
Jei yang baru saja mendapat perintah dari Pangeran Jun untuk menjadi pengawal pribadi Putri Lie hingga seterusnya merasa sangat senang karena ia juga dapat menjaga pujaan hatinya selain menjalankan tugas.
Dengan cepat Jei meluncur masuk kedalam paviliun dan menemukan Mei sedang sibuk menyiapkan keperluan Putri Lie di dalam.
Jei menghampiri Mei yang akan pergi.
"Mei, mau kemana?" tanya Jei basa-basi
Mei melihat siapa yang memanggilnya dan mendapati Jei yang sudah tepat di belakangnya. Jantungnya langsung bekerja lebih cepat dari biasanya dan itu membuatnya sedikit gugup.
"Aku ingin menemui Permaisuri" jawabnya.
Jei tersenyum senang karena ia juga ingin menemui Permaisuri.
"Kalau begitu kita bersama saja, aku juga ingin menemui Permaisuri" ucap Jei tersenyum.
Namun Mei tidak menjawab ucapan Jei tapi langsung pergi dengan menundukkan kepalanya menahan kegugupan karena dekat dengan Jei. Hal itu tentu saja di ketahui oleh Jei yang segera mengikuti langkah gadis itu.
Mereka berhenti sedikit jauh dari pintu halaman belakang sesuai perintah Pangeran Jun yang tidak mengijinkan dekat-dekat halaman belakang.
Tidak ada yang mulai bicara antara mereka, Jei yang kelewat senang hingga tidak tahu harus berkata apa dan Mei yang masih saja gugup dan berusaha menenangkan jantungnya.
Melihat Mei yang tetap berdiri terus, Jei pergi lalu kembali dengan kursi yang ia bawa.
"Duduklah Mei nanti kamu lelah jika terus berdiri" ucap Jei lembut.
Jantung Mei yang semula sudah mulai tenang karena Jei pergi kini kembali berdetak lagi saat mendengar suara lembut pria itu yang bahkan membawakan kursi untuknya.
"Tidak perlu, kamu saja yang duduk aku bisa berdiri lebih lama lagi" sahut Mei pelan tapi Jei masih dapat mendengarnya.
"Tidak baik seorang wanita terlalu lama berdiri" Jei menarik tangan Mei dan mendudukkannya di kursi yang ia bawa tadi.
Tidak terbayangkan lagi bagaimana detak jantung Mei saat Jei menyentuhnya, walau hanya sebentar tetapi memberi reaksi tersendiri bagi hatinya.
__ADS_1
Mei merasakan kenyamanan yang tidak pernah di rasakannya selama ini bila berdekatan dengan seorang pria. Bahkan ia sangat menjaga jaraknya agar tidak terlena akan perasaan cinta karena takut akan patah hati.
Tetapi Jei yang selalu memberinya perhatian dan kenyamanan setiap kali mereka bersama seperti sekarang ini.
Keduanya masih saja saling curi-curi pandang dan malu-malu, apa lagi Mei yang wajahnya sudah merah merona membuat Jei merasa senang karena dari yang ia tahu setiap tuannya menggoda istrinya dan wajahnya memerah itu artinya dia senang.
Bolehkah Jei merasa jika Mei senang dengan perlakuan lembut dan perhatiannya itu. Ia jadi semakin semangat untuk mendapatkan hati wanita di sampingnya yang sedang malu-malu itu.
Semua perlakuan dan gerak-gerik mereka ternyata sudah di lihat oleh Putri Lie yang berada di depan pintu keluar. Ia juga merasa senang jika pelayannya yang sudah lama bersamanya itu mendapatkan pria yang bertanggung jawab dan penuh kasih.
Ekhem
Jei dan Mei yang tidak mengetahui keberadaan tuan putri mereka jadi sangat kaget saat mendengar suara batuk seseorang dari belakang mereka.
Sontak saja Mei berdiri dari duduknya dengan cepat saat melihat Putri Lie sudah berada di sana sedang tersenyum memperhatikan keduanya.
"Mei siapkan air mandi untukku setelah itu kalian berdua bersiap karena kita akan keluar sebentar lagi" ucap Putri Lie menahan senyum melihat wajah pelayannya yang sangat merah itu.
"Baik Permaisuri" Mei menunduk dan berlalu tapi segera berhanti
"Saya akan siapkan semuanya Permaisuri, kalau begitu saya permisi" dengan cepat Mei pergi begitu saja dari hadapan kedua orang itu.
