
Seperti ucapan Pangeran Jun yang mengatakan akan kembali ke kota maka siang ini mereka bersiap akan pergi kembali.
Jendral Han dan Pangeran Jun lebih dulu menemui Mino sebagai kepala desa dan juga kepala penjaga desa.
"Jaga keamanan baik-baik jika terjadi sesuatu laporkan sejujurnya agar kita punya kesiapan lebih matang untuk menghadapi musuh atau apa pun yang mengacau ketenangan" ucap Pangeran Jun dingin.
"Baik Yang Mulia Pangeran kami akan laksakan perintah sebaik mungkin" jawab kepala penjaga hormat.
"Untukmu Mino, desa ini tanggung jawabmu jadi kau harus bisa mengatur ekonomi dan memberi kemakmuran untuk wargamu di sini. Kembalikan keadaan seperti semula dan gunakan persediaan makanan sebaik mungkin hingga desa bisa memiliki makanan lagi untuk kedepannya. Yang lebih penting asah keterampilan warga berdasarkan kemampuan masing-masing agar tidak menjadi perusak" lanjut Pangeran Jun menusuk bagi Mino yang tahu akan kejadian kemarin.
"Maafkan sikap warga saya yang tidak sopan pada Yang Mulia dan Permaisuri, saya akan menerapkan disiplin dan kesopanan serta kerja keras untuk warga saya agar kejadian serupa tidak terulang lagi" sahut Mino menunduk malu.
Apa lagi setelah kejadian semalam membuat pangeran kerajaan mereka itu pulang secepat ini dan meninggalkan semua agenda yang sudah ia buat untuk desa Ruhai pikir Mino.
Pangeran Jun hanya bergumam menanggapi ucapan Mino, baginya yang terpenting sekarang membawa Permaisurinya pulang untuk mewujudkan impiannya.
Putri Lie yang sudah bosan menunggu di dalam kereta kuda akhirnya turun keluar. Ia melihat suami dan ayahnya yang masih berbincang dengan Mino dan seorang yang tidak di kenalinya.
Panglima Min yang sedang berdiri di samping kuda kesayangannya hanya tersenyum geli melihat wajah bosan adiknya yang sudah lama menunggu itu.
"Lama ya suamiku padahal pengen di manja-manja" ejek Panglima Min dengan suara yang di buat centil dan manja.
Putri Lie semakin kesal mendengar ejekan kakaknya itu, apa lagi trio macannya sang suami ikut tersenyum meski di tahan oleh mereka yang tudak ingin kena hukum lagi.
"Suamiku… Oh salah, honey ayo kita jalan aku sudah bisan menunggu" teriak Panglima Min pada Pangeran Jun dengan menirukan gaya bicara adiknya jika bersama sang suami.
Semakin bertambah kesallah Putri Lie di buat tingkah kakaknya yang konyol itu, sifat dinginnya memang tidak berlaku untuk keluarganya apa lagi adiknya. Ketiga pengawal Pangeran Jun yang merasa memiliki teman baru pun ikut bersuara.
"Ayo pulang suami tampanku" teriak Jei manja
"Kamu jahat sudah membuatku menunggu lama" lanjut Jie dramatis
"Suamiku tercintaa, honeyku tersayang kamulah satu-satunya kekasihku, pujaan hatiku, idamanku, Pangeran tampanku ayo peluk aku" sambung Tei dengan gaya centil dan konyolnya.
Warga yang datang untuk melihat kepulangan mereka jadi tertawa karena aksi dari pengawal pribadi sang pangeran yang lucu menurut warga.
__ADS_1
Pangeran Jun sendiri sudah sangat malu dengan sikap konyol trio macannya itu yang berani menggodanya dengan nada menjijikkan menurutnya lain halnya jika sang istri yang memanggilnya seperti itu ia pasti senang.
Namun yang terjadi dengan istrinya adalah wajah yang sudah sangat kesal dan menahan amarah yang memuncak. Pangeran Jun mendekati Putri Lie dan mengecup pipinya lembut lalu membawanya masuk ke dalam kereta kuda.
Jendral Han mendekat pada keempat pemuda gagah yang sudah berubah jadi setengah mental itu. Ia menatap mereka satu-satu sambil menggeleng heran.
"Tidak malu dengan wajah sangar dan otot kalian yang kuat itu, menggelikan" ucapnya sambil bergidik merinding.
Keempat orang itu hanya diam saja, tetapi bagi Jei, Jie dan Tei sudah di pastikan akan kena hukuman atau pencerahan dari tuan mereka yang sudah memberikan lirikan tajam sebelum masuk kereta kuda tadi.
