
Setelah singa-singa itu selesai dengan urusan mereka barulah keduanya masuk kedalam gua dengan auman yang sangat menyeramkam. Siapapun yang mendengarnya akan sangat ketakutan karena aura mengerikan mereka.
Tapi itu tidak berlaku bagi Lili yang semakin penasaran dengan keduanya. Ingin ia cepat-cepat menaklukan keduanya tetapi ia harus hati-hati dalam melangkah karena bisa saja ada yang lain didalam.
Jeje dan Wuwu sebenarnya tidak berani mendekat, hanya saja wanita yang harus mereka jaga ini memiliki keberanian yang sangat besar jadi mau tidak mau mereka harus mengikutinya.
Ketiganya turun dari atas pohon lalu mendekati gua itu dengan peringan tubuh agar tidak menimbulkan suara. Lili berjalan lebih dulu didepan sementara kedua pria lainnya mengikutinya.
Tiba ditengah gua terlihat kedua singa yang bertarung tadi juga seorang kakek yang membuat Lili dan Jeje keget melihatnya. Dia adalah kakek Sao yang sedang duduk seperti orang bertapa ditengah batu besar yang dijaga dua singa besar itu.
Tiba-tiba Jeje terbatuk karena menghirup debu yang memang ada di dinding gua itu. Singa-singa dengan cepat mendekati mereka dan menerjang ketiganya.
Namun dengan cepat Jeje, Wuwu dan Lili menghindar, karena aura dari Lili yang lebih kuat dan menyeramkan dari dua temannya maka singa-singa itu lebih menyerang Lili.
Aura kuat dari Lili membuat kedua singa itu merasa terancam akan terbunuh dengannya. Dengan lihainya Lili mengelak dari setiap serangan singa itu bahkan tanpa tergores sedikitpun.
Semakin marahlah singa-singa yang tidak dapat menyentuhnya itu, bahkan semakin brutal menyerangnya tanpa ampun, tapi tidak juga bisa menyentuhnya.
Jeje dan Wuwu yang sudah ketakutan tidak bisa menyembunyikannya lagi, yang mereka lakukan hanya berpelukan seraya berdoa agar mereka dan tuan putri selamat.
Membayangkan tubuh mereka hancur seperti kelompok merah tadi membuat keduanya benar-benar gemetar ketakutan.
"Kita perang dimedan perang saja yuk atau perang melawan negara lain atau musuh saja yang penting tidak berurusan dengan singa-singa itu" gumam Jeje pelan tapi masih didengar Wuwu yang memang menempel padanya.
"Setuju, lebih baik aku mengintai musuh saja dari pada berhadapan dengan binatang buas begini" sahut Wuwu.
Sedangkan Lili mulai beraksi dengan jurus-jurusnya menaklukkan binatang buas itu.
Lili melompat dengan tumpuan batu besar lalu mendarat disalah satu punggung singa. Singa itu berontak dan melawan bahkan temannya akan menerkam Lili yang berada dipunggung temannya.
Melihat posisi sulit yang sedang dialami Lili, Wuwu dan Jeje berniat menolong karena tidak ingin kehilangan teman sekaligus Permaisuri cantik mereka.
__ADS_1
Tapi belum mereka mendekat pemandangan berikutnya cukup mengejutkan keduanya.
Lili yang dipunggung salah satu singa itu menendangkan kakinya tepat ditengah-tengah kepala singa yang akan menyerangnya hingga kedua matanya tertutup.
Sedangkan singa yang ditungganginya ia tutup matanya menggunakan tangannya yang terbalut lengan baju panjang. Perlahan kedua singa itu diam dan tidak bergerak lalu yang satunya duduk diam.
Setelah dirasa cukup dengan jurusnya barulah Lili membuka tutupan mata kedua singa itu. Mata yang tadinya dipenuhi amarah dan nafsu membunuh ketika melihatnya kini sudah melunak dan menjadikan keduanya kucing penurut.
Kakek Sao tersenyum misterius mengetahui ada orang yang menaklukan kedua peliharaannya. Meski dengan mata terpejam tetapi kakek itu tetap mengetahui siap orangnya.
Karena auranya yang sudah diketahui oleh kakek Sao sejak pertama kedatangannya dulu hingga sekarang tetap sama. Bahkan yang sekarang lebih kuat dan sangar, benar-benar kekuatan yang luar biasa pikir kakek Sao.
