
Mei keluar dari kamar dan menemukan mereka yang sedang adu mulut dengan pemuda mabuk itu.
Melihat ada wanita cantik yang keluar dari dalam, pemuda yang sebenarnya anak Hino itu langsung senang dan menerobos antara ketiga penjaga pintu itu yang sedang melihat kebelakang mereka.
Dengan cepat ia mendorong Mei masuk dan menutup pintunya dari dalam, Mei kaget dan berontak karena di peluk oleh pria asing. Putri Lie tidak kalah kaget saat ada yang masuk tiba-tiba dan menutup pintu dengan kencangnya.
Melihat Mei yang di lecehkan Putri Lie tidak terima.
"Hei apa yang kau lakukan" teriak Putri Lie menarik tubuh pemuda itu dan menamparnya kuat.
Pemuda bernama Wihe itu jatuh ke lantai dengan ujung bibir yang berdarah. Ia bangkit lalu melihat siapa yang sudah berani memukulnya hingga terluka begini.
Saat matanya melihat Putri Lie yang sangat cantik, ia jadi terpaku dan terlihat sangat senang sekali bahkan ia akan langsung menerjang sang putri jika Jie tidak segera menariknya dan melemparkan keluar kamar.
Jie mendorongnya hingga tepat di hadapan Pangeran Jun dan Jendral Han yang baru saja pulang bersama ayahnya Hino. Mereka sangat kaget melihat apa yang terjadi di tempat itu.
Pangeran Jun menatap Wihe dengan dinginnya lalu melihat Jie meminta penjelasan. Jie menjelaskan sesuai dengan apa yang terjadi.
"Pemuda ini tiba-tiba datang dan mencoba masuk kedalam, saat kami halangi dia memaksa hingga menimbulkan keributan kecil antara kami. Permaisuri juga bangun karenanya dan dia dengan lancangnya masuk kedalam dengan memeluk Mei" ucap Jie.
Hino sangat malu dengan apa yang di lakukan putranya itu, ia jadi tidak enak hati dengan tamu-tamunya.
"Kenapa kau melakukan itu Wihe? kau tahu! wanita di dalam itu Permaisuri Jun istri Yang Mulia Pangeran Jun" marah Hino.
Wihe tidak menghiraukan ucapan ayahnya yang ada di pikirannya hanya wajah cantik dan mempesona wanita yang di sebut ayahnya permaisuri itu. Pantas dia sangat cantik, aku akan mendapatkannya batin Wihe.
Pangeran Jun sudah dapat menebak apa yang sedang pemuda itu pikirkan, apa lagi dia sudah melihat istrinya di dalam yang memang sangat cantik dan penuh pesona itu.
"Jaga putramu baik-baik jika masih ingin dia hidup" kata Pangeran Jun dingin dan tajam lalu masuk kedalam kamar melihat istrinya.
Hino meminta penjaganya untuk membawa anaknya kembali ke kamarnya sendiri agar tidak kembali mengacau di tempat tamunya.
"Maaf Jendral Han atas kelakuan putraku yang sangat kurang ajar itu" ucap Hino menunduk.
Jendral Han tersenyum dan menepuk pundak Hino.
__ADS_1
"Yang penting jangan sampai anakmu itu mengganggu putriku lagi karena Yang Mulia sangat berlebihan padanya" ujar Jendral Han mengingatkan.
"Baiklah akan saya ingat Jendral, kalau begitu saya permisi dulu silahkan istirahat" Hino pergi setelah mendapat jawaban dari Jendral Han yang meninggalkannya.
Pangeran Jun masuk dan menemukan istrinya sedang menenangkan Mei yang menangis. Putri Lie memberi isyarat pada Pangeran Jun untuk diam dan tidak bersuara.
Sang pangeran menuruti keinginan istrinya dan tidak bersuara sama sekali. Setelah Mei tenang Putri Lie mengantarkannya keluar pada pelayan lainnya yang ada di depan kamar.
Putri Lie melihat Jei yang masih terjaga karena ia yang akan berjaga lebih dulu. Melihat tuan putrinya keluar Jei langsung menghampirinya.
"Ada apa Permaisuri?" tanya Jei.
Putri Lie tersenyum pada Jei dan menggeleng.
"Bisa jaga Mei untukku Jei! dia masih takut karena tadi" ucap Putri Lie.
Jei menatap Mei yang sepertinya habis menangis.
"Tidak masalah Permaisuri, saya akan menjaga Mei dengan baik" sahut Jei dengan mantap dan terdengar sangat tulus.
