
Putri Lie masih saja terjaga dari tidurnya bahkan matanya seperti tidak menunjukkan tanda-tanda ingin terpejam. Ia hanya terus bergerak-gerak gelisah dalam dekapan Pangeran Jun yang sudah memejamkan matanya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu sweetyy hingga kamu tidak tertidur!" seru Pangeran Jun membuka matanya perlahan
"Maaf aku mengganggu tidur kamu" ucap Putri Lie sedih
"Katakan, apa yang menyebabkan istriku yang cantik ini belum tidur?" tanya Pangeran Jun membelai pipi Putri Lie
"Aku hanya takut jika di sana akan benar-benar banyak gadis cantik" ucap Putti Lie jujur.
"Dimana yang kamu maksud?, apa di selatan!" tebak Pangeran Jun, yang mendapat anggukan Putri Lie
"Ya ampun jadi istriku yang cantik ini tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang tidak masuk akal itu" kekeh Pangeran Jun.
"Itu bukan hal sepele kamu tahu, tidak ada wanita satu pun di dunia ini yang mau berbagi suami, tidak ada istri yang tidak sakit hati melihat suaminya bermesraan dengan yang lainnya sedangkan istri hanya dapat jatah suami satu saja" gumam Putri Lie pelan tetapi masih di dengar sang suami.
Pangeran Jun tertawa mendengar gumaman dari istrinya.
"Aku sudah pernah bilang bukan jika cintaku hanya untukmu dan tidak akan pernah terbagi lagi"
Putri Lie menatap mata Pangeran Jun lekat mencari kebohongan dari mata suaminya. Namun yang ia temukan hanyalah kejujuran dan ketulusan yang menenangkan hatinya.
Pelukan erat di berikan Putri Lie pada Pangeran Jun seakan mengisyaratkan sebuah ketakutan.
"Katakan apa yang masih mengganggumu sweetyy?"
Pangeran Jun membelai rambut Putri Lie dan sesekali mengecupnya
"Aku takut kehilangan lagi seperti kehilangan ibu sedari aku lahir, aku tidak mau kehilangan kamu juga" kata Putri Lie menenggelamkan wajahnya di dada bidang Pangeran Jun.
Tangan Pangeran Jun bergerak mengangkat wajah Putri Lie menghadap padanya dan menatapnya hangat.
"Hanya satu pintaku padamu sweetyy, percayalah akan cintaku"
Kecupan mesra jatuh pada bibir Putri Lie sekilas namun penuh kasih sayang. Akhirnya malam ini mereka lalui dengan perasaan yang sama-sama besar dan saling membangun pondasi kepercayaan demi keutuhan rumah tangga mereka.
Setelah dua hari dalam perjalanan...
__ADS_1
Rombongan Pangeran Jun memasuki daerah Selatan tepatnya di desa Ruhai. Keadaan yang sangat mengerikan menjadi pemandangan pertama yang mereka lihat.
Bagi Pangeran Jun dan bawahannya, pemandangan seperti itu sudah biasa setiap kali musim panas. Tetapi bagi Putri Lie hal tersebut sangat mengejutkannya karena belum pernah ia melihat yang seperti ini parahnya meski musim panas.
Tanah retak, pohon dan tanaman lainnya kering dan mati. Keadaan ini terlihat seperti di padang pasir saja batin Putri Lie.
Melihat adanya rombongan bangsawan yang datang, segera saja para warga desa keluar rumah dan mendekat berharap akan mendapatkan air dan makanan.
Sungguh miris keadaan desa Ruhai ini. Para warga terlihat kurus dan compang-camping karena kekurangan makanan.
Rombongan Pangeran Jun memasuki balai desa di mana pejabatnya berada. Banyak warga yang terkapar karena penyakit yang mendera dan tidak mendapat cukup obat.
Putri Lie keluar dari kereta kuda bersama Pangeran Jun yang menggenggam tangannya erat.
Kepala desa datang mendekati Pangeran Jun dan Putri Lie untuk menyambut di ikuti pejabat desa lainnya
"Hormat Yang Mulia Pangeran, hormat Permaisuri"
Pangeran Jun menganggukkan kepalanya sedangkan Putri Lie tersenyum.
