Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
73


__ADS_3

Tidak mau kalah dengan Pangeran Jun, Putri Lie kembali mencoba menyentuh suaminya agar mau berbalik lagi melihatnya. Alis Putri Lie menungkik naik heran dengan sikap sang suami yang cuek dengannya, ada apa? batinnya.


Ia terus mencoba untuk membalikkan tubuh Pangeran Jun tapi tidak ada hasilnya juga yang ada Putri Lie malah di minta untuk pergi.


"Bukankah kamu sudah tidak menyayangiku lagi? jadi untuk apa memperhatikanku? kembalilah kepaviliunmu dan lakukan apa yang kamu mau" ucap Pangeran Jun lirih.


Putri Lie tersentak mendengar ucapan suaminya itu, apa yang dia maksud? tanyanya dalam hati.


"Apa maksud kamu, siapa yang tidak sayang siapa? bukankah kamu yang melakukan itu lebih dulu?" kesal Putri Lie membelakangi Pangeran Jun.


"Hanya sedikit kesalah pahaman kamu sudah mengangkat pedang beracun pada leherku hingga seperti ini. Lalu bagaimana jika aku benar-benar memiliki hubungan dengan wanita lain? mungkin kepalaku sudah berpisah dengan tubuh dan menggelinding di tanah tanpa nyawa" kata Pangeran Jun sedih.


Sungguh bukan kalimat yang di inginkan Putri Lie, ia bahkan tidak sengaja melakukan apa yang di tuduhkan suaminya itu.


"Aku tidak tahu kalau itu kamu, aku hanya melakukan perlindungan diri karena mengira orang yang mendekat waktu itu bukan kamu" ucap Putri Lie membela dirinya.


"Apapun alasannya tetaplah itu sama saja, kamu sudah melakukannya padaku, jadi untuk apa merawatku? biarkan pelayan saja yang mengurusku" Putri Lie semakin kesal saat mendengar kata pelayan yang di ucapkan Pangeran Jun.


"Huh pelayan ya! biar kamu tahu apa yang sudah mereka lakukan di belakangmu" kata Putri Lie dengan seringai kecilnya yang menyeramkan.


Meski tidak mengerti dengan maksud sang istri, namun Pangeran Jun tetap pada posisinya membelakangi Putri Lie seraya mendengar apa yang di inginkannya. Sebenarnya ia tidak marah atau benar-benar menyerah untuk istrinya.


Hanya saja ini adalah kesempatan yang harus di manfaatkan untuk menjinakkan kembali kucingnya yang sudah menjadi singa betina, itulah perumpamaan yang di berikan Pangeran Jun untuk sikap istrinya sekarang.


Di luar mereka masih menunggu dengan berbagai macam asumsi berbeda. Jei kembali melancarkan aksinya mendekati Mei dengan Mei yang masih malu-malu.


Jie dan Tei masih teringat akan rasa dari makanan yang di bawa oleh tuan putri mereka tadi. Apa lagi itu buatan tangan Permaisuri sendiri pasti sangat lezat batin keduanya seraya menelan ludah ingin.


Sedangkan kepala pelayan Hasim dan kelima pelayan dapur sangat ketakutan juga was-was akan apa yang mereka dapatkan nanti.


Hingga terdengar suara dari dalam yang meminta mereka untuk masuk dan itu cukup mengagetkan mereka yang masih sibuk masing-masing dengan pikiran mereka.


"MASUK"


Seperti suara Permaisuri yang berbicara, tapi siapa yang di suruh masuk batin mereka dengan saling tatap.


"SEMUA"

__ADS_1


Segera saja mereka semua masuk dengan bergantian ke dalam kamar tuan mereka itu dan melihat di ranjang kedua tuannya duduk dengan arah yang berlawanan.


"Bukankah ini pelayan dapur yang selalu menyediakan makanan untukmu suamiku?" tanya Putri Lie.


Namun tetap saja yang di sebutkan tidak bergerak sama sekali dari posisinya yang menyebabkan Putri Lie menghala nafas dan memutar bola matanya kesal.


Tatapannya menajam melihat pelayan yang ada di hadapannya itu, seketika ucapan mereka saat di dapur kembali terngiang di telinganya dan itu sangat mengganggu.


"Apa kesalahan kalian hingga aku meminta kalian untuk datang kemari?" tanya Putri Lie datar.


Keenam pelayan itu menunduk takut.


"Kami telah berani bercerita di waktu bekerja juga menceritakan keburukan Yang Mulia" jawab kelima pelayan dapur.


"Hanya itu saja?" ulang Putri Lie bertanya.


"Kami juga sudah menghina Permaisuri dengan mengataka kalau Permaisuri itu mandul, lalu Selir Nan dengan Yang Mulia melakukan hubungan karena ingin memiliki anak" jawab salah satunya.


