
Seperti rencana Putri Lie yang ingin pergi ke luar kediaman dengan menggunakan pakaian biasa seperti rakyat pada umumnya.
Maka Putri Lie dan kedua orang lainnya pergi bersama, tujuan pertama mereka adalah pasar tradisional. Putri Lie ingin membeli beberapa obat-obatan untuk ia gunakan sebagai ramuan penambah stamina dan pemulih tubuh.
"Dimana toko obat yang paling bagus di pasar ini?" tanya Putri Lie pada kedua temannya.
"Sekitar 100 meter lagi ada banyak toko obat-obatan Permaisuri" jawab Jei.
"Jangan panggil aku Permaisuri nanti semua orang menatap kita dengan curiga" ucap Putri Lie yang tidak ingin identitas mereka di ketahui orang.
Jei dan Mei saling tatap karena bingung.
"Lalu kami harus panggil apa jika bukan itu?" tanya keduanya bersamaan membuat Mei merasa malu.
"Panggil Lili saja sepertinya bagus" ujarnya.
"Baiklah" lagi mereka bersamaan menjawabnya.
Sungguh lucu kedua orang itu, mereka terlihat malu-malu tapi ingin selalu bersama.
"Kalian kompak ya, selanjutnya jika kita pergi seperti ini lagi kalian harus lebih kompak lagi" Putri Lie berjalan lebih dulu dari mereka yang sedang tersipu.
Sampailah mereka pada tempat obat-obatan yang di maksud Jei, memang banyak penjual obat di sisi kanan dan kirinya. Kebanyakan toko memiliki bangunan besar atau layak di sebut sebagai toko.
"Ayo kita kesana, di sana sepertinya lebih banyak banyak obat" Mei menunjuk pada toko besar yang lumayan banyak pengunjungnya.
Namun Jei tidak setuju.
"Tidak! lebih baik kita ke sana saja, aku jamin pasti kita akan mendapatkan banyak obat yang kita mau" tunjuk Jei pada gubuk kecil yang hampir rubuh.
Mei tidak setuju dengan pilihan Jei itu karena jika di lihat tempatnya saja tidak meyakinkan kalau itu sebuah toko.
"Kamu yakin jika itu toko!" serunnya tidak percaya.
Putri Lie tersenyum melihat perdebatan kecil antara keduanya.
"Tentu manis dan kita akan kesana" Putri Lie menggoda Mei dan Jei dengan mengatakan hal tersebut. Dan itu sukses membuat Mei merona karena ucapan tuan putrinya.
__ADS_1
Sama seperti toko lainnya, di tempat ini juga ada obat yang di sediakan hanya saja tidak banyak bahkan lebih terkesan seperti dagangan untuk kalangan bawah.
Putri Lie mengamati setiap sudut tempat itu yang sangat sederhana.
"Dimana pemiliknya?" tanya Mei seraya memegang lengan Jei erat karena ia merasa takut dengan keadaan gubuk itu yang dapat rubuh kapanpun.
"Permisi kakek" Jei melihat ke dalam gubuk itu mencari orang yang ia panggil kakek.
Muncullah seorang kakek tua yang menggunakan tongkat di tangannya untuk membantunya berjalan.
"Kau datang anak muda, masuklah" ujar si kakek saat melihat Jei.
Putri Lie dan Mei sangat keget karena ternyata kakek itu dan Jei saling kenal, mereka masuk kedalam gubuk itu dengan perasaan was-was. Bahkan Mei sudah memeluk erat lengan Jei tanpa di sadarinya.
Sedangkan Jei yang mengetahuinya tersenyum dalam hati dan memegang tangan Mei dengan memberi tepukan kecil agar gadis itu tenang.
Kakek tua itu meminta mereka duduk di lantai yang sudah di beri alas seadanya.
"Silahkan duduk beginilah keadaan rumah kakek" ujar kakek tersebut.
"Tidak masalah kek yang penting masih bisa di gunakan untuk berteduh" sahut Putri Lie.
"Apa kau Permaisuri Jun" tanyanya mengagetkan ketiganya.
"Kakek tahu dari mana kalau aku Permaisuri Jun!" heran Putri Lie.
"Sangat jelas terlihat dari wajahmu, juga garis takdir yang ada di antara guratan dahimu" Putri Lie menyentuh dahinya mencoba mencari yang di maksud kakek itu.
