
Tiga bulan sudah berlalu sejak diketahuinya kehamilan Putri Lie. Semua orang sungguh sangat bersuka cita mendengar kabar itu.
BahkanPangeran Jun semakin waspada terhadap perubahan sikap istrinya yang jadi lebih pembangkang dari yang semula penurut.
Semua keinginannya harus dipenuhi jika tidak maka akan berakibat dengan Pangeran Jun tidak bisa dekat-dekat dengannya.
Seperti malam ini, Putri Lie ngotot ingin melihat bulan ditengah malam yang dingin.
"Pokonya aku mau lihat bulan itu" kekehnya sembari menunjuk bulan purnama yang bersinar.
"Angin malam tidak baik untuk wanita hamil sepertimu Swetyy, nanti kamu sakit anak kita juga" ucap Pangeran Jun mencoba bersabar.
"Pokoknya harus titik" paksanya.
"Ayolah sekali ini saja ya.." rengek Putri Lie.
"Di luar dingin Lie Jun" tegas Pangeran Jun.
Mereka sama-sama keras setiap kali sudah berdebat soal keinginan Putri Lie yang tidak bisa dipenuhi oleh Pangeran Jun.
"Ya sudah pergi sana! jangan dekat-dekat" ketusnya sambil memandangi bulan dari jendela kamarnya.
Terdengar desahan kesal dari Pangeran Jun yang mencoba menahan marahnya karena sikap istrinya yang berubah drastis sejak hamil.
Ia jadi teringat saat dulu masih kecil yang sering membantah ibunya juga keras kepalanya yang sering membuat ibunya pusing namun tetap sabar. Bahkan ketika sudha dewasa lebih parah lagi karena ia bahkan tidak pernah memperdulikan ucapan ibunya yang sering mengkhawatirkannya.
Benar-benar keturunanku nih bayi gumamnya dalam hati.
"Baiklah kamu boleh keluar lihat bulan, tapi nggak lebih dari 30 menit" ucap Pangeran Jun mendapat sesikit respon dari istrinya.
"Kok 30 menit sih kan nggak seru" protesnya.
"Angin terlalu kencang diluar, apa lagi ini musim dingin jadi mengertilah swetyy" kata Pangeran Jun mendekati istrinya.
"Baiklah dari pada tidak sama sekali" ucap Putri Lie yang sudah sangat ingin keluar.
Akhirnya pasangan suami istri itu keluar dari paviliun Saga karena memang mereka sudah tinggal di kerajaan dengan alasan Ratu Xiao ingin menjaga cucu juga menantunya.
__ADS_1
Jadilah mereka pindah kekerajaan tapi masih ada beberapa pengawal dan pelayan yang tinggal untuk membersihkan juga menjaga kediaman mereka.
Pangeran Jun membawa istrinya menuju gazebo yang dekat kolam teratai. Di sana bisa melihat bulan lebih jelas selain itu juga tempatnya tidak terlalu terbuka dari pada di jembatan seperti permintaan Putri Lie.
Setelah perdebatan sesi kedua mereka tadi karena Putri Lie yang ingin duduk di jembatan tapi mendapat tolakan mentah-mentah dari suaminya yang mengancam akan mengurungnya dikamar kalau tetap ingin di jembatan.
Jadilah mereka di gazebo sesuai perkataan Pangeran Jun, Putri Lie tidak ingin dikurung tanpa kebebasan seperti yang sering dia lakukan. Jika sudah dikurung maka tidak ada seorangpun yang dapat membebaskannya.
Bahkan Raja juga Ratu sekalipun tidak bisa mengeluarkannya. Kamar akan ditutup serapat mungkin oleh Pangeran Jun kalau sudah memberi hukuman itu padanya, tentu Pangeran Jun tahu kalau istrinya bisa saja kabur kalau hanya penjaga yang diperbanyak.
Seperti saat kehamilan Putri Lie masuk 1 bulan, ia melanggar janjinya pada Pangeran Jun yang memintanya menunggu dipaviliun selagi dia pergi mencari ap yang dia inginkan.
Dengan santainya dia pergi dengan alasan bosan akibat suaminya terlalu lama. Karena marah dan tidak ingin menyakiti Putri Lie jadilah Pangeran Jun mengurungnya dikamar selama tiga hari.
Namun yang terjadi baru sehari saja dikurung Putri Lie sudah melarikan diri keluar dengan melompati jendela lalu memanjat tembok untuk keluar kerajaan demi bisa kembalu ke kediaman mereka yang cukup jauh. Tapi karena kemampuannya ia bisa pergi dengan cepat tanpa diketahui siapapun.
Tentu saja Pangeran Jun meradang besar akibat hal itu. Ia bahkan hampir menghukum semua orang yang ada dipaviliunnya jika saja ketiga pengawal pribadinya tidak mengingatkannya akan kemampuan Putri Lie.