"Baiklah kalau begitu, jika terjadi sesuatu cepat katakan saja ya jangan sungkan" ucap Putri Lie lalu masuk setelah Mei di berikannya pada Jei.
Di dalam kamar Putri Lie tersenyum senang karena ia menebak jika pengawal suaminya itu menyukai pelayannya tetapi tidak berani mengungkapkan. Apa lagi jika ingat dengan kejadian Keimu di desa Ruhai, Putri Lie ingat betul bagaimana Jei selalu di dekat Mei meski matanya mengawasi dirinya.
Kemana Mei pergi kesitu pula Jei pergi, kemana Mei bergerak kesitu pula Jei bergerak dengan halus tanpa di sadari oleh orang yang ia ikuti.
Pangeran Jun heran dengan istrinya yang senyum-senyum sendiri setelah keluar kamar tadi. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga tertawa bahagia begitu.
"Sweetyy" panggilnya.
Putri Lie mengalihkan pandangannya pada sang suami yang sudah siap tidur sedang memperhatikannya dengan serius. Ia mendekat dan duduk di sampingnya dengan memeluk lengannya manja.
"Kamu tahu Honey! ternyata pengawalmu itu menyukai Mei loh, bahkan dia selalu ingin dekat-dekat dengan Mei. Meski matanya mengawasi aku tetapi tubuhnya dekat dengan Mei" ucap Putri Lie semangat.
Pangeran Jun mengamgkat sebelah alisnya menatap sang istri.
__ADS_1
"Jadi kamu baru tahu kalau Jei menyukai Mei!" seru Pangeran Jun mengejutkan Putri Lie.
"Jadi kamu sudah lama tahu itu dan tidak memberi tahuku!" kagetnya melotot.
Pangeran Jun mengangguk dan memperbaiki posisinya tidur.
"Bukan tidak mau memberi tahu, hanya saja waktunya yang tidak pernah pas" ucap Pangeran Jun santai dengan memejamkan matanya.
Putri Lie berbaring di samping Pangeran Jun lalu menyangga kepalanya dengan sebelah tangan.
"Kenapa waktunya tidak pas? memangnya sejak kapan Jei menyukai Mei?" tanya Putri Lie penasaran.
"Kamu ingat ketika Jei, Tei dan Mei menemanimu jalan-jalan di taman dekat paviliunku untuk melihat bulan purnama!" Putri Lie sedikit berpikir lalu mengangguk.
"Sejak saat itulah Jei menyukai Mei, katanya saat itu Mei terlihat sangat cantik di bawah sinar bulan dan dia langsung jatuh cinta pandangan pertama malam itu" jelas Pangeran Jun membelai pipi gembul istrinya.
Senyum manis Putri Lie terukir indah di wajahnya membuat sang suami gemast9 sendiri.
"Kanapa kamu sebahagia itu saat tahu Jei menyukai Mei?" tanya Pangeran Jun ingin tahu
"Karena Mei akan mendapatkan orang yang tepat untuk menjaganya nanti, wah aku tidak sabar untuk melihat mereka bersama nanti" ucapnya senang.
"Iya sekarang senangkan suamimu dulu Sweetyy, aku rindu padamu" Pangeran Jun menarik Putri Lie kepelukannya dan memejamkan mata begitupun Putri Lie yang ikut memejamkan matanya lagi.
Di waktu yang sama di luar kamar
Jei memandangi Mei lekat dengan senyum merekahnya membuat Mei sedikit takut karena pemuda di sampingnya terus tersenyum. Apa dia gila hingga terus tersenyum melihatku? batinnya.
Mei memilih tidur dan mengabaikan tatapan Jei padanya yang membuat jantungnya tidak sehat karena terus berdetak sejak Jei menataonya tadi.
"Jangan menatapku terus atau aku congkel matamu keluar" ucap Mei galak karena tidak tahan terus di perhatikan.
Jei semakin tersenyum mendengar ucapan gadis cantik di depannya ini yang jadi ikut-ikut galak seperti tuan putrinya. Namun ia tetap menyukainya bagaimanapun sikapnya seperti halnya Pangeran Jun yang selalu menerima setiap sikap Putri Lie yang berubah-ubah.
Sedangkan Mei menutup seluruh tubuh dan wajahnya dengan selendang yang mereka gunakan untuk selimut agar tidak lagi dilihat oleh Jei, yang pada kenyataannya Jei tetap memandanginya dengan senyum seperti yang di lihatnya sejak awal.
__ADS_1