Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
63


__ADS_3

Karena mendapat tugas lagi dari raja yang mengharuskannya pergi ke perbatasan Utara, Pangeran Jun memutuskan untuk kembali kekediamannya agar dapat berduaan dengan sang istri tanpa gangguan dari ibunya yang selalu menempel pada Putri Lie.


Pangeran Jun belum mengatakan pada Putri Lie jika mendapat tugas baru, sebelum pergi nanti baru ia akan memberi tahukan hal tersebut.


"Sweetyy, kamu sedang apa?" tanya Pangeran Jun


"Kamu lihat sedang apa!" jawab Putri Lie.


Banyak kayu yang di tancapkan pada tanah dari yang pendek hingga tinggi, bahkan ada bambu dengan beberapa kayu yang di taruh pada beberapa sisi ruasnya.


Entah apa yang akan di lakukan istri cantiknya itu dengan semua benda yang ada di sekitarnya. Rasa penasaran Pangeran Jun semakin jadi saat beberapa prajurit datang membawa pedang, tombak dan panah.


"Untuk apa semua ini Sweetyy?" tanyanya lagi.


Putri Lie tersenyum pada sang suami yang tampak heran dengan semua yang ia siapkan.


"Sebentar ya nanti kamu akan tahu" ucapnya lalu pergi.


Pangeran Jun yang bingung hanya menurut dan menunggu seraya melihat setiap sudut halaman belakang paviliun Bulan yang sudah di sulap menjadi tempat berlatih oleh Putri Lie. Apa iya untuk latihan kenapa seperti ini? pikirnya.


Beberapa saat kemudian muncullah Putri Lie dengan pakaian yang terbuka menurut Pangeran Jun dan itu membuat matanya melotot sempurna.


Dengan santainya Putri Lie mendekati suaminya yang sudah berwajah garang melihat penampilannya yang hanya menggunakan celana pendek setengah paha yang sedikit ketat dan bra sport yang sudah ia buat sendiri.


Pakaian itu sangat menggoda bagi Pangeran Jun apa lagi bentuk tubuh istrinya memang bagus meski sedikit membuncit. Tapi itu tidak mengurangi keindahan dan pesona istrinya.


"Kenapa memakai pakaian itu?" tanya Pangeran Jun dingin


"Tenanglah aku sudah melarang siapapun masuk tanpa ijin" jawab Putri Lie santai sembari mengangkat pedang.


"Jangan main pedang Sweetyy nanti kamu terluka!" ucap Pangeran Jun khawatir dan mencoba mengambil pedangnya.


Namun ia kalah cepat dengan Putri Lie yang sudah menjauh darinya dan melompat di salah satu pijakan kayu yang ia buat.


"Mau melihat pertunjukan menarik!" seru Putri Lie.

__ADS_1


Pangeran Jun menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Pertunjukan apa?" tanyanya.


Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Putri Lie langsung beraksi memainkan pedangnya dengan lihai, ia juga tidak ragu-ragu setiap kali berpindah pijakan di atas kayu.


Selesai dengan pedangnya, Putri Lie melompat lagi dan mengambil tombak untuknya berlatih. Pangeran Jun sangat kaget dengan kemampuan sang istri yang tidak terduga itu, dari mana dia belajar semua itu batinnya.


Tidak lama Putri Lie mengakhiri latihannya dan turun menghampiri Pangeran Jun dengan sekali lompatan mendarat tepat di hadapannya. Tidak dapat di pungkiri jika Pangeran Jun sangat kagum dengan cara Putri Lie berlatih namun tetap saja ia tidak suka dengan pakaian yang di kenakan istrinya itu.


"Dari mana kamu mempelajari semua itu? baru kali ini aku melihat latihan seperti itu" ucap Pangeran Jun.


Putri Lie tersenyum ketika Pangeran Jun membuka jubahnya dan memakaikannya di tubuhnya yang terbalut pakaian seksi jika menurut orang jaman itu tetapi di kehidupannya sebelumnya pakaian itu sangat biasa di pakai.


Jadi Putri Lie hanya bisa memaklumi sikap suami posesivenya itu.


"Aku hanya mengikuti gerakan sesuai keinginan hatiku saja" ucap Putri Lie.


Meski tidak percaya dengan apa yang di katakan Putri Lie tetapi Pangeran Jun tidak menanyakannya lebih lagi karena ia harus cepat pergi menyelesaikan pekerjaannya.


