
Pandangan mata kedua orang yang terkenal akan ke hebatannya itu semakin menambah ketakutan pada orang-orang yang ada di halaman itu, bahkan pengawal pribadi yang sudah sangat tahu sifat mereka pun sampai merinding karena aura yang sangat menyeramkan dari keduanya.
Jedral Han menatap tajam pada Selir Bai hingga membuat Selir Bai serasa seperti akan di kuliti hidup-hidup.
"Kau tahu apa kesalahmu Bai Na?" ucap Jendral Han tajam, Selir Bai yang mendengar namanya di sebut langsung mengangkat kepalanya menatap Jendral Han.
"Apa salahku?, aku kan sudah di hukum untuk kesalahanku yang lalu" kata Selir Bai santai karena ia yakin jika tidak memiliki salah apa pun
"Kau yakin jika bersalah, lalu bagaimana kau mendidik putri kedua putriku hingga mereka tidak bisa bersama-sama?" pertanyaan Jendral Han sedikit membuat Selir Bai bingung, namun ia hanya tersenyum sinis saja.
"Kenapa bertanya padaku? tanyakan saja pada kedua putrimu itu, terutama wanita sialan itu" kata Selir Bai sembari menunjuk pada Putri Lie
"Apa hubungannya dengan Lie'er, bukankah kau yang seharusnya mendidik mereka berdua jika aku tidak ada, lalu bagaiman kau mempertanggung jawabkan semua ini?" cecar Jendral Han menahan emosinya
"Apa yang harus aku tanggung jawabi sedangkan aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini!" kekeh Selir Bai tidak ingin di salahkan.
"Baiklah jika kau tidak merasa bersalah, mungkin dengan ini kau akan paham atas kesalahmu" lalu Jendral Han mengalihkan pandangannya "Pelayan bawa Eun'er kemari" ucap Jendral Han.
Tidak lama setelahnya pelayan datang dengan Putri Eun yang tampak sangat berantakan karena terus marah-marah dan meluapkan emosinya pada apa pun yang ia lihat. Hingga akhirnya Tabib Weshi harus memberinya obat penenang agar tidak membuat onar lagi.
Selir Bai yang melihat ke adaan putrinya yang sangat tidak enak di pandang jadi merasa ilfiel sendiri dan tidak mau mendekati putrinya meski ia terus di panggil.
"Bu, ibu bantu aku untuk mendapatkan Yang Mulia Pangeran bu" kata Putri Bai memandang ibunya
__ADS_1
"Bukankah ibu berjanji akan membantuku agar aku bisa menjadi Permaisurinya, bahkan obat yang ibu berikan padaku belum sempat aku gunakan" lanjut Eun yang dengan kepala menunduk sedih
"Apa maksudmu aku tidak pernah memberikan obat apa pun padamu!" sangkal Selir Bai.
"Lalu ini obat dari mana jika bukan darimu bu, ibu yang memberikannya padaku untuk di campurkan pada makanan wanita pembawa sial itu supaya dia mati menyusul ibunya, bukankah ibu yang mengatakan padaku jika ibu juga melakukan itu pada ibunya hingga ia mati perlahan karena reaksi obat ini yang secara perlahan. Lihatlah bu obatnya masih ada, ayo bantu aku bu, aku tidak akan bisa melakukannya jika ibu tidak membantuku" ucap Putri Eun menjelaskan semuanya dan membuat orang-orang tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Apa buktinya jika aku yang memberikan obat itu padamu! tidak adakan jadi jangan menuduhku" teriak Selir Bai ketakutan namun ia tutupi agar tidak ketahuan
"Ibu yang sudah memesannya dari seorang tabib di kota dengan imbalan diri ibu sendiri seperti yang di inginkan tabib itu, karena ibu yang ingin menguasai semua yang ada di tempat ini dan menjadi nyonya, jadi ibu mencampurkan obat ini ke dalam teh yang selalu ibu berikan pada istri ayah setiap sore bahkan saat wanita itu sedang hamil" teriak Putri Eun juga.
"Tidak benar kau menuduhku seperti itu, aku ini ibumu apa kau ingin ibumu di salahkan!" teriakan Selir Bai semakin kencang karena emosi
"Aku tidak menuduhmu bu, aku mendengar sendiri dari pelayan yang sudah membantumu mencelakai istri ayah, mereka mengatakan semuanya padaku bahkan mengajariku bagaimana cara mencampurkan obat ini agar tidak berbau, bahkan mengatakan dengan sangat jelas bagaimana gejala yang nampak jika mengkonsumsi obat ini. Orang itu akan memiliki banyak memar dan merah-merah di sekijur tubuhnya bahkan tubuh orang itu juga akan menjadi sangat kurus" ucap Putri Eun melemah karena tangisnya, ia sangat sedih karena ibunya memarahinya dan malah mengatainya menuduh.
Jendral Han seketika teringat dengan kondisi sang istri saat terakhir kali ia lihat dan memang sama dengan apa yang di katakan oleh putrinya. Namun Jendral Han merasa masih ada yang janggal dengan ucapan putri bungsunya itu yang mengatakan jika ibunya menyerahkan diri pada seorang Tabib demi obat apa mungkin Putri Eun bukan putri kandungnya.
