
Melihat bubur buatannya habis Putri Lie merasa sangat senang, itu artinya usahanya tidak sia-sia.
Pangeran Jun menatap istrinya dalam dengan rasa rindu yang menggunung, ingin peluk tapu masalah belum beres jadi ia akan pertahankan saja akting sakitnya supaya dapat perhatian lebih.
"Sudah selesaikan! aku sudah makan jadi kamu boleh pergi dan tidak perlu repot-repot mengurusku lagi" wajah sedih Pangeran Jun sebenarnya tidak membuat Putri Lie kasihan tapi ingin tertawa karena sangat lucu menurutnya.
"Hantikan omong kosongmu juga wajah konyolmu yang menggelikan itu, ingin sekali aku memukulnya" kata Putri Lie ketus yang nyatanya sedang menutupi tawanya agar tidak keluar.
Ekspresi wajah Pangeran Jun berubah dingin dan datar saat mendengar ucapan itu begitu lancar keluar dari mulut istrinya.
"Pergilah jika tidak ikhlas mengurusku aku akan minta ibu datang mengurusku" Pangeran Jun kembali berbaring dan memejamkan matanya dengan wajah menghadap jendela.
Putri Lir mengigit bibirnya kecik karena sudah salah bicara tapi ia masih tidak mau kalah. Putri Lie merasa jika suaminya mengusirnya karena ingin bersama Selir Nan.
"Baik aku pergi, jika Selir Nan lebih pantas untukmu dan bisa memberimu keturunan aku akan pergi dan melepas status ini untuknya" Putri Lie bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan berharap suaminya akan menghentikannya.
Namun hingga ia keluar dari pintu tidak juga ada panggilan sama sekali dari suaminya. Putri Lie mempercepat langkahnya pergi dari paviliun Matahari seorang diri.
Tidak jauh berjalan Putri Lie bertemu dengan wanita yang membuatnya cemburu hingga tidak bisa mengendalikan diri. Selir Nan jalan bersama pengawal dan pelayannya yang sedang memapahnya perlahan.
Putri Lie tidak akan menunjukkan kecemburuannya pada Selir Nan karena bagaimanapun ia akan memberikan posisinya sebagai Permaisuri pada wanita itu.
Selir Nan tersenyum ramah pada Putri Lie yang berdiri diam di hadapannya dengan tatapan yang sulit di tebak. Setelah dekat barulah Selir Nan akan menyapa tapi sudah lebih dulu Putri Lie.
"Selir Nan apa yang terjadi padamu?" tanya Putri Lie.
Selir Nan tersenyum
"Kakiku terkilir dan sedikit lecet juga tapi sudah lebih baik" jawab Selir Nan.
"Lalu kau mau kemana? istirahatlah jika belum sembuh total" ucap Putri Lie
__ADS_1
"Aku ingin mengunjungi Yang Mulia, aku dengar dia sakit jadi aku akan melihatnya sekaligus berterima kasih" ucapan Selir Nan membuat Putri Lie semakin bingung.
"Berterima kasih untuk apa?" tanya Putri Lie penasaran.
Selir Nan kembali tersenyum pada Putri Lie dengan manis.
"Permaisuri akan kemana?, ayo kita ke paviliun Matahari nanti akan saya katakan" Selir Nan menggandenga Putri Lie ikut dengannya meski ia sendiri sedang di papah.
Setibanya di paviliun Matahari mereka langsung menuju kamar utama dan mendapati Pangeran Jun yang sedang duduk berhadapan dengan tiga pengawalnya juga Mei yang terlihat cemas.
Mereka mengalihkan pandangan pada dua wanita cantik yang baru saja masuk dan langsung menunduk sejenak memberi hormat.
Pangeran Jun tersenyum pada Selir Nan dan mengabaikan Putri Lie di sampingnya. Itu semakin membuat Putri Lie kesal dan terbakar cemburu, jadi begini rasanya cemburu seperti yang dirasakan Selir Yein dulu batin Putri Lie.
Pengawal dan pelayan keluar dari kamar meninggalkan ketiga orang yang sedang duduk berhadapan. Keheningan sangat terasa di ruangan itu bahkan aura kecemburuan juga terasa dan Selir Nan menyadari itu.
"Terima kasih untuk obatmu ya Jun kakiku sudah lebih baik" ucap Selir Nan memecah keheningan antara mereka.
"Kau sakit apa? kelihatannya sehat-sehat saja" kata Selir Nan melihat penampilan Pangeran Jun yang terlihat biasa-biasa saja hanya bibirnya yang masih pucat.
