Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
55


__ADS_3

Jendaral Han dan Panglima Min sudah bersiap untuk pergi menyerbu tempat para pemberontak itu berada. Kali ini mereka hanya di temani Wuse sebagai penunjuk arah.


Sedangkan Pangeran Jun yang sebenarnya ingin ikut ke hutan Barat harus batal karena istri cantiknya yang tidak ingin di tinggalkan olehnya. Jadilah ia hanya membantu warga desa saja yang sudah mulai memulihkan keadaan.


Jei di tugaskan untuk membantu perbaikan rumah, Tei mendapat tugas menanam kembali pohon-pohon dan tanaman lainnya. Dengan begitu semua pekerjaan akan cepat selesai, apa lagi warga yang sangat semangat membangun kembali desa mereka yang pernah berantakan.


Pangeran Jun ikut memperbaiki sungai dan aliran air lainnya agar lancar, Putri Lie membantu para wanita dan gadis menyiapkan makanan untuk semua orang. Jie yang mendapat tugas menjaga Putri Lie selalu menjadi pesuruh mereka ke sana-sini, mengangkat apa pun yang berat.


Ingin mengeluh tetapi takut kena omel, ingin menolak juga tidak mungkin jadi pilihan satu-satunya ya menurut meski harus menjatuhkan imagenya sebagai pengawal pribadi yang kuat dan tangkas. Ketangkasan dan kekuatan Jie di uji oleh Putri Lie di area dapur masak.


Di hutan Barat


Pasukan Jendral Han sudah mengepung paviliun milik Suhi yang terlihat sepi, entah apa yang terjadi di dalam sana hingga mereka tidak ada yang bergerak.


Panglima Min maju dan mendobrak pintu utama. Semua pasukan maju mendekat begitu melihat Panglima Min dan Wuse masuk kedalam.


Banyak mayat bergelimpangan di sana, sepertinya penyakit yang mereka rasakan ketika Wuse datang tempo hari untuk menyelamatkan keluarga Mino dan Ode sudah menewaskan semuanya karena tidak ada obat untuk menyembuhkan mereka.


Anak buah Suhi menderita gatal-gatal yang tidak berkesudahan hingga mengakibatkan seluruh tubuh mereka penuh luka menganga akibat gatal yang terus di garuk bahkan mereka tidak perduli dengan apa pun selain rasa gatal di tubuh mereka.


Karena luka yang sudah infeksi di seluruh tubuh itulah yang menewaskan mereka semua, di tambah lagi rasa sakitnya luka-luka itu.


Sungguh pemandangan yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, kemarin Keimu dan Suhi sekarang anak buah mereka. Apa yang sebenarnya terjadi batin Panglima Min heran.


Akhirnya Panglima Min dan Wuse keluar lagi dari dalam dan memikirkan cara agar bau mayat-mayat itu tidak sampai desa dan mencemari udara.


"Bagaimana mengurus semua mayat itu ayah? mereka sangat banyak" gerutu Panglima Min


"Berapa jumlah mereka semua Wuse?" tanya Jendral Han


"Sekitar 150 orang Jendral" jawab Wuse.


Jendral Han berpikir sejanak sebelum akahirnya berucap.


"Kita hanya bisa membakar mereka bersama paviliun ini, jika membuat lubang untuk mereka akan memakan waktu yang lama begitupun jika mengumpulkan kayu. Lebih baik bakar semua saja dan awasi apainya agar tidak menyebar luas" ucap Jendral Han.


"Pengawal bakar paviliun ini dan pastikan apinya tidak menyebar luas di sekitar" kata Panglima Min.

__ADS_1


Pengawal segera memantik api dan membakar paviliun yang terbuat dari kayu sepenuhnya itu. Api cepat membakar semua sisi bangunan hingga tidak butuh waktu lama semuanya sudah habis di lalap api.


Setelah api tidak lagi besar pengawal Jendral Han menyiramkan air untuk memadamkan sisa apinya. Semua abu dari sisa bakaran di kumpulkan jadi satu lalu di kubur agar tidak merusak lingkungan.


"Kemana kita sekarang?" tanya Panglima Min


"Kita akan ke desa yang ada di seberang sana Panglima, di sanalah markas besar mereka berada" jawab Wuse menunjuk arah seberang sungai.


"Bagaimana bentuk formasi desa itu?" tanya Jendral Han.


"Desa itu hanya terdiri dari 20 bilik dan memiliki kurang lebih 400 pasukan, pimpinan mereka bernama Baros yang menempati bilik sebelah Utara dan paling besar" jelas Wuse.


"Baiklah kita pergi sekarang dan ingat tetap waspada dan jangan terlalu menimbulkan kebisingan karena kita akan menyergap mereka dari segala penjuru" kata Jendral Han.


"Laksanakan Jendral" ucap semua prajurit bersamaan.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Jendral Han dan pasukannya untuk tiba di tempat itu. Jendral Han dan yang lainnya bersembunyi untuk memantau keadaan di sekitarnya lebih dulu sebelum menyerang.


"Wuse bawa pasukan kiri ke bagian belakang, Min bawa pasukan kanan mengepung sisi Utara sana, sisanya ikut aku masuk lebih dulu" ucap Jendral Han.


