Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
61


__ADS_3

Sebelum matahari menampakkan sinarnya di pagi yang baru ini. Rombongan Pangeran Jun dan pasukan Jendral Han sudah pergi meninggalkan desa Banda dengan alasan agar lebih cepat tiba di kota.


Padahal sebenarnya karena Pangeran Jun tidak ingin kejadian seperti kemarin malam terulang lagi. Apa lagi anak dari Hino itu sudah sangat kurang ajar kepada pelayan kesayangan istrinya dan berani menatap lapar pada sang istri tercinta.


Putri Lie bahkan masih tertidur lelap ketika Pangeran Jun membawanya masuk ke kereta kuda. Hingga sinar mentari cerah menerangipun Putri Lie belum juga bangun dari tidurnya yang sangat nyaman dalam pelukan Pangeran Jun.


Bahkan ia mengeratkan pelukannya pada suaminya dan mencari posisi nyamannya untuk semakin nyenyak. Pangeran Jun hanya tersenyum saja melihat kelakuan Putri Lie yang sedang mencari kenyamanan padanya.


Ia merasa sangat di butuhkan dan di inginkan oleh istrinya itu sebagai tempat bersandar dan bermanja ria juga tempat untuk mendapatkan kebahagiaan berumah tangga dan merajut cinta.


Tangannya terulur untuk mengelus lembut pundak Putri Lie dan mengecupi puncak kepalanya mesra menyalurkan kehangatan yang ia miliki untuk wanita yang sangat di cintainya itu selain sang ratu ibunya.


Meski hubungannya dengan ibunya sangat plat alias datar-datar saja karena ia memang tidak terbuka pada ibunya. Tapi setelah melihat bagaimana kasih sayang yang dimiliki keluarga sang istri.


Apa lagi istrinya yang sangat mendambakan sosok ibu dalam hidupnya, Pangeran Jun merasa sangat bersalah pada ibunya sendiri karena tidak pernah memperdulikan perhatian yang selalu di berikan sang ibu padanya.


Yang nyatanya wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu sangat menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Ia ingat bagaimana khawatir ibunya ketika ia sedang demam tinggi sewaktu kecil.


Ibunyalah orang yang paling posesive padanya dan paling mengutamakan dirinya kala itu. Bahkan semua yang di berikan padanya harus di periksa dan dilihat langsung oleh ibunya itu agar lebih terjamin.


Tanpa terasa air mata Pangeran Jun menetes kala mengingat semua kenangan dengan ibunya, tapi apa yang sudah ia lakukan untuk ibunya. Bahkan bicarapun ia sangat datar pada sang ibu dan tidak pernah menatap wajah ibunya yang selalu mengajaknya berbicara bila bertemu.


Maafkan anakmu ini ibu batinnya menangis dalam diam. Putri Lie yang merasakan air jatuh pada wajahnya segera membuka matanya dan mendapati suami tampannya sedang menangis dalam diamnya.


Antara kaget dan penasaran melihat pria yang biasanya dingin dan datar itu bisa menangis juga. Tapi melihat banyak kesedihan di mata suaminya itu Putri Lie melepas pelukan mereka.


Tangannya terulur menyentuh wajah Pangeran Jun lalu menghapus air mata yang masih mengalir itu. Pangeran Jun terkejut karena ada tangan yang menyentuh wajahnya dan memegangnya dengan cepat.


Pangeran Jun melihat siapa pelakunya dan kemudian tersenyum melihat senyum manis dari sang istri tercinta. Pelukan kembali ia berika pada Putri Lie yang masih kebingungan dengan sikapnya yang aneh itu.

__ADS_1


"Kita akan segera bertemu ibu di istana nanti" ucapnya lirih sarat akan kerinduan membuncah yang tertahan.


"Maksud kamu ibu ratu?" tanya Putri Lie.


Pangeran Jun menganggukkan kepalanya lalu melepas pelukan itu, ia menatap wajah istrinya sayang.


"Setibanya di kerajaan nanti kita akan tinggal di sana dulu beberapa hari, setelah itu baru kita pulang atau kalau kamu sudah ingin pulang baru kita akan pulang, bagaimana?" usul Pangeran Jun.


Putri Lie berpikir sejenak.


"Lalu selir Nan bagaimana? apa dia tidak akan kesepian jika kita tinggalkan terlalu lama?" tanya Putri Lie


"Tidak, kamu tenang saja dia akan segera punya teman di sana dan dia juga pasti akan memilih tetap di sana dari pada di istana" jawab Pangeran Jun.