Lili turun dari punggung singa itu yang lansung disambut hormat keduanya yang sudah mengakui kekalahan dan siap mengabdi pada orang baru yang menaklukkan mereka.
Jeje dan Wuwu bernapas lega karena tuan putri mereka bisa selamat dan dapat menjinakkan singa ganas itu. Jika saja istri tercinta tuan mereka ini tewas karena dimakan singa maka nyawa mereka juga tidak akan selamat.
Kakek Sao membuka matanya dan tersenyum penuh arti pada Lili. Suara tepukan sekali membuat perhatian kedua singa itu teralihkan dan melihat sumber suara.
Jadi mereka tidak punya banyak waktu untuk berbincang meski hanya mereka yang tahu artinya. Apa lagi semakin banyak penjahat yang selalu mencoba untuk memasuki gua itu.
Kedua singa jadi semakin kejam dan ganas karena hampir semua penjahat yang datang menggunakan segala cara untuk melumpuhkan kesuanya agar bisa masuk.
"Selamat datang Permaisuri, sungguh kehormatan bagi saya karena bisa bertemu kembali dengan Permaisuri Jun" ucap kakek Sao membuat Wuwu waspada.
"Kakek mengenaliku?" heran Lili
"Meskipun Permaisuri menggunakan penutup wajah tapi aura yang anda miliki sudah bisa aku rasakan dari jauh sejak tadi" jelas kakek Sao.
"Berarti sewaktu kami masuk kakekpun tahu?" tanyanya lagi
"Bahkan ketika kalian mulai masuk hutan ini aku sudah bisa merasakan kedatanganmu Permaisuri" ujar kakek Sao membuat Wuwu semakin cemas.
__ADS_1
Kakek Sao mengetahui kecemasan dan kewaspadaan Wuwu hanya tersenyum tipis.
"Tenanglah anak muda, aku mengenal baik salah satu pasienku ini" kata kakek Sao lagi.
Wuwu jadi salah tingkah karena kakek Sao dapat mengetahui apa yang ia rasakan saat melihat interaksi kakek dengan Lili.
"Apa yang kakek lakukan disini?" tanya Jeje penasaran karena ia baru tahu jika kakek yang pernah dibantunya secara kebetulan itu bisa berada dihutan seperti ini seorang diri bahkan dikelilingi harimau.
"Inilah tempat kakek yang sesungguhnya" jawab kakek santai.
"Kenapa kakek tinggal ditempat seperti ini? apa tidak takut kek? nanti kalau ada binatang buas lainnya bagaimana? kalau kakek lapar mau makan apa?" cecar Wuwu lebih penasaran lagi.
"Banyak makanan disini, jika lapar kakek hanya perlu meminta salah satu dari mereka mencari daging jika kakek malas keluar mencarinya sendiri" tunjuk kakek Sao pada sepasang singanya.
Keduan singa itu duduk sejajar dengan Lili tapi sedikit kebelakang karena kiri kanannya ada kedua pria yang ikut dengannya.
"Kakek, siapa kakek ini sebenarnya? kenapa mistrius sekali?" tanya Lili gantian penasaran.
"Kakek hanya orang tua biasa yang akan memperjuangkan orang sakit" ucap Kakek Sao tenang.
"Lalu kenapa kakek bisa ada dini? tanya Wuwu akhirnya.
"Kakek menjaga harta karun yang selalu menjadi rebutan orang-orang yang berniat mengambilnya" jawab kakek.
"Kenapa harus dijaga kek? bukankah dia akan tetap aman karena sudah ada dua singa ini" ucap Lili dengan perlahan agar tidak curigai.
"Bukankah kedatangan kalian juga untuk mengambil bahan-bahan itu!" tebak kakek Sao benar meski belum rapi dan beraih.
Lili, Jeje dan Wuwu yang mendengar tebakan benar dari kakek Sao jadi merasa salah tingkah dan hanya tersenyum canggung.
"Tananglah kakek ini hanya bercandaa! jika kalian ingin memgambilnya, bawa saja karena itu sebenarnya milik keluarga mertuamu Permaisuri" ujar kakek sao.
__ADS_1
Lili menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Bahka kalimatnya menggantung ditenggorokan tidak bisa keluar, bagitupun dengan Jeje dan Wuwu yang sama kagetnya dengan tuan putri mereka.