Sontak saja Pangeran Jun berbalik dan menatap dingin pada pelayan-pelayan itu hingga mereka benar-benar ketakutan.


"Maafkan kami Yang Mulia, kami tahu salah, ampunilah kami" ucap mereka bersamaan.


Pangeran Jun kembali berbaring dan membelakangi mereka semua lagi.


"Cambuk mereka hingga lumpuh dan kembalikan pada keluarga masing-masing tanpa uang sedikitpun" ucap Pangeran Jun.


Pelayan-pelayan itu bersujud memohon ampun pada Pangeran Jun agar tidak di hukum berat seperti itu. Lebih baik di penjara dari pada jadi lumpuh batin mereka.


"Ampun Yang Mulia kami janji tidak akan melakukannya lagi, jangan buat kami lumpuh Yang Mulia, kami rela di penjara seumur hidup dari pada lumpuh" ucap salah satu menyuarakan isi hatinya dengan pilihannya.


Melihat Pangeran Jun yang diam akhirnya Putri Lie angkat bicara karena tahu jika sang suami masih kesulitan bicara.


"Kalian tidak punya pilihan lagi dan harus menerima hukuman itu, agar tidak kurang ajar menggunjing orang lain sesuka hati. Padahal aku ingin menghukum mati kalian jika saja aku yang mengurus hingga selesai" kata Putri Lie tajam.


Mei dan ketiga pengawal mereka yang di dalam bergidik ngeri mendengar ucapan Permaisuri mereka yang menyeramkan itu.


"Kapala Pelayan Hasim! kau tahu apa kesalahnmu?" tanya Putri Lie menatap orangnya.

__ADS_1


"Tahu Permaisuri, hamba sudah lalai mengurus pelayan hingga berani kurang ajar begini, hamba pamtas di hukum" kata kepala pelayan Hasim parah.


Senyum maut Putri Lie keluar dengan lebih dingin lagi dan seperti siap memangsa.


"Bawa mereka keluar dan lakukan hukuman untuk kelima pelayan dapur itu dan untuk kepala pelayan Hasim pukul dia 30 kali sebagai pelajaran agar tidak lalai atau akan kehilangan kepala jika sampai hal ini terulang lagi" kata Putri Lie.


Jie, Tei dan Jei langsung menjalankan apa yang di perintahkan Putri Lie, sedangkan Mei keluar dan menunggu di depan jika tuannya butuh sesuatu. Ia juga sudah bisa lebih lega kalau Jei pergi walau sebentar artinya ia akan terbebas dari rayuan maut Jei yang mendebarkannya.


Lama dalam keheningan karena kedua orang yang masih berada di kamar tersebut saling diam hingga.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Putri Lie mengalihkan pandangannya pada Pangeran Jun yang sudah mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Ia memaksa tubuh suaminya berbalik menghadap padanya.


Alangkah terkejutnya Putri Lie melihat bekas luka yang basah berwarna biru bercampur merah itu. Segera saja Putri Lie membuka pembalut lukanya dengan hati-hati lalu membersihkan kembali lukanya.


Setelah memberikan obat untuk lukanya agar cepat mengeringkan dan menghentikan darah supaya tidam keluar lagi. Putri Lie menaikkan posisi bantal jadi sedikit tinggi lalu dengan galak menatap suaminya yang memejamkan mata.


"Lain kali kalau mau masuk ke tempat orang lain beri tahu dulu agar tidak jadi seperti ini! sekarang lihatlah ini sakit bukan!" cecar Putri Lie.


Rasa sakit di hati Pangeran Jun terasa lagi karena istrinya menganggapnya orang lain.


"Sekarang ayo makan" Putri Lie mengambil buburnya dan mulai mengaduk.


Perut Pangeran Jun langsung meronta-ronta ingin di isi tapi ia ingin tahu kesungguhan hati istrinya lagi.


"Aku bisa mengurus diriki sendiri, tidak perlu nerepotkan dirimu hanya untuk orang lain" pandangan Pangeran Jun beralih pada langit-langit kamarnya itu.


Gerakan tangan Putri Lie berhenti seketika itu juga, ia baru menyadari jika ucapannya sudah kelewatan karena menganggap suaminya irang lain. Yang penting dia makan dulu, nanti akan aku jelaskan batinnya.


Dengan memaksakan Pangeran Jun agar makan akhirnya Putri Lie berhasil juga. Bahkan suaminya terlihat sangat menyukainya, hanya hal sederhana begini sudah membuatnya bahagia.


Meski awalnya enggan tapi setelah di paksa ia makan dan mencobanya akhirnya bubur itu habis satu mangkuk oleh Pangeran Jun sendiri.

__ADS_1


__ADS_2