"Baiklah aku akan memperbaiki pakaian ini lagi tapi untuk beberapa hari ini aku akan memakai ini dulu" sahut Putri Lie.


"Aku akan meningkatkan penjagaan di luar paviliun dan tidak ada yang boleh masuk jika kamu sedang berlatih" ucapnya.


Putri Lie mengangguk dan tersenyum.


"Nanti aku akan pergi sebentar keluar, ada yang harus aku beli" Putri Lie meminta ijin keluar pada suaminya.


"Tidak bisakah Mei saja atau pelayan lainnya!" katanya tidak suka jika istrinya keluar tanpanya.


"Aku harus memastikan sendiri barangnya bagus atau tidak" Putri Lie mencoba meyakinkan.


"Baiklah Jei dan Tei akan menemanimu" Putri Lie mendengus tidak suka.


"Ayolah aku hanya sebentar dan akan memakai pakaian seperti rakyat biasa tidak akan ada yang mengenaliku nanti, aku hanya ingin dengan Mei saja" tolaknya.

__ADS_1


"Bawalah Jei saja kalau begitu agar ada yang membantu jika barangnya banyak, tidak ada penolakan lagi" ucap Pangeran Jun mutlak.


Putri Lie hanya bisa pasrah dengan pilihan suaminya itu dari pada tidak di ijinkan keluar toh hanya Jei seorang saja gumamnya dalam hati.


"Tidak ada pengawal lain selain dia ya, aku tidak terima yang lainnya lagi" tegas Putri Lie agar suaminya tidak menambahkan pengawalnya lagi.


"Ya hanya Jei, ingat jaga diri baik-baik dan cepat kembali sebelum sore, mengerti Permaisuri Jun" ucap Pangeran Jun, ia tidak akan menambahkan pengawal karena yakin Jei akan menjaga istrinya.


Ia juga mencoba percaya jika istrinya dapat menjaga diri meski tetap akan di awasinya.


"Aku akan bekerja jadi baik-baiklah di sini ya karena beberapa hari kedepan aku akan sangat sibuk tapi akan aku usahakan agar dapat datang kesini melihatmu" Pangeran Jun membelai pipi istrinya lembut.


"Iya tapi jika waktu makan kamu harus datang ke sini karena aku sendiri yang akan buatkan makanan untukmu" ucap Putri Lie.


Pangeran Jun mengangguk seraya tersenyum manis lalu mengecup kening Putri Lie mesra.


"Aku pergi dulu, Jei akan menunggu di depan nanti" kata Pangeran Jun pamit.


"Ya jangan terlalu lelah ya ingat istirahat juga" Pangeran Jun kembali mengecupi wajah Putri Lie dan berlalu setelahnya.


Putri Lie kembali berlatih lagi tapi tidak dengan pedang dan tombak, ia menggunakan panah untuk mencoba keahlian membidiknya.


"Kalau ada senapan atau pistol pasti akan lebih mudah, semoga ini sama" gumamnya dan mulai membidik.


Panah pertama meleset, kedua juga, ketiga lebih baik, keempat sedikit lagi dan kelima tepat sasaran.


"Dengan hanya butuh satu peluru tapi ini membutuhkan lima anak panah, butuh ketelitian lebih menggunakan panah agar tepat" Putri Lie kembali melatih panahnya agar lebih memuaskan lagi.


Biar bagaimana pun juga ia tidak bisa menggunakan peralatan canggih seperti di jaman moderen kadi harus melatih semua senjata seadanya agar bisa bertahan dalam kehidupan kerajaan yang oenuh konspirasi.


Apa lagi ia yang sebagai seorang permaisuri, banyak sekali wanita-wanita yang dapat menghalalkan segala cara untuk menyingkirkannya dan merebut posisinya.


Namun yang menjadi masalah bagi Putri Lie bukanlah kedudukannya sebagai permaisuri, tapi suaminya yang tidak mungkin ia bagi pada wanita lainnya kalau posisi permaisuri akan dia berikan pada siapapun yang mau tapi suaminya tidak akan pernah ia berikan pada siapapun juga.


"Sebaiknya aku bersiap untuk pergi dan meminta Mei juga Jei bersiap dengan pakaian lainnya" gumamnya.

__ADS_1


Putri Lie keluar dari Halaman belakang setelah memakai jubah Pangeran Jun yang di tinggalkannya. Di luar ia menemukan Mei dan Jei yang sedang berduaan, bahkan Jei terlihat sangat perhatian pada Mei yang sedang menyiapkan permintaannya.


__ADS_2