
Hakim Zhang sendiri yang mendengar tiga orang yang akan dipenggal itu terus saling menyalahkan merasa sangat jengah karena hal seperti ini selalu terjadi setiap penjahat itu melibatkan wanita yang akan ikut dihukum mati juga.
Tepat waktunya untuk eksekusi hakim Zhang segera memerintahkan algojonya mulai melaksanakan tugas. Tapi saat pedang besar yang akan makan darah juga daging iti terhenti diudara karena teriakan seseorang.
"BERHENTI" suara teriakan itu berasal dari belakang kerumunan.
Tidak lama masuklah seorang wanita cantik bersama Raja dan Ratu Xiao yang berjalan dibelakang wanita itu. Dengan gaya sombongnya wanita itu mendekati hakim Zhang lalu menggebrak meja dihadapannya.
Brak
"Kau pikir siapa kau ini berani memenggal keponakanku? kau harus berurusan dengan Yang Mulia Raja lebih dulu jika ingin memenggalnya" ucap Selir Yezi dengan sombongnya.
Selir Yezi adalah Selir dari harem kerajaan Xiao, ia pula yang mengirimkan Rou dan Ming kekediaman Pangeran Jun sebagai selir karena tidak ingin keponakannya hidup miskin dengan orang tua mereka yang tetap memilih didesa.
Ming dan Rou mengirim surat pada Selir Yezi melalui burung merpati milik mereka saat dikurung dipaviliun sebelum eksekusi. Keduanya meminta agar Selir Yezi menyelamatkan mereka dengan alasan difitnah oleh Putri Lie.
Sementara Raja dan Ratu Xiao duduk bersama anak dan menantu mereka dengan tenangnya. Bahkan Ratu Xiao terlihat memeluk Putri Lie terus tanpa lepas dari duduknya.
"Semua bukti yang ada ditanganku sudah kuat dan membuktikan jika ketiga orang itu bersalah termasuk kedua keponakanmu itu Selir Yezi" ucap Hakim Zhang santai dan tenang.
"Tapi mereka difitnah! sedangkan yang memfitnah mereka sedang duduk tenang bersenang-senang" Selir Yezi menunjuk Putri Lie yang tertawa bersama Ratu Xiao.
Ratu Xiao merasa dirinya ditunjuk oleh Selir Yezi langsung memasang wajah galaknya.
"Apa maksud perkataanmu itu Selir Yezi? aku tidak tahu apapun tentang masalah keponakanmu!" kata Ratu Xiao.
__ADS_1
"Aku tidak menunjuk anda Yang Mulia Ratu, walaupun anda juga sebenarnya terlibat atas apa yang terjadi pada keponakanku hingga seperti ini, kau dan menantumu yang tidak tahu diri itu sudah menjebak kedua keponakanku" ucap Selir Yezi marah.
Raja Xiao memandang tajam Selir Yezi karena tidak suka jika istrinya difitnah. Tapi belum lagi Raja Xiao membuka suaranya, Ratu Xiao sudah menjawab lebih dulu.
"Hakim Zhang! apa hukuman untuk seseorang yang sudah melakukan fitnah tanpa bukti, apa lagi dia sudah memfitnah seorang Ratu dihadapan umum hanya berdasarkan asumsinya saja, ini benar-benar memalukan" sinis Ratu Xiao.
Baru kali ini sang ratu membanggakan diri dan menggunakan kedudukannya untuk membalas Selir Yezi yang juga sering menggunakan kedudukannya sebagai selir utama diharem.
"Hukuman bagi seorang yang memfitnah tanpa bukti akan dikenakan hukuman cambuk 100 kali sedangkan orang yang sudah menghina seorang Ratu yang merupakan simbol keindahan kerajaan akan dikenakan hukuman dibuang kepulau pengasingan atau dihukum mati sesuai akibat dari ucapan orang tersebut" jawab Hakim Zhang seraya melirik wajah Selir Yezi yang mulai pucat.
"Beri dia hukuman mati juga karena sudah mencemarkan nama baik Ratu juga Permaisuri Jun dengan omong kosong tanpa ada bukti apapun" ucap Raja Xiao berdiri dari duduknya.
Raja Xiao sudah sangat muak dengan tingkah laku Selir Yezi yang selalu mencari perhatiannya dengan segala cara hingga menggunakan obat-obatan untuk mendapatkan Raja, baik dalam keadaan sadar atau dibawah pengaruh obat sekalipun.
Selain itu Selir Yezi juga selalu mengusik kedamaian harem dan menggucilkan Selir lain yang kebih rendah darinya. Banyak pelayan yang terluka akibat siksa darinya jika tidak bekerja dengan baik.
Dari hukuman kurung hingga cambukan sudah ia rasakan tetapi tidak pernah membuatnya jera, tapi malah semakin menjadi liar. Demi ketenangan harem dan tanggung jawab atas ucapannya itu maka hanya hukuman mati yang harus ia terima.
