Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
98


__ADS_3

Malam ini Pangeran Jun dan trio macannya sedang berdiskusi diruang belajarnya bahkan Wuse juga disana karena ia akan bertugas memastikan keamanan Putri Lie.


"Apa persiapan untuk besok sudah siap semua?" tanya Pangeran Jun pada keempatnya.


"Sudah siap Yang Mulia Pangeran, ada perintah apa lagi yang harus kami lakukan?" ujar Jie.


"Kita akan merubah rencana perjalanan, bagi jadi dua tim, tim pertama dibawa Jie, tim kedua akan dibawa Tei. Tim pertama berangkat besok pagi-pagi sekali dan tim kedua berangkat siangnya cari jalan pintas tercepat dan pastikan kalian tiba bersamaan disana, Jei dan Wuse tetap disisi Permaisuri pastikan kalian ikuti kemanapun ia pergi. Aku yakin dia akan pergi juga jadi aku akan mengikuti kalian nanti diam-diam, jangan katakan apapun yang sebenarnya pada mereka kalau aku belum pergi, karena besok siang aku akan ikut Tei untuk meyakinkan mereka jika aku sudah pergi. Tapi yang sebenarnya aku akan bersembunyi, Wuse tugasmu memberiku kode jika Permaisuri mulai bergerak" jelas Pangeran Jun.


"Baik Yang Mulia Pangeran kami mengerti" sahut mereka bersamaan.


"Wuse! pastikan semua prajurit bayangan siap mengintai prajurit perang kita yang akan berangkat besok dan sisakan dua orang untuk ku" ucap Pangeran Jun.


"Baik Yang Mulia Pangeran" sahut Wuse.


"Kalian boleh istirahat" ucap Pangeran Jun lagi.


Setelah memberi hormat pada Pangeran Jun barulah mereka bubar dari ruang belajar dan meninggalkan tuan mereka yang masih duduk dengan pikirannya.


"Aku tahu jika kamu pasti akan bergerak juga sweetyy, kamu benar-benar penuh kejutan dan aku akan benar-benar terkejut nanti saat melihat sendiri bagaimana aksimu yang membuat semua pengawalku kagum" gumam Pangeran Jun dengan senyum tipisnya.


Putri Lie sendiri sedang duduk didepan kaca melepaskan perhiasan dikepalanya untuk bersiap tidur. Sejak kembali ia belum malihat suaminya itu, bahkan makan malam tadipun Putri Lie hanya seorang diri.


Meski sudah tahu jika Pangeran Jun ada diruang belajarnya, namun Putri Lie tidak mau memanggilnya dan memilih makan sendiri, kalau laparkan datang sendiri begitulah pikirnya.


Setelah kembali dari mengganti pakaiannya, Pangeran Jun sudah terlihat berbaring diranjang dengan pakaian tidurnya. Sejak kapan dia masuk batin Putri Lie.


Namun ia tetap memilih mendekat dan merebahkan tubuhnya disamping Pangeran Jun karena sudah lelah dan butuh istirahat.


Pangeran Jun memiringkan tubuhnya menghadap Putri Lie yang sudah berbaring didekatnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menopang kepalanya dan tangan kanannya membelai pipi Putri Lie.


"Besok siang aku akan berangkat dengan Tei, kamu jaga diri baik-baik ya!" ucap Pangeran Jun.


Putri Lie yang sedang memperhatikan dan menyentuh bibir suaminya tiba-tiba berhenti dengan kegiatannya saat mendengar ucapan itu.

__ADS_1


"Kamu hanya berdua dengan Tei saja?" tanya Putri Lie tidak percaya.


"Tentu saja tidak sweetyy, banyak prajurit yang akan ikut dengan kami, Jie juga akan pergi lebih dulu dengan prajurit lainnya" ucap Pangeran Jun mencubit hidung istrinya.


"Jadi maksudmu kalian membagi jadi dua tim, Jie tim pertama sedangkan kamu dan Tei tim kedua!" Putri Lie meyakinkan opininya dan mendapat anggukan dari Pangeran Jun.


"Lau Jei tinggal!" tanyanya lagi


"Ya, dia dan Wuse sudah bertugas menjagamu" ucap Pangeran Jun.


"Kapan kamu akan pulang?" Putri Lie memeluk suaminya seakan-akan tidak rela ditinggalkan.


Pangeran Jun hanya tersenyum melihat tingkah Putri Lie yang ia sudah tahu jika itu hanya untuk pengalihan saja agar ia tidak curiga.


"Balum juga pergi sweetyy, kamu sudah bertanya kapan aku akan kembali, sebegitu beratkah bagimu berjauhan dariku!" goda Pangeran Jun manatap mata Putri Lie lekat.


Namun dengan cepat Putri Lie memutus kontak mata mereka karena tidak ingin jika Pangeran Jun tahu yang sebenarnya ia rasakan.


