
Pangeran Jun dibantu bersiap oleh ketiga pengawal pribadinya setelah ditinggalkan oleh istrinya pergi ketempat orang tuanya.
Ia memaklumi sikap istrinya yang mudah kesal sekarang. Mungkin pembawaan bayi pikirnya karena memang sikapnya juga seperti itu dulunya jadi anaknya itu akan menuruni sikapnya.
"Selesai Yang Mulia" ucap ketiganya.
"Ya sudah ayo kita pergi sekarang" sahutnya.
Keempat pria itu pergi menuju aula istana dengan cepat karena biasanya Raja akan cepat tiba disana lebih dulu. Maka dari itu semua pejabat istana sudah terlihat cepat-cepat menuju aula agar tidak ketinggalaan.
Tiba disana suasanaanya sudah ramai oleh banyak pejabat yang hadir. Meski masih ribut karena suara mereka berbincang tapi Pangeran Jun mengabaikannya.
Ia terus berjalan menuju tempat duduknya sembari menunggu ayahnya dengan wajah dinginnya. Tiba-tiba datanglah seorang Perdana Mentri menghampiri Pangeran Jun yang sedang berbincang dengan pengawal pribadinya yang ikut masuk juga.
"Salam Yang Mulia Pangeran" hormatnya.
"Salam Perdana Mentri Haki" sahut Pangeran Jun datar juga dingin.
"Maaf mangganggu waktu anda Yang Mulia Pangeran, saya ada sesuatu ingin di sampaikan" ucapnya.
"Katakan"
"Begini Yang Mulia Pangeran, saya mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik dan pastinya baik, akhlaknya terpuji dan sopan santunnya juga bagus. Dia selalu menjadi rebutan banyak pemuda baik bangsawan maupun rakyat biasa dan banyak juga yang sering menyebutnya Permaisuri ja.." ucapan Mentri itu terputus.
"Langsung intinya" kata Pangeran Jun menatap dingin juga tajam pria paruh baya didepannya.
Pangeran Jun tahu maksud dari Perdana Mentri itu padanya tapi dia ingin mendengar langsung apa keinginan pria tua itu menceritakan tentang anaknya.
"Begini Yang Mulia Pangeran, anak saya ingin menjadi Permaisuri anda jadi maukah Yang Mulia Pangeran menerima anak saya jadi istri sekaligus Permaisuri!" ucapnya mengundang keheningan di aula itu karena mendapat perhatian penuh dari semua orang.
"Cari mati dia ya"
"Iya berani sekali melamar Yang Mulia Pangeran"
"Minta anaknya jadi Permaisuri pula"
__ADS_1
"Iya ya, memangnya Permaisuri Jun bisa disaingin oleh anaknya dalam segala hal"
"Gali kuburan sendiri dia tuh"
Bisik-bisik para pejabat yang lain terdengar olel Pangeran Jun yang memang sangat peka dengan keadaan sekitarnya. Lain halnya dengan pria yang dihadapannya ini.
Karena masih menunggu jawaban dari Pangeran Jun dengan harapan besar anaknya akan diterima. Dia menulikan telinganya dari ocehan orang ambisinya hanya bisa menjadi besan Raja maka akan mendapatkan kedudukan lebih di hormati dan takuti oleh semua orang.
Perdana Mentri Haki ini adalah pejabat baru, jadi dia tidak banyak tahu tentang masalah apa saja yang sudah dihdapi oleh Pangeran Jun. Jadi dia tidak tahu tentang kehidupan Pangeran Jun yang sudah memiliki pendamping.
Perdana Mentri Haki mulanya pejabat dikota yang cukup jauh. Karena kepandaiannya mengolah sumber pangan jadi dia diambil oleh Raja untuk mengatur semua kebutuhan pangan dinegara mereka.
Tanpa dia tahu kalau pria muda dihadapannya sudah berkeluarga karena selama dia menjadi pejabat kota yang dia dengar hanya tentang selir-selir Pangeran Jun yang sudah dihukum mati juga dibuang yang menghebohkan satu kerajaan Xiao.
Bahkan selama Perdana Mentri Haki tinggal diistana dia juga tidak pernah melihat wanita yang merupakan istri sang pangeran dimanapun. Juga tidak pernah mau perduli dengan orang lain karena dia baru masuk istana jadi sibuk dengan pekerjaannya.
Agar terlihat baik dimata Raja pastinya dan mendapat pujian dari semua orang juga Raja atas keahliannya. Ia juga selalu menulikan pendengaran atas kehidupan diistana yang selalu heboh karena ulah menantu raja mereka.
