Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
57


__ADS_3

Jendral Han dan paaukannya tiba kembali di desa Ruhai pada sore hari. Mereka langsung pergi ke paviliun tempat Putri Lie dan Pangeran Jun berada karena sudah lelah.


Paviliun tampak sunyi dan tidak terlihat tanda-tanda keberadaan kedua tuan rumah yang menempatinya. Hanya pelayan yang sibuk hilir mudik kesana-sini melakukan pekerjaan mereka.


Jendral Han baru akan bertanya pada pelayan yang lewat ketika suara tawa dari samping paviliun itu menarik perhatian mereka berdua. Ayah dan anak itu saling pandang lalu pergi melihat siapa yang tertawa itu.


Terlihat di sana Pangeran Jun dan Putri Lie yang sedang bercanda dan saling menggoda dengan bahagiannya. Jendral Han menghampiri anak dan menantunya yang belum menyadari keberadaan mereka di sana.


Ekhem


Suara batuk dari Panglima Min mengagetkan pasangan yang sedang berpelukan itu hinga repleks Putri Lie mendorong Pangeran Jun hingga jatuh terjungkal dari duduknya.


Brak


Bokong Pangeran Jun mencium lantai dengan kuatnya tetapi ia yang masih shok akan apa yang terjadi hanya diam dan tidak bergerak dari posisi awal jatuhnya. Bahkan Jendral Han dan Panglima Min tertawa melihat wajah kagetnya yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Putri Lie langsung mendekati sang suami yang masih di bawah bagai manekin tampan bernyawa. Ia mensejajarkan tubuh mereka dan menyentuh pipi Pangeran Jun dengan khawatir.


"Honey kamu baik-baik sajakan!" ucapnya menyentuh tubuh Pangeran Jun memastikan tidak ada luka.


Pangeran Jun berdiri bersamaan dengan Putri Lie yang masih memeriksanya dengan memutari badannya. Pangeran Jun memanfaatkan kekhawatiran istrinya itu untum bermanja.


"Sakit sweetyy, kamu kok tega sih dorong aku" ucapnya dramatis.


Semakin merasa bersalah pula Putri Lie mendengar ucapan suaminya yang mengusap bokongnya.


"Maaf honey aku tidak sengaja, sakit banget ya!" seru Putri Lie sendu dan hampir menangis.


Pangeran Jin menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang kesakitan. Air mata Putri Lie berjatuhan karena tidak tega dengan suaminya yang kesakitan lalu ia melihat orang yang mengagetkan mereka dan menyalahkannya.


"Ayah, kakak kalau masuk bilang-bilang dulu dong! lihat nih suami aku jatuh, sakit tahu!" Putri Lie berlinang air mata dan memeluka suaminya erat.


Ketiga pria di sana bengong melihat kesayangan mereka itu menangis, padahal hanya pura-pura tetapi ia percaya dan menangis. Pasti ada sesuatu denganmu sweetyy hingga mudah berubah sikap begini batin Pangeran Jun memeluk istrinya juga.


Tangannya terulur untuk mengusap lembut punggung Putri Lie yang masih sesegukan di pelukannya. Ia mencoba menenangkan istrinya agar tidak menangis lagi.


"Sweetyy tenang ya, aku baik-baik saja percayalah" ucapnya.

__ADS_1


Putri Lie mendongak menatap Pangeran Jun yang juga menatapnya meyakinkan.


"Tapi kamu kesakitan karena aku dorong sampai jatuh, maaf honey" tangis Putri Lie semakin pecah setelah mengatakan hal itu.


Jendral Han dan Panglima Min jadi merasa bersalah karena sudah mengganggu mereka hingga menyebabkan tangis Putri Lie tidak berhenti.


"Sayang maafkan ayah ya, ayah tidak bermaksud mengejutkan kalian" sesal Jendral Han.


Putri Lie tidak menanggapi ucapan ayahnya yang meminta maaf padanya.


"Lae adik kakak Min yang cantik, maafkan kami ya" ucap Panglima Min juga yang masih tidak mendapat respon.


Kedua pria itu mendekat pada pasangan yang masih berpelukan erat itu. Tiba-tiba saja suara Putri Lie mengejutkan mereka.


"Ayah sama kakak bau, jangan dekat-dekat" ucapnya masih terdengar suara tangisnya yang sudah mulai reda.


Jendral Han dan Panglima Min mencium bau tubuh mereka, tidak bau batin keduanya. Meski berperang tetapi mereka tidak bau darah atau keringat sama sekali.


Hanya saja bagi Putri Lie mereka sangat bau hingga ia tidak tahan dan tetap memeluk suaminya yang wangi menurutnya.


"Jangan mendekat perut aku mual" ucapnya.


Akhirnya ayah dan anak itu mundur dari hadapan Pangeran Jun dan Putri Lie untuk membersihkan diri lebih dulu. Pangeran Jun sudah di buat bingung sekali dengan sikap istrinya yang tidak menentu itu, tetapi tetap ia nikmati apa pun perubahan pada diri istrinya.


"Sweetyy kita masuk yuk" ajak Pangeran Jun


"Gendong" kata Putri Lie manja dan mengalungkan tangannya pada leher kokoh suaminya.


Senyum Pangeran Jun menghiasi wajah tampannya mendapati sikap manja sang istri yang sangat di sukainya. Jarang-jarang istrinya itu manja seperti ini, jadi ketika sifat itu datang ia akan sangat senang.


Malam kali ini terasa sunyi bagi mereka yang ada di ruang makan tersebut. Hanya Putri Lie dan Pangeran Jun yang saling bercengkrama mesra tanpa memperdulikan dua orang lain di tempat itu.


