
"Lalu rumah bordil itu masih ada saat ini?" tanya Putri Lie
"Tidak! semuanya sudah dihancurkan dan diratakan dengan tanah, ada tempat tersendiri yang berada dipinggiran kota untuk mereka namun tetap dalam pantauan pihak istana dan harus memiliki surat ijin jika ingin membangun temoat seperti itu. Kalau tidak ada ijinnya maka pemiliknya akan dihukum mati sebagai pemberontak, pajak tempat itu juga sangat tinggi dan wanita-wanita yang ada disana juga atas keinginan mereka sendiri" ucap Pangeran Jun.
"Yah lupakan soal itu,bagaimana kamu bertemu dengan trio macan itu?, juga Wuse dan orang-orang bayangan itu?" tanya Putri Lie.
"Pertama aku bertemu dengan trio macan itu ketika sedang berhadapan dengan perampok dijalan, saat itu mereka bertiga membantuku melawan para perampok yang cukup banyak. Setelah permanpok itu kalah dan pergi barulah kami berkenalan, ternyata mereka baru keluar dari tempat guru mereka untuk mencari pekerjaan karena butuh uang juga. Aku meminta ketiganya pergi kekota sedang aku akan pergi menjelajah hutan dan desa-desa, tapi mereka malah minta ikut denganku saja, meski sudah ku tolak tapi mereka tetap bersikeras ikut dan menjadikanku tuan mereka. Karena hari yang sudah hampir malam aku mengijinkan mereka ikut, mareka menanyakan namaku dan kamu sudah pasti tahu bukan nama apa yang aku sebutkan?" Putri Lie mengangguk
"Juju" seru Putri Lie tersenyum yang tentu dibalas senyum juga oleh Pangeran Jun.
"Mereka menyebutkan nama mereka masing-masing, tapi aku meminta untuk mereka menyamarkan nama masing-masing dan mereka menyebutkannya, Jei menjadi Jeje, Jie menjadi Jiji dan Tei menjadi ****" mendengar ucapan suaminya membuat tawa Putri Lie pecah karena tidak menyangka tebakannya benar soal nama samaran mereka berempat.
"Kenapa?" tanya Pangeran Jun bingung dengan tawa istrinya
"Ah tidak ada, lalu?" alih Putri Lie dari pertanyaan yang suaminya agar melanjutkan ceritanya.
"Sejak saat itu kami selalu bersama dan melakukan perjalanan kemanapun yang mampu kami tempuh bahkan kami harus menggunakan sesuatu pada wajah kami agar tidak terlalu mencolok didepan para wanita yang gila ketampanan"
"Benarkah! apa yang kalian pakai?" tanya Putri Lie penasaran
"Suatu saat nanti kamu akan tahu juga" ucap Pangeran Jun lalu mrlanjutkan ceritanya.
"Kami menghabiskan waktu selama tiga tahun di luar dan kembali setelahnya, tapi saat itu aku sudah bersikap dingin dan datar pada semua wanita termasuk ibu. Satu tahun diistana, kami akhirnya memutuskan pergi lagi karena ayah yang memintaku untuk menikahi Yein tapi aku menolak, tapi pernikahan itu tetap terjadi yang bahkan bukan hanya satu wanita saja, tapi tiga wanita sekaligus yang akan menjadi pengantinku karena Yezi ternyata mengirim kedua keponakannya itu untuk jadi selirku juga. Bukankah itu gila? seorang pria harus menikah dengan tiga wanita sekaligus dalam sehari" gerutu Pangeran Jun diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Bukankah menyenangkan ya bisa dapat tiga? dimalam pertama lagi pasti lebih seru, iyakan!" ujar Putri Lie
"Aku justru takut membayangkannya jika harus menjadi rebutan tiga wanita sekaligus, bukan aku tidak sanggup, tapi apa jadinya tubuhku nanti jika sampai mereka berubah menjadi harimau betina yang kelaparan? pasti mereka akan mencabik-cabik tubuhku dan memakanku hingga habis" ucap Pangeran Jun memberikan ekspresi yang berbeda setiap kalimatnya dan itu membuat istrinya tertawa.
"Wah kalau kamu habis dimakan oleh mereka berarti kita tidak akan bertemu dong!" kata Putri Lie menggoda
"Jika sudah takdir kita berjodoh seperti apapun bentukku kita pasti bertemu, lagi pula aku pergi malam itu juga setelah acara selesai dan mengirim surat pada ayah untuk ijinnya" ucap Pangeran Jun setelah mengecup pipi istrinya.
