
Sebenarnya Pangeran Jun dapat mendengar semua yang mereka katakan hanya saja matanya terlalu berat untuk di buka. Bahkan tubuhnya juga terasa sangat lemah hingga tidak mampu menopang diri sendiri.
Saat mengetahui kalau istrinya datang bahkan menyentuhnya alangkah bahagianya hati Pangeran Jun. Itu juga memberi sedikit tenaga padanya untuk melawan rasa sakitnya.
Sentuhan lembut dari Putri Lie sangat menyenangkan baginya apa lagi mendengar bisikan lembut yang sangat mengharapkan kesembuhannya. Obat yang di berikan Putri Lie ditelannya dengan cepat karena rasanya yang hambar sangat tidak enak.
Setelah minum obat itu, ia merasakan jika tubuhnya sedikit berat di bagaian perut dan tangannya yang di genggam erat juga kecupan lembut di pipinya. Ah istrinya ini sangat manis memperlakukannya yang sedang sakit.
Bolehkah Pangeran Jun berteriak senang karena apa yang di inginkannya terwujud dengan adanya sakitnya itu. Kalau begitu pura-pura sakit saja supaya bisa terus di sentuh dan di manja begini gumam Pangeran Jun dalam hati.
Lama kelamaan rasa kantuk mulai menyerangn Pangeran Jun juga, jadilah mereka tidur dengan Putri Lie yang memeluknya hangat.
Perlahan Putri Lie mulai membuka matanya lalu mencoba duduk sejenak. Tapi karena posisinya yang sedang memeluk tubuh Pangeran Jun jadi ia sedikit kesulitan.
Pelan-pelan Putri Lie berhasil melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang lalu keluar kamar. Di sana ada ketiga pengawal mereka juga Mei yang sedang duduk di dekat Jei.
Tanpa menghiraukan keempat orang itu, Putri Lie pergi menuju dapur paviliun Matahari untuk menyiapkan sesuatu yang bisa di makan suaminya jika bangun nanti.
Jie, Tei, Jei dan Mei kaget melihat Permaisuri mereka yang keluar dan pergi begitu saja tanpa melihat keberadaan mereka di sana, juga tidak mengatakan apapun.
Mei dan Jei langsung mengejar tuan putri mereka itu yang berjalan menuju belakang.
"Permaisuri anda mau kemana?" tanya Mei dari belakang.
"Tunggu Permaisuri!" ucap Jei.
Putri Lie menghentikan langkahnya dan memutar tubuh melihat kedua orang itu.
"Jei katakan pada pelayan paviliun ini untuk menyiapakan air dalam wadah juga sediakan kain yang berukuran sedang, Mei ikut aku" kata Putri Lie lalu meneruskan langkahnya.
Jei pergi dalam kebingungan tapi tetap di lakukannya, begitupun dengan Mei yang heran dengan sikap tuan putrinya itu yang sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Di depan pintu dapur Putri Lie mendengar suara beberapa pelayan yang sedang berkumpul sembari bercerita.
"Kalian tahu tidak! beberapa hari yang lalu aku melihat Selir Nan datang ke sini" ucap salah satunya
"Lalu apa yang terjadi?" penasaran temannya
"Aku dengar Selir Nan meminta ijin untuk pergi ke kuil minggu depan" jawab temannya.
"Bukankah waktu itu mereka berduaan di kamar utama" bingung yang satu
"Entahlah aku tidak tahu pasti yang jelas setelah itu mereka pergi entah kemana, tahunya sudah di kamar saja" ucap yang lain.
"Karena belum punya anak juga dengan Permaisuri, Yang Mulia mendekati Selir Nan agar segera mendapat anak, licik ya dia" ketus lainnya.
"Permaisuri juga ternyata tidak subur, buktinya tidak hamil-hamil juga" sanggah lainnya
"Jangan-jangan mandul? wah kita tidak akan punya penerus kalau begini, Yang Mulia Pangeran harus menikah lagi agar dapat penerusnya!" sambung temannya.
Ekhem
Pelayan yang tadinya bergosip langsung berjingkat kaget, apa lagi melihat keberadaan Putri Lie di pintu dengan wajah datarnya yang mirip Pangeran Jun. Membuat mereka sangat ketakutan karena sudah berani menjelek-jelekan Pangeran Jun.
"Salam kepada Permaisuri" ucap mereka bersamaan.