Pangeran Jun tersenyum sembari melirik Putri Lie yang di samping Selir Nan.
"Aku kena racun dari pedang yang menggores leherku" ucapan Pangeran Jun langsung mendapat lirikan tajam dari Putri Lie.
Alis Selir Nan menyatu karena tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, Pangeran Jun yang terkenal akan sifat dingin dan datarnya juga tingkat kewaspadaan tinggi sangat mudah terkena pedang beracun. Bolehkah ia tertawa untuk itu.
"Kalau ingin ketawa ya keluarkan saja jangan di tahan nanti jadi bisul" ketus Putri Lie melihat Selir Nan menahan tawa.
Bukan hanya Selir Nan saja tapi Pangeran Jun juga tertawa karena ucapan Putri Lie, Pangeran Jun jadi ingat saat perjalanan mereka menuju desa Ruhai dan ia mehan tawanya lalu istrinya mengatakan hal serupa.
Entah kenapa bagi Pangeran Jun itu sangat lucu di dengarnya. Apa itu bisul batinnya sembari terus tertawa.
__ADS_1
Jika saja tidak menghargai pria di hadapannya itu sebagai suami sudah pasti Putri Lie akan memukul kepalanya agar tambah sakit. Supaya ia berhenti tertawa tidak jelas begitu.
"Maaf Permaisuri aku tidak bermaksud menertawakanmu hanya saja aku memang sudah menahan tawa sejak tadi jadi begitu mendengar ucapanmu aku langsung tertawa" ucap Selir Nan tidak enak hati.
"Tidak apa Selir Nan santai saja" kata Putri Lie tertawa hambar sembari melihat suaminya yang masih tertawa meski sudah tidak sekencang tadi.
Setelah berhasil menghentikan tawanya barulah Pangeran Jun melihat Selir Nan dan mengatakan sesuatu seraya melirik Putri Lie.
"Vi, kau harus menjelaskan sesuatu pada istriku itu kalau tidak kepalaku akan hilang dari tempatnya" ucap Pangeran Jun membuat dua wanita cantik itu bingung.
Pangeran Jun menghela nafasnya lalu melirik pada kaki Selir Nan, barulah yang bersangkutan paham akan maksud Pangeran Jun itu. Ternyata firasatnya benar soal ada yang cemburu di antara mereka dan sudah pasti itu Putri Lie.
Selir Nan tersenyum mengejek pada Pangeran Jun.
"Kau memang pria kaku yang tidak peka pada perasaan wanita, jika saja wajahmu jelek kau pasti tidak akan pernah menikah" ucap Selir Nan ketus.
"Sudah selesai kau menghina! sekarang katakan padanya" cuek Pangeran Jun.
Putri Lie menatap kedua orang itu bingung karena terlihat akrab dan santai, lalu apa tadi kata suaminya saat memanggil Selir Nan, Vi apa itu panggilan sayangnya? gerutu Putri Lir dalam hati.
Melihat wajah bingung Putri Lie membuat Selir Nan gemas sendiri pada wanita cantik di depannya itu.
"Permaisuri, aku dan si Jun bodoh itu tidak memiliki hubungan apapun selain teman, apa yang kau lihat atau mungkin dengar waktu itu tidak benar karena saat itu suamimu itu sedang melihat peleyan menoleskan obat di kakiku yang lecet. Tapi karena dia terlalu cerewet jadi terus saja berkata seakan dia yang mengobatiku" Selir Nan kemudian mengangkat sedikit roknya dan menunjukkan kakinya yang masih sedikit biru juga ada luka yang mulai kering.
"Lihatkan! itulah yang kami obati beberapa hari yang lalu, aku datang ingin meminta ijin keluar padanya minggu depan ke kuil tapi saat akan masuk dia mengagetkanku jadi aku terjatuh akibat kaget" lanjutnya.
Pangeran Jun menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di ucapkan Selir Nan pada istrinya yang sedang cemburu itu.
"Lalu kenapa suami bodohmu itu tidak menjelaskannya padaku tapi malah diam saja" kesal Putri Lie.
"Dia itu suamimu bukan suamiku Permaisuri, aku tidak mau punya suami bodoh sepertinya" kekeh Selir Nan.
__ADS_1
"Apa kalian sudah puas mengatakan aku bodoh tunggu saja aku menghukum kalian" ketus Pangeran Jun namun tidak di tanggapi oleh kedua wanita itu.