Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
89


__ADS_3

Tidak sepanjang lorong itu gelap karena ternyata ada juga bagian yang mendapat penerangan dari cahaya matahari, sepertinya lorong itu memang dibuat untuk jalan rahasia.


Tiba diujung lorong itu mereka melihat sebuah ruang yang luas dan pintu disalah satu dinding.


"Mungkinkah itu pintu keluarnya?" tanya Wuwu


"Bisa jadi iya, ayo kita lihat!" ucap Jeje.


Mereka bergerak maju mendekati pintu itu lalu membukanya perlahan, mudah saja membuka pintu itu yang memang ringan tapi cukup kuat menahan tembakan panah atau pukulan lainnya.


Wuwu membuka pintu lalu melihat keluar yang nampak tidak asing baginya, Lili dan Jeje ikut melihat namun segera keluar saat tahu tempat itu merupakan halaman belakang paviliun Bulan milik Putri Lie.


"Jadi lorongnya tembus hingga ketempat ini!" ucap Wuse


"Iya pantas saja kakek Sao meminta kita melewati lorong ini supaya lebih cepat ternyata memang lebih cepaat dari perhitunganku" sahut Jei.


Sementara Putri Lie tidak berkomentar lagi, ia langsung masuk kedalam dan membersihkan diri untuk segera menyiapkan makan malam mereka karena tidak ingin suaminya menunggu lama.


Karena sudah memasuki kediaman maka mereka tidak menggunakan penyamaran lagi. Dan kembali pada identitas mereka semula yang sebatas tuan dan bawahan namun Putri Lie dan Pangeran Jun tidak pernah membedakan status sosial jadi mereka tidak terlalu canggung juga.


Pangeran Jun sudah berdiri sejak tiga puluh menit yang lalu didepan pintu gerbang menantikan istrinya yang biasanya kembali memalui pintu depan itu.


Semua penghuni kediaman sudah tahu kalau nyonya mereka sering keluar bersama pengawal dalam penyamaran untuk jalan-jalan.


Sudah selama itu dan Pangeran Jun mulai mondar-mandir sendiri karena takut terjadi sesuatu pada istrinya yang belum juga kembali.


Jie dan Tei yang melihat tuan mereka berjalan kesana kamari dihadapan mereka jadi pusing sendiri karena sang tuan yang tidak bisa diam sejak tadi dan terlihat gelisah.


"Yang Mulia, Permaisuri mungkin sebentar lagi akan tiba jadi lebih kita masuk dulu" ucap Jie.


Namun Pangeran Jun tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh pengawalnya itu dan tetap saja berjalan mondar-mandir dengan rasa khawatirnya.


Sementara Putri Lie sedang didapur bersama pelayan lain juga Mei untuk menyiapkan makan malam tanpa tahu jika sang suami sedang menantinya dengan gelisah.


Seorang pengawal yang sedang keliling tidak sengaja melihat nyonya mereka berada didapur dan dengan cepat ia pergi menemui tuannya untuk melapor.


"Lapor Yang Mulia" pengawal itu sedikit membungkukkan tubuhnya tanda hormat.

__ADS_1


Pangeran Jun melihatnya sekilas lalu bergumam menjawabnya, ia tidak berniat mendengar hal apapun selain kedatangan istrinya.


"Yang Mulia masih menunggu Permaisuri? maaf mengatakan ini Yang Mulia tapi Permaisuri sedang berada didapur ber..." belum selesai pengawal itu mengatakan apa yang dilihatnya, Pangeran Jun sudah berlari menuju dapur untuk melihat sendiri benar tidaknya laporan itu.


Tiba didapur, Pangeran Jun langsung memanggil nama istrinya dengan lengkap.


"Lie Jun" ucapnya.


Pangeran Jun mengedarkan pandangannya keseluruh sisi dapur dan menemukan istrinya sedang memegang pisau untuk memotong ikan sedang menatapnya penuh tanya.


Dengan cepat Pangeran Jun mendekatinya lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu sudah kembali! sejak kapan? mengapa aku tidak tahu? bahkan aku sudah menunggu didepan gerbang" cecar Pangeran Jun mengeratkan pelukannya.


Putri Lie bergerak gelisah karena mereka menjadi tontonan semua pelayan yang ada didapur itu.


"Honey lepas dulu! aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ini lebih dulu, nanti baru peluk ya!" bujuk Putri Lie halus seraya menahan malunya.


"Biarkan mereka menyelasaikan semua ini, kamu ikut denganku saja" ujar Pangeran Jun yang lansung mendapati wajah cemberut dari istrinya.


"Tidak boleh bekerja setengah-setengah honey, harus segera diselesaikan sendiri" ucap Putri Lie sedikit mamaksa.


"Baiklah lakukan pekerjaanmu, aku tidak akan mengganggu" kata Pangeran Jun melipat tangannya dibelakang tubuh.


Setelah pelukan lepas Putri Lie segera memotong ikan yang akan dimasaknya.


"Kamu sukanya ikan dimasak apa?" tanyanya.


