Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
76


__ADS_3

Setelah kepergian Selir Nan atau Permaisuri Yun si bunglon kata Putri Lie. Tinggallah sepasang suami istri itu di sana, sadar posisinya yang sudah tidak aman pelan-pelan Putri Lie mencoba kabur.


Tapi ia terlambat karena kalah cepat dengan Pangeran Jun yang sudah memeluknya dari belakang dengan erat. Putri Lie hanya bisa pasrah menerima hukumannya yang pada awalnya memang ia salah paham karena sudah berpikiran buruk tetang suaminya.


"Mau kemana hm? jangan harap kamu bisa kabur lagi Sweetyy!" Pangeran Jun membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri agar dapat menghirup aroma tubuh wanita yang di cintainya itu.


Rasa geli membuat Putri Lie bergerak-gerak tidak nyaman karena kelakuan Pangeran Jun, meskipun ia ingin tapi tidak mungkin karena suaminya sedang sakit.


"Jangan seperti ini! kamu sedang sakit" ucap Putri Lie mengingatkan.


"Memangnya seperti apa? akukan hanya memeluk istriku tercinta karena aku sangat merindukannya" tanya Pangeran Jun.


Wajah Putri Lie memerah, ia pikir suaminya itu menginginkan sesuatu yang selalu di lakukan suami istri. Tapi ternyata dugaannya salah, apa sih yang sudah aku pikirkan? kenapa selalu berpikir yang aneh-aneh? gumam Putri Lie dalam hati.


"Kalau begitu lepas, aku ingin kembali ke paviliunku" Putri Lie mencoba melepaskan pelukan Pangeran Jun yang malah semakin erat dan sulit di lepas.


"Tidak! kamu harus tidur di sini bersamaku hingga seterusnya" ucap Pangeran Jun.


"Maksud kamu apa? aku sudah punya kamar sendiri!" ucap Putri Lie gugup.


"Ayolah Sweetyy! kamu pasti tahu apa maksudku, besok pelayan akan memindahkan pakaianmu kesini juga barang-barang penting lainnya selebihnya tinggal saja" kata Pangeran Jun lalu mengangkat tubuh istrinya di gendongannya.


Putri Lie kaget dengan apa yang di lakukan suaminya itu dan repleks ia mengalungkan tangannya di leher sang suami. Pangeran Jun tersenyum lalu mengecup kening Putri Lie lembut dan membawanya ke ranjang.


"Apa yang kamu ingin lakukan?" tanya Putri Lie dengan wajah yang semakin memerah.


Bukannya menjawab Pangeran Jun malah tersenyum miring yang entah kenapa sangat mengerikan bagi Putri Lie.


Setibanya di samping ranjang barulah Pangeran Jun meletakkan tubuh istrinya perlahan dan ikut naik setelah istrinya berbaring. Pangeran Jun berbaring menyamping agar bisa melihat wajah cantik sang istri yang sangat ia kagumi.


Tangan kirinya menopang kepalanya dan tangan kanannya membelai wajah Putri Lie yang sudah semakin merah itu.


"Kenapa wajahmu memerah istriku tercinta? apa kamu sakit? tanya Pangeran Jun pura-pura khawatir padahal dalam hatinya sudah bersorak senang karena tahu apa yang di pikirkan sang istri.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, iya baik kamu tidak perlu khawatir" gugup Putri Lie yang segera berbalik memunggungi suaminya.


"Sweetyy tidak baik menghindari suami ketika sedang bersama di ranjang!" kata Pangeran Jun.


Kepala Putri Lie menoleh melihat suaminya yang tersenyum itu.


"Maaf suamiku, aku hanya ingin seperti ini sebentar saja" ucap Putri Lie dan kembali pada posisinya lagi.


Pangeran Jun tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya yang menggemaskan itu. Ia tidak akan mengganggu istrinya yang sedang malu itu.


Jadi Pangeran Jun memelilih tidur saja, tidak ada yang bersuara lagi setelah Pangeran Jun tidur. Bahkan Putri Lie masih menetralkan rasa gugupnya agar wajah merahnya segera hilang.


Saat merasa sudah lebih baik, Putri Lie membalik tubuhnya menghadap sang suami yang sudah memejamkan mata. Tangannya bergerak membelai wajah tampan yang selalu ia lihat.


Rindu dihatinya terbayar sudah melihat betapa tampan wajah tenang yang sedang terlelap itu. Putri Lie mengecup pipi suaminya lembut dan sedikit lama lalu ikut tidur juga.


Baru saja matanya terpejam ia sudah merasa ada yang diatasnya. Saat membuka matanya senyuman manis nan menawan sudah menyambutnya di depan mata.


Pangeran Jun yang sebenarnya belum benar-benar tidur ketika istrinya menyentuh wajahnya ia berusaha tenang dan menikmati sentuhan itu. Apa lagi saat kecupan manis sang istri berikan padanya membuatnya tersenyum senang dalam hati.


Tapi ia ingin melakukan sesuatu lebih dulu untuk bersenang-senang dengan istri tercinta. Dengan gerakan pelan Pangeran Jun bergerak dan mengungkung tubuh Putri Lie.


