
Untuk mencari tahu akar masalah awal dari permasalahannya dengan Putri Lie. Pangeran Jun mengumpulkan pengawal di ruang baca.
Baik itu penjaga gerbang paviliunnya maupun Jie dan Jei, apa lagi Jei sebagai tersangka utama yang paling ketakutan.
Pangeran Jun menatap kempat pria di hadapannya termasuk Tei yang tidak tahu masalahnya juga ikut berkumpul di sana untuk meledek temannya jika di perlukan pikirnya.
"Siapa yang akan menjelaskannya lebih dulu?" tanya Pangeran Jun datar.
Mereka saling menatap lalu menunduk kembali, entah siapa yang akan bicara lebih dulu bahkan mereka juga bingung harus mulai dari mana.
"Jei! katakan sesuatu" ucap Pangeran Jun membuat Jei gelagapan tapi ia harus mengatakannya agar tidak di hukum.
"Begini Yang Mulia Pangeran, setelah kami pulang tadi Permaisuri langsung masuk kamar dan mengatakan akan membersihkan diri lebih dulu, lalu saat keluar kamar Permaisuri meminta pelayan di dapur paviliun Bulan untuk menyiapakan bahan makanan karena Permaisuri ingin memasak sendiri untuk Yang Mulia Pangeran. Tapi sebelum masak Permaisuri ingin datang menemui Yang Mulia lebih dulu sembari mengajak makan bersama begitu makanan siap karena masakan hangat lebih enak kata Permaisuri. Jadi kami pergi menuju paviliun Matahari mengikuti Permaisuri" jelas Jei.
Pangeran Jun merasa belum puas dengan apa yang di dengarnya.
"Lalu! jelas semua Jei!" paksa Pangeran Jun kesal.
"Sewaktu di gerbang paviliun Matahari Permaisuri tidak mengijinkan kami ikut masuk kata beliau sebentar saja jadi kami menunggu di depan. Sebelum masuk Permaisuri sempat berbincang dengan penjaga gerbang Yang Mulia Pangeran, tidak lama setelah masuk Permaisuri keluar dengan wajah yang dingin dan sendu bahkan langkahnya sangat cepat. Permaisuri tidak mengijinkan kami mengikutinya tapi kami tetap ikut dengan jarak jauh agar tahu kemana tujuan Permaisuri pergi, apa lagi Mei sangat mencemaskan Permaisuri. Kami kehilangan jejak ketika tidak sengaja Mei terpeleset" ucap Jei menjelaskan lagi.
Pandangan pangeran Jun menuju penjaga gerbang yang menunduk. Lalu ikut bicara setelah Jei diam.
"Yang Mulia, saya melihat Permaisuri masuk dan memberi hormat lalu beliau menanyakan Yang Mulia apakah ada di paviliun atau tidak jadi saya jawab jika Yang Mulia ada di dalam bersama Selir Nan. Hanya itu saja Yang Mulia selebihnya saya hanya melihat Permaisuri keluar dengan cepat" ucap penjaga gerbang itu.
"Permaisuri juga sempat bertemu dengan saya yang kebetulan lewat, beliau menanyakan keberadaan Yang Mulia karena tidak juga melihat di manapun jadi saya jawab saja jika Yang Mulia sedang di kamar bersama Selir Nan setelahnya saya tidak tahu apapun lagi Yang Mulia" sambung Jie dengan mata yang terpejam dan kepala menunduk.
Pangeran Jun berpikir keras mencari kesimpulan dari penjelasan ketiga orang tersebut yang menuju pada satu kata untuk istrinya.
__ADS_1
"Jadi istriku itu akan memasak sesuatu untukku saat aku sudah di sana lalu menjemputku kesini tapi aku tidak bertemu dengannya meski dia masuk, itu ketika aku sedang…Ah aku tahu sekarang apa penyebabnya" Pangeran Jun menyentuh keningnya karena baru menyadari jika istrinya sedang cemburu.
"Jadi dia sedang cemburu karena aku berdua dengan Selir Nan di kamar tadi saat mengobati lukanya. Astaga manisnya istriku itu bahkan dia samapai bersikap dingin padaku tadi rupanya karena rasa cemburunya yang tidak beralasan" senyum Pangeran Jun mengembang sempurna saat membayangkan wajah cemburu istrinya yang pasti sangat lucu baginya.
Orang-orang yang ada di ruangan itu menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang dikatakan tuannya, wajar jika Permaisuri cemburu Selir Nan tidak kalah cantik darinya meski hanya selisih sedikit batin mereka.
"Ya sudah kembalilah ketempatmu, jaga di depan baik-baik siapapun yang ingin menemuiku harus melapor lebih dulu sebelum masuk kecuali Permaisuri tentunya" penjaga itu mengangguka paham.
"Mengerti Yang Mulia Pangeran kalau begitu saya undur diri" Kata penjaga lalu pergi dari ruang baca itu.
Tinggallah Pangeran Jun dengan trio macannya yang masih berada di situ karena masih ingin bersama. Tei yang sudah diam sejak tadi membuka suara lebih dulu.
