Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
49


__ADS_3

Hari ini semua warga keluar dari balai untuk memperbaiki dan membersihkan rumah serta seluruh desa yang kotor akibat air yang sempat membanjiri desa Ruhai ini.


Pangeran Jun sendiri sedang mendengarkan laporan dari Wuse tentang pekerjaannya tadi malam.


"Saya sudah mencampurkan obat itu pada air minum mereka Yang Mulia dan saya juga sudah mendapatkan info tentang mereka yang akan menyerang hari ini ke desa" jelas Wuse


"Lalu apa lagi?" tanya Pangeran Jun


"Kemarin malam saat di tengah jalan kami melihat ada anggota dari kelompok hutan Barat yang menuju air terjun Ruhai dan setelah kami ikuti ternyata mereka akan mengambil sesuatu di gubuk yang sudah hanyut itu. Keimu memiliki banyak barang rahasia di dalamnya tetapi sudah musnah semua terbawa air" jawab Wuse.


Pangeran Jun tersenyum miring mendengar penjelasan dari Wuse yang lebih dari ekspetasinya. Untuk soal penyerangan yang akan di lakukan Keimu, Pangeran Jun memang tidak terlalu khawatir dan cemas.


Obat itu pemberian dari Putri Lie ketika mereka baru merencanakan penjebolan bendungan. Menurut istri tercintanya, obat itu bisa membuat tubuh panas hingga timbul gatal-gatal yang tidak tertahankan.


Meski sempat ragu namun ia percaya dengan saran Putri Lie yang mengatakan jika menghadapi musuh tidak selamanya harus menggunakan kekuatan dan taktik tetapi juga kelicikan. Pangeran Jun ingin tahu seberapa ampuh obat dari istrinya itu.


Pangeran Jun kembali memanggil Wuse dan teman-temannya.


"Wuse, bawa teman-temanmu pergi ke hutan Barat lagi dan jangan terlalu dekat dengan tempat mereka, awasi gerakan mereka dan cari tahu di mana tempat di sekapnya orang-orang dari desa ini" ucap Pangeran Ju


"Baik Yang Mulia, apa kami juga harus membebaskan mereka?" tanya Wuse


"Iya tapi setelah mereka pergi dan tempatnya lengah" ucapnya lagi.


Wuse langsung pergi dengan teman-temannya kembali lagi ke hutan, Pangeran Jun menatap Mino yang juga sedang menatapnya dengan rasa haru namun di abaikannya karena ada hal penting lainnya.


Mino mendengar ucapan Pangeran Jun dengan anak buahnya yang memerintahkan mereka untuk menyelamatkan keluarganya. Ia sangat senang dengan kabar tersebut karena akhirnya memiliki kesempatan berkumpul lagi dengan keluarga


Putri Lie sangat sibuk membantu warga menata lingkungan hingga tidak memperhatikan Pangeran Jun yang sudah di belakangnya. Ketika berbalik badan, Putri Lie menabrak sesuatu yang keras di belakangnya.


Hampir saja tangan Putri Lie mendarat pada wajah tampan orang tersebut karena berani menyentuhnya, jika saja tidak di lihatnya lebih dulu siapa orang itu maka sudah di pastikan wajahnya akan memiliki tato gratis.


"Kamu ingin memukulku sweetyy, tega sekali" ucap Pangeran Jun menelusupkan wajahnya pada bahu sang istri


"Siapa suruh buat kaget, tiba-tiba muncul di belakang begitu saja" gerutu Putri Lie.


Pangeran Jun hanya tersenyum mendengarnya, lalu ia meneratkan pelukan pada tubuh Putri Lie dan menyampaikan sesuatu.


"Aku akan pergi sebentar, kamu tetaplah di sini bersama yang lain" ucap Pangeran Jun


"Kamu akan pergi, kemana?" tanya Putri Lie

__ADS_1


"Musuh akan menyerang dan aku harus menghadang mereka di perbatasan hutan agar tidak mencelakai warga karena perang di sini" jelasnya.


Putri Lie tampak ragu untuk mengiyakan tetapi jika tidak mengiyakan pun suaminya itu tetap pergi. Ia paham dengan kekhawatiran Pangeran Jun pada warga desa yang belum sepenuhnya pulih namun sudah beraktifitas membersihkan desa.


"Baik aku akan tetap di sini kamu berhati-hatilah di sana" ucap Putri Lie.


Pelukan mereka terlepas dan satu kecupan mendarat pada pipi Pangeran Jun.


"Untuk penyemangat dan vitamin buat kamu" ucap Putri Lie tersenyum manis.


Pangeran Jun membalas dengan mengecup kening istrinya mesra, lalu memandangnya. Ada rasa tidak nyaman saat akan meninggalkan Putri Lie di desa tetapi ia harus segera pergi.


"Jei dan Tei akan menemanimu di sini juga ada beberapa pengawal lainnya, jika terjadi sesuatu mereka akan melindungimu" ucap Pangeran Jun


"Tidak perlu, kamu lebih membutuhkan mereka untuk menambah kekuatan bukan!" ucap Putri Lie


"Kamu lupa siapa suamimu yang tampan ini sweetyy, tenanglah aku akan segera kembali" katanya.


