Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
48


__ADS_3

Mino dan tabib Ode merasa gelisah karena keluarga mereka ada di tangan Keimu dan entah bagaimana nasib mereka sekarang.


Tidak ada jalan lain selain meminta tolong pada Pangeran Jun untuk menyelamatkan keluarga mereka, hanya itu harapan satu-satunya.


Pangeran Jun saat ini sedang bersama para pengawal yang menjaga desa Ruhai ini, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa hingga ada kelompok pemberontak dan tidak ada laporan ke istana.


"Yang Mulia Pangeran, orang itu adalah Keimu" ucap Joi selaku pemimpin pengawal.


Pangeran Jun sedikit berfikir, ia memang pernah mendengar dari ayahnya tentang Keimu itu yang sangat gila dengan tahta. Sejak Jei memberi tahukannya tentang orang itu ia memang sudah lupa dengan namanya.


Tetapi kini Pangeran Jun sudah mengingat semua bahkan cerita dari ayahnya seakan berdengung di telinganya.


"Jelaskan lagi bagaimana dia bisa melakukan ini semua?" tanya Pangeran Jun.


Belum lagi Joi mengatakan apa yang di tanyakan tuannya, Mino dan tabib Ode sudah menyelanya.


"Kami tahu semuanya Yang Mulia Pangeran" ucap Mino.


Jie lansung siaga melihat kedatangan Mino dan tabib Ode, ia memasang tampang garangnya dan itu sedikit menciutkan nyali Mino dan tabib Ode.


Pangeran Jun yang menyadarinya mengkode pada Jie untuk pergi pada istrinya. Jie langsung pergi menghampiri Putri Lie yang sedang istirahat bersama Mei dan pelayan lainnya dengan di jaga ketat oleh Jei dan Tei.


Setelah kepergian Jie, Pangeran Jun meminta mereka duduk dan menjelaskan segalanya karena dari mereka semua informasi akan di dapat lengkap, akan tetapi Pangeran Jun tetap waspada.


"Yang Mulia Pangeran, maafkan kami karena sudah menyembunyikan hal yang sesungguhnya. Kami melakukan itu semua karena terpaksa" ucap Mino


"Benar Yang Mulia keluarga kami di tahan oleh Keimu sebagai jaminan bahwa kami akan melakukan semua yang ia perintahkan" sambung tabib Ode


"Tolonglah keluarga kami Yang Mulia, kami tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyelamatkan keluarga kami" lanjut Mino.


Sekarang Pangeran Jun tahu akar masalahnya dari mana, tetapi Pangeran Jun ingin memastikannya lebih jelas lagi.


"Lalu, dimana Keimu saat ini?" tanya Pangeran Jun


"Kemungkinan ia sudah pergi ke hutan Barat menemui kelompoknya di sana, keluarga kami bisa jatuh ke tangannya juga karena kelompok itu Yang Mulia" jawab tabib Ode

__ADS_1


"Berapa jumlah mereka yang ada di hutan Barat?" tanyanya lagi


"Sekitar 150 orang Yang Mulia, saya pernah bertemu dengan mereka untuk meminta keluarga saya kembali tetapi mereka mengancam akan membunuh anak dan istri saya" ucap Mino sendu.


Pangeran Jun merasa kasihan pada kedua orang itu, bagaiman pun juga keluarga adalah segalanya namun mengorbankan banyak nyawa demi kepentingan pribadi itu tidak benar apa lagi tidak memiliki usaha apa pun untuk melawan lebih dulu.


"Yang Mulia Pangeran, kita harus lebih waspada lagi setelah ini karena saya yakin jika Keimu pasti akan menyerang desa, apa lagi dia menginginkan nyawa anda" ucap tabib Ode.


Pangeran Jun menganggukkan kepalanya tanda mengerti, berbagai siasat sudah tersusun rapi dalam otak cerdasnya. Akan tetapi prioritasnya selain keselamatan warga tentu saja sang istri yang utama.


Ia tidak ingin istri tercintanya menjadi sasaran musuh karena dari kebanyakan peperangan yang sudah ia lewati, keluarga selalu menjadi sasaran utama musuh untuk melumpuhkan lawannya.


Putri Lie yang memiliki pendengaran sangat bagus langsung menajamkan pendengarannya saat mendengar sekilas bahwa ada yang mengincar nyawa sang suami.


Marah sudah pasti di rasakan oleh Putri Lie karena biar bagaimana pun juga tidak ada seorang istri yang tidak sedih dan marah saat ada yang mengancam nyawa suami. Tidak akan ku biarkan kau menyentuh suamiku batin Putri Lie.


Sedang hanyutnya dalam lamunannya dan juga rencana yang ia buat sendiri untuk menyelamatkan Pangeran Jun bila di perlukan. Putri Lie di kagetkan dengan tangan yang menyentuh wajahnya lembut.


Putri Lie melihat si pemilik tangan yang ternyata suaminya sendiri, ia tersenyum manis pada Pangeran Jun yang sedang tersenyum juga padanya.


Setelah memastikan Putri Lie tertidur pulas barulah Pangeran Jun memanggil orang-orangnya untuk tugas selanjutnya.


"Jei, Jie dan Tei kumpulkan semua pengawal" ucapnya.


