
Pria itu menatap tajam pada anak buahnya yang membawa empat orang asing ketempat mereka.
"Siapa mereka dna untuk apa kau bawa kesini?" ucap pria seram tersebut.
"Hormat Jendral, maaf karena sudah lancang membawa mereka kemari tetapi orang-orang ini butuh pekerjaan" ucap prajurit yang membawa keempat orang itu.
"Aku tidak butuh pekerja seperti mereka, kecuali jika kedua wanita itu mau melayaniku" ucapnya dengan seringai.
keempat orang yang tidak lain adalah Lili, Jeje, Wuwu dan Yuyu pun saling pandang mendengar ucapan orang yang dipanggil Jendral itu.
"Memangnya anda siapa hingga harus kami layani?" tanya Lili tenang.
"Hah, kau tidak tahu aku siapa? dasar bodoh! aku ini Jendral tertinggi dikerajaan Hun selain itu aku juga ayah dari Raja Hun sendiri kau paham!" ucapnya sombong.
Seringai licik muncul di bibir Lili dan Yuyu yang juga sedang sepemikiran dengan Lili.
"Tapi kalau aku tidak salah, hutan ini masih daerah milik kerajaan Xiao, lalu apa yang anda lakukan disini dengan semua prajurit perang ini Jendral?" pancing Wuwu angkat bicara.
"Hah, apa urusan kalian? aku mau dimanapun bukan urusan kalian juga karena kalian ini hanyalah sekelompok orang tidak berguna" kata Jendral Ace.
"Siapa yang peduli dengan itu, aku akan melakukan apapun yang aku mau karena putraku akan segera menggempur kerajaan Xiao agar menjadi milikku dan kerajaan Hun akan berganti menjadi kerajaan Sun jadi jangan banyak bicara kalian" marah Jendral Ace
"Maaf kalau begitu Jendral, kami hanyalah pengembara yang berpindah-pindah tempat dan tidak mengenal orang penting seperti anda" ucap Yuyu. Kau akan habis ditanganku gumam Yuyu dalam hati.
"Tidak ada gunanya kalian meminta maaf padaku, siapapun yang sudah menghinaku maka akan aku hukum kecuali kalian berdua mau melayani aku" tunjuk Jendral Ace pada Lili dan Yuyu.
Kedua wanita itu saling kode mata dan mengangguk tipis hingga tidak disadari oleh Jendral Ace.
"Kami akan melayanimu asal kau mampu memberi kami uang dengan jumlah yang sangat besar" ucap Lili
"Tidak ada wanita yang menolak setiap perkataanku bahkan tidak ada satupun dari mereka yang berani meminta uang padaku" bentak Jendral Ace.
"Kalau begitu maaf Jendral kami harus pergi mencari uang ditempat yang lainnya" ucap Yuyu.
Mereka berbalik ingin pergi tetapi semua prajurit Jendral Ace menahan mereka.
"Kalian bahkan tidak menunjukkan wajah kalian tapi minta bayaran, bahkan kecantikan para wanitaku tidak bisa dibandingkan dengan kalian yang hanya wanita kumal, bawa kedua wanita itu masuk dan ikat kedua teman prianya" ucap Jendral Ace.
Lili dan Yuyu dipaksa masuk kedalam dan dilemparkan kehadapan Jendral Ace yang sedang minum anggur. Setelah kedua wanita itu dihadapannya, Jendral Ace meminta prajuritnya menjaga diluar semua dan tinggallah dia dengan kedua wanita itu.
"Sudah beberapa hari aku tidak menikmati bunga segar selagi pengawalku yang lain mencari gadis muda kalian akan jadi pembuka yang sangat menyenangkan" ucap Jendral Ace genit sembari menyentuh wajah Lili.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Jendral Ace, Lili dan Yuyu melakukan kegiatan dibawah meja. Lili memberikan sesuatu yang berbentuk bulat kecil pada Yuyu yang langsung dimasukkannya kedalam gelas Jendral Ace yang sedang dia pegang dekat Yuyu.
"Tua bangka sepertimu sudah seharusnya masuk tanah, tidak pantas berkeliaran lagi, apa lagi sampai jadi teh celup, sungguh memalukan" maki Lili didepan wajah Jendral Ace.
Tentu saja orang yang mendapatkan makian itu tidak terima dan mencengkram dagu Lili kuat lalu dengan santainya meminum anggurnya.
"Kau mau tahu bagaimana rasanya? kita akan mulai sebentar lagi" ucap Jendral Ace yang tiba-tiba matanya menjadi terasa buram.
Kepalanya di geleng-gelengkan mencoba menghilangkan efek yang ia kira mabuk. Bahkan matanya ia bolak-balik ia kucek agar penglihatannya kembali normal. Namun yang terjadi pada Jendral Ace malah jatuh pingsan setelah Lili memegang tangannya.
Senyum sinis kedua wanita itu mengembang karena rencana mereka berhasil. Dengan cepat mereka mengikat Jendral Ace dan membungkam mulutnya dengan kain.
"Obat apa yang kau berikan Li?" tanya Yuyun penasaran.
"Obat halusinasi dan lupa ingatan sesaat" jawab Lili santai.
