
Di aulan kediamana Pangeran Jun...
Saat Putri Lie tiba di sana, semua pelayan dan pengawal mulai berkumpul dan mengambil posisi masing-masing termasuk Hasim yang datang bersama Jei di belakangnya.
Pangeran Jun berdiri di depan dengan tangan yang ia letakkan di belakang tubuhnya, hal itu membuat sang pangeran terlihat semakin berwibawa dan berkarisma.
Bagaimana Putri Lie tidak semakin jatuh cinta kalau begitu caranya, apa lagi tubuh gagahnya yang sangat pelukable dengan wangi menggoda itu membuatnya ingin selalu menempel disana.
Putri Lie menggelengkan kepalanya pelan untuk menyingkirkan pikirannya yang mulai aneh. Sekarang bukan waktunya memikirkan itu batin Putri Lie lalu menarik napas dan mengeluarkannya lagi.
Setelahnya Putri Lie mendekat pada suaminya yang masih memandangi semua bawahannya dengan pandangan dingin dan datar andalannya. Menyadari kedatangan sang istri di aula itu, Pangeran Jun mengalihkan pandangannya pada sang pujaan yang sudah di sampingnya.
Ah, senyuman itu yang selalu membuatnya tidak berdaya pada pesona yang dimiliki istrinya.
Setelah semua berkumpul dan duduk menghadap Pangeran Jun dan Putri Lie, barulah persidangan akan dimulai.
"Bagaimana pekerjaan kalian selama ini?" tanya Pangeran Jun datar.
"Baik Yang Mulia Pangeran" jawab mereka semua.
Lalu Pangeran Jun mengangguk.
"Ada keluhan selama kalian bekerja! katakan saja jangan takut" ucap Putri Lie tersenyum manis agar semua bawahannya tidak takut dan berani mengatakan apa yang mereka rasakan selama bekerja.
"Kami senang bisa bekerja dan mengabdi disini Permaisuri" ucap kepala pelayan Hasim.
"Pelayan dan pengawalku semua, katakan saja apa yang menjadi beban kalian selama bekerja disini, kita sudah jadi satu keluarga di tempat ini jadi terbukalah" ucapan Putri Lie memberi keberanian bagi mereka yang memang banyak keluhan tersembunyi.
"Maaf Yang Mulia Pangeran dan Permaisuri saya harus mengatakan ini, tapi kami mempunyai masalah dan ingin di selesaikan disini hari ini juga" ucap seorang prajurit perang yang masih berkeringat karena baru latihan.
"Katakan saja apa yang kalian inginkan, kami akan mencoba memperbaiki semua keluhan kalian" sahut Pangeran Jun sedikit melunakkan ekspresinya karena mendapat cubitan kecil dari sang istri sebagai kode.
__ADS_1
"Yang Mulia Pangeran, Permaisuri, selama beberapa bulan terakhir ini kami tidak mendapatkan gaji secara utuh atau lebih tepatnya sejak Selir Yein pergi dari sini" ujar seorang pelayan wanita.
"Benar Yang Mulia, gaji kami hanya separuh yang keluar atau bahkan tidak keluar sama sekali, kalaupun ada hanya sedikit tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami di rumah" sambung lainnya.
"Saya bahkan belum mendapatkan gaji sejak dua bulan ini, ibu saya sakit tapi tidak ada uang untuk membeli obat bahkan saya tidak mampu memberikan uang untuk membeli obat" tambah lainnya.
Kepala pelayan Hasim sudah ketakutan di karena ucapan para pelayan itu yang mengakui semua yang mereka dapatkan sejak ia pegang sepenuhnya pembukuan kediaman.
"Yang lainnya tidak ingin menyampaikan apa yang kalian alami sejak tiga bulan terakhir atau mungkin selama bekerja disini!" ucap Putri Lie yang ingin semua bawahannya jujur mengatakan semuanya.
"Permaisuri, kami prajurit kemiliteran jarang mendapatkan makanan, sementara setiap hari kami harus latihan dan gaji kami tidak sampai pada keluarga di rumah" ucap prajurit yang sedikit mengangkat tubuhnya agar terlihat.
"Setiap surat yang mereka kirim selalu menanyakan penghasilan kami selama mengabdi disini, kami selalu ikut berperang setiap ada pemberontak dan menjadi benteng utama ketika ada peperangan besar juga perlawanan musuh. Kami selalu bertaruh nyawa hidup mati di medan perang tapi keluarga kami tidak mendapat apapun dari jerih payah kami selama beberapa bulan terakhir" jelas lainnya.
"Yang Mulia, jika kami tidak bekerja dengan baik maka tidak ada makanan yang kami dapat hingga besok bekerja baik baru dapat makan, tubuh yang sejak awal tidak diberi tambahan tenaga semakin lemah karena bekerja keras tanpa ada makanan yang masuk sebagai tambahan tenaga baru" ucap seorang pria paruh baya yang bekerja dibagaian bersih-bersih.
