
Perasaan Putri Lie semakin tidak nyaman setelah kepergian Pangeran Jun ke hutan. Putri Lie menatap dirinya dan juga kedua pengawal suaminya.
Mereka terlihat lebih mencolok di banding yang lainnyaa, meski pakaian yang mereka pakai sudah sederhana tetapi tetap masih terlihat mencolok di antara warga yang berpakaian kumuh.
Pandangannya jatuh pada wanita yang akhir-akhir ini selalu menggoda sang suami, siapa lagi kalau bukan Centilani. Wanita itu masih saja memandang tidak suka pada Putri Lie, namun ia tidak terlalu perduli akan hal itu.
Sebuah ide muncul untuk mengubah sesuatu agar terlihat setara dengan yang lainnya. Putri Lie mengumpulkan pelayan dan pengawalnya untuk merealisasikan idenya itu agar berjalan dengan baik.
Centilani yang melihat mereka semua berkumpul merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Pelan-pelan ia mendekat dan mencoba mendengarkan, tetapi hanya bagian akhir yang ia dengar karena Putri Lie keburu melihatnya.
"Kau memang tidak pantas untuk itu, aku akan mengambil milikmu lihat saja nanti" ucap Centilani.
Setelah semua rencana teralisasi, Putri Lie dan yang lainnya melanjutkan pekerjaan membantu warga.
Ternyata apa yang di rasakan Putri Lie terjadi, karena tidak lama setelahnya terjadi keributan dari arah Utara desa. Suara teriakan menggema di seluruh penjuru desa hanya karena seorang wanita.
Dua orang pria berbaju hitam muncul dan mendekat pada warga yang berkumpul ketika mendengar teriakan itu. Semua warga terkejut melihat Permaisuri Jun yang berada di tangan kedua orang berbaju hitam itu dengan posisi leher di cekik.
Putri Lie meronta-ronta minta di lepaskan, tetapi malah ia di pukul oleh orang yang mencekiknya.
"Lepaskan aku cepat lepas, kau tahu siapa aku hah! aku adalah Permaisuri dari Yang Mulia Pangeran Jun, kau akan di bunuhnya karena menyakitiku" teriak Putri Lie
"Diam, justru kau lah yang aku cari untuk menghabisi suamimu itu karena ia pasti akan menuruti semua perintahku demi manyelamatkanmu" bentak orang itu.
Putri Lie ketakutan mendengar bentakan itu padanya karena dia yang tidak pernah di bentak siapapun.
"Siapa kau? jangan lukai Permaisuri!" teriak seorang wanita yang terlihat lusuh dan kumuh.
Kedua pria itu tersenyum sinis melihat semua warga di hadapannya.
"Aku adalah Keimu calon raja kalian semua, aku datang untuk menghabisi Pangeran kalian setelah itu raja kebanggaan kalian itu" ucap Keimu.
Dengan senangnya Keimu tertawa begitupun temannya, mereka tidak menyangka akan mendapat umpan bagus untuk menghabisi Pangeran Jun dengan mudah.
"Katakan di mana Jun berada dan juga panggil Mino serta Ode yang tidak berguna itu" ucap Keimu.
Warga desa saling pandang karena memang tidak tahu kemana perginya Pangeran Jun dan juga pengawalnya. Dan yang lebih membingungkan lagi bagi mereka, tidak adanya pengawal yang mengawal Permaisuri hingga dapat di tangkap musuh.
"Kami tidak tahu" ucap seorang warga
"Tidak mungkin kalian tidak tahu mereka kemana! cepat katakan saja di mana mereka kalau masih ingin hidup" ucap teman Keimu
"Memangnya kau siapa memerintah kami seenaknya!" sahut pemuda desa.
Keimu dan temannya itu tertawa keras.
__ADS_1
"Aku adalah calon Jendral di kerajaan Xiao namaku Suha" ucapnya sombong.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya maju dengan tergopoh-gopoh menerobos warga lainnya. Wanita itu menatap Putri Lie dengan terkejut berteriak.
"Lepaskan putriku dia bukan Permaisuri Jun" ucap wanita paruh baya itu.
Semua warga memperhatikan dengan seksama wajah Putri Lie yang sedang di cekik oleh Suhi. Memang berbeda wajahnya dengan yang mereka lihat sebelumnya.
Keimu dan Suhi yang mendengar ucapan wanita tua itu langsung marah.
"Siapa kau wanita tua? jika dia bukanlah Permaisuri lalu mengapa pakaiannya lebih bagus dari kalian semua dia juga bersantai di balai desa dengan banyak makanan" ucap Suhi
"Tidak dia putriku, aku yakin itu dia Centilani putriku" teriak ibu itu.
Keimu semakin marah karena merasa sedang di permainkan.
"Cepat katakan siapa kau sebenarnya atau kau mati saat ini juga" teriak Keimu
"Aku Permaisuri yang sebenarnya dan aku tidak mengenal wanita tua itu" ucap Putri Lie gemetar.
"Kau dengar wanita tua, dia bukan putrimu jadi jangan bermimpi terlalu jauh" ucap Suhi sinis.
Keimu dan Suhi memutuskan untuk pergi karena tidak menemukan apa yang mereka cari, tetapi dapat sesuatu yang bisa di jadikan senjata.
Namun belum sempat ia dan temannya pergi sebuah suara sudah mengitrupsi pendengarannya.
"Tidak perlu menunggu nanti, aku disini"
Semua orang melihat ke sumber suara di belakang mereka. Orang itu ternyata Pangeran Jun yang datang dengan semua pengawalnya serta Mino dan tabib Ode yang sudah bersama keluarga mereka.
