
"Maksud kakek apa?" tanya Lili tidak tahu.
"Apa mereka tidak menceritakan semuanya padamu?" tanya kakek Sao balik.
Semakin bingunglah ketiga orang itu karena pertanyaan balik dari kakek Sao.
"Cerita apa kek?" bingung mereka.
Kakek Sao menunjuk tiga peti besar dan menjelaskan semuanya.
"Raja Xiao atau mertua Permaisuri itu pernah pergi berkelana ketempat yang jauh di belahan bumi lainnya, kami bertemu ketika diperjalanan saat aku terseret air laut dan mengapung diatas balok kayu. Ji menyelamatkanku yang sudah yang sudah uda hari berada di air, aku juga seorang raja dari negeri jauh, kerajaanku diserang musuh yang menginginkan bahan-bahan peledak yang kami miliki. Karena saat itu kami tidak akan merancangnya jika tidak ada perang besar, jadi mereka menyerang kami secara tiba-tiba dan hampir berhasil mengambil harta karun kami itu jika aku tidak juga putraku tidak cepat membawanya tapi..."
Air mata kakek Sao nampak menetes namun dengan cepat disekanya.
"Putraku tidak selamat saat melemparkan peledak yang baru saja dia buat, aku berlari menjauh menuju tepi pantai yang memang dekat dengan kerajaan kami, sayang obak sedang pasang saat itu, aku tidak dapat menghindar sewaktu air membawaku hanya balok kayu yang aku dapatkan untuk mengapung. Setelah bertemu dengan Ji barulah kami kembali kekerajaanku yang sudah hancur tak bersisa, semua mati bahkan tubuh putraku tidak bisa kami temukan, sejak saat itu Ji mengajakku kembali kekerajaan ini dengan semua peti bahan peledak itu" jelas kakek Sao.
Ketiganya mendengarkan dengan seksama juga serius cerita tentang kakek Sao.
"Lalu apa yang menyebabkan kakek bisa berada disini dan menjual obat-obatan digubuk rusak itu?, apa ayah mertua tidak memberi kakek tempat tinggal?" tanya Lili.
"Dulu aku tinggal di kediamannya lalu saat ada perang kami menggunakan peledak itu untuk melumpuhkan lawan, kakak laki-laki mertuamu mengetahuinya dan berusaha merebut semuanya untuk kepentingan pribadinya saja" ujar kakek Sao.
"Maksud kakek Keimu?" Kakek Sao mengangguk mendengar ucapan Lili.
"Keimu akan menggunakan semua itu untuk melawan kerajaan ini agar mendapatkan tahta, jadi aku dan Ji sepakat menyembunyikan semuanya kedalam hutan ini. Ji memindahkannya kedalam gua ini agar aman, Karena menurutnya hutan ini tidak pernah tersentuh oleh siapapun tapi anak buah Keimu mengikuti kami dan menyerang untuk merampasnya" terdengar helaan napas dari kakek Sao.
"Kami bisa melawan dan menghabisi mereka namun salah satunya selamat, dia melapor pada tuannya tentang semua yang ia dilihatnya hingga akhirnya Keimu menyebarkan berita tentang harta karun tersembunyi dihutan ini yang sudah ditetapkan raja sebelumnya sebagai hutan larangan atas cerita Ji yang mengatakan aku tewas dihutan ini ketika berburu, dan banyak makhluk buas di dalam sini. Jadi ayahnya Ji menyatakan tidak ada yang boleh memasuki hutan ini apapun kepentingannya".
"Kenapa Yang Mulia Raja mengatakan kalau kakek tewas disini?" tanya Jeje.
"Karena itu kesepakatan kami" jawab kakek Sao.
"Lalu kenapa banyak orang yang datang kehutan ini meski sudah dilarang?" tanya Wuwu juga.
"Namanya juga orang jahat, apapun pasti dilakukan untuk mencapai tujuannya" jawabnya.
__ADS_1
Lili terdiam mendengarkan semuanya, ia berpikir jika harus menyembunyikan semua bahan peledak itu dan meninggalkan gua ini.
"Kek, kita harus menyembunyikan ini didalam tanah dan meninggalkan gua ini agar tidak semakin banyak orang yang datang kemari" usul Lili.
Kakek Sao terlihat berpikir sejenak.
"Dimana kita akan memendamnya?" tanyanya
Lili berdiri lalu melihat seluruh sisi gua itu untuk memastikan letak yang tidak terlihat oleh pandangan sekilas.
"Disana saja kek, tempatnya sedikit lebih gelap jadi tidak akan terlalu mencolok dilihat" tunjuk Lili pada sudut gua yang ada dikiri mereka. Kakek Sao hanya tersenyum penuh arti.