Pangeran Jun kembali mengecup kening Putri Lie lalu menatap kedua pengawalnya, setelah mendapat anggukan dari keduanya barulah Pangeran Jun pergi dengan Jie dan pengawal lain yang sudah di tentukan.


Putri Lie terus memandangi kepergian Pangeran Jun yang di ikuti Mino dan tabib Ode. Ada sedikit rasa khawatir mengetahui kedua orang itu pergi dengan suaminya karena mereka berdua penyebab kerusakan desa.


Namun ia percaya dengan Pangeran Jun yang dapat mengatasi semuanya dengan baik, ia hanya berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.


"Yang Mulia sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik sebelum pergi Permaisuri jadi khawatir" ucap Jei


"Benar Permaisuri jangan khawatir, kami berdua akan selalu setia" ucap Tei melantur.


Jei menjitak kepala temannya yang aneh itu agar tidak bicara sembarangan karena ada Mei di sana, ia takut jika Mei akan mengatakannya pada tuan mereka dan membahayakan bagi mereka berdua.


Padahal orang yang sedang di takutkan akan melapor itu sedang santai membersihkan pakaian Putri Lie yang kotor.


Sementara di hutan Barat


Keadaan di sekitar paviliun itu sangat sepi bahkan seperti tidak berpenghuni sama sekali. Wuse dan teman-temannya menunggu beberapa saat lagi namun tetap tidaj ada pergerakan ala pun.


Akhirnya mereka memutuskan mendekat pada paviliun dan mendengar suara rintihan dari dalamnya. Karena penasaran Wuse mengintip dari salah satu tempat yang dekat jendela.


Orang-orang di dalamnya sedang menggeliat-geliat dan menggaruk seluruh tubuh mereka menggunakan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa gatalnya. Meski sempat bingung namun Wuse paham dengan situasinya, ia ingat dengan obat yang di masukkannya ke dalam air minum mereka tadi malam.


Wuse kembali pada teman-temannya dan meminta mereka menyebar untuk mencari tempat yang memungkinkan untuk penyekapan. Sedang ia sendiri tetap mengawasi dan mencoba mendengarkan apa yang mereka katakan.

__ADS_1


Samar-samar suara mulai terdengar dari dalam paviliun itu, meski tidak jelas tetapi ia dapat memahami apa yang mereka ucapkan.


"Apa yang terjadi pada kita mengapa jadi begini?" ucap sala satunya


"Tidak tahu" jawab lainya


"Kita tidak punya obat untuk penyakit menyiksa ini? aku sudah tidak tahan lagi" sambung temannya


"Ketua dan bos sedang pergi ke desa untuk meminta obat pada tabib Ode" ucap yang satunya.


Mendengar hal tersebut tentu mengejutkan bagi Wuse, ia berharap jika kedua orang yang di sebutkan dari dalam tadi bertemu dengan tuannya di perbatasan hutan dan desa.


Tidak lama kemudian datanglah teman-teman Wuse.


"Ada bilik kecil di belakang dan seperti ada orang" ucap salah satunya


"Mungkin mereka di sekap di sana!" lanjut yang lain


"Sebarkan obat bius ini di dalam dari jendela dan sisanya bebaskan orang-orang itu" ucap Wuse.


Mereka bergerak cepat menyelesaikannya karena ada kabar yang harus segera di samapikan pada sang tuan. Setelah itu mereka meninggalkan peviliun dengan membawa dua orang wanita dewasa dan satu anak kecil.


Wuse dan satu temannya memilih meninggalkan yang lain untuk melapor lebih dulu, sedang lainnya membawa keempat orang itu kembali kedesa.


Perbatasan desa Ruhai dan hutan Barat


Pangeran Jun meminta pengawalnya untuk bersembunyi lebih dulu agar tidak terlihat musuh. Lama mereka menunggu tapi tidak ada tanda-tanda musuh muncul, Pangeran Jun mulai memikirkan hal yang mungkin terjadi pada mereka. Apa sudah bereaksi? cepat juga batinnya.


Tiba-tiba seseorang muncul di hadapan Pangeran Jun, mereka semua yang kaget langsung mengepungnya tetapi melihat Wuse lah yang muncul semuanya kembali ke tempat semula.


"Yang Mulia kami sudah membebaskan ketiga orang dari dalam hutan" ucap Wuse


"Mana mereka?" tanya Pangeran Jun


"Kembali kedesa dengan beberapa teman kami tetapi ada yang lebih penting Yang Mulia" wajah Wuse terlihat sangat serius hingga Pangeran Jun juga serius.


"Katakan saja" ucapnya


"Ketua kelompok hutan dan Keimu tidak ada di sana, mereka kembali ke desa" penjelasan Wuse membuat Pangeran Jun di landa ke khawatiran besar.


Pasalnya orang yang sedang mereka hadapi bukan sembarangan, menurut ayahnya Keimu orang licik yang dapat membunuh siapa saja yang merusak rencananya.

__ADS_1


Segera saja Pangeran Jun membawa kembali pengawalnya kedesa karena ia takut terjadi sesuatu di sana, meski ia sudah menugaskan pengawalan juga ada Jei dan Tei. Tetap saja rasa khawatir itu sangat besar ia rasakan untuk istrinya.


__ADS_2