Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
68


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang sangat gaduh di kediaman Pangeran Jun karena Permaisurinya yang hilang. Bahkan Pangeran Jun sendiri terus saja menggerutu kesal pada Jei yang tidak bisa mengawasi dengan baik.


"Apa saja kerjamu Jei hingga tidak bisa mengawasi seorang wanita saja? aku akan mengembalikan gadis pujaanmu itu pada Jendral Han jika istriku tidak bisa di temukan" ucap Pangeran Jun.


Jei menelan ludahnya kasar mendengar ucapan itu, pujaan hati yang sedang di perjuangkan ingin di kembalikan ke tempat semula. Bagaimana kalau di ambil orang lain pikir Jei takut.


"Kami tadi sudah mengikuti Permaisuri Yang Mulia, tapi beliau terlihat sangat marah bahkan sangat menyeramkan ketika melarang kami mengikutinya. Kami juga mengejar dari jauh tapi langkah Permaisuri terlalu cepat jadi kami kehilangan jejak" ucap Jei menjelaskan apa yang terjadi tadi.


"Kami siapa yang kau maksud? bicara saja tidak jelas" sahut Jie.


"Tentu saja aku dan Mei, lalu siapa lagi yang selalu berada di samping Permaisuri!" ketus Jei karena temannya yang tidak membelanya.


"Kemana arahnya pergi tadi?" tanya Pangeran Jun yang sudah sangat khawatir.


"Permaisuri menuju ke arah paviliun tapi kami tidak menemukan apa pun di sana" jawab Jei.


Semakin bertambah khawatirlah Pangeran Jun pada istrinya yang pergi entah kemana. Apa dia marah karena aku tidak datang ke paviliunnya batin Pangeran Jun gelisah.


Semua pengawal di kerahkan untuk mencari Putri Lie ke seluruh kediaman, penjagaan diperketat di gerbang dan semua orang bergerak kesana-sini mencari mencari seseorang yang sangat berharga bagi kediaman mereka.


"Dimana kamu Sweetyy?" gumam Pangeran Jun, ia takut jika ada orang yang akan menculik istrinya dan membawa pergi jauh darinya.


Tiba-tiba tanpa sengaja Pangeran Jun mencium aroma tubuh istrinya bersamaan dengan hembusan angin yang berasal dari sebelah kirinya. Pandangan Pangeran Jun beralih mencari ke sebelah kirinya.


Dengan menajamkan penciumannya dan mengikuti arah aroma dari hembusan angin, sampailah ia di bawah pohon persik besar yang memiliki banyak cabang besar.


Ada sesuatu yang menarik perhatian Pangeran Jun dari salah satu cabang yang lebih besar. Ia melihat kain yang melambai-lambai tertiup angin bersamaan dengan rambut yang ikut beterbangan juga.


Sudah pasti itu sang istri tercintanya Pangeran Jun yang sedang dicari semua orang di kediaman. Tanpa pikir panjang lagi Pangeran Jun langsung melompat ke cabang pohon itu dan menyambar apa yang berada di situ.


Pangeran Jun tidak segera turun dari pohon melainkan berpindah pada cabang lainnya di pohon itu. Benar saja jika wanita yang dalam dekapannya adalah istrinya yang sedang melotot padanya.

__ADS_1


Putri Lie yang awalnya sudah hampir terlelap karena hembusan angin lembut yang membuainya kini harus di kejutkan dengan seseorang yang memeluknya dengan erat.


Orang itu suaminya sendiri Pangeran Jun yang tampak terlihat lega saat melihatnya. Tapi tidak lama aura dingin keluar dari suaminya yang memang ia beri julukan es kutub.


"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan malam ini?" suara yang dingin dan datar itu dapat membuat siapapun ketakutan karenanya. Tapi tidak dengan Putri Lie yang justru menantangnya dengan tidak kalah mengerikan.


"Tidak" jawabnya santai lalu melepas pelukan Pangeran Jun dengan paksa dan segera melompat turun dengan mudahnya.


Pangeran Jun ikut turun dan mengejar Putri Lie yang sudah menjauh.


"Mau kemana lagi kau?" teriak Pangeran Jun.


Tidak ada jawaban dari Putri Lie selain terus berjalan dengan wajah dinginnya, pengawal dan pelayan yang sudah melihatnya segera menghampiri dan menyapanya untuk menayakan keadaannya.


Namun tidak satupun yang di responnya, hingga mereka hanya bisa menunduk saja.


Putri Lie masuk ke dalam paviliunnya dan segera menuju kamar untuk istirahat tanpa memperdulikan teriakan Pangeran Jun di belakangnya.


