
Pagi-pagi sekali mereka sudah terbangun dan mulai menyusun rencana kembali.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Yuyu sembari menahan kantuknya.
"Aku dan Juju akan pergi keistana kalian pergilah kepenjara bawah tanah dihutan itu untuk membebaskan sandra, usahakan jangan sampai memancing keributan besar agar tidak terlalu mencolok untuk pihak istana, habisi saja semua penjaga yang ada disana supaya kita tidak repot jika nanti mereka melapor dan membuat penjagaan yang ketat" ucap Lili alias Putri Lie.
"Kita akan bersama Wuse untuk memudahkan rencana kamu yang selalu mendadak dan serba cepat itu" sahut Juju alias Pangeran Jun.
"Baiklah kita bertiga dengan Wuse, kau Jei pergilah bersama mereka dan pastikan Selir Nan kau lindungi" kata Putri Lie.
"Baiklah Permaisuri" sahut Jei memanggil Putri Lie dengan seharusnya karena memang mereka belum beraksi juga agar para prajurit bayangan yang ada disana tidak keliru lagi dengan penampilan maskulin tuan putrinya.
"Tenanglah Permaisuri, aku bisa menjaga diriku sendiri, para pengawal itu harus mati semua tanpa sisa, benarkan!" ucap Selir Nan.
"Yah, untuk raja itu serahkan padaku, aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri" ujar Putri Lie dengan garangnya meski sudah mencoba menahan amarah dan bencinya.
"Permaisuri, apa anda yakin! Raja itu sangat licik meski tidak kuat tapi kelicikannya dapat menghancurkan siapapun" ucap seorang prajurit bayangan.
"Kita lihat saja nanti hasilnya" seringai tajam Putri Lie terlihat sangat menakutkan bagi mereka yang melihatnya tapi Pangeran Jun dapat merasakan besarnya benci juga dendam yang ingin dilampiaskan oleh istrinya ini.
"Baiklah pergilah salah satu dari kalian" tunjuk Pangeran Jun pada prajurit bayangannya
"Sampaikan pada Jie atau Tei untuk menyusun rencana penyarangan pada musuh diperbatasan, katakan juga untuk membakar lumbung makanan dan gudang senjata mereka lebih dulu, kita harus membuat keributan juga diperbatasan sana agar pihak istana kebingungan dengan banyaknya penyerangan. Jadi panggil teman kalian yang lain dan kacaukan setiap perbatasan mereka dengan negara lainnya juga agar tidak mudah mereka menebak siapa yang melakukannya" jalas Pangeran Jun.
"Jangan lupa untuk membunuh Jendral tua bangka itu juga" sambung Putri Lie.
"Baik tuan akan kami laksanakan dengan cepat perintah anda" jawab mereka bersamaan.
Setelah menyelesaikan diskusi, mereka semua berpencar untuk menjalankan pekerjaan masing-masing. Putri Lie, Pangeran Jun dan Wuse melesat cepat keluar dari hutan untuk menuju kota pusat.
Setibanya dikota, ketiganya menuju rumah makan yang tidak terlalu ramai karena hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya saja atau orang yang mampu membayar dengan sangat mahal makanan disana.
Putri Lie memilih tempat ini karena yakin akan mendapatkan banyak informasi dari sana yang memang sangat tertutup dari luaran. bahkan setiap antar meja terdapat sekat yang tinggi agar tidak ada yang tahu siapa yang ada didalam tempat itu.
Pangeran Jun, Putri Lie dan Wuse mendapat tempat yang lebih ketengah karena pelayannya yang membawa mereka kesana. Namun apa yang diharapkan oleh Putri Lie menjadi kenyataan karena ternyata orang yang menempati meja sebelah mereka adalah pejabat-pejabat istana.
Dengan mudahnya mereka mendengarkan apa yang jadi topik pembahasan para pejabat itu.
"Kudengar Raja Josep akan memerangi kerajaan Xiao" terdengar mereka mulai berbicara.
__ADS_1
"Iya, Raja kita menginginkan Permaisuri Jun yang sangat cantik itu"
"Kalau itu bukan hanya raja kita saja tapi juga hampir setiap pria menginginkannya sejak kejadian waktu itu dikerajaan Xiao yang menyebabkan penutup wajahnya tanggal dan menampakkan kecantikannya yang sangat sempurna"
Mendengar ucapan mereka yang menginginkan sang istri membuat Pangerna Jun meradang namun harus tetap menahannya dengan cara menggenggam tangan istrinya erat.
"Aku juga ingin memilikinya jika saja raja tidak lebih dulu bersikeras mendapatkannya"
"Iya bahkan peperangan yang sudah dirancang ini aku dengar menggunakan taktik selip"
"Apa itu taktik selip?"