Tentu Selir Yezi tidak terima dengan hukuman yang diberikan oleh Raja padanya. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun dan tetap teguh pada pendapatnya.
"Aku tidak sudi dihukum mati! hukuman itu hanya berlaku untuk kedua wanita murahan itu" tunjuk Selir Yezi pada Ratu Xiao dan Putri Lie.
Geram dengan sikap Selir Yezi yang masih saja tidak mengakui kesalahannya yang sudah disaksikan semua warga sekitar kediaman Pangeran Jun. Maka Pangeran Jun meminta Hakim Zhang segera bertindak cepat karena semua bukti sudah falit.
"Hakim Zhang! jangan membuang waktu lagi, laksanakan hukuman untuk mereka juga Selir Yezi yang sudah mengcemarkan nama baik Permaisuri dan ibuku" ucap Pangeran Jun dingin dan datar. Udah kayak lingkungan aja tercemar gumam Putri Lie dalam hati.
__ADS_1
Gakim Zhang mengangguk dan mengkode algojonya untuk bertindak dengan tiga orang yang diatas. Sedangkan dua lainnya menangkap Selir Yezi yang terlihat tenang karena ia yakin hukuman itu hanya sementara dan pasti pedang itu tidak mampu membunuhnya batin Selir Yezi tanpa memberontak.
Pedang besar algojo naik keudara dan turun melewati leher tiga tersangka itu hingga berpisahlah tubuh dan kepala mereka. Setelahnya Selir Yezi yang akan mendapatkan hukuman itu.
Selir Yezi di penggal oleh algojo menggunakan pedang yang masih berlumuran darah milik Rou. Setelah selesai Raja Xiao kembali berucap.
"Kubur jasad mereka ditempat yang paling sering dilewati orang-orang yang keluar masuk kota, buat tanda bahwa mereka adalah penghianat yang sudah menggunakan hak milik orang lain sembarangan dan memfitnah Ratu juga Permaisuri. Ini merupakan pelajaran untuk kita semua bahwa menggunakan hak orang lain itu tidak benar dan tidak dianjurkan, bekerja samalah dalam hal kebaikan dan ciptakan banyak manfaat untuk yang lainnya bukan memanfaatkan lainnya. Selain itu kita juga harus bisa mengendalikan ucapan agar tidak mengatakan sesuatu yang dapat membawa masalah bagi diri sendiri dan orang lain, ambillah sisi dari kejadian ini sebagai pelajaran agar lebih baik dan bisa menjaga ucapan" kata Raja Xiao tegas pada warga yang datang disana.
Setelahnya semua warga bubar kembali kerumah masing-masing. Tinggallah keluarga Raja Xiao dan hakim Zhang serta beberapa pengawal mereka. Putri Lie yang sudah sangat penasaran bagaimana kedua mertuanya itu bisa hadir disana langsung bertanya.
"Bagaimana ibu dan ayab bisa datang kemari secepat ini?" tanya Putri Lie.
Ratu Xiao tersenyum menatap menantunya.
"Kami sudah berangkat kemari sejak pagi tadi nak, ibu dan ayah ingin menghabiskan waktu bersama kalian sejenak sebelum suamimu pergi bertugas lagi, tapi Yezi menghadang kami yang akan jalan dan mengatakan semua keburukan kamu yang memfitnah kedua keponakannya hingga mereka dihukum lalu memaksa ikut kemari juga, karena kami tidak ingin menghalangi niatnya bertemu keponakannya jadi kami membawanya" jawab Ratu Xiao.
"Siapa yang sangka jika disini akan dilakukan hukum pancung untuk kedua keponakannya itu, jadi dengan marahnya ia langsung kesini setelah mendengar cerita dari penjaga gerbang" sahut Raja Xiao.
"Sudahlah! ayo kita kembali, ibu sudah sangat merindukan kalian berdua dan tidak ingin suasana kebersamaan kita diganggu dengan hal ini" ucap Ratu Xiao menarik Putri Lie dan meninggalakan suami beserta anaknya dibelakang.
"Katanya rindu kami berdua tapi yang dibawa hanya istriku saja! bagaimana sih ibu?" gerutu Pangeran Jun.
Raja Xiao menepuk pundak anaknya dengan tersenyum.
"Jangan heran dengan ibumu yang memang selalu seperti itu nak, sejak dulu memang ini yang ditunggu-tunggunya bukan" ucap Raja Xiao berlalu bersama yang lainnya di ikuti Pangeran Jun dibelakangnya.
__ADS_1
Memang benar jika Ratu Xiao sangat ingin punya anak perempuan tapi tidak pernah dapat, bahkan Pangeran Jun sering ia minta untuk segera menikahi Putri Lie yang sudah mereka pinang sejak kcil sewaktu masih remaja. Tentu Pangeran Jun tidak mau dan untungnya Raja juga melarang hal itu, ada-ada saja ibu pikirnya.