
Akhirnya Lili dan ketiga temannya ikut dengan Pangeran Jun keperbatasan bersama prajurit lainnya yang menggiring Jendral Ace.
Setibanya diperbatasan mereka sudah ditunggu oleh Jie, Tei dan Panglima Min. Melihat adik iparnya membawa seorang wanita berpenutup hitam, Panglima Min mengerutkan keninggnya tidak senang.
Sejak kejadian dikediaman ayahnya yang menyebabkan ia dan adiknya kehilangan ibu mereka. Panglima Min jadi lebih tertutup dengan wanita bahkan ia tidak suka dengan yang namanya punya banyak wanita alias play boy.
Panglima Min tidak ingin adiknya merasakan sakit seperti ibunya yang akhirnya meninggal karena rasa iri dari wanita pemuja pria dan harta.
"Siapa dia!" tanya Panglima Min dingin menatap tajam Pangeran Jun tanpa perduli status.
"Aku istrinya" jawab Lili sembari memeluk dan mengucup Pangeran Jun mesra saat melihat kakaknya marah.
"Dasar wanita murahan tidak tahu malu, dan kau!" tunjuk Panglima Min pada Pangeran Jun
"Aku akan menjemput Lie'er setelah pulang dari sini, aku tidak rela adikku disakiti oleh siapapun!" marah Panglima Min.
Lili atau Putri Lie tersenyum geli melihat kakaknya marah pada mereka yang mengira jika ia adalah wanita penggoda. Sedangkan Pangeran Jun tidak terima karena istrinya dibilang wanita murahan meski oleh kakaknya sendiri.
Tangan Pangeran Jun yang bergerak membuka penutup wajah mereka berdua dan menampakkan wajah Pangeran Jun dan Putru Lie. Panglima Min yang melihat wanita yang dihinanya tadi adalah adiknya merasa kaget tapi juga heran karena adiknya itu malah tersenyum geli.
"Jadi kamu Lae kecil! kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya tadi dan lebih memilih kakak menghinamu?" tanya Panglima Min tidak habis pikir dengan adiknya.
"Kakak saja yang langsung marah-marah hanya karena mendengar ucapan dari satu pihak tanpa perduli pendapat pihak lainnya" jawab Putri Lie santai dan memilih masuk meninggalkan kakak dan suaminya.
"Kalau kakak ipar ingin mengambil istriku setelah ini selesai maka kita harus bertarung dulu" ucap Pangeran Jun berlalu meninggalkan kakak iparnya.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan? memangnya aku tidak boleh mengkhawatirkan adikku sendiri?" gumam Panglima Min heran.
Didalam paviliun penjaga perbatasan sudah berkumpul semua orang untuk merencanakan hal selanjutnya. Namun salah seorang prajurit mata-mata yang dikirim Pangeran Jun datang melapor.
"Katakan!" ucap Pangeran Jun dingin.
__ADS_1
"Yang Mulia, perbatasan seberang tempat negara Hun mengumpulkan banyak prajurit dan membangun lumbung makanan, saya memperkirakan mereka akan melakukan penyerangan pada kita karena seperuh lebih pasukan kerajaan Hun berada diperbatasan" jelasnya.
"Separuh lebih! apa Raja Hun sudah gila dengan mengirimkan begitu banyak pasukan hanya untuk perbatasan saja" ucap Panglima Byun heran.
"Tidak usah heran begitu Panglima Byun, mereka memang sudah mengibarkan bendera perang pada kita jadi harus kita layani dengan baik, bukan begitu Yang Mulia!" seru Panglima Min.
Pangeran Jun tersenyum miring menanggapi ucapan kakak iparnya itu.
"Kita akan menyambut mereka dengan cara yang tidak terduga" kata Putri Lie menyela ucapan suaminya.
"Panglima Min, Panglima Byun, Jie dan Tei, perhatikan pasukan kalian masing-masing dengan teliti karena besar kemungkinan mereka akan mengirim mata-mata juga pada kita" ucap Pangeran Jun.
"Baik Yang Mulia" jawab mereka bersama.
"Untuk Jei dan Wuse kalian akan ikut aku dan kedua wanita itu untuk memberi mereka kejutan" ucap Pangeran Jun.
Panglima Min yang tahu maksud dari Pangeran Jun menggeleng tidak setuju.
"Apa kau akan membawa Permaisuri untuk ikut berperang juga? aku tidak setuju! adikku bisa terluka karena hal itu dan aku tidak mengijinkannya" tegas Panglima Min mencemaskan adiknya.
"Tidak Lie'er! apa yang akan aku katakan pada ayah nanti jika kamu terluka? lebih baik tetap disini bersama kakak atau kembali keistana" kata Panglima Min.
"Apa anda tahu Panglima Min? yang menyebabkan Jendral tua itu seperti orang bodoh adalah Permaisuri, kami juga sudah berjanji akan bersama-sama membebaskan semua tahanan Raja Hun" ucap Selir Nan.