"Aku tidak tahu apa pun, bahkan aku tidak mengerti apa yang di katakan anak tidak berguna itu. Dia hanya bisa menyusahkanku saja dan tidak pernah bisa memberikan aku seauatu yang sangat berharga" elak Selir Bai
"Jika kau tidak tahu sesuatu, lalu bagaimana putriku Lie bisa menempati paviliun Bulan yang seharusnya milik putrimu" ucap Jendral Han
"Itu salah putrimu yang terlalu bodoh karena mau saja di tindas orang lain sama seperti ibunya sama-sama tidak berguna" teriaknya lagi.
Putri Lie yang mendengar ibunya di hina merasa sangat marah dan tidak senang, ia langsung melepaskan pelukan suaminya dan berjalan mendekati Selir Bai dengan kilatan emosi di matanya. Putri Lie benar-benar marah dengan apa yang sudah di lakukan Selir Bai pada ibunya hingga ia tidak bisa merasakan kasih sayang sang ibu.
__ADS_1
Tamparan bertubi-tubi di berikan Putri Lie pada wajah Selir Bai, ia tidak perduli jika harus mendapatka hukuman karena menyakiti orang. Sakit di hatinya karena kematian sang ibu harus ia balas pada si pelaku secara langsung.
"Apa kau tahu rasa sakit yang kau dapatkan tidak sebanding dengan apa yang di rasakan ibuku bahkan nyawamu tidak akan dapat membayarnya. Ibuku menyayangimu seperti saudaranya sendiri, tetapi apa yang kau lakukan pada ibuku hah!" bentak Putri Lie emosi
"Kau tahu, karena ke egoisanmu aku tidak dapat merasakan kasih sayang seorang ibu, karena ke tamakanmu aku tidak pernah merasan belaian seorang ibu, karena obsesimu aku tidak bisa merasakan kehangatan pelukan seorang ibu dan karena keinginan gilamu aku bahkan tidak bisa melihat bagaimana wajahnya, bagaimana senyumnya, dan bagaimana ia merawatku, kau sangat tidak pantas di sebut sebagai ibu bahkan putrimu sendiri kau manfaatkan hanya demi ambisi gilamu" lanjut Putri Lie yang sudah kalap dengan emosinya bahkan auranya sangat menyeramkan.
"Dia anak yang tidak aku inginkan kehadirannya karena hanya anak dari seorang tabib tua dan kau seharusnya sudah aku habisi juga bersama ibumu sejak bayi jika saja kakakmu itu tidak ada waktu itu. Dengan begitu semua rencana dan pengorbananku tidak sia-sia" bentak Selir Bai pada Putri Lie.
Karena sudah di kuasai emosi Putri Lie hampir memukul Selir Bai hingga tewas jika saja Pangeran Jun tidak segera mendekat dan memeluknya erat untuk menenangkan emosinya. Seketika emosinya mereda karena pelukan itu bahkan ia menjadi sangat rapuh berada di pelukan suaminya, Pangeran Jun tidak tega melihat keadaan sang istri yang terus menangis dan meluapkan emosinya.
Sudah cukup ia melihat istrinya memukul Selir Bai hingga wajahnya membengkak dan bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan bertubi dari Putri Lie. Ia tidak ingin istrinya menyakiti tangannya lagi dengan memukul Selir Bai.
"Bo Bai Na, mulai saat ini kau bukan lagi selirku dan kita tidak memiliki hubungan apa pun, kau akan di adili untuk semua yang telah kau lakukan selama ini. Mulai saat ini juga kau hanyalah orang asing bagi kediaman ini dan aku membuangmu dengan tidak terhormat" ucap Jendral Han mencoba tenang meski amarah sudah menguasainya.
"Tidak tuanku jangan lakukan itu padaku, aku tidak bersalah jangan hukum aku" kata Selir Bai memohon
"Nam bawa dia kepenjara bawah tanah dan beri tahu pejabat Hansol untuk mengeksekusi wanita itu secepatnya. Phae antar Eun ke kuil Kuani untuk pengobatan dan menetap di sana sebagai murid dia juga bukan lagi seorang putri" perintah Jendral Han mutlak pada kedua pengawal pribadinya.
"Baik tuan besar" jawab keduanya.
Bai Na meronta-ronta ingin di lepas karena ia merasa tidak bersalah dan terus memohon untuk di lepaskan. Sedangkan Eun sudah jatuh pingsan karena tidak mampu menahan gejolak batinnya setelah mengetahui semua kebenaran tentang dirinya.
"Pengawal, tangkap kedua pelayan Bai dan bawa juga mereka untuk di adili" lanjut Jendral Han dingin, ia memejamkan matanya menahan semua gejolak hatinya. Bertahun-tahun ia memelihara orang yang sudah menghancurkan keluarganya bahkan merenggut nyawa istri tercintanya, aku akan memberikan keadilan untukmu Lea batin Jendral Han.
__ADS_1
Kedua pelayan Bai tidak dapt mengelak lagi karena memang bersalah bahkan mereka yang memberi tahukan Bai tetang obat tersebut.
Jendral Han membuka matanya dan melihat putrinya yang masih menangis di pelukan sang menantu. Ia menatap nanar pada Lae kecilnya yang sangat terpukul itu, ingin sekali ia memeluk putrinya untuk menenangkan namun ia memilih diam dan membiarkan menantunya yang melakukannya lebih dulu karena ia juga harus menenangkan hatinya yang sangat sakit dengan semua kenyataan yang baru di ketahuinya.