Orang yang besangkutan segera mengumpulkan semua anggota mereka dan saat sudah berkumpul semuanya barulah Pangeran Jun menyampaikan rencananya.


"Jei dan Tei kalian jaga Permaisuri kemana pun ia pergi selama di desa ini, untuk Jie siagakan pengawal untuk tetap siap tempur kapan pun, Wuse bagi anggotamu untuk mengawasi setiap sudut desa dan mengawsi gerakan musuh di hutan Barat, laporkan apa pun pergerakan dari mereka. Tetapi malam ini kau pergi dengan satu temanmu dan pastikan obat ini tercampur dalam air yang selalu mereka minum" jelas Pangeran Jun memberikan sebotol obat.


Wuse mengambil obat iti dari tuannya, meski tidak tahu apa gunanya obat itu tetapi Wuse tetap melakukan perintah tuannya.


"Baik Yang Mulia akan saya lakukan sekarang juga, setelahnya apa lagi yang harus saya lakukan?" ucap Wuse


"Ceri tahu kapan mereka akan menyerang dan apa tujuan yang sebenarnya dari mereka selain membunuhku, aku tidak ingin ada perang di desa ini karena di sini banyak anak kecil dan orang tua juga orang-orang yang belum pulih dari sakit" kata Pangeran Jun.


Wuse yang sudah paham maksud Pangeran Jun langsung meluncur ke tempat musuh dengan cepatnya. Ia tidak ingin membuang waktu dan menghancurkan harapan tuannya itu.

__ADS_1


Pandangan Pangeran Jun menyisir pada semua warga desa yang sudah terlelap dengan damainya. Mino dan tabib Ode masih terlihat terjaga dan tampak melamun memikirkan keadaan keluarganya yang sedang dalam kandang musuh.


Lalu Pangeran Jun mengalihkan tatapannya pada Putri Lie yang terlelap dalam pelukannya. Cara termudah membuatnya terlelap hanya seperti ini, Pangeran Jun tahu jika sejak tadi Putri Lie terus memperhatikan dirinya.


Meski tidak tahu apa yang sedang di pikirkan istri cantiknya itu, tetapi Pangeran Jun dapat melihat ke khawatiran besar dalam mata dan wajah cantik istrinya. Aku akan melindungimu meski nyawaku taruhannya batin Pangeran Jun mengecup kening Putri Lie kemudian ikut memejamkan matanya.


Sedangkan Wuse dan temannya yang sedang melesat ke hutan Barat tidak sengaja melihat beberapa orang yang membawa kendi menuju air terjun Ruhai, Wuse meminta temannya untuk mengikuti orang-orang itu dan dia meneruskan ke hutan.


Setibanya di dalam hutan Barat, nampaklah sebuah paviliun yang cukup besar di sana. Banyak penjaga yang berpatroli mengelilingi tempat itu, namun Wuse tidak kehilangan akalnya.


Wuse menangkap seorang dari mereka diam-diam dan menggunakan pakaiannya untuk penyamaran dan kemudian ikut bergabung. Tidak ada yang menyadari penyamarannya itu karena sepertinya para penjaga saling tidak perduli jika sudah mengantuk.


Demi memuluskan rencananya Wuse masuk kedalam dengan alasan ingin minum, namun karena tidak tahu ia jadi di tegur oleh mereka yang melihatnya.


"Mau kemana kau?" tanya seorang pria sangar


"Minum haus" jawabnya


"Hei kau salah jalan di sana tempat airnya, kau sakit ya begitu saja tidak tahu" ucap orang itu


"Ah iya kepalaku masih sakit karena tadi sempat terbentur, terima kasih sudah memberi tahuku ya" ucap Wuse.


Mendengar ia yang di panggil tadi membuatnya mengira sudah ketahuan tetapi saat ia di bilang sakit langsung saja di beri alasan yang sama. Setelah mauk ke dalam tempat yang seperti dapur itu, di sana terdapat satu kendi besar.


Di bagian bawahnya terdapat seperti jalan keluar air, Wuse meyakini jika itu air yang mereka minum, segera saja ia menaiki meja yang ada di dekatnya dan membuka tutup kendi itu lalu memasukkan obat pemberian Pangeran Jun.


Setelah selesai melakukannya, Wuse keluar dengan memegangi kepala seakan masih sakit dan meminta ijin untuk tidur pada yang lain. Wuse menyusuri tempat itu mengikuti langkah orang yang mengantarkannya, tetapi sebelum sampai di tempat ada yang memanggilnya.


"Hei kau apa yang terjadi?" tanya pria yang ia yakini sebagai ketua kelompok itu


"Maaf ketua, dia sakit kepala karena terbentur ketika jatuh tadi jadi saya mengantarnya ke kamar saja" jawab pria yang memapahnya


"Ya sudah istirahatlah yang cukup karena besok kita harus berperang jadi malam ini kalian harus istirahat semua" ucap ketua kelompok.


Setelah menjawab, Wuse di bawa ke kamar tempat anggota kelompok untuk istitahat tetapi ia berdalih ingin buang air besar namun kenyataannya Wuse pergi dari tempat itu setelah mengganti pakaiannya dan kembali ke desa untuk mencari temannya yang pergi ke air terjun Ruhai.

__ADS_1


__ADS_2