"Ide bagus lebih cepat lebih baik, menyebar" perintah Jendral Han.


Semua prajurit menyebar dan mengambil posisi masing-masing untuk menyerang. Setelah aba-aba dari Jendral Han dengan siulan sekali maka mereka maju dan menyerang.


Orang-orang yang memang sedang berpesta dan mabuk-mabukan itu tampak sangat kaget dengan kedatangan pasukan yang tiba-tiba menyerang tanpa peringatan.


Meski semua orang itu mabuk tetaplah tidak mudah bagi pasukan Jendral Han yang kalah jumlah dengan mereka yang dua kali lipatnya.


Namun begitu semangat tidak surut dari pasuka yang sudah sering turun kemedan perang itu. Jumlah musuh yang lebih besarpun pernah mereka hadapi jadi tidak masalah bagi mereka seberapa banyak musuh kali ini.


Banyak yang tumbang dari pihak musuh yang tidak sempat bersiap dan mengambil senjata, bagi yang masih sempat mengambil senjatapun melakukan perlawanan semampu mereka saja.


Baros yang masih setengah sadar sangat kaget dengan keadaan markasnya, apa lagi yang datang menyerang berlogo kerajaan dan pasukan Jendral Han yang terkenal ganas setiap melakukan peperangan.


Ia mengambil pedangnya untuk melawan karena tidak ingin kalah dari pasukan yang sedikit milik Jedral Han itu.


"Han! maju lawan aku, aku disini ayo lawan aku!" teriak Baros lalu ia tertawa.

__ADS_1


Jendral Han maju dan melawannya.


"Sesuai keinginanmu Baros, dan sebaiknya kau memang menyusul Keimu dan Suhi ke Neraka" ucap Jendral Han.


Baros semakin tertawa mendengar berita tentang kedua orang yang sebenarnya ia manfaatkan untuk mendapatkan banyak uang dan kesenangan.


"Jadi mereka sudah mati, bagus sekali aku tidak perlu repot-repot membunuh mereka. Sekarang kaulah yang harus menyusul mereka semua" Baros maju setelah mengatakan semua yang ingin di sampaikannya.


Pertempuran keduanya berlangsung sengit, Baros bukanlah orang yang dapat di anggap remeh tetapi tetap tidak ada apa-apanya bagi Jendral Han sendiri. Dengan santai Jendral Han menahan semua serangan dari Baros dan sekali serang kaki kirinya terluka.


Baros mengerang kesakitan namun tetap berusaha maju. Tidak sedikitpun ia dapat menyentuh Jendral kebanggaan kerajaan Xiao itu.


Panglima Min yang melihat ayahnya bertarung dengan orang mabuk itu melesatkan pisau kecilnya tepat di leher Baros hingga menumbangkannya.


Jendral Han melihat putranya yang sedang bertarung dengan anak buah Baros yang lain. Ia yakin jika itu perbuatan anaknya, pisau kecil yang menjadi senjata rahasianya itu sudah sangat di kenalinya.


Meaki sudah terluka di bagian lehernya tetapi Baros tetap bangkit menyerang.


"Kau curang, apa begini cara tempur seorang Jendral? sangat pengecut setelah menyerang diam-diam sekarang menggunakan senjata diam-diam juga. Tidak mudah membunuhku kau tahu" kata Baros mengangkat pedangnya.


"Menghadapi penjahat tidak harus selalu menggunakan tanda perang dan pengumuman besar apa lagi penjahat sepertimu yang bisa memanfaatkan orang lain. Terima saja nasibmu" ucap Jendral Han mengangkat senjatanya lagi.


Baru akan maju memulai perangnya lagi tetapi lawannya sudah tumbang dan tidak bernyawa. Di lihatnya si pelaku yang masih di hadapannya dengan pedang di tangannya.


Siapa lagi jika bukan Wuse pengawal menantunya yang membunuh Baros yang harusnya menjadi bagiannya.


Kenapa semua anak muda sangat berambisi jika perang? tidak menyisakan yang kuat satu saja untukku tidak seru sama sekali batin Jendral Han kesal sendiri karena musuh-musuhnya yang kuat sudah di habisi lebih dulu sebelum dirinyaa.


"Semua sudah beres Jendral, sekarang bagaiman lagi?" tanya Wuse tidak enak hati melihat ekspresi wajah mertua atasannya itu yang masam.


"Biarkan saja, pulang" ucapnya cuek dan pergi tanpa menunggu lagi.


Wuse jadi merasa bersalah dan tidak enak hati dengan hal itu. Panglima Min yang sudah tahu sifat ayahnya yang kadang-kadang seperti anak kecil tidak dapat mainan itu hanya memaklumi saja.


"Sudah tidak apa nanti juga baik sendiri kalau sudah bertemu dengan Permaisuri, karena hanya dia yang dapat mengalahkan semua rasa kesal ayah. Ayo kita pulang" ucap Panglima Min menenangkan Wuse.


Mereka meninggalkan tempat itu karena sudah selesai tugas menghabisi pemberontak yang mengancaam negara itu.

__ADS_1


__ADS_2