Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Pertandingan Turse


__ADS_3

Aba-aba dimulai, Turse mengangkat busur panahnya dan menarik tali busurnya hingga mengeluarkan panah es dengan sedikit berwarna ungu kebiruan. Tidak heran, peringkatnya yang berada di raja dewa, membuat elemennya juga berubah secara signifikan. Bisa dibilang, Turse sekarang menggunakan elemen yang disebut legenda di alam manusia.


Zeno semakin tersenyum bangga, ini yang dia tunggu-tunggu yaitu melihat Turse menggunakan elemen legenda yang Turse sendiri benar-benar terkejut saat pertama kali melihatnya di alam manusia.


“Nona, meskipun kau berada di raja dewa sekalipun, tapi kau tetaplah wanita, kekuatan fisikmu masih tidak berarti bagiku.” Kata pria paruh baya dengan sedikit menyombongkan diri.


Tanpa menjawab, Turse langsung melepaskan anak panahnya. Tidak hanya sekali, melainkan dia menarik tali busurnya dan anak panahnya secara berulang kali. Sehingga yang ada adalah bagaikan sebuah hujan anak panah es yang mengerikan.


Bersikap tenang, pria paruh baya itu mengeluarkan hembusan api untuk membakar semua anak panah itu. Tetapi sebagai gantinya, pandangannya tertutup oleh semburan apinya sendiri dan tidak bisa melihat kemana Turse berada.


“Yaah, aku tidak bisa menggunakan cara licik ternyata.” Batin Zeno tersenyum sambil memperhatikan pertarungan mereka berdua. Pasalnya, apabila sosok yang menjadi lawan Turse mempunyai salah satu elemen yang sama dengan Zeno, maka Zeno akan melakukan cara licik agar Turse menang. Mungkin, cara licik agar bisa menggapai kemenangan, dan mendapatkan kristal lima warna, serta agar Turse bisa berada di babak selanjutnya agar menjadi lawan berat Zeno.


Zeno melupakan itu semua, dia lebih memilih memfokuskan memilih untuk memperhatikan ribuan anak panah yang dibakar oleh semburan api dengan begitu mudah.


Kembali ke pertandingan, yang mana Turse selalu menjaga jarak untuk mundur karena dia harus sering melemparkan anak panahnya. Di sisi lain, dia harus berhadapan dengan semburan api yang mana dengan terpaksa dirinya harus mengeluarkan aliran air pula untuk memadamkan api tersebut.


Tak disangka, di balik kepulan semburan api yang belum sempat dipadamkan oleh Turse, muncul dua cakram yang berputar dengan sangat cepat ke arah dirinya. Hal tersebut membuat Turse terkejut, namun dia tidak kehabisan pikir sekarang juga untuk kalah, sehingga apa yang Turse lakukan adalah memanah dua chakram dengan api yang menyala tanpa ragu sama sekali.


Sayangnya tidak berhenti begitu saja, masih ada puluhan cakram yang dikeluarkan oleh musuh bersamaan dengan kepulan api yang menghilang. Sehingga apa yang dilakukan Turse adalah menghindar, dan meloncat sama sekali, yang terpenting dirinya tidak keluar dari arena. Kemudian, tidak ingin menghindar dengan sia-sia bagaikan orang yang dirugikan, Turse juga berulang kali melepaskan anak panahnya yang dibubuhi oleh racun yang begitu beragam.

__ADS_1


Turse menggertakkan giginya, tampaknya mengandalkan keahlian menghindar dan anak panah begitu merepotkan, apalagi musuh mengeluarkan chakram api yang mana itu sangat menguntungkan apabila melawan anak panah milik Turse.


Sehingga apa yang dia lakukan, dia menciptakan gunung es kecil untuk melindungi dirinya dari serangan chakram tersebut. Meskipun, itu juga tampak sia-sia karena lawannya adalah elementalist api yang lebih unggul dibandingkan es.


Dari balik pelindung es nya yang hampir hancur, Turse menarik tali busurnya ke bawah, lebih tepatnya dia melepaskan sebuah anak panah ke atas yang mana kemungkinan itu akan menjadi sebuah hujan anak panah yang begitu mengerikan. Mengingat, semakin tinggi peringkatnya, anak panah yang dia lemparkan ke atas akan semakin bertambah banyak, bahkan dia tahu sendiri anak panah yang akan menghujani akan bertambah lima kali lipat dibandingkan dia melakukannya kepada Zeno dulu.


Dan saat gunung es milik Turse hancur atau meleleh, Turse langsung melompat ke samping guna menghindari serangan berikutnya. Kemudian, dia berjongkok sebelum mendapatkan serangan selanjutnya untuk menembakkan anak panah secara akurat.


