Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
78


__ADS_3

Tabib Yuan datang dengan buru-buru karena takut sakit Pangeran Jun semakin parah, sementara Jei menyusul di balakangnya ikut berlari mengejar.


Setelah Jei datang menemui tabib Yuan, ia mengatakan bahwa Pangeran Jun memintanya untuk datang segera ke kolam ikan. Tabib Yuan langsung panik dan berlari setelah menyambar kotak obatnya tanpa menghiraukan Jei yang berteriak padanya.


Setibanya di kolam ikan yang dimaksud Jei, ia melihat sang pangeran yang sedang berdiri di pinggir gazebo. Tabib Yuan semakin panik dibuatnya karena mengira Pangeran Jun akan bunuh diri dengan melompat kekolam ikan.


Dengan segera ia mendekat dan mencoba menghalangi niat buruk tuannya.


"Astaga Yang Mulia Pangeran jangan lakukan itu ku mohon" teriak tabib Yuan masuk ke gazebo.


Pangeran Jun dan Jie saling pandang dengan wajah heran atas apa yang terjadi dengan tabib Yuan itu.


"Apa maksudmu?" tanya Pangeran Jun bingung di angguki setuju oleh Jie.


"Yang Mulia, saya tahu Permaisuri sangat cantik dan banyak yang menginginkannya tapi anda juga sangat tampan jadi bisa cari pengganti yang lain jika Permaisuri selingkuh dari anda" ucap tabib Yuan yang semakin mendapat tatapan bingung dua orang dihadapannya.


"Kau sakit Yuan! minumlah obatmu sendiri jika kau sakit atau mau aku mintakan pada istriku yang sangat cantik itu obat paling mujarab!" kata Pangeran Jun.


"Saya tidak sakit Yang Mulia tapi anda yang sedang sakit jadi jangan lakukan itu kasihan Raja dan Ratu jika anda tidak ada lagi" Pangeran Jun langsung melotot tajam pada tabib Yuan yang mengatakannya tidak ada lagi.


Jei yang baru tiba langsung menjitak kepala tabib Yuan karena asal bicara.


"Apa yang kau katakan tabib bodoh! kau menyumpahi Yang Mulia cepat mati, apa kau ingin lebih dulu?" ucap Jei bertolak pinggang di samping tabib Yuan.


Tabib Yuan mengusap kepalanya yang terasa panas akibat jitakan Jei yang tidak main-main.


"Kenapa kau memukulku? bukankah tadi kau sendiri yang bilang kalau Yang Mulia memanggilku segera!" kata tabib Yuan membela diri.


"Tapi kenapa kau mengatakan hal bodoh itu hah? apa kau ingin Yang Mulia dan Permaisuri berpisah?" tanya Jie.


"Lalu kenapa Yang mulia berdiri di pinggir kolam seperti itu jika bukan untuk bunuh diri!" kata tabib Yuan.


Sontak saja ketiga orang lainnya tertawa keras mendengar ucapan konyol dari tabib muda itu yang mengira tuan mereka akan bunuh diri karena di selingkuhi.


"Kenapa kau bisa jadi tabib jika kau sangat berpikiran dangkal?" ejek Jei.


"Haruskah aku menggantimu Yuan!" seru Pangeran Jun bercanda.


Mata tabib Yuan melotot sempurna mendengar penuturan tuannya itu.


"Jangan Yang Mulia, akukan tidak tahu apa yang sedang anda lakukan, siapapun pasti akan berpikir begitu jika melihat posisi Yang Mulia berdiri" kata tabib Yuan berdalih.


"Kau harus periksa mata kalau begitu agar penglihatanmu lebih jelaslagi" kata Jei ikut mengejek.


Tabib Yuan sangat kesal karena di ejek oleh temannya. Untung saja mereka sudah biasa bercanda seperti itu jadi ia sudah lebih kebal dengan ejekan mereka.

__ADS_1


Akhirnya mereka berempat tenang setelah berhenti tertawa. Tabib Yuan terus melihat Pangeran Jun yang berdiri sembari memberi makan ikan.


Pangeran Jun terlihat baik-baik saja, bahkan sangat sehat tidak seperti kemarin saat ia di panggil. Wajah Pangeran Jun sudah tidak pucat lagi juga lebih berseri dari sebelumnya.


