
Setibanya digua Selir Nan langsung membuka samarannya lalu memeluk bahagia ibu mertuanya yang kaget dengan keberadaannya.
"Kamu Permaisuri Yun? menantuku?" kagetnya merenggangkan pelukan mereka menatap Wanita muda yang dipanggilnya menantu.
"Iya ibu ini aku, menantumu" jawab Permaisuri Yun menangis lalu kembali memeluk ibu mertuanya.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menjaga ibu kandungmu hingga ia mati terbunuh karena menyelamatkan ibu bahkan ayahmu juga ikut terbunuh karena tidak mau menuruti perintah Raja itu" ucapnya.
"Tidak apa bu yang penting kalian selamat itu sudah membuatku bahagia, sejak awal aku sudah tahu jika ayah dan ibuku sudah tidak ada lagi, itu sebabnya aku sangat ingin menyelamatkan kalian" tangis kedua wanita itu semakin terdengar hingga membangunkan kedua pria yang sedang tertidur.
"Istriku, ibu disini juga?" ucapnya lalu mendekat dan memeluk keduanya diikuti pria paruh baya yang merupakan Raja kerajaan Hun sebelumnya.
Pangeran Jun tersenyum tipis melihat kebahagiaan keluarga Selir Nan alias Permaisuri Yun yang sudah bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.
"Pangeran Jun, terimakasih karena sudah menolong dan banyak membantu istriku juga telah menyelamatkan kami dari penjara itu" ucap Putra Mahkota Yun.
"Tidak masalah Putra Mahkota Yun, kami juga senang bisa membantu, sekarang lebih baik kalian kembali keperbatasan untuk mendapatkan pengobatan lebih layak agar cepat pulih" ucap Pangeran Jun.
"Bagaimana cara kita bisa keluar dari sini jika prajurit dimana-mana sedang patroli?" seru Putra Mahkota Yun.
"Tenanglah pengawalku akan mengantarkan kalian malam nanti agar tidak ada yang melihat kalian keluar dari hutan ini" ucap Pangeran Jun.
"Terima kasih Pangeran Jun" ucap Raja Sae dengan suara lemahnya.
"Aku akan merebut kembali kerajaan kalian dari tangan pria itu untuk dikembalikan pada pemilik sahnya" ucap Pangeran Jun yakin.
"Aku akan segera menyusul kesana setelah memastika keamanan keluargaku Pangeran" sahut Putra Mahkota Yun.
"Baiklah tapi kalau belum pulih sepenuhnya jangan memaksakan dirimu Putra Mahkota Yun" kata Pangeran Jun.
"Aku sudah merasa lebih baik lagi Pangeran, apa lagi setelah melihat ibu dan istriku tekatku untuk mendapatkan kembali kerajaan kami sudah bulat juga untuk membalaskan dendamku atas apa yang sudah dia lakukan pada kami semua" geramnya.
__ADS_1
Pangeran Jun hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya saja. Pikirannya melayang pada sang istri yang berada diistana milik Raja Josep, apa yang sedang kamu lakukan sweetyy batinnya gelisah.
"Aku pergi dulu, kalian tetaplah disini dan Jei! nanti malam antarkan keluarga Raja Sae kepeebatasan bersama Wuse dan mereka" tunjuk Pangeran Jun pada kedua pengawal Putra Mahkota Yun.
"Baik Yang Mulia Pangeran Jun, kami pasti akan membawa tuan kami dengan selamat" ucap keduanya.
"Itu harus" ucap Pangeran Jun dingin.
Setelah mengatakan hal tersebut, Pangeran Jun segera pergi meninggalkan mereka. Ia ingin cepat mengakhiri semuanya agar bisa kembali dengan istrinya yang entah sedang apa saat ini.
Sementara diistana Raja Josep..
Dengan hati yang sangat senang Raja Josep kembali kepaviliunnya setelah memerintahkan semua pelayan dan pengawalnya untuk menyiapkan sebuah pesta besar.
Dilihatnya seorang wanita cantik masih terbaring diranjangnya dengan nyenyak. Raja Josep mendekat dan duduk disamping wanita pujaannya itu.
"Sejak ingatan pemilik tubuh ini masuk dalam pikiranku, aku merasa jika hidupku sedang beruntung karena menjadi raja tapi yang lebih membahagiakan lagi ketika ingatan tentang wajahmu terbayang dalam pikiranku. Kau memang sangat cantik, bahkan dikehidupan masa depanpun kau tetap wanita tercantik yang pernah aku lihat, kalau saja aku tidak terbawa nafsu dendam pada papamu pasti kita tidak akan berpisah. Maaf jika dimasa depan aku menembakmu hingga kita tidak bisa bertemu lagi, aku janji jika kejadian dimasa depan itu tidak akan terulang lagi dan disini kita akan hidup bahagia" ucap Raja Josep lalu mengecup kening wanita itu penuh cinta.