Pria paruh baya itu tersenyum, kemudian dengan sombongnya, dia mengeluarkan hembusan api yang cukup besar sehingga hampir membakar arena pertarungan yang Turse tempati. Dan saat Turse mencoba untuk mundur menjaga jarak, dengan kakinya yang hampir menyentuh pembatas, pria paruh baya itu sudah ada di depannya seolah muncul dari balik kobaran api sambil hendak menghentam Turse dengan pukulan berapinya.


“Turse awas!” Zeno secara spontan berdiri, namun untungnya dia tidak berkata secara keras.


Meskipun, saat dia menusuknya, Turse merasakan sensasi terbakar karena pukulan yang dilapisi oleh api. Selain itu secara bersamaan, Turse langsung menekuk pinggangnya ke belakang, karena dia tahu apabila dia mundur satu langkah saja akan membuatnya kalah dalam pertandingan. Hal tersebut membuat dia berhasil menghindar serangan pria paruh baya tersebut.


Dan saat dia menekuk tubuhnya, Turse langsung menggapai lengan musuhnya yang tidak terbakar untuk menjaga keseimbangan. Bersamaan dengan itu dia langsung mendorong kakinya ke arah pria tersebut. Sehingga mengakibatkan pria tersebut sedikit terpental ke belakang.


Mungkin terlihat aneh, seharusnya pria berotot tidak bisa dipukul mundur dengan mudah seperti itu, apalagi hanya dengan sebuah tendangan dari Turse. Tapi siapa yang menyangka, anak panah yang menancap pada pukulan orang tersebut terkandung racun yang dapat melemahkan otot, sehingga otot pria yang menjadi musuh Turse langsung melemah dengan cepat sehingga tidak dapat melindungi dari pukulan.


Zeno menghela napas lega dan langsung duduk kembali, namun dia tersenyum lebar saat melihat dari balik awan muncul ribuan, tidak bahkan Zeno bisa melihatnya itu jauh lebih banyak lagi dari biasanya. Apalagi anak panah itu siap menghujani sosok yang menjadi lawan Turse.

__ADS_1


“Tampaknya menggunakan cara licik tidak masalah.” Zeno semakin melebarkan senyumannya dan langsung melambaikan tangannya secara perlahan-lahan. Akibatnya, sebuah bongkahan es muncul mencengkram musuh Turse.


Turse terkejut, dirinya sama sekali tidak mengeluarkan bongkahan itu. Namun, dia segera melupakan itu, karena itu sebuah keberuntungan baginya, pasalnya hujan anak panah akan segera muncul dan bersiap menghancurkan musuh Turse.


Pria itu mencoba untuk memberontak dari cengkraman bongkahan es, tapi tampaknya ototnya terlihat terlalu lemah sehingga dia tidak memiliki daya. Dia juga membakar bongkahan itu dengan elemen apinya agar cepat meleleh, tapi dia tidak sanggup karena tangannya seolah terkunci.


“Hei pak tua, coba lihat ke atas!” Turse memberikan sebuah isyarat kepada pria tersebut.


Pria paruh baya itu spontan langsung terkejut dan semakin memberontak. Begitupun dengan para penonton yang semakin bersorak karena melihat kemenangan wanita cantik yang berada di depan mata secara langsung.


“Aku menyerah!” Kata pria tua itu dengan nada yang ketakutan.


“Tunggu, aku tidak bisa melepaskan es yang mencengkrammu itu.” Turse kebingungan, pasalnya apabila pria itu menyerah, namun anak panah itu tetap membunuhnya, maka dirinya akan mendapatkan diskualifikasi dan tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya.


“Nona, dia menyerah! Hentikan anak panahmu, atau lepaskan dia!” Kata seorang juri yang memberikan penilaian sebuah pertarungan.


Turse semakin kebingungan, di sisi lain anak panah itu hanya kurang beberapa meter saja membunuh musuh Turse. Selain itu, lawan Turse semakin berteriak dengan kencang sambil menutup matanya karena dia tidak ingin melihat kematiannya secara langsung.


Dan untung saja, hanya kurang beberapa inci, puluhan ribu anak panah itu langsung terhenti dan gagal untuk membunuh lawan Turse. Hal itu membuat Turse menjadi bernapas lega karena dia tidak jadi terkena diskualifikasi karena melanggar peraturan, dan tidak jadi pula mendapatkan sanksi. Tapi disisi lain, siapa yang membuat bongkahan es dan menghentikan anak panahnya? Dia merasa dia tidak melakukannya.

__ADS_1


Namun, persetan dengan hal tersebut, Turse tidak menghiraukannya dan langsung pergi atas pertarungannya di babak pertama, sekaligus pertandingan terakhir di babak penyisihan kompetisi ini.


__ADS_2