Setelah ganti pakaian ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang nyaman meski masih terdapat aroma sang suami pada bantal yang biasa di gunakannya ketika mereka tidur bersama.


Tubuh Putri Lie berbalik karena Pangeran Jun menariknya dan memaksanya duduk berhadapan dengannya yang juga duduk di depannya.


"Kau tahu apa yang sudah terjadi di kediaman ini karena ulahmu?" bentak Pangeran Jun marah.


"Tidak" ucap Putri Lie santai dan tidak menatap suaminya sedikitpun.


Karena sudah kesal sejak tadi di abaikan sedangkan dia sudah mencari kemana-mana hampir saja tangan Pangeran Jun melayang pada Putri Lie yang tidak memandangnya sedikitpun.


Wajah datar Putri Lie menatap Pangeran Jun dengan marah.


"Kenapa tidak jadi? pukul saja kalau mau" tantangnya.

__ADS_1


Takut ia akan melukai Putri Lie, maka Pangeran Jun menciumnya dengan ganas dan panas. Putri Lie tentu kaget dengan cara suaminya mencium dirinya yang sangat kentara jika ia akan melampiaskan amarahnya dengan itu.


Dengan tenaga yang besar Putri Lie mendorong tubuh Pangeran Jun kuat hingga sedikit menjauh darinya. Putri Lie berdiri dari tempat tidur dan semakin menatap penuh amarah pada suaminya itu.


"Keluar" Pangeran Jun kaget dengan suara dingin dari istrinya yang baru ia dapatkan kali ini, selama mereka bersama tidak pernah sekalipun istri cantiknya seperti itu padanya.


Namun kali ini sepertinya kesalahannya sudah sangat besar kepada Putri Lie hingga amarahnya terlihat begitu besar. Seharusnya aku yang marah gumamnya dalam hati.


"Pergi sekarang juga dari hadapanku" ulang Putri Lie karena Pangeran Jun yang tidak keluar dari kamarnya.


Tentu Pangeran Jun tidak akan mau keluar begitu saja sebelum masalah mereka selesai.


"Tapi kamu harus jelaskan padaku, kenapa kamu membuat kekacauan?" tanya Pangeran Jun.


"Aku tidak melakukan apapun, jadi oergilah sebelum aku yang pergi" ucap Putri Lie yang semakin menyulut emosi Pangeran Jun.


"Kenapa kau sangat keras kepala, apa kau tahu jika semua orang di kediaman ini sibuk mencarimu kesana-sini dan kau dengan santainya tidur di cabang pohon itu tanpa memberi tahu siapapun?" teriak Pangeran Jun.


"Tanyakan dirimu sendiri, jangan menyalahkan orang lain dan aku juga tidak memintamu untuk mencariku bukan" ucap Putri Lie santai.


"Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana? apa kau tidak memikirkan perasaanku jika kehilanganmu hah!" teriaknya lagi.


"Dan kau juga tidak memikirkan perasaanku bukan! jadi pergilah karena aku tidak ingin bertemu denganmu" Putri Lie mengalihkan pandangannya ke arah lainnya yang penting tidak melihat suaminya.


"Baik, aku akan pergi dari sini dan jangan harap aku akan kembali lagi" Pangeran Jun menuju pintu tapi ia menghentika langkah sebentar.


"Dan jangan harap kau bisa keluar dari sini walau selangkah saja" sambungnya dan segera keluar. Sebelum pintu benar-benar tertutup Pangeran Jun mendengar ucapan Putri Lie yang sangat menyakiti hatinya.


"Aku membencimu jadi tidak usah datang selamanya" bagai sebuah luka yang kembali tersayat hati Pangeran Jun sakit mendengar kata benci yang di ucapkan istrinya. Namun ia tetap pergi dari paviliun Bulan itu untuk menenangkan hati dan pikirannya sebelum ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku akan membiarkanmu tenang dulu sebelum aku kembali Sweetyy" gumam Pangeran Jun pelan sembari menatap paviliun istrinya dengan sendu.

__ADS_1


Putri Lie juga dapat melihat Pangeran Jun yang menatap sendu tempat tinggalnya. Ia merasa sangat egois karena sudah membiarkan amarah menguasainya dari pada menanyakan masalah yang mengganjal di hatinya.


"Maaf Honey aku terlalu cemburu hingga tidak mampu menahan sakit di hatiku" air mata Putri Lie menetes seiring langkah Pangeran Jun yang semakin menjauh dan keluar dari paviliunnya hingga tidak terlihat lagi.


__ADS_2