"Baiklah aku ikut gimana kamu saja yang penting selalu bersama kamu" kata Putri Lie memeluk suaminya lagi.


Sedang enaknya berpelukan tiba-tiba ada kepala yang mucul di depan mereka.


Pangeran Jun dan Putri Lie saling pandang karena kaget dan bingung cepat sekali sampainya pikir Putri Lie.


"Apa sudah sampai kota kakak ipar?" tanya Pangeran Jun


"Belum, kita istirahat dulu makan siang" jawab Panglima Min lalu menarik kepalanya lagi.


"Untung saja mereka sedang tidak melakukan hal yang dapat menodai kesucian mataku" gumamnya pelan.


Putri Lie dan Pangeran Jun turun dari kereta dan mendekat pada semua orang yang sedang sibuk menyiapkan tempat untuk mereka duduk.


"Apa masih lama lagi perjalanan kita ayah?" tanya Putri Lie pada Jendral Han yang sudah di depannya.

__ADS_1


"Kalau tidak ada halangan besok pagi kita akan tiba di kota atau paling cepat nanti tengah malam"jawab Jendral Han menatap putrinya.


Panglima Min mendekat pada adiknya itu dan mengelus kepalanya lembut.


"Kamu lelah ya!" ucap Min khawatir.


Putri Lie memeluk kakaknya itu dengan manjanya.


"Tidak, aku senang ikut kemanapun kalian pergi asal ada ayah, kakak dan juga suamiku tercinta itu" kata Putri Lie sembari menunjuk pada Pangeran Jun yang sedang bersama pengawal pribadinya.


"Kalau kakak, kamu cinta tidak?" tanya Panglima Min menggoda.


"Kakak dan ayah adalah cinta pertamaku yang sudah mendapatkan hatiku di tempat yang spesial sebagai cinta abadi dengan ikatan darah, sedangkan suamiku adalah pria yang aku cintai dengan hatiku yang lain sebagai teman hidupku selama aku masih bernafas. Jadi kalian bertiga sudah mendapatkan tempat tersendiri di hatiku yang akan selalu hidup selamanya begitupun dengan ibu" kata Putri Lie sendu setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


Jendral Han yang mendengar dan melihat apa yang dilakukan kedua anaknya itu pun mendekati mereka. Senyuman yang penuh ketulusan dan kasih sayang seorang ayah ia berikan pada kedua anaknya.


"Suatu saat nanti kita semua pasti akan dapat berkumpul bersama-sama dengan ibu kalian" ucap Jendral Han.


Ketiga orang itu terus bercengkrama bersama hingga Nam datang memanggil mereka untuk makan. Di sana sudah ada Pangeran Jun yang duduk manis dengan makanan di hadapannya yang sudah ia siapkan.


Melihat makanan yang sangat banyak di hadapannya membuat nafsu makan Putri Lie melonjak. Dengan penuh semangat ia mendekati sang suami dan menyambar makanan yang sudah di siapkannya.


Makanan itu mendarat dengan mulus di dalam mulut Putri Lie hingga penuh. Semua orang yang melihat cara makan seorang permaisuri yang baru mereka tahu sekarang sangat kaget.


Sedangkan Pangeran Jun hanya menggelengkan kepalanya, sudah biasa baginya melihat hal tersebut dan semakin membuatnya tidak sabar untuk tiba di istana lalu memeriksakan istrinya itu.


Semoga saja kamu benar-benar hamil Sweetyy batin Pangeran Jun sembari menatap sang istri yang masih menikmati makanannya. Jendral Han sedikit heran dengan putrinya itu karena ia tidak pernah melihatnya makan dengan sangat lahap seperti itu.


Namun ia tidak mempermasalahkan bagaimanapun putrinya itu makan yang penting anaknya sehat dan bahagia sudah cukup baginya.

__ADS_1


Karena stok makanan yang mereka sangat banyak dan cukup untuk dua kali makan lagi jadi Putri Lie bisa makan sepuasnya. Tetapi ia tetap menahan nafsu makannya agar tidak terlalu berlebihan karena takut gemuk.


Perutnya saja sudah membesar bagaimana kalau bukan hamil tapi karena memang berat badannya yang bertambah batin Putri Lie. Ia pun merencanakan sesuatu untuk menurunkan berat badannya nanti jika memang ia tidak hamil.


__ADS_2