Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
71


__ADS_3

Tabib kediaman yang di panggil Tei segera datang dengan cepat saat tahu tuannya terluka. Luka itu sudah menghitam dengan cepat bahkan wajah Pangeran Jun yang tadinya pucat kini mulai membiru.


Yuan memeriksa Pangeran Jun dengan sangat teliti dan terkejut saat mengetahui apa penyebabnya. Baru saja ia akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, seseorang datang dan mendekati Pangeran Jun.


Mereka yang semula terkejut menjadi diam karena orang itu adalah Putri Lie. Tidak mungkin juga jika menghalangi istri yang ingin bertemu suami.


Apa lagi keadaan Pangeran Jun yang memang seharusnya di ketahui oleh Putri Lie. Jei berharap jika tuan putrinya itu menyadari penyebab suaminya seperti ini dan memberi obatnya.


Putri Lie memegang tangan Pangeran Jun yang dingin dan lemah. Itu membuatnya merasa bersalah karena berpikir jika penyebabnya karena jatuh tadi lalu kepalanya membentur meja hingga berdarah.


"Honey buka matamu, ayo Honey buka matamu" lirihnya menahan air mata.


Pandangannya beralih pada Yuan yang berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan dingin.


"Apa sakitnya hingga begini?" tanya Putri Lie datar.


Yuan yang baru bertatapan muka langsung dan bicara seperti ini merasa gugup karena tatapan dingin itu, ia tidak menyangka jika istri tuannya juga sangat menyeramkan.


"Yang Mulia Pangeran terkena racun pelunak kayu untuk proses pembusukan, meski hanya segores saja itu sudah mampu memuai kayu dengan cepat" jawab Yuan.


"Intinya" ucap Putri Lie tajam, padahal ia sendiri tahu obat itu dan punya penawarnya tapi entah kenapa rasa khawatir juga panik akan keadaan sang suami membuatnya tidak mengingat apapun selain kesembuhan suaminya.


"Jika terkena pada manusia bisa menyebabkan lelumpuhan atau lemah otot sementara" jelas Yuan.


"Lalu kenapa tidak langsung kamu tangani jika sudah tahu akibatnya begitu hah, mau aku potong-potong kau dulu supaya cepat mengobati suamiku!" bentak Putri Lie.


Yuan dan lainnya tersentak kaget dengan bentakan itu, dengan cepat Yuan bergerak mendekat pada Pangeran Jun untuk mengobatinya.


Jei dapat melihat wajah khawatir yang besar pada Putri Lie yang sedang duduk di dekat kepala suaminya itu. Wajah yang tadi sangat dingin berubah menjadi sangat menyedihkan karena ulahnya sendiri gumam Jei dalam hatinya.


Segala obat terbaik untuk mengobati Pangeran Jun di keluarkan oleh Yuan agar racunnya tidak menyebar ke seluruh tubuh.

__ADS_1


Sesekali tangan Putri Lie membelai rambut Pangeran Jun dengan lembut untuk menenangkan hatinya yang gundah karena hal ini. Yuan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena singa betina Pangeran Jun ada di sana juga.


Setelah menutup luka di leher Pangeran Jun, Yuan memberikan beberapa obat lagi untuk di masak agar tubuh Pangeran Jun segera pulih dari rasa lemasnya.


Hanya satu yang menjadi pikiran Yuan saat ini yaitu bagaimana Pangeran Jun mendapatkan luka yang beracun itu padahal tidak pergi berperang. Apa ada orang yang berniat membunuhnya tapi kenapa pakai racun untuk tanaman seperti itu batin Yuan bingung.


"Sepertinya kalian harus meningkatkan kewaspadaan juga penjagaan jika tidak seseorang akan benar-benar menghabisi nyawa Yang Mulia Pangeran" ucap Yuan melihat ketiga pengawal itu.


"Tapi kenapa pembunuhnya pakai racun untuk pelunak kayu ya? biasanya itu di pakai hanya untuk beberapa keperluan yang berhubungan dengan tanaman, ini sungguh aneh apa pembunuh itu mencuri racunnya ya karena ia tidak mampu membeli atau membuat racun lain" lanjut Yuan tanpa memikirkan seseorang yang sudah semakin merasa bersalah.


Putri Lie yang mendengar pendapat dari Yuan mengenai racun itu baru teringat akan satu hal yang mungkin itu penyebabnya.


"Pembunuhnya tidak modal dan tidak krearif ya hingga menggunakan racun itu untuk membunuh Yang Mulia, tapi apa racun itu bisa membunuh Yuan?" Tei berkata dengan lancarnya tanpa lihat situasi yanv sudah semakin menyeramkan.