"Kalau begitu kamu tinggal diistana saja ya! disana ada ibu dan ayah juga Daren yang akan menjadi temanmu" usul Pangeran Jun dengan wajah khawatir.


"Tidak! lebih baik aku tetap disini saja dengan para pelayan, aku akan mengubah semua tatanan kediaman ini" tolak Putri Lie.


"Ya sudah kalau itu keinginan kamu, berhati-hatilah disini jaga kesehatan kamu ya!" ucap Pangeran Jun mengecup kening Putri Lie dalam dekapannya.


"Kamu juga hati-hati disana, makan yang teratur dan jangan lupa istirahat kalau lelah ya, nanti aku akan membawakan obat untuk kamu" kata Putri Lie menatap suaminya.


"Tabib Yuan sudah menyiapkan banyak obat-obatan untuk bekal perjalanan nati dan untuk jaga-jaga disana jika ada kemungkinan terjadi penyerangan" kata Pangeran Jun.


"Itukan dari tabib Yuan, tapi dariku! khusus untuk suamiku seorang saja yang boleh menggunakannya" ucap Putri Lie.


"Baiklah istriku tercinta, aku akan tunggu obat mujarabnya besok sebelum berangkat" Pangeran Jun kembali mengecup kening Putri Lie mesra.


"Ah, aku pasti akan sangat merindukan kamu sweetyy" ucap Pangeran Jun manja dna memeluk erat tubuh istrinya.

__ADS_1


"Aku juga akan sangat merindukan kamu, tapi pekerjaan ini mengharuskan kamu pergi bukan!" sahut Putri Lie.


"Iya, kalau saja perbatasan tidak lebih berbahaya dari perjalanan sebelumnya aku pasti akan membawamu" sesal Pangeran Jun dengan wajah sendunya.


"Sudahlah jangan seperti ini, sekarang tidur besok pagi aku akan siapkan makanan kesukaan kamu sebelum pergi, dan pastikan kamu menghabiskan semuanya ya!" Putri Lie mencubit gemas pipi sang suami.


"Tentu saja sweetyy, dengan senang hati aku akan menghabiskannya tanpa kamu minta sekalipun" kekeh Pangeran Jun mengingat betapa banyaknya ia makan jika makanan itu buatan istrinya.


Akhirnya mereka berdua menutup mata untuk tidur dengan saling berpelukan dan mengarungi mimpi bersama. Mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikiran dari segala kesibukan sehari-harinya.


Di lain tempat, Jei dan Wuse masih terjaga dan duduk dihalaman belakang sembari memantau keadaan kediaman. Setelah mengurus dan memberi arahan pada teman pengawal banyangan, Wuse mencari Jei untuk menanyakan apa yang akan mereka lakukan besok.


"Kira-kira Permaisuri punya rencana apa ya hingga Yang Mulia Pangeran sampai ingin melihat sendiri bagaimana aksi Permaisuri?" seru Wuse bingung.


"Jika kau bertanya padaku lalu aku bertanya pada siapa? bulan?" sahut Jei.


"Ya sudah tanyakan mungkin saja bulan tahu" ucap Wuse enteng.


"Yang pasti kita harus memastikan keselamatan Permaisuri dan menemaninya seperti waktu itu" ucap Jei.


"Iya aku tahu, tapi tingkah dan sikap Permaisuri benar-benar berbeda dengan wanita lainnya ya!" kata Wuse meminta persetujuan Jei.


"Permaisuri memang berbeda dengan yang lainnya dan aku yakin karena itu pula Permaisuri mampu meluluhkan hati dingin Yang Mulia Pangeran" sahut Jei.


Wuse menganggukkan kepalanya setuju, karena bagaimanapun juga ia tahu persis sikap tuannya itu yang tidak bisa didekati sembarang wanita. Apa lagi wanita yang terang-terangan menggoda Pangeran Jun, sungguh membuatnya jengkel sekali.


"Aku juga jadi penasaran dengan aksi yang akan dilakukan oleh Permaisuri, banyak misteri yang tersimpan dari nyonya kita itu Jei" ucap Wuse.


"Kau benar, tapi itu justru membuatnya banyak dikagumi dan sukai semua pria, bahkan prajurit perang dan pengawal yang menjaga kediaman banyak yang membicarakan Permaisuri dengan segala pesonanya yang memikat" ucap Jei.


"Hah, sudahlah kita juga sedang membicarakan beliau bukan! lebih baik ganti pembahasan saja dari pada nanti Yang Mulia mendengar maka kita akan terkena masalah" kata Wuse mengingatkan.


Akhirnya mereka membahas masalah lainnya dan juga kesiapan mereka mengawal Permaisuri yang sangat aktif dan lincah dalam setiap gerakannya seakan menunjukkan bahwa dia juga bisa melakukan apa yang dilakukan Pangeran Jun.

__ADS_1


__ADS_2