Putri Lie kembali saat matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Dengan waspada dia masuk tanpa melihat sudah ada yang menunggunya didalam.
Putri kembali dihukum lagi selama seminggu dengan pengawalan super ketat juga semua jendela diberi pembatas yang cukup rapat tapi masih bisa melihat keluar dan cahaya masih masuk.
Putri Lie tidak dikurung dikamar utama mereka melainkan kamar sebelah yang lumayan besar dan nyaman yang sudah dimodifikasi oleh Pangeran Jun untuk menghukum istrinya yang super aktif dan sulit di kendalikan sejak hamil.
Kelincahan Putri Lie memang tidak berkurang meski sedang hamil. Dia sendiri juga heran kenapa jadi lebih senang membantah suaminya meski terkadang manjanya juga muncul tapi lebih mendominasi sikap melawannya.
Lain halnya kalau Ratu atau Raja Xiao yang bicara atau melarangnya, dia pasti akan langsung menurutinya tanpa bantahan.
Menurut Raja dan Ratu Xiao, sikap menantu mereka ini sangat mirip dengan kehamilan Raru Xiao dulu ketika mengandung Pangeran Jun. Seperti halnya Putri Lie yang suka melawan pada suaminya begitu pula Ratu Xiao dulunya.
Tapi tidak separah Putri Lie yang bahkan mampu membuat Pangeran Jun benar-benar frustasi karena kelincahan juga keaktifannya.
Meski tidak bisa diam, Putri Lie tetap mengutamakan keselamatan juga kesehatan kandungannya.
Ratu Xiao juga selalu menemaninya setiap kali ada waktu luang yang lebih banyak untuknya. Hingga Pangeran Jun yang tidak memiliki pekerjaan harus kehilangan istrinya saat baru akan mendekati akibat ibunya yang melarika istrinya.
Tiba digazebo Pangeran mendudukkan Putri Lie dikursi yang menatap langsung pada bulan purnama. Sedangkan dia sendiri duduk berlutut menghadap perut Putri Lie yang mulai terlihat sedikit membuncit.
__ADS_1
"Kamu sehat-sehat didalam sana ya nak, ayah akan menunggu kamu hingga bisa bertemu" ucap Pangeran Jun mengelus perut istrinya lembut menyalurkan kehangatannya.
Putri Lie tersenyum melihat interaksi yang menghangatkan hatinya ini.
"Iya ayah, adek sehat kok tenang aja" sahut Putri Lie dengan suara anak kecil.
"Jangan bandel ya dek didalam sana, jangan buat ibu senang berkeliaran sampai ayah kebingungan ya"
"Nggak kok adek kan baik yah"
"Tapi banyak nakalnya"
"Namanya juga ayah begitu adek juga begitu dong"
"Jangan kaya ayah, kasihan ibu nanti terus khawatir sama kamu, nanti ibu sedih karena kamu ayah juga ikut sedih dong" ucap Pangeran Jun dengan wajah dibuat sedih.
Putri Lie membelai wajah tampan suaminya yang terlihat semakin tampan.
"Aku harap kamu tidak kabur lagi ataupun pergi tanpa pamit, apa lagi 3 hari lagi kita akan dinobatkan sebagai ahli waris kerajaan" ucap Pangeran Jun masih diposisinya.
"Iya aku tahu, ibu juga udah bisa nemanin aku lagi jadi nggak akan buat kamu khawatir kecuali kalau si adek ngajak pergi" kekeh Putri Lie.
"Jangan ya dek, ayah nggak mau terjadi sesuatu sama kamu juga ibu jadi nurut ya nak" Pangeran Jun mengecup perut istrinya menyapa buah hatinya.
"Baik ayah adek nggak janji tapi" ucap Putri Lie mendapat tatapan kesal suaminya.
Tawa putri Lie mengudara yang disusul senyuman Pangeran Jun. Waktu seperti ini jarang mereka daptkan karena kesibukan Pangeran Jun yang banyak.
Namun untuk seminggu kedepan ia tidak akan sibuk dan tidak ada kerjaan jadi bisa menemani juga menuruti semua keinginan aneh istrinya ini.
Tiba-tiba ada sebuah panah melesat mengarah pada Putri Lie. Dengan sigap Pangeran Jun menarik istrinya untuk di peluk jadi panah itu mengenai tiang.
Pengawal yang ikut mereka langsung siaga, ada pula yang mencari sumber panah tersebut.
Ada kertas yang tertempel disana, karena penasaran Putri Lie mengambil lalu membacanya. Alangkah kagetnya dia saat melihat isinya begitupun Pangeran Jun yang ikut membacanya.
----------------
__ADS_1
Ini author buat s2 nya semoga suka ya...😊😊😊😊😊