Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Waktu untuk ibu (2)


__ADS_3

Menuruti permainan Zeno, Luna langsung mengejarnya di sekitar pohon tempat dewi Luna bersandar dan tempat menceritakan sesuatu kepada Zeno. 


"Kena kau!" Kata dewi Luna sambil mengangkat Zeno dan menggendongnya tinggi-tinggi. Alhasil, Zeno hanya bisa tertawa senang sambil mencoba melepaskan tangan ibunya yang mengangkat dirinya.


Terus menerus bermain, dan tidak memperdulikan waktu mereka bersuka ria menghabiskan jam yang begitu banyak di tengah malam seperti ini. Hingga keduanya lelah yang membuat mereka terbaring di bawah pohon sambil memperhatikan bintang.


Napas mereka juga terengah-engah yang membuat mereka tampaknya begitu kelelahan. Namun, tanah yang empuk, dengan semilir angin yang tidak terlalu dingin membuat lelah mereka menjadi hilang.


Meskipun begitu, Zeno yang terbaring di samping ibunya, dia mencoba untuk bertanya-tanya mengenai semua bintang itu. Bahkan dia menunjuk satu-persatu mengenai rasi bintang yang wujudnya aneh kepada ibunya.


Dewi Luna kembali bercerita dengan Zeno yang mendengarkannya dengan begitu seksama. Bahkan, tak tanggung-tanggung Zeno juga menanyai semua hal yang tidak dia ketahui.


Tentu sebagai ibu, dewi Luna bisa menjawab semua pertanyaan anaknya, meskipun yang dia jawab kebanyakan tidak masuk akal. Tetapi, dia mencoba agar Zeno kecil berkhayal dengan sendirinya.


Zeno mengangkat tangannya seolah ingin menggapai langit, kemudian dia juga bertanya ke sekian yang membuat dewi Luna merasa cukup senang.


"Ibu, apa menurut ibu, Zeno bisa menggantikan ibu? Zeno kan belum terbiasa menjadi seorang penguasa yang duduk di tahta dewa seperti ibu." 


"Kenapa Zeno bertanya seperti itu? Tentu saja Zeno bisa, ibu percaya bahwa Zeno bisa menjadi sosok sang penguasa pemegang tahta dewa, bahkan lebih hebat dari ibu." Dewi Luna menyentuh tangan Zeno kecil yang sedang menggapai langit.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana jika ada yang membenci Zeno, hingga memusuhi Zeno dan menyerang Zeno?" Zeno kecil mengerutkan dahinya.


Dewi Luna yang memegang lembut tangan Zeno, dia menaruhnya di dada Zeno sendiri. Sehingga itu membuat Zeno penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh ibunya.


"Ibu akan selalu ada di hati Zeno, tidak perlu takut apabila ada yang memusuhi Zeno. Karena kita terhubung satu sama lain, sehingga ibu akan selalu melindungi Zeno."


"Ibu harus berjanji ya bahwa ibu selalu ada di hati Zeno dan melindungi Zeno." Zeno memohon dengan nada suara anak kecil.


"Tentu ibu berjanji."


Luna tahu, bahwa Zeno bertanya seperti itu karena pikirannya berubah menjadi seorang anak kecil, sehingga dia merasa terlalu dini untuk menjadi seorang penguasa. Padahal, apabila itu Zeno dewasa, Zeno tidak akan bertanya sama sekali, karena dia sudah terbiasa menjadi seorang pemimpin, dan tentunya banyak yang membenci dan banyak yang suka adalah hal yang wajar menurutnya.


Sesekali, dewi Luna juga bersenandung lagu usai Zeno melontarkan beberapa pertanyaan, yang mana kini membuat Zeno tersenyum senang sambil menikmati lagu tersebut. 


Tetapi, siapa yang menyangka, dewi Luna menarik napas dengan sesak, air matanya terus-menerus menetes di saat dia tertidur. Membasahi rambut Zeno kecil yang terlihat pulas karena mungkin dia benar-benar kelelahan untuk bermain.


….


Pagi hari di tempat tersebut telah tiba, Zeno dan tiba-tiba terbangun karena sebuah bintang besar menyinari matanya yang membuat mata Zeno silau.