Setelah Mei pergi, Jei juga akan pergi tapi Putri Lie menghentikannya.
"Jei, aku ingin bertanya padamu" ucap Putri Lie
"Tanya apa Permaisuri?" Jei merasa jika ia akan di introgasi oleh Putri Lie yang menatapnya menyelidik.
"Kau menyukai Mei!" mata Jei melotot pada Putri Lie karena perasaannya sudah tertebak orang lain.
"Jangan melotot padaku jika masih ingin melihat Mei lagi" gertak Putri Lie bercanda.
Akan tetapi Jei menganggap serius ucapannya dan menjadi gelagapan sendiri. Bagaimana mungkin ia tidak melihat Mei lagi, sebentar saja tidak melihatnya sudah sangat rindu lalu apa kabar dia kalau sampai tidak melihat Mei selamanya.
__ADS_1
Bisa-bisa Jei kejang sendiri karena rindu menahunnya.
"Jangan Permaisuri, maafkan saya tadi itu tidak sengaja sungguh" Jei memelas agar di maafkan.
"Jawab pertanyaanku tadi Jei" seru Putri Lie.
Jei menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menetralkan gugupnya, bahkan Putri Lie lebih menyeramkan jika sedang serius di bandingkan Pangeran Jun.
"Iya saya menyukai Mei, ijinkan saya mendekatinya Permaisuri, rasa di hati saya ini sudah kuat untuknya, hanya dia yang saya mau, ijinkan saya" ucap Jei memohon ijin mendekati pelayan Putri Lie.
Sejenak Putri Lie terdiam seperti sedang berpikir, ia tahu jika Mei sudah datang dan mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Jei.
"Aku tidak bisa memutuskan apa pun jika Mei sendiri tidak menyukaimu, jadi semua keputusan ada pada Mei karena aku tahu dia tidak mudah di dekati pemuda manapun, au harus lebih berusaha lagi" seru Putri Lie.
Tidak ada respon apapun dari Jei yang sedang menunduk, jika benar Mei tidak mudah untuk di dekati ia akan berusaha.
"Saya akan berusaha untuk mendekatinya dengan cara saya sendiri Permaisuri, tapi jika saatnya nanti Mei tidak juga membalas perasaan ini maka saya akan pergi menjauhinya" ucap Jei yakin.
"Jika itu keinginanmu lakukanlah, tapi ingat satu hal Jei, jangan pernah memaksakan perasaan yang tidak bisa kau miliki karena itu hanya akan menyiksa kau dan dia saja nantinya, satu hal lagi jangan rusak dia karena kau akan berurusan denganku nanti" kata Putri Lie.
Senyum Jei mengembang setelah mendengar penuturan dari tuan putrinya. Memang benar jika perasaan tidak bisa di paksakan jadi ia hanya akan berusaha hingga batas kemampuannya saja.
Kalau ada pemuda lain yang sudah lebih dulu menempati hati pujaannya, ia hanya akan mendoakan yang terbaik saja dan mengubur perasaannya untuk membukanya untuk yang lain.
Mei yang mendengar ucapan Jei merasa sangat tersentuh dengan ketulusan yang dimilikinya. Sekarang ia tidak akan ragu lagi untuk membuka hatinya pada Jei, tetapi ia akan melihat lebih dulu bagaimana cara pemuda konyol itu mendekati dan menyakinkannya.
Sebuah tepukan di pundaknya membuatnya terlonjak kaget dan hampir memukul si pelaku. Namun tangannya tertahan saat Putri Lie yang di sampingnya bersama orang yang baru saja ia pikirkan.
"Sedang apa Mei? apa yang ku minta sudah siap?" tanya Putri Lie berpura-purap agar Mei tidak curiga kalau ia sudah mengetahui keberadaannya sejak tadi.
"Sudah Permaisuri, saya kesini hanya ingin memberi tahukan hal itu" gugup Mei
"Baik kalian segeralah bersiap ya" Putri Lie pergi meninggalkan kedua orang yang masih malu-malu itu.
__ADS_1
Mei yang sangat gugup pergi begitu saja dengan cepatnya karena tidak ingin jantingnya maraton lebih kencang lagi.
Sedangkan Jei hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah wanita itu. Semoga perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan denaganmu Mei batin Jei dan segera berlalu untuk bersiap mengawal kedua wanita itu pergi.