Putri Lie menatap dingin kelima wanita di hadapannya hingga mereka gemetar ketakutan.
"Seburuk apa pun tuan kalian dia tetaplah orang yang sudah memberi kalian pekerjaan dan membayar kalian dengan uang yang cukup untuk kebutuhan keluarga kalian di rumah. Begini cara kalian berterimakasih pada orang yang sudah membantu kalian!" ucap Putri Lie.
Kelima orang itu semakin menunduk dalam karena ketahuan jika membicarakan hal burum tentang Pangeran Jun.
"Aku pikir kalian sudah bosan bekerja di sini! jadi biar aku bantu keluar ya!" seru Putri Lie dengan seringai kecil yang menyeramkan.
__ADS_1
"Mei cari kepala pelayan Hasim dan minta dia untuk ke kamar utama secepatnya, kalian juga harus ke kamar utama tunggu aku di depan pintu dan jangan coba-coba bersuara walau sekecappun" kata Putri Lie tajam.
Mei pergi mencari kepala payan Hasim, sedangkan kelima pelayan tadi pergi ke kamar utama dengan sangat ketakutan.
Sementara mereka pergi sesuai perintahnya, Putri Lie sendiri mengerjakan apa yang ingin ia lakukan sendiri saja. Setelah mengumpulkan semua bahan yang akan di olahnya barulah kegiatan masak di mulai.
Kali ini Putri Lie akan membuat bubur ayam untuk makan suaminya yang sedang sakit itu, entah dia bisa memakanny atau tidak urusan belakangan yang penting sudah ia siapkan.
Meski sedikit kesulitan dalam memasaknya karena masih menggunakan kayu, namun bubur spesialnya bisa ia siapkan dengan sempurna dan menurutnya itu sudah sangat enak. Bahkan Putri Lie memberikan sedikit daging ikan yang ia cincang dan kukus bersama ayamnya tadi.
"Sempurna, tapi apa iya ini bubur ayam? ah ku berinama saja buryami, kelihatan sangat enak juga ini" gumam Putri Lie, lalu di letakkannya bubur itu pada nampan juga air hangat yang sudah di siapkan lebih dulu sejak tadi jadi bisa di minum.
Langkah ringannya membawanya menuju kembali ke kamar utama yang di tempati Pangeran Jun. Di sana sudah ada pelayan yang di dapur tadi juga kepala pelayan Hasim yang menunduk.
Ada juga Mei yang segera mendekati Putri Lie ketika melihatnya membawa sesuatu di tangannya, Mei berniat membawakan nampan itu tapi di tolak mentah-mentah oleh Putri Lie yang terus berjalan dan meminta apa yang sudah ia katakan lebih dulu.
"Apa kau sudah mengatakan pada pelayan untuk menyiapkan airnya Jei?" tanya Putri Lie pada Jei yang fokus pada isi mangkuk di tangannya.
"Wah pasti itu sangat enak" kata Jei tidak menyadari ucapannya. Mei menyenggol tangan Jei hingga mengagetkannya.
"Apa?" tanya Jei tanpa merasa bersalah, Mei mengkodenya dengan gerakan matanya dan diikuti Jei yang hanya meringis karena sudah tahu maksud Mei.
"Maaf Permaisuri, yang anda minta sudah di siapkan di dalam" ucap Jei malu.
"Jika kau mau yang seperti ini, kau harus sakit lebih dulu baru minta Mei membuatkan untukmu" kata Putri Lie segera berlalu masuk, sedang Jei hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kalau Mei sudah pasti merona pipinya.
Saat masuk Putri Lie mendapati suaminya yang sudah membuka matanya, namun pandangannya lurus kedepan dan terlihat kosong seperti sedang melamun.
Bunyi benda yang bersentuhan dengan sedikit keras mengalihkan pandangannya dan mendapati wanitanya di sana baru meletakkan nampan. Putri Lie sengaja meletakkan nampannya sedikit keras untuk mengalihkan perhatian suaminya karena ia masih malas menegurnya.
Senyum tipis Pangeran Jun berikan pada Putri Lie lalu ia kembali seperti semula menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
Dengan perasaan yang bersalah Putri Lie mendekat dengan membawa air dengan kain kecil itu mendekati kasur. Tangannya menyentuh tubuh Pangeran Jun dan memintanya untuk bangkit tapi tidak di respon sama sekali oleh Pangeran Jun yang justru berbalik membelakanginya.