Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
56


__ADS_3

Keadaan desa Ruhai sudah lebih baik lagi dari sebelumnya, semua kebutuhan sudah tercukupi, rumah-rumah sudah layak huni, desa juga sudah bersih dari semua sampah dan ranting kayu.


Lumbung yang mereka buat sudah di isi dengan kebutuhan pokok yang mencukupi untuk beberapa bulan kedepan hingga sawah dan sayuran mereka siap panen. Kerajaan juga akan mengirimkan distribusi lainya untuk pemuluhan kembali desa Ruhai.


Semua makanan sudah tersedia di balai hanya tinggal menunggu kedatangan Pangeran Jun dan warga yang sedang di panggil oleh Jie. Tidak lama muncullah sang pangeran yang di ikuti oleh semua warga desa.


Putri Lie menyiapkan makanan untuk Pangeran Jun yang datang mendekatinya dengan senyum tampan yang menyebabkan para gadis desa melihatnya terpesona.


"Jangan senyum!" larang Putri Lie kesal


"Kenapa?" tanya Pangeran Jun bingung


"Lihat tuh jadi pusat perhatian para wanita" kesal Putri Lie.


Bukannya menuruti ucapan istrinya, Pangeran Jun malah semakin tersenyum manis hingga wanita-wanita itu hampir berteriak histeris melihatnya.


Karena rasa kesalnya akibat kelakuan para wanita genit itu membuat Putri Lie benar-benar meradang. Apa lagi suaminya yang malah semakin tersenyum itu.


"Apa yang kalian lihat? suami saya bukan tontonan" ucap Putri Lie galak dengan nada dinginnya.


Para wanita yang tadi mengagumi Pangeran Jun sontak menunduk takut mendengar ucapan Putri Lie. Hanya satu wanita saja yang berani menatapnya dengan menantang, siapa lagi kalau bukan Centilani wanita yang sangat terobsesi dengan Pangeran Jun.


"Maaf Permaisuri, tetapi tidak ada larangan bagi seorang gadis menatap minat pada Yang Mulia karena beliau memiliki hak untuk memiliki selir banyak sekalipun" ucap Centilani meremehkan Putri Lir.


Pangeran Jun sangat geram dengan ucapan wanita yang suka mengganggunya itu karena sudah meremehkan istrinya. Belum ia angkat bicara suara sang istri sudah terdengar lagi.


"Apa kau pikir tanpa ijinku dia bisa memiliki selir seenaknya saja, jika aku tidak ijin maka wanita itu hanya akan di anggap sebagai penggoda rendahan" kata Putri Lie sarkas.


"Kau masih muda jadilah wanita yang berguna untuk orang tuamu lebih dulu atau setidaknya jangan membebani orang tuamu dengan tingkahmu yang menjijikkan itu. Penggoda kecil sepertimu sangat mudah untuk di basmi" lanjutnya.


"Kau tidak bisa melakukan itu pada Yang Mulia, jika beliau mencintai wanita lain yang ingin di nikahi maka kau tidak boleh menghalanginya sekali kau Paermaisuri dan juga putri seorang Jendral" ejek Centilani.


Memuncak sudah amarah sang putri karena ayahnya di sebut-sebut.


"Tanpa ayah dan suami sekalipun aku tetap bisa menghabisimu dengan mudah, kau tahu penggoda kecil sepertimu sangat banyak di kota bahkan lebih berkualitas darimu jadi jangan berbangga hati hanya karena kau di anggap lebih cantik karena kecantikan yang sebenarnya itu ada di hati dan perbuatan bukan wajah yang daoat menipu seperti dirimu ini" ucap Putri Lie dingin dan tajam.


Centilani yang tadi berlagak sombong langsung terdiam karena aura mengerikan dari Putri Lie. Bahkan ia tidak mampu bergerak hanya kerena tatapan tajam san putri padanya yang seperti akan membunuh.

__ADS_1


"Kalian gadis-gadis muda jaga harga diri sebagai wanita agar lebih di hargai oleh orang lain tunjukkan bakat dalam kesenian dan lainnya kecuali bakat menggoda milik orang lain. Itu sungguh memalukan dan dapat menghancurkan masa depan orang lain apa lagi jika sudah punya keluarga dan anak, apa kalian tega melihat anak kecil terlantar karena ambisi kalian?, ternyata kalian sangat memalukan" sarkas Putri Lie lalu pergi dari balai itu.


Pangeran Jun memandang tajam semua wanita muda yang tadi menatapnya.


"Kalian harus tahu satu hal dan ingat baik-baik terutama kau" tunjuk Pangeran Jun pada Centilani.


"Aku hanya akan memiliki satu istri dan tidak akan pernah mencari wanita lain walaupun ia mengijinkan, aku tidak melarang kalian untuk mengagumi atau menyukaiku karena perasaan tidak bisa di paksakan hanya saja jangan mengorbankan orang lain demi perasaan kalian yang tidak tepat pada tempat yang benar" ucap Pangeran Jun dingin dan tajam lalu menyusul istrinya.


