
Pengawal masuk membawa orang yang menyerang Putri Lie dan Pangeran Jun.
Pria itu di hadapkan pada raja di tengah-tengah aula.
Raja Xiao cukup kaget saat melihat siapa yang melakukan penyerangan pada anak dan menantunya. Tanda pada wajahnya sudah menjelaskan semuanya siapa yang malakukannya.
"Siapa namamu?" tanya Raja Xiao dingin membuat suasana sangat mencekam karena baru kali ini raja bersikap seperti itu.
Nampaknya kali ini raja benar-benar marah besar atas penyerangan pada menantunya yang sedang mengandung.
Orang itu diam tanpa menjawab pertanyaan raja.
"Siapa namamu?" tanya raja sekali lagi.
"Cambuk dia 30 kali sekarang juga" lanjutnya.
Pengawal datang membawa cambuk yang diterima oleh Jei juga Tei. Suara antara kulit yang beradu dengan tali cambuk menggema dalam aula.
Siapapun yang mendengarnya akan dapat merasakan bagaimana sakitnya. Orang yang menerimanya hanya memejamkan mata seraya meringis pelan.
"Masih tidak mau bicara?" tanya hakim Zhang yang mendekati orang tersebut yang tetap bungkam.
"Cambuk dia lagi"
Seluruh tubuh pria itu penuh dengan memar bahkan darah nampak mengalir dari belas cambukan itu.
Para pejabat meringis melihat keadaan yang terjadi didepan mereka. Hukuman yang langsung diberikan pada seorang penyerang.
Berbeda dengan Putri Lie yang justru terlihat senang karena pertunjukan didepan matanya yang tanyang secara live. Bahkan tangannya justru gatal ingin melakukan sendiri cambukan pada orang itu.
"Yang Mulia Raja orang ini masih tidak mau bicara juga, apa yang harus kita lakukan agar dia buka mulut? " ucap hakim Zhang.
"Buhun dia sekarang" ucap Raja Xiao, ia sudah memikirkan cara lain untuk mencari sendiri masalah yang sebenarnya.
"Maaf ayah bolehkah aku bicara?" seru Putri Lie yang sudha gemas dengan bungkamnya pria itu.
"Mau bicara nak? silahkan saja tidak ada yang melarang" ucap Raja Xiao mengubah nada suaranya jadi lembut karena tidak mau membuat menantunya merajuk padanya juga.
"Begini ayah, menurutku lebih baik jangan membunuhnya langsung"
__ADS_1
"Kenapa begitu?" suara Pangeran Jun menyela ucapan ayahnya.
"Lebih baik siksa saja sampai dia mati supaya lebih menyenangkan"
"Caranya?"
"Pohon mangga didepan paviliun Saga banyak semutnya, sarangnya juga besar jadi lebih baik dia diikat dekat sarang semut itu aja.."
"Gantungnya kepalanya yang dibawah trus kakinya diatas, semutnya pasti seneng tuh karena ada sumber makanan yang dekat jadi nggak jauh-jauh kalau cari makan" ucap Putri Lie senang.
Semua pejabat juga orang yang mendengarnya jadi tercengang karena ide Putri Lie sangat menyiksa jika benar-benar diterapkan. Itu sama saja dengan orang itu meminta kematiannya sendiri, atau memberinya hidup dengan rasa sakit berkepanjangan sebelum kematian.
Tujuan Putri Lie yang sebenarnya hanyalah untuk menakuti orang yang sudah terlihat sangat pucat itu karena ketakutan. Bahkan pohon mangga didepan paviliun mereka saja tidak ada seekor semutpun.
Tapi buahnya lah yang sangat banyak bukan semutnya. Namun sepertinya alibi Putri Lie itu bemar-benar manjur.
"Boleh juga ide kamu.." ucap Raja Xiao
"Pengawal bawa dia seperti yang dikatan oleh menantuku" lanjutnya.
"Jangan! ampuni aku" teriaknya yang tidak ingin merasakan sakit di sekujur tubuhnya hanya karena gigitan semut yang tidak berkesudahan di tubuhnya.
"Ampuni aku Yang Mulia Raja! ampun aku mengaku salah akan ku ceritakan semuanya yang sebenarnya" ucapnya bersujud.
"Jika kau berbohong kami akan menambah hukumanmu dengan memberi ulat bulu pada pohon itu" ucap Putri Lie datar semakin membuat semua orang berdigik ngeri.
"Ampun Permaisuri saya tidak akan berbohong, silahkan cari tahu kebenaran dari apa yang saya katakan ini"
"Baiklah sekarang katakan dengan jelas tanpa berbelit" ucap hakim Zhang.
"Sebenarnya saya bukan dari pulau pengasingan tapi dari sebuah desa terpencil yang sudah tidak berpenghuni juga lama ditinggalkan, nama saya tidak ada.."