Lebih tepatnya Putri Lie yang masih mengabaikan mereka karena kesal pada kedua orang itu yang sudah menghancurkan momen romantis mereka tadi hingga sang suami ia dorong jatuh.


"Lae sayangnya ayah, maafkan ayah dan kakakmu ya" ucap Jendral Han


"Ada syratnya" kata Putri Lie menyunggingkan senyum ke dua prianya itu.

__ADS_1


Dengan antusias mereka pasang badan siap memdengar syarat dari Putri Lie.


"Ceritakan tentang ibu" ucap Putri Lie sendu.


Entah mengapa ia merasa sangat merindukan ibunya dan sangat ingin di peluk hangat oleh wanita yang di panggilnya ibu.


Jendral Han menatap putrinya iba dan bersalah. Jika ia cepat pulang waktu itu istrinya pasti masih hidup hingga kini.


"Nanti ya Lae, kita makan dulu" sahut Panglima Min mengulur waktu agar ayahnya siap untuk menceritakan semaunya pada gadis kecil mereka.


Wajah Putri Lie terlihat sedih tapi dia tetap mengiyakan ucapan kakaknya yang penting baginya tahu mengenai sosok ibu yang di rindukannya.


"Ibmu bernama Lea Xilia, dia wanita yang sangat cantik seperti dirimu meskipum kamu lebih cantik dari ibumu. Ibumu wanita yang baik dan lembut, dia juga tidak pernah membeda-bedakan status sosial seseorang karena baginya semua sama. Kelembutan dan pengertiannya membuat ayah semakin mencintai ibumu hinga kakakmu kamu lahir kedunia ini bahkan hingga akhir hayatnya. Ayah masih sangat mencintainya" ucap Jendral Han saat melihat kesedihan putrinya.


"Ibumu sangat menyayangi kita semua, ketika kamu masih di dalam kandungannya pun ia selalu mendiakan yang terbaik untukmu dengan harapan kamu akan menjadi wanita kuat seperti ayah dan cantik sepertinya. Harapannya terwujud tetapi ia tidak bisa melihatmu langsung karena tuhan lebih menyayanginya. Lembut sentuhannya, hangat pelukannya dan indah senyumannya semua itu masih ayah ingat dengan baik. Dan semua itu pada dirimu putriku" lanjutnya memandang Putri Lie yang sudah di dekap Pangeran Jun.


"Kami memberimu nama yang sama seperti ibumu karena kami selalu merasa jika ibumu selalu ada di dekatmu dan kamu juga harta berharga kami satu-satunya. Lea Lae kalian adalah berlian yang akan tetap hidup abadi dalam hati ayah nak, ayah sangat menyayangimu seperti halnya menyayangi ibu dan kakakmu" kata Jendral Han menahan air matanya yang siap jatuh.


"Jika ayah di beri pilihan antara kamu dan semua harta yang ayah miliki di kediaman maka ayah dengan senang hati memilih kamu bahkan jika harus kehilangan jabatan dan nyawa sekalipun ayah rela asal selalu melihatmu bahagia putriku, ayah ingin kamu bahagia. Maaf jika selama kamu masih kecil ayah tidak bisa melindungimu dan membahagiakanmu, maafkan ayah nak, ayah manyesal tidak bisa menjaga ibumu hingga kamu tidak bisa merasakan kasih sayangnya" air mata Jendral Han jatuh saat Putri Lie memeluknya.


Tangis Putri Lie pecah di pelukan ayahnya yang sangat di sayanginya itu. Ia tidak menyangka jika ayahnya akan menangis meminta maaf padanya hanya karena tidak bisa menjaga dan membahagiakannya sewaktu kecil.


"Ayah sudah melakukan yang terbaik untukku, ayah adalah ayah yang terhebat kebanggaanku. Maafkan Lie'er yang tidak pernah bisa membalas kebaikan ayah selama ini, maaf ayah" air mata Putri Lie semakin keluar saat mengatakan maaf pada ayahnya.


"Putri ayah tersayang, kamu harus bahagia nak, ayah akan lakukan apa pun yang terbaik untukmu sayangnya ayah" Jendral Han mencium puncak kepala putri kesayangannya dengan hangat dan penuh kasih sayang.


Panglima Min ikut datang memeluk mereka yang sedang menangis, dua hartanya yang akan ia jaga selalu. Sebagai putra tertua ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi ayah dan adiknya.


Meskipun kini adiknya sudah ada yang menjaga tetapi ia masih ingin ikut menjaga permata keluarga Han itu juga.


Pangeran Jun ikut meneteskan air matanya dengan adegan mengharukan di hadapannya. Pangeran Jun tidak menyangka jika sang istri sudah sangat merindukan sosok ibu yang tidak pernah ia rasakan sejak lahir.


Putri Lie mengalihkan pandangannya pada sang suami yang menyentuh bahunya lembut. Senyum manis Pangeran Jun mampu mengobati sedih hatinya akibat rindu pada ibunya.


"Besok kita pulang ke kota ya, urusan di sini bisa di selesaikan Mino karena tinggal menunggu masa panen dan tanam sedikit lagi. Jadi kita sudah bisa pulang ke kediaman kita" ucap Pangeran Jun lembut.


Pelukan Putri Lie berpindah pada Pangeran Jun yang langsung menyambutnya hangat dan kecupan mesra di keningnya agar istrinya itu tenang dari tangisnya. Kamu akan merasakan pelukan ibu yang sesungguhnya sweetyy, aku janji batin Pangeran Jun.

__ADS_1


__ADS_2