"Aku tahu kalau aku tampan Yuan, tapi maaf aku tidak suka laki-laki" kata Pangeran Jun menyadarkan tabib Yuan dari penilaiannya.


"Yang Mulia sudah sehat! bukankah semalam masih sakit dan belum saya beri penawar racunnya?" tanya tabib Yuan heran.


Pangeran Jun tersenyum tipis menanggapinya lalu duduk setelah selesai dengan ikan-ikannya.


"Tabib pribadiku lebih manjur dari pada kau juga obat darinya lebih luar biasa dari pada obatmu" ucap Pangeran Jun.


Mendengar itu membuat tabib Yuan merasa sedih karena sudah ada pengganti dirinya.


"Yang Mulia, anda sungguh tega padaku, padahal aku hanya sedang meracik obatnya dan sekarang sudah siap, apa kekuranganku hingga harus di gantikan" kata tabib Yuan sendu.


Karena lelah tertawa terus mereka tidak menghiraukan perkataan tabib Yuan yang memasang wajah sedih itu.


"Jei! dapur" ucap Pangeran Jun singkat.


Wajah Jei berseri-seri karena di suruh kedapur menjemput Permaisuri dan yang lainnya.


"Siap laksanakan" Jei memberi hormat pada Pangeran Jun dengan tangan yang di letakkan di ujung alis mata kanannya.


Dengan cepat Jei berlari menuju dapur ingin segera melihat pujaan hatinya. Di dalam dapur ada Permaisuri Jun, Mei dan Tei yang akan pergi dengan makanan yang masih nampak panas di nampan. Sedang di belakangnya ada pelayan lain yang masih sibuk.


"Kau bicara dengan siapa? Permaisuri atau Mei?" sahut Tei yang ternyata tahu arah mata temannya itu.


"Tentu saja Permaisuri, diamlah kau merusak suasana" ketus Jei.


Putri Lie hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah paham betul bagaimana sikap trio macannya sang suami yang selalu ribut hanya karena hal kecil namun itu hanya bentuk canda dan keakraban mereka saja yang saling mendukung.


"Sudahlah sekarang kita temui Yang Mulia saja, bawakan minum itu Jei" kata Putri Lie seraya menunjuk nampan berisi teko air dan beberapa gelas.


Dengan senang hati Jei membawanya, apa lagi itu buatan Mei yang masih di dekat orangnya. Mata Jei di kedipkan menggoda Mei saat mereka dekat lalu Jei pergi lebih dulu setelah melihat rona pipi wanita itu yang muncul.


"Yang Mulia dan lainnya ada di kolam ikan Permaisuri" ucap Jei memberi tahu yang di jawab anggukan saja oleh si empunya nama yang di sebut.


Mereka pergi menuju kolam ikan tempat Pangeran Jun menunggu. Ia ingin makan di sana karena tempat itu sangat sejuk dan sedikit terkena matahari pagi yang menyehatkan tubuh.


Makanannya di letakkan pada meja yang ada di tengah-tengah gazebo itu. Sedang di sekitarnya ada bantal kecil untuk alas duduk.


Putri Lie mendekati suaminya yang masih duduk di bawah sinar matahari yang belum terlalu panas. Tentu Pangeran Jun menyambut kedatangan istrinya dengan senyum manisnya dan mereka duduk bersama di bawah sinar matahari itu.


Tabib Yuan mencium aroma yang sangat enak dari makanan yang dibawa oleh Putri Lie dan yang lainnya. Ia langsung mengangkat tangannya untuk mencoba makanan itu tapi di halangi oleh Mei.

__ADS_1


"Jangan macam-macam! Yang Mulia dan Permaisuri belum menyentuhnya" ucap Mei ketus, ia tidak suka jika makanan untuk tuan di sentuh orang lain.


"Kamu siapa berani melarangku?" tanya tabib Yuan tapi matanya melihat seluruh detail wajah Mei mengagumi.


"Tidak usah tahu! dia milikku! jangan memandangnya seperti itu atau aku congkel biji matamu itu" galak Jei tidak suka dengan tatapan temannya yang mengagumi pujaannya.


"Memangnya dia mau denganmu! aku lebih tampan darimu dia pasti lebih memilih aku" kata tabib Yuan percaya diri.