Perlahan wajahnya mendekati Putri Lie, dengan penuh percaya diri Raja Josep semakin mendekatkan diri untuk mencumbu wanita cantik itu. Namun hal lain terjadi hingga menggagalkan niat Raja Josep.
Putri Lie membuka matanya dengan sedikit bersin yang tepat mengenai wajah Raja Josep yang langsung terlihat datar tapi dipaksakannya untuk tetap tersenyum.
"Siapa kau? dimana aku berada?" tanya Putri Lie panik.
"Tenanglah sayang aku ini calon suamimu dan sekarang kamu berada diistanaku" jawabnya dengan senyum manis.
"Tapi aku tidak merasa punya calon suami, dan kenapa aku bisa berada diistanamu? aku mau pulang!" ucapnya takut.
"Tenanglah sayang, kamu hanya terbentur hingga lupa ingatan jika aku ini calon suami kamu, untuk kenapa kamu bisa disini! tentu saja bisa sayang karena dua hari lagi kita akan menikah jadi kamu harus tinggal disini bersamaku" jelas Raja Josep.
Putri Lie terlihat berpikir keras tapi tidak mengingat apapun kecuali sakit kepala yang ia dapatkan.
__ADS_1
"Akh kepalaku sakit!" jerit Putri Lie meringis.
"Jangan paksakan pikiran kamu untuk mengingatnya sayang, itu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri, jalanilah apa yang ada nanti juga kamu ingat dengan sendirinya" kata Raja Josep lalu memeluk tubuh Putri Lie untuk menenangkannya. Aku harap jangan ingat apapun lagi selain aku gumamnya dalam hati.
"Kalau begitu jangan tinggalkan aku ya!" ucap Putri Lie.
"Iya sayang, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian" ucap Raja Josep.
Mereka berpelukan mesra dengan perasaan bahagia. Raja Josep tidak menyangka jika kehidupannya dimasa ini akan seindah negeri dongeng yang menjadi kenyataan.
Ditambah lagi dengan adanya wanita pujaannya yang selalu dia inginkan. Kali ini tidak akan ada yang bisa menghalangiku lagi gumamnya dalam hati dengan senangnya.
Sementara diluar istana, seorang pria sudah menyamar menjadi pengawal penjaga, dengan topi yang menutupi wajah mereka mudah saja baginya untuk menyamar agar tidak dikenali jika dia adalah penyusup.
Langkahnya sangat pasti memasuki istana karena memang pengawal penjaga bebas kemana saja. Apa lagi yang dia ambil pakaianya adalah kepala pengawal jadi bisa pergi dengan alasan mengecek semua anggotanya.
Saat melewati kamar Raja Josep, tanpa sengaja ia mendengar semua percakapan antara istrinya dengan raja itu yang tidak ingin berpisah. Tentu saja itu membuat hatinya panas tidak terkira, jika saja tidak ingat dengan janjinya yang akan mendapatkan kembali kerajaan itu maka ia akan langsung masuk kedalam kamar untuk membunuh raja yang dengan lancang sudah mententuh istrinya.
Entah bagian apa saja yang sudah dia sentuh hingga suara mereka terdengar begitu mesra dan ambigu baginya. Hal itu membuat hati Pangeran Jun semakin panas hingga tidak memikirkan lagi tujuannya yang ingin memata-matai kerajaan itu.
Namun belum sampai ia mendelati pintu, seorang pejabat istana sudah memanggilnya.
"Hay, kepala pengawal!" panggil seseorang dari samping.
Pangeran Jun melihat siapa yang datang mendekatinya lalu ia hanya menundukkan sejenak menyambut orang itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Ketatkan pengamanan karena dua hari lagi kita akan mengadakan pesta pernikahan untuk Raja, juga pengangkatan ratu untuk istri raja nanti" ucap pejabat itu.
"Raja akan menikah? dengan siapa?" tanya Pangeran Jun mulai gelisah namun berusaha menyembunyikannya agar tidak dicurigai.
__ADS_1
"Dengan Permaisuri Jun yang baru diculiknya tadi pagi, jadi cepat perintahkan anak buahmu untuk memperketat keamanan diistana" ucap pejabat itu lalu pergi meninggalkan Pangeran Jun sendiri yang mulai memasang wajah dingin dan datarnya.