"Masak bagaimanapun asal enak dan bisa dimakan pasti aku makan apa lagi kamu yang buat" jawab Pangeran Jun enteng.


"Kalau makanan lainnya kamu suka apa saja?" tanya Putri Lie lagi karena ia memang belum tahu apa saja kesukaan suaminya meski sudah beberapa bulan menikah.


"Aku tidak pernah pilih-pilih makanan honey, apapun aku makan selagi bisa dimakan tapi aku lebih suka memakanmu" bisik Pangeran Jun diakhir kalimatnya agar tidak ada yang dengar selain sang istri.


Pipi Putri Lie terasa memanas karena mendengar ucapan yang sangat terbuka dari suaminya itu. Bagaimana mungkin ia dapat mengatakan hal tersebut dengan posisi mereka yang sedang didapur bersama banyak pelayan.


"Jangan menggodaku honey! disini banyak pelayan" seru Putri Lie kembali berbisik juga.

__ADS_1


Senyum Pangeran Jun mengembang ketika mendengar ucapan istrinya ini.


"Tidak akan ada mendengarkannya Sweetyy tenanglah, kamu malu karena ucapanku atau kamu menginginkannya!" goda Pangeran Jun dengan meniup pelan telinga istrinya.


Putri Lie bergidik saat merasakan hembusan ditelinganya yang membuat bulu kuduknya meremang namun ditahannya kuat mungkin agar wajahnya tidak lebih merona lagi.


"Diamlah atau masakan ini tidak akan selesai, lebih baik kamu tunggu aku diruang makan saja" ucap Putri Lie mencoba pmenjauh dari suaminya agar tidak terus digodanya.


"Tidak! aku akan tetap disini bersamamu, lagi pula aku penasaran bagaimana cara Permaisuriku ini memasak" ujar Pangeran Jun dengan santai.


Akhirnya Putri Lie hanya membiarkan Pangeran Jun yang terus berada dibelakangnya dan mengikut kemanapun ia pergi juga bergerak.


Meski jengah dengan tingkah Pangeran Jun namun Putri Lie tidak bisa menghentikan suaminya yang masih mengikutinya dibelakang. Jadi Putri Lie hanya bisa diam saja dan sesekali bertanya agar suaminya tidak merasa diacuhkan.


"Kenapa kamu tadi memanggilku dengan namamu dibalakangnya? tidak boleh asal mengganti nama orang lain kamu tahu!" ujar Putri Lie protes karena nama ayahnya diganti dengan nama suaminya


"Sejak kamu jadi istriku maka sejak itu pula namamu berganti dengan namaku dibelakangnya, karena kamu bukan lagi tanggung jawab ayah mertua melainkan tanggung jawabku dan sudah seharusnya nama belakangmu berganti bukan! kamu sudah menjadi Permaisuri disini jadi terima saja" jawabnya santai.


Dengan mata ysng terus mengawasi setiap gerakan lincah Putri Lie mengolah semua bahan masakan menjadi makanan dengan aroma yang sangat menggugah selera.


Putri Lie mengambil sedikit masakannya dalam sendok lalu meniupnya. Setelah dirasa dingin barulah ia meminta Pangeran jun mencobanya.


"Cobalah ini dan beri penilaian" Putri Lie berbalik menghadap tubuh suaminya lalu menyuapkan makanan dalam sendok itu.


Mata Pangeran Jun melotot sempurna, namun terdapat binaran disana tapi tetap saja Putri Lie merasa waspada karena masih takut rasanya tidak sesuai jika belun mendengar jawaban langsung.


"Bagaimana?" tanyanya waspada.


Pangeran Jun melihat istrinya yang berwajah sedikit muram takut dengan jawaban yang aka diterimanya. Tidak ingin berlama lagi mencoba makanan itu jadi Pangeran Jun mengangkat ledua jempolnya seraya tersenyum manis.


Senyum Putri Lie mengembang sempurna mendapatkan jawaban yang memuaskan itu, lalu ia bergerak untuk menyiapakan makanannya tapi dicegah oleh Pangeran Jun.


"Sudah cukup sweettyy biar mereka menyelesaikan sisanya dan membawa semuanya keruang makan, kamu temani aku minum teh dulu dihalaman sebentar selagi mereka menyiapkan semuanya" ucap Pangeran Jun memegang tangan istrinya.


Putri Lie mengangguk setuju dengan itu karena tidak ingin menolak lagi permintaan kedua suaminya itu.


"Baiklah tapi aku akan mengganti pakaianku lebih dulu" hanya senyuman yang didapatkan Putri Lie sebagai jawaban dari suaminya.

__ADS_1


Sebelum keluar Pangeran Jun mengatakan sesuatu lebih dulu pada pelayannya.


"Pastikan makanan buatan istriku tetap sama rasanya ketika aku makan nanti, jika tidak kalian akan tahu sendiri akibatnya" katanya lalu membawa Putri Lie keluar dari dapur dengan menggenggam mesra tangan sang istri.


__ADS_2