
Pangeran Jun dan Putri Lie masak bersama didapur, atau lebih tepatnya Putri Lie yang banyak melakukan semuanya sedangkan Pangeran Jun hanya membantu mengambilkan apa yang diminta istrinya saja.
Selebihnya Pangeran Jun lebih banyak duduk diam memperhatikan istrinya yang sedang sibuk memasak. Jika bosan duduk maka Pangeran Jun akan memeluk atau mengganggunya dengan menciumi pipi Putri Lie.
"Hentikan honey! aku sulit melakukan pekerjaanku!" Putri Lie bergerak-gerak dalam pelukan Pangeran Jun karena leher jenjangnya yang jadi sasaran.
"Aku suka wangi kamu sweetyy, sangat memenangkan" ucap Pangeran Jun melanjutkan aksinya.
"Tapi sulit bergerak, kamu menyingkir dulu nanti masakannya tidak jadi enak" gerutu Putti Lie kesal.
"Kalau kamu yang masak pasti selalu enak kom" ucap Pangeran Jun santai.
Akhirnya Putri Lie hanya diam saja tanpa memprotes apa yang dilakukan suaminya yang sulit dibantah itu. Dengan sedikit kesulitan yang diakibatkan oleh Pangeran Jun akhirnya Putri Lie bisa menyelesaikan masakannya.
"Pelayan! bawa semua makanan yang dimasak oleh Permaisuri keruabg makan" kata Pangeran Jun.
"Baik Yang Mulia" jawab pelayan yang langsung bergerak melakukan perintah tuannya.
Pangeran Jun membawa Putri Lie keruang makan, sembari menunggu makanan disiapkan Pangeran Jun bertanya pada istrinya tentang perjalanannya selama ini.
"Bagaimana jalan-jalan kamu selama ini?" tanyanya penasaran.
"Tidak ada yang menarik, semuanya sama belum ada yang mengesankan" jawab Putri Lie memandang wajah suaminya.
"Kamu yakin tidak ada yang disembunyikan dariku!" ucap Pangeran Jun dengan sebelah alis terangkat.
"Sebenarnya waktu pertama kali keluar dari kediaman dengan Jei dan Mei, aku bertemu dengan kakek Sao yang punya toko obat karena Jei yang membawa, tapi Jei juga tidak tahu apapun tentang kakek Sao selain orang yang sudah ia tolong dan selalu baik padanya. Anehnya kakek Sao tahu jika ditubuhku ada racun yang tersisa dan mengobatiku, lalu kakek Sao juga memberikan buku obat-obatannya padaku dan beberapa obat sekaligus" ucap Putri Lie.
Mendengar bahwa ditubuh istrinya ada racun membuat Pangeran Jun sedikit panik.
"Di tubuh kamu ada racu? racun apa? siapa yang berani meracuni kamu? katakan sweetyy! apa racunnya masih ada lagi atau sudah diberi obat penawarnya?" cecar Pangeram Jun.
Hal itu justru membuat Putri Lie pusing karena pertanyaan yang beruntun itu.
"Satu-satu dong kalau tanya jangan buat bingung" ucap Putri Lie protes.
"Maaf sweetyy, aku sangat khawatir jadi panim dan menanyakan banyak hal begini" kata Pangeran Jun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sedangkan Putri Lie hanya menggeleng melihat sikap suaminya yang terkadang berbanding terbalik dengan reputasinya selama ini sebagai pria dingin dan datar.
"Aku baik-baik saja sekarang karena racunnya sudah dikeluarkan semua kalau untuk siapa yang memberinya, tentu saja mantan selir ayah dan putrinya" jawab Putri Lie santai sembari mengambil makanan yang sudah selesai ditata dimeja.
__ADS_1
"Kurang ajar sekali mereka, untung saja sudah mati dan satu lagi sudah jadi murid dikuil yang tidak akan pernah keluar dari sana selamanya, tapi aku harus tetap melakukan sesuatu untuk wanita yang masih hidup itu agar ia juga merasakan penderitaan kamu selama ini" kata Pangeran Jun dengan rahang yang mengeras tanda ia sedang menahan emosinya.
"Tenang dan makanlah, aku tidak mau kalau kamu kelaparan saat menyelesaikan tugas nanti dan jangan pedulikan wanita itu lagi" ucap Putri Lie.
"Dengan senang hati aku akan menghabiskan semua ini sweetyy, tapi untuk wanita itu aku akan tetap memberinya pelajaran, tunggu saja beritanya nanti" sahut Pangera Jun memulai makannya yang sudah disiapkan oleh Putri Lie langsung.
Setelah selesai makan keduanya masih duduk ditempat dan makan buah sejenak sembari melanjutkan obrolan mereka tadi.
"Honey, nanti aku keluar ya!" pinta Putri Lie
"Kemana?" tanya Pangeran Jun
"Seperti biasanya, entah kemanapun itu nanti" jawab Putri Lie dengan wajah imutnya agar diberi ijin pergi.
"Tapi ini sudah siang sweetyy dan sebentar lagi sore, besok saja ya!" ucap Pangeran Jun.
"Tapi aku ingin sekarang" kata Putri Lie dengan manja.
"Tidak sweetyy, besok" ucap Pangeran Jun mutlak yang tidak ingin dibantah lagi.
