Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
124


__ADS_3

Pintu terbuka dengan keras di ikuti masuknya beberapa orang yang menodongkan pedang juga pisau kearah Pangeran Jun dan kedua pengawalnya.


Masuk pula dua orang lainnya yang berpenampilan lebih rapi bersama seorang wanita.


"Gembel dari mana mereka yang berani merusak tempat kita?" ucap Yein sombong.


"Katakan siapa kalian?" tanya pria di gandengan Yein.


Pangeran Jun menatap sinis pada kedua orang di depannya sedangkan Jie dan Tei tetap santai dengan makanan mereka.


"Tidak perlu tahu" dingin Pangeran Jun.


"Cih kau hanya gembel yang beruntung karena bisa menghabisi banyak anak buahku, tapi kau juga harus menggantinya dengan nyawamu" marah pria itu.


"Lalu kau sendiri apa?" tanya Jie santai.


"Habisi mereka semua" teriak pria itu.


Para pemuda yang mengepung mereka tadi langsung maju menyerang Pangeran Jun dan dua lainnya. Tapi mereka yang berjumlah 10 orang tidak mampu menandingi yang hanya tiga orang saja.


Dalam sekejap saja semua anak buah Yein sudah tumbang dan merintih-rintih kesakitan akibat kaki mereka yang di jadikan sasaran pukulan dari ketiganya.


"Sialan!" marah si pria maju.


Baru selangkah saja dia maju tiba-tiba tubuhnya tersungkur akibat tendangan dari belakang yang berasal dari Jei.


"Kurang ajar! bagaimana kalian bisa lepas?" teriak Yein melihat tawanannya lepas.


Putri Lie tersenyum meremehkan Yein yang menatap marah padanya.


"Menurutmu bagaimana?" tanyanya balik.


"Kalian senua harus mati!" teriak Yein.


"Oh duluan saja kalau mau mati dan hati-hati tengan pita suaramu yang bisa putus akibat berteriak" ejek Putri Lie.


"Anak buahku semua kalian keluar!" teriak pria yang dicekal Jei.


Masuklah banyak pria yang mengenakan pakaian seperti Pangeran Jun.


Yein menatap heran sekaligus berapi-api pada semua orang yang baru masuk itu.

__ADS_1


"Kenapa kalian semua sangat menjijikkan? cepat habisi mereka!"


Tidak ada yang maju satupun dari mereka selain memberi tatapan membunuh padanya membuat Yein ketakutan.


"Hei lihat siapa ini!" ucap Jie tersenyum jahat membawa keluar dua orang yang terikat.


"Ayah! ibu!"


"Lepaskan orang tuaku! siapa kalian sebenarnya? apa yang kalian inginkan?" marah Yein.


Pangeran Jun mendekati Putri Lie yang masih berdiri di dekat Yein. Yein sendiri melayangkan belati yang ada ditangannya karena merasa bahaya akan kedatangan pemuda itu.


Sekali pukulan saja belati itu sudah melayang jatuh bersamaan dengan Yein yang juga jatuh dan di tahan oleh seorang prajurit Pangeran Jun.


"Lepaskan aku! kalian akan menyesal karena memperlakukan aku seperti ini" teriaknya.


"Simpan suaramu itu untuk berteriak di pulau pembuangan nona, karena disini kau tidak di butuhkan" ejek Putri Lie.


"Kau harus mati jalang!" teriak Yein melotot marah seperti kesetanan.


Pangeran Jun yang geram akhirnya melayangkan tendangannya yang tepat mengenai wajah Yein.


Karena kerasnya tendangan dari Pangeran Jun membuat leher Yein patah tulang dan mati di tempat itu juga. Matanya melotot dan mulutnya yang terbuka lebar dengan lidah menjulur keluar.


Pandangan Pangeran Jun beralih pada istrinya yang terlihat santai menyaksikan kejadian didepan matanya.


"Anakku anakku kenapa kalian membunuh anakku!" teriak ibu Yein menangis.


Rie sendiri mengeram marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan juga kakinya yang terikat hanya penutup mulut mereka saja yang terbuka.


"Kurang ajar ku bunuh kalian yang sudah membunuh calon istri juga bayiku" marah pria yang di cekal Jei memberontak.