Keimu menatap Pangeran Jun tidak suka, apa lagi jika ingat dengan apa yang telah di lakukan Pangeran Jun dengan bendungan dan gubuknya.
"Oh, jadi kaulah Pangeran Jun itu, aku tidak menyangka jika keponakanku sudah sebesar ini. Kemarilah keponakanku sambut pamanmu yang meindukanmu ini" ucapnya sinis
"Aku tidak tahu jika punya paman jadi jangan mengatakan sesuatu tanpa bukti" sahut Pangeran Jun.
Putri Lie yang melihat Pangeran Jun di sana langsung memanggilnya minta tolong.
"Yang Mulia tolong aku" ucap Putri Lie sedikit berteriak.
Pangeran Jun kaget saat mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan itu, Pangeran Jun menajamkan penglihatannya lagi untuk melihat lebih jelas siapa wanita yang memakai pakaian seperti istrinya itu.
"Kau ingin menyelamatkan Permaisurimu ini Yang Mulia! tidak semudah itu jika kau tidak menurut padaku" kata Keimu.
Sedangkan Pangeran Jun masih menatap wanita di dekapan Suhi itu, postur tubuhnya berbeda, suaranya juga berbeda apa lagi wajahnya. Ah, Pangeran Jun ingat siapa wanita itu, kenapa dia memakai pakaian istriku? batin Pangeran Jun.
__ADS_1
"Bagaimana Jun? kau pilih menurut atau istrimu mati" ucap Keimu memberi pilihan.
"Bagaimana jika dia bukan istriku? apa kau akan tetap membunuhnya?" tanya Pangeran Jun santai meski otaknya sedang memikirkan kemana istrinya pergi.
"Aku akan tetap membunuhnya sebagai jaminan" jawab Suhi.
Tangan Pangeran Jun bergerak, semua pengawalnya membawa pergi warga menyingkir dari sana.
Keimu memukul Putri Lie palsu itu hingga pingsan karena marah, ternyata ia memang sudah kena tipu muslihat dari Pangeran Jun. Apa yang di katakan wanita tua itu benar, ini palsu batin Keimu dengan tangan yang ia kepal kuat.
"Jadi kau menipuku dengan Permaisuri palsu ini, huh kau akan tahu akibat dari kemarahanku" ucap Keimu menggertakkan giginya.
"Benarkah, ayo kita buktikan" tantang Pangeran Jun.
Keimu melirik pada Suhi dan memintanya maju lebih dulu. Suhi langsung maju menyerang Pangeran Jun, Jie sempat meju namun karena isyarat Pangeran Jun ia mundur lagi dan membiarkan tuannya bertarung.
Suara pedang saling bersahutan dan warga yang penasaran ingin melihat jadi penonton. Pangeran Jun dan Suhi bertarung di tengah-tengah warga yang melihat aksi mereka.
Dalam beberapa kali pukulan Suhi sudah jatuh tersungkur di hadapaan Keimu dengan wajah lebam dan berdarah. Pangeran Jun sendiri belum terkena pukulan sama sekali.
Keimu yang sudah gerampun maju menyerang dengan gerakan cepat, namun masih dapat di atasi dengan mudah oleh Pangeran Jun. Serangan demi serangan di berikan Keimu namun tidak melukai Pangeran Jun sedikitpun.
Hal itu semakin membuatnya marah, ia kembali menyerang dengan pedangnya namun tangannya yang lain meraih pisau yang ia sembunyika di pinggang untuk melukai Pangeran Jun.
Keimu memberi pukulan keras pada pedang Pangeran Jun tetapi tetap tidak dapat menjauhkan pedang itu dari si pemilik. Saat Pangeran Jun menghempaskan pedang milik Keimu, lengannya tergores pisau dari milik Keimu.
Melihat luka yang mengeluarkan darah itu membuat Keimu sangat senang karena berhasil melukai Pangeran Jun. Ia kembali menyerang dengan brutal hingga Pangeran Jun sedikit tidak mampu mengimbanginya akibat luka di lengannya yang cukup dalam.
Hampir saja Pangeran Jun terkena sayatan lagi kalau saja seseorang tidak menyerang Keimu hingga menjatuhkan pisaunya. Tusuk rambut kecil dengan atasnya berbentuk bunga persik menancap di pergelangan tangannya yang memegang pisau.
Tentu saja Pangeran Jun tahu milik siapa itu karena ia membelikannya untuk istri tercintanya sebelum mereka pergi ke kediaman Jendral Han.
Keimu mengerang kesakitan dan memegangi tangannya yang terluka lalu mencabut tusuk rambut itu. Ia melihat benda yang melukainya dan mencampakkan begitu saja.
"Siapa yang berani menyerangku? keluar jangan bersembunyi!" teriak Keimu
"Siapa yang menyuruhmu bermain licik maka kelicikan juga yang akan membunuhmu" ucap suara di dekat Suhi.
Pangeran Jun melihat wanita dengan penutup wajah di sana sedang mengikat Suhi yang sudah tidak sadarkan diri. Keimu mengambil pedangnya lagi dan menyerang wanita itu karena sudah mempermalukannya.
Namun aksinya di hadang Pangeran Jun yang langsung menyerangnya juga, mereka kembali berperang dengan menahan sakit dari luka di tangan masing-masing.
Karena tidak dapat menghindar dari serangan Pangeran Jun, akhirnya Keimu terluka di bagian dadanya dan ambruk seketika dengan darah yang membasahi tubuh depannya.
Pangeran Jun berlari mendekati wanita yang masih berdiri jauh di depannya dan segera memeluknya erat setelah dekat. Aroma yang tidak asing lagi baginya itu semakin membuatanya senang karena istrinya baik-baik saja.
__ADS_1