Bahkan Jei dan Mei juga ikut memperhatikan dahi Putri Lie yang sedang di sentuh si empunya. Tidak ada apapun gumamnya dalam hati.
"Memang tidak terlihat Permaisuri, tapi itu sudah tergaris tanpa terlihat. Boleh aku lihat telapak tanganmu Permaisuri" ucap si kakek.
Meski bingung namun Putri Lie tetap menunjukkan telapak tangannya. Kakek itu tersenyum senang setelah namun itu sangat mengerikan bagi Jei dan Mei yang justru berpeluk mesra.
"Kamu akan menjadi ratu yang adil dan bijak sana dalam mendampingi Yang Mulia kelak, namun kamu juga harus lebih bisa lebih keras lagi agar tidak ada yang mengusikmu. Jangan biarkan siapapun menindasmu dan menjatuhkanmu karena Yang Mulia akan selalu mendukungmu apapun itu" jelas si kakek yang belum di pahami oleh mereka bertiga.
"Bisa lebih di sederhana lagi kek!" seru Jei bingung.
__ADS_1
Kakek itu tersenyum lalu berdiri dan masuk kedalam satu ruangan lalu keluar lagi dengan sebuah kotak di tangannya. Kotak itu di letakkan tepat di hadapannya yang sudah kembali duduk.
"Jei bisa tutupkan toko kakek sebentar bersama istrimu itu" Jei kaget dengan apa yang di katakan kakek itu tapi juga sangat bahagia karena Mei di bilang istrinya.
"Bisa sekali kek, sebentar ya" dengan semangatnya Jei membawa Mei keluar untum membereskan obat-obatan yang di dagangkan kakek itu. Sedangkan Mei yang belum sempat menjelaskan yang sebenarnya pada kakek merasa kesal karena sudah di bawa Jei keluar.
Walau ia juga merasakan kebahagian saat kakek mengatakan hal tersebut.
Sementara mereka pergi kakek melakukan sesuatu pada Putri Lie.
"Ulurkan tanganmu Permaisuri" Putri Lie mengulurkan tangannya pada kakek yang lansung di periksa denyut nadinya.
"Kondisimu masih lemah tapi tidak terlalu parah, begitupun dengan sisa racun yang masih ada di tubuhmu" kata kakek.
"Iya kek tubuhku memang lemah jadi sedikit sulit jika harus berkelahi atau bertempur menggunakan tenaga yang harusnya sedikit saja tidak bisa, aku harus menggunakan tenaga dalam dan itu menguras energiku" jelasnya.
Kakek mengangguk dan membuka kotak di hadapannya. Sebuah botol berukuran sedang di keluarkan kakek itu.
"Aku akan memberikan obat ini untuk memulihkan kembali tenagamu dan untuk racun itu aku akan mengobatinya langsung di sini saat pasangan iti datang nanti" kakek itu bangkit dari duduknya dan kembali lagi pada ruangan yang tadi ia masuki.
Jei dan Mei masih membereskan semua obat yang ada lalu mengemasnya dan membawa masuk untuk di susun pada tempat yang ada di dalam sana.
Mei tidak berani bergerak terlalu cepat seperti biasa ia yang selalu cepat melakukan setiap pekerjaannya karena gubuk itu rubuh dan menimpa Putri Lie yang ada di dalam.
"Jei, tempat ini tidak akan rubuhkan!" seru Mei lirih dan bergerak hati-hati.
"Tidak, tenanglah meskipun tempat ini sudah usang tapi masih kuat untuk beberapa jam kedepan, mungkin" ragunya.
"Jangan menakutiku Jei" ucap Mei semakin waspada.
Jei tertawa kecil melihat Mei yang sangat ketakutan hanya karena gubuk usang yang dapat rubuh kapanpun.
"Aku akan melindungi kalian jika terjadi sesuatu pada tempat ini, kalau kamu tidak selamat aku akan meminta pada tuhan untuk mengembalikanmu walau harus memaksa" canda Jei tersenyum.
"Sudah cepatlah agar kita bisa bersama Permaisuri di dalam" ucap Mei.
"Ingat apa pesan Lili tadi Mei!" Mei langsung melihat sekelilingnya memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua saja.
__ADS_1
"Maaf kelepasan" Mei tersenyum lucu pada Jei yang justru semakin membuatnya semakin terlihat cantik. Ingin sekali Jei mencubit pipinya tapi ia tidak mungkin melakukannya karena mereka harus cepat.