Warga yang mendengar ucapan sarkas yang sarat akan kekecewaan dari kedua orang yang sudah berjasa bagi desa mereka itu sangat marah pada anak-anak mereka apa lagi ibu Centilani yang merasa sangat malu.


"Kau sangat memalukan Lani, ibu sudah pernah mengingatkanmu agar tidak meneruskan ambisimu. Sekarang lihat apa yang kau lakukan, aku tidak akan melakukan apa pun jika mereka menghukummu" ucap ibu Centilani kecewa.


Warga mencibir sikap Centilani yang tidak sopan berucap dan tidak bisa menghargai kebaikan seseorang yang sudah banyak membantu mereka semua. Centilani pergi dari balai itu karena tidak tahan terus di salahkan semua orang, ia akan menemui Putri Lie.


Sedangkan Putri Lie yang tiba di paviliun langsung meminta Mei untuk menyiapkan air mandinya dan melarang siapapun yang ingin menemuinya.


Pangeran Jun masuk paviliun mencari istrinya yang tidak terlihat di manapun. Saat melewati tempat pemandian ia melihat Mei dan beberapa pelayan lain di depan pintu, sudah pasti istrinya ada di sana.


Baru saja akan masuk ke dalam langkahnya sudah di tahan.


"Maaf Yang Mulia Pangeran, Permaisuri tidak ingin di ganggu siapapun" ucap Mei menunduk.


"Minggir atau kalian aku kirim ke pulau pengasingan" ancam Pangeran Jun yang langsung mendapat jalan masuk.


Mereka tahu bagaimana kejam dan menyeramkannya pulau pengasingan itu hingga menjadi tempat hukuman paling mengerikan yang harus di hindari.


Pangeran Jun masuk dan melihat Putri Lie yang hanya berbalut baju mandi tipis dan pendek itu sedang membelakanginya. Ia masuk setelah melepas pakaiannya dan hanya menggunakan celana pendek.


Awalnya Putri Lie terlonjak kaget karena peluka seseorang dari belakang, tetapi saat aroma tubuh yang sangat ia sukai itu tercium sudah tahulah ia siapa pelaku yang memeluknya ini.


"Kenapa melarangku masuk?" tanya Pangeran Jun semabri mengecupi leher dan pundak istrinya yang terbuka.


"Tidak ada yang melarang" jawab Putri Lie cuek


"Mereka melarangku masuk tadi, katanya kamu yang suruh" ucap Pangeran Jun


"Meski begitu tetap masuk juga bukan" sahut Putri Lie masih cuek.

__ADS_1


Pelukan erat di berikan Pangeran Jun pada Putri Lie untuk menenangkannya. Tangannya mengelus perut sang istri yang sedikit membuncit itu.


"Perut kamu membuncit ya sweetyy" ujar Pangeran Jun mendapat lirikan tajam istrinya.


"Maksudku, apa kamu hamil?" lanjutnya mengganti topik.


Putri Lie ikut memegang perutnya yang memang sedikit membuncit itu dan mengelusnya.


"Benarkah aku hamil? tapi tidak ada tanda apa pun" ucapnya


"Memangnya harus ada tanda apa sweetyy!" bingung Pangeran Jun


"Seperti mual dan muntah dan juga banyak lagi" kata Putri Lie kurang yakin.


"Kalau begitu kita harus periksa pada tabib untuk lebih jelasnya lagi" ucap Pangeran Jun semangat.


Putri Lie mengangguk setuju tapi masih ragu.


"Bagaimana kalau nanti saja setelah kita tiba di kota? aku tidak mau jika periksa di sini" cemberut Putri Lie.


Pangeran Jun gemas sendiri dengan istrinya yang sudah berubah mood itu.


"Baiklah istriku tercinta yang manis, kita akan periksa jika sudah tiba di kota nanti" ucapnya mencium pipi Putri Lie.


"Kalau aku tidak hamil bagaimana honey?" kata Putri Lie sedih


"Kita akan usaha lagi, banarkan sweetyy" Pangeran Jun mencubit hidung istrinya pelan.


Putri Kie menyandarkan kepalanya pada bahu Pangeran Jun dan menyentuh lembut luka yang sudah hampir sembuh itu.


"Kapan kita pulang?" tanyanya


"Lusa kita bisa pulang bersama dengan ayah mertua dan kakak ipar" jawab Pangeran Jun


"Kenapa tidak duluan kita saja?" tanyanya lagi


"Aku tidak ingin kejadian lalu terulang lagi, jika ada ayah dan kakak ipar keamananmu kebih terjamin. Bukan aku dan pengawalku tidak mampu hanya saja ada pasukan besar yang akan menghadang nanti setelah mereka tidak bisa mendapatkanmu" jawab Pangeran Jun.

__ADS_1


Putri Lie mengeratkan pelukannya pada sang suami sebelum mengajaknya keluar dari pemandian. Ia tahu suaminya itu sangat bertanggung jawab dan melindunginya jadi ia hanya bisa menurut saja walau sebenarnya ingin ikut oerang juga.


__ADS_2