__ADS_1


Alhasil, Zeno beranjak dari tidurnya, namun dia terkejut saat dirinya telah berubah seperti keadaan semula, yaitu Zeno dewasa. Tidak hanya itu saja, Zeno juga bisa melihat dewi Luna bersandar di pohon sambil bermain dengan burung yang terbang di sekitar dewi Luna.


Melihat Zeno yang tengah terbangun, dewi Luna tersenyum manis, memperlihatkan seperti senyuman pagi yang diberikan dari ibu ke anaknya. Tidak hanya itu saja, dewi Luna juga beranjak menghampiri Zeno yang mengusap matanya, dan tampak kebingungan dan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ini mimpi?


Kemudian dewi Luna menarik napas dan berkata dengan berat setelah Zeno bermain dan bercerita selama satu malam, “Kita akan berpisah lagi, ketika ibu rindu atau kau rindu, kita bisa bertemu melalui alam mimpi tanpa masalah. Sekarang kembalilah, aku sudah berharap untuk mempunyai seorang cucu. Segera segel dua elemen yang kau pegang kepada menantu ibu kau paham?” Dewi Luna mencubit hidung Zeno dengan sangat erat, membuat Zeno sedikit kesakitan dan segera menarik tangan ibunya dengan manja.


“Baiklah ibu, aku mengerti.” Zeno menganggukkan kepalanya setelah tubuhnya kembali seperti semula, bahkan dia juga seperti kehilangan kesedihan di dalam hatinya.


Zeno yang berdiri, begitu terkejut saat Luna memeluk dirinya dengan sangat erat di tubuhnya yang dewasa, bahkan dirinya juga bisa mendengar rintih tangis suara ibunya di atas pundaknya.


"Terimakasih karena Zeno bersedia menjadi sosok anak kecil yang bermain dan bercerita dengan ibu, memberikan waktu untuk bersama ibu. Memang, itulah ibu harapkan semenjak dulu." 


Zeno tersenyum, dia mengelus pundak dewi Luna dengan sangat lembut. "Aku juga benar-benar berterima kasih ibu, selain itu entah kenapa aku bisa melakukan hal tersebut. Mungkin karena aku mengetahui bahwa kita sebenarnya memiliki sebuah hubungan."


Perlahan dewi Luna menghilang, berubah menjadi serpihan cahaya yang terus menerus meluapkan kesedihan di pelukan Zeno. Begitupun Zeno, mengetahui bahwa ibunya akan pergi, dia semakin memeluk erat dewi Luna sembari meneteskan air mata.


Seketika tempat berubah, menjadi sebuah luar angkasa tempat dirinya dan Yashimaru bertarung. Selain itu, dirinya juga bisa melihat tatanan planet-planet yang ada di sini benar-benar hancur karena Zeno benar-benar merusaknya, yaah mungkin dia akan memberitahu dewa bintang untuk mengaturnya kembali.


Meskipun begitu, dia menciptakan pijakan es di luar angkasa dan duduk kembali. Rasanya dia benar-benar begitu sedih, tak terasa dirinya juga meneteskan air mata dan menyadari bahwa itu semua bukanlah mimpi.

__ADS_1


Zeno menggertakkan giginya, kemudian dengan suara yang keras, dirinya berkata, "Kalian jahat! Kalian seharusnya memberitahu semenjak dari dulu bahwa aku adalah jiwa yang diciptakan secara pribadi oleh dewi Luna. Kita ini adalah tuan dan beast, seharusnya kalian menceritakan semua cerita itu secara rinci!"


"Tuan, kami berani bersumpah bahwa kami tidak tahu bahwa Anda adalah putra dewi Luna. Bahkan, kami juga sempat terkejut setelah mendengarkan itu semuanya. Yang kami tahu, bahwa tahta dewa memang bisa diduduki oleh dewi Luna dan darah dagingnya. Namun, kami berpikir lain bahwa dewi Luna memiliki siasat lain agar manusia seperti Anda bisa menduduki tahta dewa." Kiba dan Azure mencoba menjelaskan.


__ADS_2