Tamatlah sudah riwayat kita batin mereka.
Kepala Pangeran Jun muncul dan melihat pengawalnya yang belum bersiap untuk pergi.
"Apa kalian ingin tinggal di sini?" tanya suara dingin dan datar mengangetkan ketiganya.
Mereka menoleh dan mendapati tuan mereka yang dengan wajah dinginnya yang sarat akan tanya. Segera saja mereka nmenaiki kuda masing-masing dan mengambil posisi di samping dan belakang kereta kuda.
Jendral Han dan Panglima Min berada di depan dengan Nam pemandu jalan mereka dengan posisi paling depan dari mereka.
Beberapa langkah mereka melaju dari belakang sudah terdengar teriakan seorang wanita yang memanggil Pangeran Jun dengan berlari mendekat.
Rombongan Pangeran Jun berhenti dan melihat siapa yang berteriak itu. Ternyata dia adalah Centilani, wanita itu berlari tergopoh-gopoh mengejar kereta kuda Pangeran Jun.
Putri Lie yang sudah tahu kedatangan wanita itu jadi dingin seketika, sungguh banyak resikonya jika memiliki suami tampan karena pelakor bertebaran dimana-mana batin Putri Lie.
Pangeran Jun tidak turun hanya mengisyaratkan pada Jie untuk menghampiri wanita itu. Jie turun dari kudanya dan mendekati wanita yang mengganggu perjalanan mereka.
"Ada masalah apa nona?" tanya Jie langsung.
Centilani mengatur nafasnya yang masih tersengal karena berlari, setelahnya baru bicara.
"Mana Yang Mulia Pangeran? ada inginku katakan langsung pada beliau" katanya mendekati kereta tapi di halangi Jie.
"Jangan sembarangan nona anda katakan saja apa masalahnya nanti saya sampaikan" tawar Jie.
__ADS_1
Centilani yang ingin segera bertemu Pangeran Jun berdecak kesal karena di halangi.
"Minggir ini masalah serius dan harus di sampaikan langsung" kekehnya mencoba menerobos.
Jie paasang badan menghadang wanita yang keras kepala itu agar tidak mengganggu tuannya.
"Mengertilah nona, Yang Mulia sedang menemani Permaisuri Jun istirahat tidak bisa di ganggu" ucap Jie
"Aku tidak perduli yang penting aku harus bertemu dengan beliau" paksa Centilani.
Jendral Han ingin turun namun di tahan Panglima Min yang memilih turun sendiri dan melihat apa yang terjadi. Ia menghampiri dua orang yang sedang adu dorong itu.
"Ada apa ini?" tanyanya datar.
Centilani di buat sangat kagum melihat Panglima Min yang berdiri di hadapannya dan menghampirinya langsung. Sangat tampan tidak kalah dengan Yang Mulia batinnya senang.
"Wanita ini memaksa untuk bertemu Yang Mulia Pangeran, Panglima" jawab Jie.
Panglima Min mengalihkan pandangannya pada wanita yang di maksud Jie itu. Pandangan memuja sangat terlihat jelas di wajahnya yang masih bengong itu.
"Ada apa nona?" tanya Panglima Min lagi.
Centilani tersadar dari bengongnya dan menjadi salah tingkah karena mendengar suara dari Panglima Min.
"Tidak, saya hanya ingin berterima kasih pada Yang Mulia Pangeran karena sudah membantu kami" ucap Centilani bohong yang sebenarnya ia ingin ikut ke kota bersama mereka dan menjadi pelayan di kediaman sang pangeran agar bisa mendapatkan hatinya.
Namun setelah melihat Panglima Min ia jadi mengubah kalimatnya. Ketampanan Panglima Min sudah mengalihkannya dari obsesi terhadap Pangeran Jun. Meski sama-sama dingin tetapi Panglima ini lebih baik dari Pangeran Jun yang sudah tidak mungkin di dekati pikir Centilani.
Panglima Min sangat bosan melihat para wanita yang selalu mengaguminya seperti itu, apa lagi dia tahu jika wanita di depannya memiliki niat lain terhadap keluarga adiknya. Jadi dia langsung pamit pergi saja dari sana.
"Maaf perjalanan kami masih jauh jadi harus segera jalan, permisi nona" ucap Panglima Min berlalu bersama Jie.
Mereka meneruskan perjalanan dan meninggalkan Centilani yang masih dengan lamunannya karena di ajak bicara oleh Panglima Min.
Sedang Pangeran Jun sudah mendekap istrinya dengan hangat dalam pelukan sesuai permintaan sang istri yang ingin selalu di peluk olehnya.
__ADS_1