"Jika pertahanan tubuh rendah atau daya imun tubuh kurang maka itu bisa terjadi karena racun itu salah satu yang kuat dan cepat namun masih bisa di hilangkan jika penanganannya cepat dan penawarnya juga segera di beri" sahut Yuan.


"Lalu kau sudah beri penawar itu pada Yang Mulia Pangeran bukan?" seru Jie ikut dalam peecakapan temananya.


"Jadi apa yang kau lakukan pada Yang Mulia tadi jika bukan memberikan penawarny?" tanya Jie.


"Aku hanya memberikan obat untuk menahan racun agar tidak menyebar dan menghentikan darahnya supaya tidak terus keluar, sudah ya aku pergi dulu buat penawarnya" jawab Yuan lagi.


Yuan berlalu dari kamar Pangeran Jun dengan cepat, ia masih saja memikirkan tentang racun itu yang kembali muncul padahal itu sudah lama sekali tidak ada karena penemunyapun tidak membuatnya dengan sembarangan.


Putri Lie segera meminta Jei kembali ke paviliun untuk menemui Mei. Jei yang sudah tahu maksud Putri Lie segera pergi dengan cepat. Sedangkan Jie dan Tei yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja.


Tadinya Jei ingin meminta Putri Lie memberikan penawarnya sendiri jika sampai Yuan tidak mampu menangani tuannya dan memang Yuan tidak mampu.


Hingga Putri Lie sendiri yang memintanya untuk mengambil obat itu, jika saja Pangeran Jun di taruh paviliun Bulan Putri Lie pasti tidak akan datang dengan cemas karena akan langsung memberikan obatnya.


Tapi karena permintaan Pangeran Jun yang ingin kembali juga menyebabkan ia dan temannya membawanya kembali ke paviliun bulan.

__ADS_1


Sementara Putri Lie sedang merutuki kebodohannya yang sudah sangat ceroboh karena hampir saja ia benar-benar membunuh suaminya karena kelalaian dan emosi yang terlalu ia turuti.


Meski bukan tanpa alasan Putri Lie melukai leher Pangeran Jun, ia hanya repleks mengayunkan pedang karena merasa ada yang mendekatinya diam-diam dan ia berpikir mungkin penjahat jadi pedangnya pun mengayun tepat dileher orang itu yang ternyata suaminya.


Sembari menunggu Jei datang, Putri Lie merebahkan kepalanya pada dada bidang Pangeran Jun dengan perasaan bersalah karena sudah melukai suaminya hingga seperti ini.


"Maafkan aku Honey" ucapnya sendu seraya memejamkan mata yang sudah siap meneteskan airnya sejak tadi.


Tidak lama berselang Jei datang bersama Mei membawa obat yang di minta Putri Lie.


"Permaisuri, ini obatnya" ucap Mei menyodorkan sebuah botol kecil.


Putri Lie mengulurkan tangannya pada Mei, setelah botol itu berpindah tangan lebih dulu Putri Lie memeriksa obat itu takut salah malah akan berakibat semakin fatal.


Tangan Putri Lie membuka mulut Pangeran Jun sedikit untuk memasukkan penawar itu, sebelumnya ia berbisik lirih di telinga suaminya itu.


"Honey kalau kamu dengar aku telan obat ini dan segera buka matamu" perlahan obat itu masuk sedikit demi sedikit ke dalam mulut Pangeran Jun.


Setelah obat itu masuk beberapa tetes, Putri Lie meletakkan botol itu pada nakas di sebelah ranjang.


Pandangannya tidak lepas dari wajah Pangeran Jun yang masih memejamkan matanya dengan tenang seakan-akan ia tidak terganggu dengan apa yang mereka lakukan padanya.


Namun hal itu menjadi ketakutan sendiri bagi Putri Lie yang mengira obat yang di bawa Mei salah.


"Apa kau salah membawa obat Mei?" tanyanya.


"Tidak Permaisuri, obat itu sudah sesuai" jawab Mei takut-takut.


Di belainya wajah Pangeran Jun dengan lembut, wajah tampan suaminya itu sedikit kurus dari beberapa hari lalu bahkan terlihat sedikit hitam di bawah matanya bertanda Pangeran Jun kurang tidur.


"Tidurlah jika kamu masih lelah, tapi segera bangun jika sudah lebih baik ya, aku akan menemanimu" bisik Putri Lie lalu merebahkan tubuhnya di sebalah Pangeran Jun setelah meminta semua orang keluar dan menyisakan mereka berdua saja.

__ADS_1


Pelukan hangat ia berikan pada suaminya dengan harapan agar sang suami merasa nyaman dalam pelukannya dan segera sembuh.


__ADS_2