"Kalian hanyalah wanita, tidak mungkin bisa berperang melawan begitu banyaknya mus..."
"Stop kak! jangan remehkan kami para wanita, apa kakak ingin lihat kemampuanku bahkan kakakpun bisa aku lukai hanya dengan dua gerakan saja" kata Putri Lie kesal memotong ucapan kakaknya yang terus melarangnya dan meremehkan kemampuannya.
"Tapi Lie'er kakak ha..."
"Ayo kita bertanding Panglima Min, dengan begitu kau akan tahu kemampuan kami" tantang Selir Nan yang tidak terima dengan ucapan Panglima Min.
__ADS_1
"Sudahlah Panglima Min, biarkan saja para wanita ini melakukan apa yang mereka inginkan dari pada harus berdebat dengan mereka yang tidak mau salah" ucap Pangeran Jun menghentikan ketiga orang yang saling kesal itu. Wanita memang maha benar dan tidak mau dibantah tetap saja kami harus mengalah gumam Pangeran Jun dalam hati lalu menghela napas.
Putri Lie menolehkan kepalanya pada Pangeran Jun saat mendengar helaan napas suaminya itu.
"Kenapa? kamu juga tidak mengijinkan kami berdua ikut?" tanya Putri Lie tidak suka dan diangguki oleh Selir Nan yang menatapnya garang seperti Putri Lie.
"Terserah apa kata kalian berdua yang penting kalau mau ikut harus mengikuti rencana ini" ucap Pangeran Jun lalu meletakkan denah kerajaan Hun.
Selir Nan kaget karena Pangeran Jun memilimi denah kerajaan Hun yang dia sendiri bahkan sudah lupa.
"Kau memilikinya? sejak kapan?" tanya Selir Nan.
"Dasar tidak sopan" sindir Panglima Min dan mendapat lirikan sinis dari Selir Nan.
"Nanti kau akan tahu setelah semuanya selesai" jawab Pangeran Jun.
Semua orang memfokuskan pandangan pada peta dimeja.
"Ini adalah penjara dalam istana, ini paviliun Raja, ini aula istana, ini kamp militer dan tempat tinggal jendral-jendral kerajaan, sedangkan yang ini adalah penjara dalam hutan tempat dimana Putra Mahkota Yun dan Raja sebelumnya ditahan sedangkan ibu dari Putra Mahkota Yun ditahan dipenjara dalam istana" jelas Pangeran Jun sembari menunjuk tempat-tempat yang ia sebutkan.
"Panglima Min dan Panglima Byun awasi keadaan perbatasan gerakan musuh, Jie dan Tei siagakan pasukan dititik-titik rawan yang dapat jadi sasaran utama musuh. Aku sudah mengirim surat untuk Yang Mulia Raja agar waspada dan bersiapa dengan segala kemungkinan musuh menyerang" lanjutnya.
"Yang Mulia, lalu apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" tanya Jie.
"Aku dan yang lainnya akan menyusup kesana dan menghancurkan mereka dari dalam agar tidak terlalu menimbulkan banyak korban jiwa terutama rakyan kerajaan Hun, jadi istriku tercinta, kamu harus mengikuti arahan dari suamimu ini agar tidak terjadi kesalahan" Pangeran Jun melihat Putri Lie yang nampak cuek namun memperhatikan setiap ucapannya.
"Ya baiklah Yang Mulia Pangeran yang terhormat, sekarang katakan apa rencananya?" kata Putri Lie menirukan seorang prajurit yang menerima perintah tuannya.
"Rencananya tidak ada, kita akan istirahat dulu nanti malam baru kita pergi kekerajaan Hun" jawab Pangeran Jun mendapat pelototan dari Putri Lie.
"Istirahat! saat semua musuh sedang bersiap kamu malah ingin istirahat! ya ampun suami macam apa yang sudah kau beri padaku tuhan!" kesal Putri Lie.
__ADS_1
"Kalau perginya sekarang mereka akan mengetahui kita melewati perbatasan tapi kalau nanti malam mereka akan lebih santai dan penjagaan tidak ketat jadi bisa mengecoh mereka agar tidak melihat kita masuk kesana. Karena sasaran utama untuk membuat mereka sibuk sudah dekat dengan kita jadi jangan terlalu terburu-buru jika ingin berhasil" ucap Pangeran Jun lalu menarik tangan Putri Lie menjauh dari tempat orang-orang yang masih berkumpul itu.
Benar juga kalau terburu-buru bergerak yang ada malah mati sia-sia, tidak kusangka suamiku ini begitu cerdik aku harus mempelajari tekniknya diam-diam gumam Putri Lie dalam hati sembari mengingat semua trik yang pernah dibuat suaminya lalu menggabungkan dengan berbagai rencananya hingga menjadi sebuah permainan yang seru baginya.