"Hei bagaimana Mei bisa terpeleset begitu? apa kau sengaja mendorongnya? kau pasti sengaja melakukan itu agar bisa menyentuhkan bukan? ayo mengaku saja!" cecar Tei memaksa Jei mengakui opininya.
"Apa maksudmu? aku bukan pemuda yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan seperti itu" sangkal Jei menjitak kepala Tei.
"Tidak usah memukul kepalaku, aku mengatakan hal itu karena aku tahu jika Mei tidak menyukaimu jadi kau akan melakukan segala hal untuk mendapatkannya" tuduh Tei.
"Jadi kau bersungguh-sungguh hanya karena takut dengan Permaisuri yang akan mencincangmu jika menyakiti Mei ya? wah kau sungguh kejam aku akan mengatakannya pada Permaisuri nanti" Jie ikut memberondong Jei dengan tuduhan mereka.
"Apa yang kalian katakan? aku serius dengan Mei dan aku juga tulus mencintainya bahkan Permaisuri mengijinkan aku mendekatinya selama Mei tidak mempermasalahkan keberadaanku" kata Jei bangga karena sudah dapat restu dari Putri Lie.
"Sombong sekali dia, aku yakin Mei akan menyesal sudah memilihnya begitu tahu sikapnya yang aneh nanti" bisik Tei pada Jie yang di sebelahnya, tapi Jei dan Pangeran Jun masih dapat mendengarnya.
"Mei pasti akan langsung meninggalkannya karena malu" sahut Jie berbisik juga tapi tetap di dengar oleh yang di gosibkan mereka.
"Hei aku mendengarnya jika ingin menceritakan keburukanku yang kuat saja tidak usah berbisik" kesal Jei.
__ADS_1
Tei dan Jie menatap Jei dengan aneh lalu melihat penampilan Jei dari atas hingga bawah.
"Jika sudah mendengar untuk apa kami bicara kuat lagi buang-buang tenaga" kata Jie di angguki Tei.
Pangeran Jun yang sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa konsentrasi karena kegaduhan dari ketiga pengawalnya itu di tambah lagi kemarahan istrinya yang menjadi pikiran tersendiri baginya semakin menyulitkan untuk bekerja.
"Jika tidak ada lagi keluarlah kalian lakukan apa yang busa kalian lakukan dan kau Jei kembali ke paviliun Bulan, pastikan kejadian tadi tidak terulang lagi atau kau tidak akan bisa memiliki Mei" kata Pangeran Jun dingin.
Jei yang tadinya masih kesal dengan temannya seketika jadi takut, kenapa selalu Mei yang jadi sasaran sih ya ampun tuanku yang paling tampan gumam Jei dalam hatinya.
"Baik Yang Mulia akan saya pastikan kejadian seperti tadi tidak terulang lagi, saya juga akan segera melapor jika terjadi sesuatu" ucap Jei menunduk hormat lalu pergi dari ruangan itu.
Sebelum benar-benar pergi Jei lebih dulu menatap kedua temannya yang masih menatapnya dengan ekpresi lucu. Jei memberi gerakan memotong leher menggunakan tangannya pada dua orang yang masih meledeknya itu.
Jie dan Tei pura-pura takut dan bergidik ngeri melihat ancaman Jei tapi kemudian mereka menjulurkan lidah kembali mengejeknya. Dengan sangat kesal Jei kembali ke paviliun Bulan meninggalkan orang yang masih mengejeknya.
Jie dan Tei masih saja tersenyum dan terkikik senang melihat wajah kesal Jei yang sudah jarang mereka lihat karena ia berganti tugas jadi mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatnya kesal.
Pangeran Jun sangat heran dengan kelakuan pengawalnya yang aneh itu, kekuatan tidak di ragukan lagi tapi sikap konyol mereka seakan membuat orang lain terkecoh dan mengira tidak ada yang dapat mereka lakukan selain mengikuti Pangeran Jun.
"Pergilah para pria kesepian kalian juga harus segera mencari kekasih agar lebih waras lagi" ucap Pangeran Jun bangkit dari duduknya lalu mendekat pada Jie dan Teu yang masih melihatnya bingung.
"Ternyata Jei lebih tampan dari kalian berdua yang belum punya wanita pujaan" ejek Pangeran Jun pada keduanya dan berlalu pergi.
Jie dan Tei sangat tersindir dengan ucapan tuannya yang mengatakan Jei lebih tampan dari mereka.
"Aku lebih tampan dari Jei" kata Jie menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya kebelakang.
__ADS_1
"Yang pasti akulah yang paling tampan dari kalian berdua dan juga semua pengawal yang ada di kerajaan ini" ucap Tei dengan percaya dirinya dan berpose layaknya pria tertampan.
Jie pergi meninggalkan Tei yang masih memuji dirinya sendiri, bisa pusing dia jika terus meladeni sikap konyol Tei yang berlebihan. Tei yang menyadari jika tinggal seorang diri langsung berlari keluar mengejar Jie yang sudah jauh di depannya.