"Lihat saja nanti" kata Jei menantang tabib Yuan.


"Baik, pasti tabib tampan Yuan yang akan mendapatkannya karena tidak semua orang bisa tahu pengobatan, itu langka kau tahu!" tabib Yuan lebih percaya diri lagi dari sebelumnya.


"Permaisuri juga tahu pengobatan, aku sudah banyak belajar dengan beliau jadi tidak perlu tabib kalau bisa sendiri menyembuhkan sakit ringan" ucap Mei santai sembari menata makanan di meja.


Yang lain sudah menahan tawa melihat wajah melongo tabib Yuan yang tidak percaya dengan ucapan Mei.


"Tapi itu hanya sakit ringan bagaimana kalau yang sulit di sembuhkan seperti racun atau lainnya" ucap tabib Yuan lagi.


Mei tersenyum manis yang semakin membuat pria yang berseteru dengannya menaruh harapan.


"Permaisuri bisa mengobati yang parah sekalipun bahkan racun Yang Mulia semalam juga Permaisuri yang menyembuhkannya" kata Mei yang membuat tabib Yuan diam. Wanita yang sulit ditaklukkan, cukup menarik batin tabib Yuan dalam diam.


Tei, Jie dan Jei tertawa mendengar penuturan Mei yang membuat tabib Yuan diam seolah-olah menyampaikan penolakan secara halus akan ketertarikan yang di tunjukkan tabib Yuan lewat tatapan juga ucapannya.


Pangeran Jun dan Putri Lie mendekati lainnya yang sedang tertawa bersama dengan senangnya karena mengejek tabib Yuan.


"Sepertinya sangat seru tawa kalian!" ujar Pangeran Jun yang memang tidak mengetahui apa yang terjadi dengan pengawalnya hingga tertawa.


Pangeran Jun hanya terus memandangi dan membelai wajah istrinya yang semakin cantik berseri di bawah sinar mentari. Tidak perduli dengan keributan mereka hingga tawa kuat mengagetkan Pangeran Jun dan Putri Lie yang sedang bermesraan.


"Yang Mulia, Permaisuri, tabib Yuan tertarik dengan Mei dan mencoba merayu tapi gagal karena sudah di tolak lebih dulu" ucap Jie lalu kembali tertawa.


"Benarkah aku sudah ditolak bahkan sebelum maju berperang!" ujar tabib Yuan tudak percaya jika sudah ditolak.


Mei tidak mengatakan apapun kecuali anggukan kecil saja sebagai respon karena ia sedang sibuk membantu Putri Lie menyiapkan bubur pada mangkuk.


Tabib Yuan langsung lemas dan memasang wajah sedihnya du tolak. Sedang lainnya terus saja tertawa bahagia atas kesedihan tabib Yuan terutama Jei yang sangat bahagia.


"Kenapa kau menolak tabib Yuan sebelum ia menunjukkan keseriusannya Mei?" tanya Pangeran Jun.


Mei menghentika kegiatannya dan menunduk dalam menyembunyika rona pipinya yang muncul akibat pertanyaan tuannya.


"Karena saya akan memberi kesempatan pada Jei yang lebih dulu berjuang dan selalu ada untuk saya Yang Mulia, saya juga tidak mau memberi banyak harapan pada yang lain jika nanti tidak jadi dengan saya karena sudah nyaman dengan Jei" ucap Mei pelan namun masih dapat di dengar yang lainnya.


Kebahagiaan apa lagi yang lebih membahagiakan bagi Jei dari pernyataan yang didengar langsung bahkan di depan kedua tuannya juga teman-temannya. Ucapan Mei adalah kalimat terindah yang pernah ia dengar dan sangat membahagiakan untuk di jalani.

__ADS_1


"Astaga tuhan jika ini mimpi jangan bangunkan aku, kamu benar-benar membuatku Meilayang, Mei yang paling aku sayang" kata Jei heboh dan ingin memeluk Mei tapi di pelototi Putri Lie yang di samping Pangeran Jun, tepat di hadapannya.


Giliran tabib Yuan yang tertawa melihat Jei yang langsung terdiam tanpa berkutik sedikitpun. Setidaknya ada sedikit hiburan baginya ditengah keretakan hatinya akibat ditolak.


__ADS_2