Karena amarah yang lebih kuat, Jei kualahan menahannya hingga terlepas dari pegangannya. Pria itu maju dengan pedang yang ia rampas dari Jei.


Pangeran Jun memberi kode pada semua prajuritnya agar tidak menahannya karena sang pangeran ingin menghadapi sendiri orang itu.


Meski hanya orang biasa tapi tenaganya cukuo kuat untuk menahan serangan dari Pangeran Jun. Hanya saja pukulannya berantakan dan pedangnya ia ayunkan tidak tentu arah.


Saat Pangeran Jun menjauh dari istrinya untuk memancing orang itu keluar dari rumah. Hal tidak terduga terjadi, pria yang kalut akan amarah itu berbalik menyerang Putri Lie do belakangnya yang sangat santai.


Bahkan ketika pria itu mendekatinya Putri Lie juga terlihat santai seperti tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Pedang di ayunkan kearah Putri Lie yang sudah menyeringai pada pria itu.

__ADS_1


Pangeran Jun berlari cepat untuk menghabisi pria gila itu. Tapi belum ia mencapainya suara teriakan begitu menggema disana hingga menghentikan langkah Pangeran Jun yang menjadi kaku.


Ia menyangka jika istrinya sudah tertusuk tapi yang terjadi malah berbeda karena pria gila itu justru ambruk dan berguling-guling di lantai sembari memegangi selakangannya.


Ia berteriak kesakitan, meraung-raung bahkan menangis akibat ngilu juga sakit yang teramat sangat pada bagian privasinya.


Pangeran Jun dan yang lainnya tercengang dengan apa yang mereka lihat sedangkan Putri Lie tersenyum santai melihat orang guling-guling di depannya bagaikan anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pangeran Jun setelah mendekati istrinya dan mendekap tubuhnya.


"Hanya memberinya sedikit pelajaran dengan jurus yang paling ampuh" kekeh Putri Lie geli.


Pangeran Jun geleng kepala melihat tingkah istrinya. Tentu saja Putri Lie tahu jika itu suaminya karena dandanan yang di pakai siaminya ini pernah di gunakan ketika sang putri selalu mual melihat wajah suaminya.


"Ikat dia dengan Rie juga istrinya, siapkan pembakaran yang banyak untuk mereka semua" ucap Pangeran Jun.


"Tuan apa tidak sebaiknya kita bakar saja semua ini? saya khawatir jika nanti tempat ini akan do salah gunakan lagi oleh orang-orang seperti ini" usul Tei.


"Iya tuan kita bakar saja tempat ini bersama mereka yabg sudah tidak bernyawa" setuju Jie diangguki yang lain.


"Baiklah kalau begitu kumpulkan semua mayat itu didalam sini untuk kita bakar, kalau ketiga orang itu langsung kirim kepulau pembuangan dan pastikan sampai ketangan paman"


"Baik tuan".


Rie dan yang lainnya berontak tidak mau ikut juga tidak terima karena anaknya sudah tiada.


"Lebih baik kalian bunuh kami juga agar kami bisa menemani Yein" ucap Rie.


"Aku tidak akan meninggalkan anakku" ucap istrinya.


"Kalian harus mati karena membunuh bayiku dan calon istriku"


Putri Lie tertawa mendengar ucapan orang di depannya yang terus mengatakan tentang bayi.


"Sayangnya kau tidak punya bayi karena wanita yang kau sanjung itu tidak hamil loh"


"Jangan menipuku! Yein bilang dia hamil anakku"


"Huh kasihan sekali pria bodoh ini sudah ditipu di manfaatkan lagi, dari denyut nadinya saja sudah ketahuan kalau dia tidak hamil" ucap Putri Lie yang memang sudah memeriksa denyut nadi Yein laku membandingkannya dengan dirinya yang memang hamil.


"Kurang ajar! kalian sudah menipuku" marah pria itu langsung berdiri.

__ADS_1


Karena kakinya yang tidak diikat dia mendekati Rie dan istrinya lalu menendangkan kakinya tanpa kendali.


Kayak pemain bola aja semua di tendangi batin Putri Lie.


__ADS_2