"Kemana kamu pergi saat itu?" tanya Putri Lie
"Mencari kamu" jawab Pangeran sembari menatap wajah Putri Lie lekat
"Aku serius" kata Putri Lie memukul dada suaminya pelan
"Dulu aku menolak pernikahan dengan mereka karena kamu, aku teringat dengan kamu ketika ayah membahas pernikahan dengan Yein, aku juga mengatakan pada ayah jika Yein tidak akan menjadi Permaisuriku karena aku sudah punya pilihan sendiri. Ayah memandangku penuh arti saat aku mengatakan hal itu dan beliau langsung menyebutkan gadis kecil yang pernah aku beri kalung buatan kakek. Aku juga sempat mengatakan pada ayah kalau akan pergi mencarinya, ayah setuju akan hal itu tapi dengan syarat harus bisa menemukanmu dalam waktu dua tahun, jika selama itu belum bertemu juga ayah akan menjodohkanku dengan pilihannya yang akan menjadi permaisuriku" jelasnya.
"Meski aku menolak sekalipun ayah tetap memaksa dengan mengatakan jika aku akan menyukainya tapi aku mengabaikan itu dan pergi setelah pamit pada ayah. Nyatanya kita bertemu dikediaman ayah mertua ketika kami sedang berkunjung disana, kamu tidak memakai penutup wajah waktu itu tapi waktu ayah mertua memanggilmu, kamu sudah memakai penutup wajah itu membuatku berpikir kamu pemalu. Tapi pandangan mata kamu yang sepertinya mengagumiku membuatku tidak menyukaimu karena berpikir kamu sama seperti wanita lainnya juga adikmu itu" kata Pangeran Jun mengenang pertemuan mereka kala itu.
"Yah itu adalah sifat pria arogan yang suka menilai orang hanya dari penampilan atau pandangannya sendiri seperti kamu itu" ketus Putri Lie.
"Maaf, waktu itu aku sedang manutup hati untuk wanita lain jadi tidak pernah suka dengan tatapan memuja dari mereka. Jendral Han sempat memberi kode padaku bahwa kamu adalah gadis kecilku tapi aku tidak menangkap hal itu dan malah menganggap jika beliau sedang berusaha memberikan kamu padaku demi jabatan dan posisi dikerajaan. Meski ayah mertua sebenarnya pernah mengajariku berkuda waktu kecil dulu tapi aku tetap tidak suka jika ada orang yang memanfaatkan anak mereka untuk kepentingan politik semata".
"Apa kamu tidak melihat ayah dan kakak Min waktu kamu memberikan aku kalung dulu? padahal aku berada ditengah-tengah mereka" ucap Putri Lie.
__ADS_1
"Aku hanya fokus padamu saja waktu itu karena kamu benar-benar memikat hatiku" kata Pangeran Jun seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"Jangan menggodaku, sekarang katakan kenapa kamu bisa jadi pria dingin setelah pulang dari tiga tahun pergi?" tanyanya penasaran.
"Karena seorang wanita yang nekat melakukan hal gila padaku hingga hampir saja aku tewas karenanya. Kami berada disalah satu desa dinegara orang waktu itu, meski sudah pakai penyamaran dengan jeleknya ia tetap tahu jika aku tampan dan berusaha melakukan apapun untuk mendapatkanku. Wanita itu anak kepala desa yang terkenal sangat cantik dan menarik, tubuhnya sangat seksi dan montok belum lagi gayanya yang menggoda itu benar-benar mampu melumpuhkan pertahanan pria, aawwwh..." teriak Pangeran Jun memegangi perutnya yang dicubit kuat.
Jadi meski perutnya memiliki delapan pack dan kekar tetap saja terasa sakit karena cubitan yang tidak main-main dari Putri Lie yang terlihat sangat tidak suka dengan ucapan suaminya yang memuji wanita lain didepannya.
"Berani kamu memuji wanita lain dengan begitu lancarnya didepanku hm?" ucap Putri Lie menguatkan cubitannya.
"Iya maaf sweetyy tidak lagi, janji deh!" kata Pangeran Jun menarik tangan istrinya yang masih menempel dengan capitan jarinya yang menyakitkan.
"Huh, aku akan mengebiri kamu kalau sampai berani melakukannya lagi!" tekan Putri Lie disetiap kata
"Iya janji tidak lagi, maaf ya!" bujuk Pangeran Jun
"Tidak! kamu turun dan tidur dibawah sana, aku tidak mau dekat-dekat kamu" ketus Putri Lie dengan kesal.
"Apa? tapi dibawah dingin sweetyy, ayolah maafkan aku ya! tidak akan terulang lagi yang seperti itu!" janji Pangeran Jun.
"Turun!" tekan Putri Lie melotot galak.
"Sweetyy, kamu mau lihat tidak kemampuan cincin dan kalung kamu itu!" bujuk Pangeran Jun lagi namun tidak digubris sama sekali oleh istrinya.
__ADS_1