Apa lagi sejak putrinya mengatakan padanya kalau anaknya itu menyukai sang pangeran dan ingin menjadi permaisuri. Meski sering mendengar cerita para pelayan istana tentang wanita yang berasal dari paviliun Saga tempat tinggal Pangeran Jun.
"Bagaimana Yang Mulia Pangeran?" tanyanya karena melihat kediaman Pangeran Jun.
Meski sebenarnya dia takut akan tatapan membunuh yang sudah ditujukan padanya dari Pangeran Jun. Tetapi dia mengabaikannya demi mencapai tujuannya.
Baru saja Pangeran Jun akan membuka suara, pemberitahuan akan raja juga seorang permaisuri terdengar.
"Yang Mulia Raja dan Permiasuri Jun tiba di aula" teriak seorang kasim didepan pintu.
Semua orang berdiri memberi hormat pada Raja Xioa juga Permaisuri Jun yang memasuki ruangan.
Mata Pangeran Jun menajam melihat kehadiran istrinya yang tidak ia duga sama sekali. Itu artinya kepergiannya ketempat ayahnya tadi hanya untuk ikut ke aula.
Jika tahu seperti ini lebih baik istrinya itu tadi ikut dengannya saja supaya tidak diganggu juga dengan pria tua yabg menawarkan anaknya tadi.
"Salam kepada Yang Mulia Raja, salam kepada Permaisuri Jun" ucap Mereka bersamaan setelah Raja Xiao juga Permaisuri Jun duduk.
__ADS_1
Pangeran Jun menatap istrinya memberi kode agar berpindah tempat disampingnya namun diabaikan. Bahkan ayahnya sendiri memberi tatapan mengejek padanya yang juga memberi isyarat kalau menantunya itu merajuk dan tidak mau diganggu olehnya.
Pangeran Jun mendesah kecil karena menyadari arti tatapan ayahnya itu. Sepertinya dia harus mencari cara agar bisa bersama istrinya nanti agar pria yang menawarkan putrinya tadi bisa tahu siapa permaisurinya yang lebih pantas.
"Aku dengar ada penyerangan yang terjadi tadi malam, apa itu benar?" tanya Raja Xiao to the point.
Semua pejabat saling tatap bingung karena tidak mengetahui apapun tentang hal tersebut.
"Maaf Yang Mulia Raja kami tidak tahu" jawab mereka bersam.
"Benar Yang Mulia Raja ada yang melakukan penyerangan tadi malam terhadapku juga istriku" ucap Pangeran Jun menekan kata istri sebagai peringatan pada Perdana Mentri Haki yang berani memintanya menjadi menantu.
Benar saja kalau wajah pria itu kaget mendengar Pangeran Jun sudha memiliki istri tapi dia tidak akan menyerah. Setelah selesai rapat ini dia mendesak Pangeran Jun agar mau jadi menantunya.
"Siapa penyerang itu?" tanya Raja Xiao.
"Jika di lihat dari keahlian yang masih amatir juga tanda diwajahnya, saya menyimpulkan bahwa dia orang dari pulau pembuangan" jawab Pangeran Jun.
Semua orang kaget mendengar hal itu, tentu mereka tahu apa yang dimaksud oleh Pangeran mereka itu. Jika pulau pembuangan melakukan penyerangan itu artinya mereka siap tempur dan mati.
"Kau yakin Pangeran?"
"Tentu Yang Mulia Raja sekarang orang itu ada dipenjara bawah tanah istana"
"Bawa orang itu kemari"
"Baik Yang Mulia"
Pangeran Jun memberi kode pada Jei dan Tei untuk mengambil tawanan mereka tadi malam. Keduanya mengangguk kecil dan berlalu dari ruangan itu.
Pandangan Pangeran Jun jatuh pada Putri Lie yang terlihat acuh padanya bahkan memasang wajah betenya yang justru sangat lucu bagi siapapun yang melihatnya termasuk para pejabat yang memang mengenalnya.
Karena keaktifan Putri Lie di istana yang tidak bisa diam membuat semua pejabat istana mengenal baik padanya dan selalu memujinya. Kebaikan juga keramahannya membuatnya disukai semua oranag istana.
Kecuali keluarga Perdana Mentri Haki yang belum mengenal Putri Lie secara lebih jauh. Yang mereka tahu Putri Lie hanya anak perempuan raja karena sering bersama ratu yang memanggilnya anak.
__ADS_1
Perdana Mentri Haki sendiri menganggap kalau Putri Lie itu permaisuri kesayangan dari raja sendiri yang baru dilihatnya. Aku rasa Perdana Mentri Haki perlu periksa mata.