"Bagaimana situasinya?" tanya Pangeran Jun.
"Keadaan semakin memprihatinkan Yang Mulia Pangeran, banyak warga yang terjangkit penyakit gatal-gatal dan bibir yang pecah-pecah. Bahkan anak-anak banyak yang lemah karena kepanasan"
Putri Lie sangat kasihan melihat anak-anak yang berbaring hanya beralaskan kain kumuh. Putri Lie mendekati anak-anak itu dan menyentuh tubuh mereka.
"Suhu tubuhnya tinggi, apa kalian sudah memberinya obat?"
Tabib desa mendekat pada Putri Lie dan memberikan sesuatu.
"Ini obatnya Permaisuri dan hanya ini yang tersisa karena bahan obat sudah habis"
Ketika memengang tempat obat itu, Putri Lie menyadari sesuatu yang janggal dengan obat itu.
Aroma dari obat itu membuat Putri Lie mengernyit bingung, obat apa ini baunya aneh batinnya.
"Masih ada air tidak? kalau ada ambilkan di wadah yang lebih besar dan ambil kain kecil"
__ADS_1
Pejabat desa Yuhi segera pergi mengambil air sesuai permintaan Putri Lie.
"Lihat yang aku lakukan dan setelahnya lakukan hal yang sama pada orang yang suhu badannya tinggi"
Putri Lie mengompres anak kecil yang sangat kurus itu, bahkan bibirnya kering dan pucat. Orang-orang yang sehat langsung melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Putri Lie meski dengan sisa air seadanya.
"Permaisuri, air yang tersisa hanya tinggal satu kendi saja dan itu tidak akan bertahan lama" ucap kepala desa Mino
Pangeran Jun mendekat pada Mino dan Putri Lie yang masih di dekat anak kecil itu.
"Apa tidak ada sumber air lagi? dari mana kalian biasanya mendapatkan air?" tanya Pangeran Jun.
Semua orang desa saling pandang karena bingung harus menjawab apa.
"Maaf Yang Mulia, kami selalu mendapatkan air dari hutan di sebelah Barat desa, di sana ada sumber mata air yang banyak hanya saja…"
Giliran Pangeran Jun dan Putri Lie yang saling pandang dengan kebingungan.
"Hanya saja apa?" tanya Pangeran Jun dan di angguki Putri Lie.
"Di sana ada segerombolan perampok yang sangat ganas, bahkan kami selalu mengorbankan seorang gadis dan harta benda untuk mendapatkan beberapa kendi air.
Sungguh berita buruk yang sangat mengagetkan bagi Pangeran Jun dan Putri Lie yang baru mengetahuinya karena laporan yang di terima pihak kerajaan tidak sesuai dengan apa yang ada di lapangan.
"Apa tidak ada yang tempat lain yang tidak kekeringan?"
"Tidak Permaisuri hanya hutan itu satu-satunya yang tidak kekeringan dan terdekat dengan desa" ucap Mino
Putri Lie segala kemungkinan yang sangat mustahil tidak ada di desa sebesar ini.
"Apa desa ini tidak punya sumber air sendiri?"
Petanyaan Pangeran Jun mengejutkan bagi Putri Lie yang sedang memikirkan hal tersebut, apa dia cenyang atau memang itu yang juga ia pikirkan batinnya.
"Ada Yang Mulia, tetapi sudah di kuasai oleh kelompok yang ada di hutan Barat itu dengan meliarkan harimau di sekitarnya hingga kami tidak ada yang berani mendekat" jelas Mino.
Pangeran Jun merasa bahwa ada yang tidak beres dengan sistem pemerintahan di desa Ruhai ini. Setiap desa dan daerah di kawasan kerajaan Xiao sudah memiliki penjaga masing-masing, tetapi Pangeran Jun bahkan tidak melihat para penjaga itu di mana pun.
__ADS_1
"Baiklah, gunakan dulu air yang ada berikan secukupnya ada warga yang butuh, kami akan kembali dulu mengantar Permaisuri istirahat nanti aku kembali lagi".
Pangeran Jun menggiring Putri Lie untuk keluar balai desa dan menuju paviliun yang sudah di siapkan pelayannya.