Tangan Putri Lie terkepal kuat di atas pahanya untuk menahan amarah yang siap meledak saat itu juga. Pangeran Jun menyentuh dan menggenggam erat tangan istrinya yang terkepal lalu mengelusnya kecil untuk melepaskan kepalan yang dapat melukai telapak tangan itu.
"Ada lagi?" tanya Pangeran Jun kembali dingin dan datar karena tidak percaya jika kediamannya lebih mengerikan dari penjara.
"Kenapa kalian tidak minta pada kepala pelayan Hasim? bukankah semua dia yang bertanggung jawab atas gaji dan makanan di sini" ujar Putri Lie semakin memancing ucapan mereka.
"Kepala pelayan Hasim selalu mengatakan jika uangnya ada pada Permaisuri dan belum di berikan padanya jadi tidak bisa menggaji kami dengan layak untuk saat ini" ucap pelayan wanita.
"Kepala pelayan juga mengatakan jika uang yang ada pada Permaisuri di gunakan untuk bersenang-senang hingga uang itu habis, itu sebabnya tidak bisa menggaji kami semua" lanjut lainnya.
BRAK
Pangeran Jun memukul meja dengan keras hingga pecah bagian atasnya karena tidak terima nama istrinya di jadikan alasan dari penggelapan uang yang dilakukan kepala pelayan Hasim.
"Lancang sekali kau menggunakan nama Permaisuri untuk menipu mereka semua, Jei, Jie pergi kekamarnya dan periksa semua yang ada didalam bawa kesini semua yang berharga" marah Pangeran Jun dengan dinginnya.
__ADS_1
Langsung saja kedua orang yang namanya disebut itu pergi menuju kamar kepala pelayan Hasim untuk mengobrak-abrik. Kesenangan yang diberikan itu tidak akan disia-siakan begitu saja oleh keduanya yang suka menghancurkan apapun yang tidak di sukai tuannya.
Putri Lie menatap tajam kepala pelayan Hasim yang menunduk dalam tanpa berani mengangkat wajahnya. Putri Lie mengambil buku yang sempat jatuh itu lalu berdiri dan maju beberapa langkah.
"Bawa dia kesini" ucap Putri Lie dingin dan tajam.
Pengawal langsung menyeret kepala pelayan Hasim kehadapan Putri Lie dengan masih menunduk.
"Mulai hari ini kau bukan lagi kepala pelayan juga melainkan tersangka yang harus dihabisi" kata Putri Lie mambuka ikat kepala yang menandakan tanggung jawab sebagai orang yang mengurus semua yang ada di kediaman itu.
Jei dann Jie datang dengan membawa satu kotak besar yabg berisi beberap barang di dalamnya.
"Permaisuri, kami membawa semua yang berharga dari kamarnya Hasim ini" ucap Jei sedikit menyenggol Hasim dengan kakinya.
"Ini ada banyak perhiasan, permata bahkan uang emas dan perak juga beberapa kain yang mahal" lanjut Jie membongkar isi kotak itu yang memang berisi banyak barang berharga.
Tangan Putri Lie menarik rambut Hasim hingga mendongak menatapnya, mata tajam Putri Lie seakan sudah membolongi diri Hasim yang sudah bergetar ketakutan.
"Kau tahu apa yang mereka rasakan tanpa uang?" tanya Putri Lie marah
"Mereka tidak bisa membeli apapun untuk kebutuha hidup bahkan makanpun sulit, keluarga yang sakit tidak dapat diobati karen uang yang seharusnya mereka dapatkan kau telan sendiri dasar tikus korupsi" Putri Lie melayangkan buku yang ia bawa tadi pada wajah Hasim dengan kuat.
Darah segar keluar dari hidung dan sudut bibir Hasim juga pipinya membiru dan mulai bengkak akibat pukulan itu.
"Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hak orang lain yang sudah kau gunakan untuk semua ini, tidak hanya menggunakan namaku kau juga mengambil semua uangku untuk kau simpan sendiri, jangan kau pikir semua itu tidak akan diketahui orang lain karena sebaik-baiknya bangkai disimpan akan tercium juga baunya, bagitu juga kau yang menyembunyikan semua ini" cecar Putri Lie.
Mereka yang mendengar dan melihat cara Putri Lie membela mereka jadi senang bercampur takut karena kesadisan Putri Lie saat memukul Hasim.
Pangeran Jun mendekati Putri Lie untuk menenangkan agar dapat mengatur emosinya yang sudah membuat pelayan dan pelayan lainnya takut.
"Ada yang ingin kau sampaikan sebelum hukamanmu? mungkin orang yang ada di belakangmu hingga kau berani melakukan semua ini!" kata Pangeran Jun dingin sembari menatap Hasim tidak suka.
__ADS_1
Hasim menunduk lalu kembali mengangkat wajahnya melihat Pangeran Jun dan Putri Lie di depannya.
"Selir Min dan Selir Rou" ucapnya.