Kedua tangannya di jadikan sebagai penyangga agar tubuh besarnya tidak terlalu menimpa tubuh kecil sang istri yang perlahan mulai membuka matanya.


Pandangan mereka bertemu dan saling menatap penuh cinta. Putri Lie tahu apa yang diinginkan suaminya karena dia juga menginginkannya tapi bisa.


"Kamu sedang sakit bukan! bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa?" seru Putri Lie yang nampak khawatir.


Pangeran Jun tersenyum senang karena perhatian dari sang istri juga kekhawatiran yang memberi semangat lebih untuknya.


"Suamimu ini pria kuat Sweetyy kalau hanya racun dan sedikit luka tidak akan mampu membunuhku, apa lagi ada kamu yang bisa menjadi obat paling mujarap untukku" bisik Pangeran Jun di telinga istrinya seraya menggodanya.


Putri Lie tidak mampu menolak lagi ketika Pangeran Jun mulai menjamahnya dengan lembut yang mampu membuatnya melayang dan lupa diri. Begitupun dengan Pangeran Jun yang sangat menyukai aroma dan kelembutan kulit halus istrinya yang dapat membuatnya mabuk kepayang hingga ingin terus menyentuhnya.

__ADS_1


Sementara di negara sebelah Utara...


Raja Hun sedang menyusun strategi untuk mendapatkan wanita pujaannya yang sudah menjadi milik orang lain. Ia sudah menyiapkan segalanya jika banyak hal akan terjadi termasuk perang.


Banyak prajurit di siagakan di perbatasan terutama perbatasan dengan kerajaan Xiao. Raja Hun akan menyerang jika tidak bisa mendapatkan apa yang di inginkannya, kalau perlu kerajaan Xiao yang besar dan berkuasa itu ia miliki.


Lebih dari 70% pasukan kerajaan ia kirim ke perbatasan Xiao-Hun untuk bersiap jika di panggil kapan saja untuk menyerang. Bahkan persediaan makanan ia timbun di lumbung besar yang akan di bangunnya di sana.


Banyak rakyat yang sengsara karena pajak yang semakin tinggi juga hasil panen dan kebun yang lebih banyak diambil pihak kerajaan demi kebutuhan perang.


Saat ini Raja Hun sedang berada di penjara bawah tanah. Dengan sombongnya ia berjalan mendekati sel yang terdapat dua orang yang di rantai kaki dan tangannya layaknya penghianat.


"Heh sekarang kalian lihatkan siapa yang berkuasa di sini! sekarang kalian hanya tahanan yang akan segera mati" ucap Raja Hun dengan arogannya.


Tangannya menarik rambut pria paruh baya yang sudah terlihat lusuh dan lemah.


"Kau lihat ayah! aku sudah berkuasa sekarang dan nanti aku akan jauh lebih berkuasa lagi setelah bisa mengalahkan kerajaan Xiao, aku akan mengirimkan banyak mata-mata kesana dan menggulingkan kerajaan itu dari dalam dengan menculik wanita yang paling cantik di sana" ucap Raja Hun tertawa keras.


"Kau tidak akan mampu melawan kerajaan Xiao karena kau hanya pengecut yang selalu memanfaatkan orang lain" sahut Mun raja sebenarnya.


"Oh ayahku sayang kenapa kau berkata seperti itu! seharusnya kau doakan aku agar bisa menguasai negara hebat itu. Ah aku lupa jika kau bukan ayahku tapi orang yang sudah membunuh ayahku" Raja Hun menghempaskan kepala Mun begitu saja.


Pandangannya beralih pada Yun di sampingnya.


"Ohoho ini dia Putra Mahkota kita yang rupawan dan berwibawa, tapi kau sangat menyedihkan sekarang, kemana istrimu yang cantik itu kau sembunyikan?" Raja Hun mencengkram rahang Yun kuat.


"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menemukannya, kau hanya orang lemah yang tidak bisa apa-apa selain memerintah orang lain" hina Yun yang membuat Raja Hun marah.


"Kau akan tahu akibatnya karena sudah menghinaku, jika aku menemukan istrimu nanti aku pastikan kau melihat bagaiman aku menikmatinya di hadapanmu" tawa Raja Hun kembali menggema.


Setelah itu ia keluar dari penjara dan pulang keistananya, tapi tiba-tiba banyak panah yang menghujaninya dan prajuritnya. Raja Hun berteriak minta di lindungi hingga banyak prajuritnya yang tumbang akibat panah itu.


Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri selain lari menjauh dari, ia berteriak sepanjang pelariannya berharap dapat pertolongan dari prajuritnya yang berjaga tidak jauh dari tempatnya.

__ADS_1


Tapi sialnya ia terkena panah yang melesat tepat di perutnya hingga ia tersungkur dengan banyak darah yang keluar. Prajuritnya datang setelah Raja Hun tidak sadarkan diri, ia langsung di bawa kembali kekerajaan untuk di obati.


__ADS_2