"Bagaimana mungkin orang tidak memiliki nama?" sela hakim Zhang
"Jangan coba-coba menipu kami" lanjutnya.
"Tenanglah hakim Zhang dengarkan penjelasannya dulu" ucap Raja Xiao.
"Maaf Yang Mulia Raja saya hanya takut dia berbohong"
__ADS_1
Raja Xiao mengangkat tangannya pertanda tidak ada yang boleh menyela ucapan orang itu lagi.
"Lanjut"
"Semua bawahan yang berada disana memang tidka punya nama tapi sebelum bergabung dengan mereka nama saya Kiki, kelompok kami awalnya hanya melakukan pekerjaan apapun untuk mendapatkan uang dan tidak jarang juga merampok jika sudah tidak ada yang dapat kami kerjakan lagi.."
"Hingga suatu hari kami merampok gerobak yang membawa sekeluarga yang dikawal dengan arah pulau pembuangan, kami merampoknya karena melihat kedua wanita didalam gerobak itu memakai perhiasan juga berbisik tentang uamg yang mereka bawa.."
"Karena itulah ketua meminta kami untuk menyerang mereka yang hanya dikawal oleh empat orang prajurit, setelah melumpuhkan keempatnya ornag didalam gerobak itu keluar dan berniat melarika diri tapi kami berhasil mencegahnya. Saat kami meminta uang mereka, wanita muda yang didalam sana menawarkan sesuatu pada ketua kami.."
Pria itu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Entah apa yang dikatakan wanita itu hingga ketua menyetujui ucapannya dan memboyong mereka ketempat kami didesa tempat yang kami tinggali. Ketua selalu mengabulkan semua permintaan wanita itu dan sangat memanjakannya begitu dengan permintaan orang tuanya.."
"Mereka bagaikan penguasa di tempat kami yang sudah mengendalikan ketua siapapun dari kami yang melawannya maka akan dihukum berat atau tidak makan sebelum mendapatkan uang yang banyak. Dari sanalah kami menjadi kelompok brandalan yang tidak pandang bulu hingga mampu melukai orang yang tidak bersalah, padahal sebelumnya kami tidak akan melukai orang lain yang tidak membahayakan, merampokpun kami hanya menggunakan ramuan yang membuat orang hilang kesadaran dan tidak banyak yang kami ambil hanya seperlunya saja."
"Wanita dan keluarganya itu merubah jalan kami hingga menjadi penjahat yang sangat sadis" pria bernama Kiki itu menunduk.
"Tolong ampuni saya Yang Mulia Raja, silahkan periksa desa tertinggal di bagian Barat Daya seberang hutan, mereka tinggal disana bangunan paling besar disana merupakan rumah utamanya yang ditempati ketua juga keluarga wanita itu" jelasnya lagi.
"Siapa nama mereka?" tanya Raja Xiao
"Wanita muda itu bernama Yein sedangkan ayah dan ibunya saya tidak tahu karena kami hanya boleh memanggil mereka tuan juga nyonya sedangkan wanita itu tuan putri"
Putri Lie sekarang tahu kenapa penyerangan diarahkan tepat padanya tapi dia masih ingin tahu lebih jelas lagi.
"Apa rencana mereka? sebagai seorang utusan yang bertugas membunuh mereka pasti mengatakan sesuatu padamu yang merupakan motif dari tindakan itu bukan!" seru Putri Lie.
"Kata wanita itu, perempuan yang menjadi permaisuri dari Pangeran dikerajaan ini harus dibunuh atau dia akan menyebabkan kesengsaraan pada semua orang, selain itu ia juga bilang kalau ketua kami boleh menikmati istri dari Pangeran yang sangat cantik itu jika berhasil menculiknya atau mendapatkan banyak kekayaan yang berlimpah jika membunuhnya karena itu akan menjadi cerita besar seluruh pelosok negeri" ucap Kiki.
Pangeran Jun yang tidak terima dengan ucapan Kiki langsung menendangnya hingga terpental kepinggir tempat para pejabat duduk. Darah mengalir dari mulutnya karena tendangan yang tidak main-main Pangeran Jun.
"Pengawal kurung dia dipenjara sampai semua penjelasannya terbukti" teriak Pangeran Jun penuh amarah.
Putri Lie mendekati suaminya saat merasa keadaan sangat tidka kondusif lagi akibat amarah yang bahkan Raja sendiri tidak mampu menahannya. Mirip sekali dengan sikap Putri Lie sekarang yang sulit diluluhkan jika sudah marah kalau apa yang dia inginkan belum dipenuhi.
"Suamiku tenanglah" ucap Putri Lie mengusap lengan suaminya.
Pangeran Jun memeluk pundak Putri Lie membawanya duduk dipangkuannya lalu memluknya posesif sekaligus memberi peringatan pada Perdana Mentei Haki bahwa yang pantas menjadi permaisurinya hanya wanita yanga ada dalam pangkuannya.
__ADS_1