"Baiklah kalau begitu aku ingin bertemu Selir Nan saja" gerutunya kesal karena tidak diijinkan pergi.
"Itu lebih bagus, ya sudah aku pergi dulu ya" pamit Pangeran Jun
"Keruang belajar sweetyy, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sedikit lagi hari ini" jawab Pangeran Jun tersenyum misterius pada Putri Lie yang hanya mengangguk.
Keduanya keluar dari ruang makan itu dan berjalan menuju arah masing-masing. Pangeran Jun lebih dulu mengecup kening Putri Lie sebelum mereka berpisah.
Setelahnya barulah menuju tempat yang berbeda, Putri Lie pergi kepaviliun milik Selir Nan yang tidak pernah dia lihat selama berada di kediaman ini. Dirinya masih penasaran tentang kehidupan Selir Nan yang sebenarnya.
Kali ini Putri Lie bersama Mei dan Tei, Jei tidak terima karena dia dipisahkan dari kekasih hati yang selalu bersamanya jika sudah menemani nyonya mereka. Tapi karena alasan Jei yang akan mendapat tugas jadilah Tei yang menemani kedua wanita itu dan tiga pelayan lain.
Setibanya di paviliun Biru, Putri Lie melihat sangat banyak tanaman merambat yang hidup disana dengan bunga yang sudah bermekaran, ada juga bunga lainnya yang menghiasi tamannya ini hingga menjadikannya terlihat sejuk dan asri.
Pelayan Selir Nan yang melihat kedatangan Permaisuri langsung masuk melaporkan pada tuannya jika nyonya mereka datang berkunjung.
Sedangkan Putri Lie tidak sengaja melihat seorang anak laki-laki sedang berusaha memetik bunga mawar merah ditaman yang sedang ia lihat sembari menantikan sipemilik.
Anak kecil yang baru bisa berjalan itu diikuti oleh dua pelayan dibelakangnya. Tidak lama terdengar suara tangisan dari bibir mungil anak yang diperkirakan Putri Lie masih berumur satu tahun itu.
Dengan cepat Putri Lie menghampiri anak itu yang tidak mau diam meski sudah dibujuk oleh pelayannya. Setelah dekaat barulah Putri Lie mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Hai jagoan, kenapa menangis sayang?" tanya Putri Lie lembut dengan senyum manisnya.
"Ntu" tunjuknya pada bunga yang sudah melukainya
"Bunga itu ada durinya sayang, jadi kamu tidak boleh menyentuhnya sembarangan atau tangan kamu akan terluka" ucap Putri Lie meraih tangan mungil anak tersebut dan membersihkan sedikit darah yang terdapat di jempolnya.
"Sudah bersih darahnya" seru Putri Lie riang lalu mengecup lembut jempol itu berharap dapat mengurangi rasa sakitnya.
Anak laki-laki yang ternyata sangat tampan itu berdiri dan mencoba mendekati Putri Lie perlahan karena langkahnya yang belum lancar. Hanpir saja ia terjatuh jika Putri Lie tidak cepat menangkap tubuh kecilnya itu.
"Hati-hati sayang jalannya nanti jatuh!" ucap Putri Lie lalu mebecup pipi gembul anak tersebut yang sangat menggemaskan.
"Permaisuri" panggil suara dari arah belakang yang membuat Putri Lie bangkit dari jongkoknya dan melihat siapa yang memanggil.
Selir Nan sudah berdiri disana dan sedang tersenyum ramah padanya.
"Maaf membuat anda lama menunggu Permaisuri" ucap Selir Nan seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Tidak apa Selir Nan santai saja, lagi pula aku sedang melihat-lihat tamanmu ini" ucap Putri Lie.
"Bu" anak kecil tadi memanggil Selir Nan dengan tangan yang ia angkat minta digendong.
Dengan senyum bahagia Selir Nan mengangkat anak itu lalu menghujaninya dengan kecupan ringan diwajahnya hingga membuat tawa anak itu pecah.
"Selir Nan, apa dia putramu?" tanya Putri Lie
"Iya ini Putraku yang pernah aku katakan waktu itu" jawab Selir Nan
"Ayo masuk Permaisuri! kita bicara ditaman terataiku saja" lanjut Selir Nan.
"Baiklah, tapi bolehkah aku yang menggendong putramu?" tawar Putri Lie.
Selir Nan tersenyum pada Putri Lie.
"Tentu tidak larangan yang tidak memperbolehkanmu menggendong Daren manisku ini" ucap Selir Nan.
Putri Lie mengulurkan tangannya pada Daren yang langsung disambut olehnya dengan menjatuhkan tubuh kecilnya pada tangan Putri Lie yang ingin mendekapnya.
Senyum manis Putri Lie mengembang saat tubub keci Daren sudah ada dipelukannya, bahkan Daren sendiri terlihat nyaman setelah digendong oleh Putri Lie hingga langsung mencari posisi nyaman untuknya.
"Sepertinya putraku menyukaimu Permaisuri" seru Selir Nan
__ADS_1
Putri Lie hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya Daren itu dan sedikit memperbaiki posisi sianak agar lebi nyaman.
Setelahnya barulah kedua wanita itu masuk kedalam bersama dengan pelayan mereka.