukup untuk menerangi dari jarak jauh.
Namun, dari depan Azure sebuah kobaran api kembali melesat bersamaan dengan singanya pula. Selain itu, singa tersebut terus-menerus mengeluarkan kobaran api untuk menguapkan aliran air yang terus-menerus menyerangnya.
__ADS_1