"Lalu prajurit yang dihutan tadi?" tanyanya lagi
"Sama" jawabnya singkat
"Tapi kenapa pengawal yang tadi baik-baik saja"
"Aku sengaja menyisakan dia hanya dengan obat halusinasi saja agar membawa kita kesini tapi mungkin sekarang dia sudah bereaksi" ucap Lili santai lalu mencomot buah apel yang menggiurkan menurutnya.
Benar saja jika sedang terjadi kegaduhan diluar akibat pengawal yang tadi terkena pengaruh obat sudah marah-marah dengan teman-temannya dan melayangkan pedangnya kesegala arah.
Tiba-tiba ada seorang prajurit yang mendekati Lili dan Yuyu yang masih asik melihat aksi mereka yang mencoba menenangkan temannya.
"Dimana Jendral? kenapa kalian berdiri disini?" tanya orang itu marah meski panik.
"Banyak omong!" Tinju Lili melayang tepat dihidung orang itu yang langsung terjungkal kebelakang dengan darah mengalir dari hidungnya yang bisa dipastikan patah.
"Yu, lepaskan teman kita disana" tunjuk Lili pada Jeje dann Wuwu yang diikat pada tiang.
Tanpa menjawab Yuyu langsung berlari menuju kedua temannya, tapi jalannya terhalang karena prajurit Jendral Ace yang menyerangnya. Jeje dan Wuwu yang ternyata sudah melepaskan tali yang mengikat mereka segera membantu Yuyu.
Lili juga ambil bagian melawan prajurit yang terpecah jadi beberapa bagian, karena teman mereka yang juga menyerang membabi buta siapa saja yang dilihatnya. Karena kalah jumlah dengan lawan, Lili sempat berpikir untuk menggunakan pistolnya agar lebih cepat.
Tetapi sesuatu yang tidak ia duga terjadi, prajurit dengan seragam yang sudah pasti dia tahu dari mana asalnya itu datang menyerang lawan dan dalam sekejab sudah rata semua tanpa tersisa bahkan yang mengamukpun sudah terkapar bersimbah darah.
"Kenapa mereka bisa ada disini?" gumam Lili heran.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya dengan senyum yang tertutup oleh kain hitam yang sama dengannya.
Lili menatap mata pria itu dan betapa kagetnya ia saat tahu siapa orang itu walau hanya dari matanya saja. Wajah bingung dan kagetnya tidak bisa ia sembunyikan melihat kehadiran suaminya disana.
Pria itu adalah Pangeran Jun, suami tampannya Putri Lie yang saat ini menjelma menjadi pria misterius.
"Apa kabar manis? bagaimana mungkin seorang wanita cantik bisa ada ditempat seperti ini?" tanyanya dengan alis yang dinaik turunkan.
"Berhenti bersikap seperti itu, kau sudah merusak kesenanganku" ketus Lilu.
"Aku hanya menumpas penyusup sekaligus orang yang sudah mencoba menyerang kami" ucap Pangeran Jun santai.
"Kalian diserang? bagaimana mungkin?" tanyanya tidak yakin.
"Tidak ada yang tidak mungkin sweetyy, mata-mata mengabariku kalau akan ada penyerangan dan penyusup dihutan ini jadi kami habisi saja sekalian agar tidak ada yang berani menyusup sembarangan lagi" Pangeran Jun mengalihkan pandangannya pada prajuritnya yang keluar dari tenda dengan seseorang yang sedang diikat.
"Kenapa kalian mengikatnya?" tanya Pangeran Jun dingin.
"Maaf Yang Mulia Pangeran, Jendral Ace sudah seperti ini ketika kami masuk bahkan ia tidak sadarkan diri" jawab Panglima Byun.
mendengar jawaban dari anggotanya itu Pangeran Jun langsung mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang nampak cuek.
"Ya sudah bawa dia keperbatasan secepatnya dan masukkan penjara" ucap Pangeran Jun.
Panglima Byun langsung melakukan perintah tuannya setelah menunduk hormat meski ia bertanya-tanya siapa wanita yang sedang berdiri dihadapan sang tuan. Namun ia tidak berani bertanya dan lebih memilih pergi sesuai perintah.
"Apa yang ia lakukan pada kamu hingga jadi seperti itu?" tanya Pangeran Jun pada istrinya.
"Dia mau melecehkan aku, kamu harus memberinya pelajaran honey, lihat ini" Lili menunjukkan dagunya yang tadi dicengkram masih meninggalkan bekas merah.
"Apa pria tua itu yang melakukan ini?" tanya Pangeran Jun memastikan dan mendapat anggukan dari istrinya.
"Ikut denganku keperbatasan" ucap Pangeran Jun.
"Tidak kami harus kekuil menemui bawahan Selir..."
"Itu mereka" tunjuk Pangeran Jun pada orang yang dimaksud istrinya.
Disana Yuyu sedang bersama dua orang pemuda yang terlihat menghormatinya.
"Ayo, kita akan merencanakan sesuatu nanti disana" Pangeran Jun menggenggam tangan istrinya untuk naik kekuda.
__ADS_1
Batal sudah rencanaku mencari kesenangan gumam Lili dalam hati dengan kesalnya.