Setelah mendapat persetujuan dari kakek Sao, mereka mulai menggali lubang untuk menyimpannya. Lili sudah lebih dulu mengambil beberapa untuk ia bawa pulang dan dirakitnya sendiri nanti.
Namun saat membuat lubang, mereka melihat ada sebuah lubang lain yang menyerupai lorong yang cukup panjang.
"Lorong apa itu?" tunjuk Jeje
"Entahlah, tapi terlihat sangat jauh dan panjang" ucap Jeje.
"Lihat itu! kita simpan disana saja peti ini" ujar Lili menunjuk ruangan kecil berisi banyak peti.
"Lihat dulu isinya baru komentar" skak mat dari kakek Sao membungkam kedua pria itu
Lili mendekati petinya lalu membukanya, isinya pedang dan alat perang lainnya. Ada juga peledak yang sudah siap pakai ditambah beberapa pistol didalamnya.
Tentu saja Lili sangat senang melihat benda yang sangat dirindukannya itu, sudah lama sekali ia tidak menggunakan senjata pamungkas itu.
"Milik siapa semua ini kek!" tanyanya penasaran.
"Ambillah seberapa yang dibutuhkan" jawab kakek Sao tersenyum.
Dengan semangatnya Lili mengambil benda itu lalu melihatnya dengan teliti untuk memastikan apakah pistol itu asli atau tidak. Setelah yakin kalau benda itu sama persis dengan yang dimilikinya dulu barulah Lili mengambil beberapa lagi.
"Apa ada pelurunya kek?" kakek Sao menunjuk bagian bawah peti yang terdapat kotak kecil.
__ADS_1
Lili membukanya dan melihat banyak peluru yang berbeda ukuran.
"Darimana kakek mendapatkan benda itu? apa buatan dari negara kakek juga?" tanya Wuwu.
"Tidak, kami mendapatkannya ketika bentrok dengan perompak yang akan merampok kami, mereka kalah meski jumlahnya banyak jadi kami merebut balik semua milik mereka. Tapi yang kami ambil hanya itu saja juga beberapa mutiara yang sangat langka" jawabnya.
"Ini untukku ya kek! aku sangat menyukai pistol ini" seru Lili bahagia.
Wuwu dan Jeje saling tatap heran mendengar nama benda yang dipegang Lili. Aneh menurut mereka juga bentuknya yang membingungkan bagi mereka.
"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Wuwu diangguki Jeje.
Tanpa menjawab pertanyaan dari keduanya, Lili justru memasukkan beberapa pelurunya dan menembakkan kearah lain. Kedua temannya itu sangat tertegun melihat Lilu bisa menggunakannya.
Bahkan kakek Sao juga tidak menyangka jika menantu temannya itu sangat berbakat dalam segala hal.
"Permaisuri ajari kami menggunakan benda itu" ucap kedua pria itu penuh harap akan dikabulkan.
Lili tersenyum pada keduanya.
"Kita akan cari tempat yang jauh jika ingin belajar menggunakan pistol ini karena suaranya sangat nyaring dan itu bisa menimbulkan rasa kaget juga kegaduhan kalau didegar warga sekitar" ucap Lili.
Keduanya hanya mengangguk senang karena keinginan mereka dikabulkan untuk bisa menggunakan benda itu.
"Telusurilah lorong ini maka kalian akan tahu kemana akhir dari lorong ini, kalian juga akan mendapatkan tempat yang kalian butuhkan untuk berlatih pistolnya" ujar kakek Sao.
"Tapi ini sudah hampir sore kek nanti suamiku yang tampan itu marah kalau kami kembali malam hari" ucap Lili
"Percayalah pada kakek" katanya seraya tersenyum.
Meski sedikit ragu namun ketiganya tetap menelusuri lorong dari gua itu, tapi sebelum pergi Jeje menyempatkan diri bertanya tentang sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Kek! dari mana kakek mendapatkan kedua singa itu?" tanya Jeje diangguki Wuwu yang ternyata penasaran juga.
"Mereka kami temukan saat memasuki hutan ini dulu ketika memeriksa keadaan hutan untuk menyimpan semua ini, ibu mereka mati dengan panah menancap diperut. Tapi sepertinya tetap berjuang melawan pemburu itu dan membawa anaknya kehutan ini, karena mereka masih sangat kecil kami merawatnya disini. Raja kalian itu juga sering datang kesini sebelum naik tahta menjadi putra mahkota dan menjadi raja, sekarang ia sudah jarang berkunjung karena banyak pekerjaan" jelas kakek Sao.
__ADS_1
Ketiga orang itu hanya mengangguk dengan mulut membentuk huruf O. Lalu segera berpamitan untuk pergi kembali kekediaman setelah mendapatkan obor dari kakek Sao.
Entah dari mana orang tua itu mendapatkannya yang penting bagi mereka bisa segera kembali secepatnya sebelum malam karena konsekuensinya besar jika kembali malam hari.