"Yang aku dengar dengan cara mengirimkan banyak prajurit mata-mata kesana bahkan Jendral Ace juga sudah berada disana"
"Bukankah Jendral Ace ayah kandung Raja Josep? kasihan sekali raja kita terdahulu yang sudah membesarkannya dengan penuh cinta tapi balasan yang ia terima malah seperti itu"
"Tapi sikap Raja berubah setelah ia sembuh dari sakitnya waktu itu, tidak ada selir-selirnya yang ia ijinkan untuk memasuki istana utama, dan yang lebih mengagetkan lagi Raja mampu bertarung padahal sebelumnya iya tidak mampu melakukannya"
Putri Lie tersenyum sinis mendengar ucapan para pejabat itu. Kau akan aku bunuh Josep batin Putri Lie kesal.
"Kemana kita sekarang?" tanya Wuse pelan bahkan terdengar seperti berbisik.
"Apa kita akan menyamar menjadi prajurit lagi?" tanya Wuse lagi
"Tidak, kita akan melakukan sesuatu yang lebih menarik lagi" jawab Putri Lie santai.
"Apa?" tanya Pangeran Jun akhirnya yang sejak tadi dia mendengarkan.
"Kita akan menjadi pembunuh bayaran yang sedang butuh pekerjaan dan mencoba mendekati raja busuk itu untuk membunuhnya secara perlahan" geram Putri Lie.
"Ayo kita bergerak sekarang" sahut Pangeran Jun.
Ketiganya beranjak dari tempat duduk mereka untuk menuju istana tapi ketika dijalan ketiganya melihat seorang yang menggunakan pakaian mewah seperti selir yang dikawal oleh beberapa pengawal dan pelayan.
Benar saja jika orang itu adalah selir dari istana, dengan sombongnya selir itu menginjak seorang pedagang yang tidak sengaja menjatuhkan dagangannya hingga mengenai pakaian mahal wanita itu.
"Maaf Selir Rene, saya tidak sengaja sungguh" ucap pedagang itu.
"Maaf katamu! apa kau tahu jika nyawamu pun tidak mampu untuk membayar pakaian ini!" marahnya lalu memukul pedagang itu.
__ADS_1
Pangeran Jun tiba-tiba membisikkan sesuatu pada Wuse yang berada didekatnya, Wuse segera pergi begitu mendapatkan perintah dari tuannya.
"Apa yang kamu perintahkan padanya?" bisik Putri Lie
"Lihat saja nanti dan ikuti permainanku kali ini" balas Pangeran Jun.
Tidak lama datanglah seorang berbaju hitam menyerang Selir Rene yang sedang menyiksa pedagang itu. Selir Rene terjatuh akibat pukulan pada tengkuknya dari orang itu.
Pangeran Jun menatap istrinya dengan mengedipkan sebelah matanya lalu maju untuk menyerang orang itu. Karena kalah tarung orang berbaju hitam pun pergi begitu saja.
Selir Rene yang sudah lemah akibat pukulan orang tadi langsung dipapah oleh pelayannya sembari mendekati Pangeran Jun.
"Siapa kau?" tanya Selir Rene angkuh
"Aku hanya seorang yang kebetulan lewat saja" jawab Pangeran Jun dingin.
"Lancang kau berbicara seperti itu padaku! kau tahu aku siapa huh?" tantangnya.
"Tidak penting kau siapa, tidak ada pengaruhnya bagiku" sahut Pangeran Jun kemudian mendekati Putri Lie yang sudah bersama Wuse.
Selir Rene yang merasa terhina dengan sikap pemuda itu langsung saja memerintahkan pengawalnya untuk menangkapnya.
"Tangkap orang itu" ucapnya lantang.
Pengawal Selir Rene bergerak maju untuk mendekati Pangeran Jun tapi mundur kembali karena pukulan dari Putri Lie.
"Beginikah caramu berterima kasih pada orang yang sudah menolongmu? sungguh rendah sikapmu ini" cecar Putri Lie meremehkan.
"Siapa kau? untuk apa membelanya hah!" bentak Selir Rene
"Aku temannya, kau sangat tidak pantas menjadi seorang wanita bangsawan ataupun sejenisnya karena sikap bar-bar mu itu sudah menghancurkan harga dirimu juga keluargamy sendiri" ejek Putri Lie.
Wajah Selir Rene sudah memerah karena dipermalukan oleh Putri Lie yang sangat jelas jika menghinanya.
"Kalian harus ikut keistana untuk menemui Raja, dan jangan harap kalian bisa hidup nantinya" marah Selir Rene.
Dengan patuh ketiganya ikut dengan Selir Rene yang menggiring mereka keistana. Pangeran Jun mengedipkan sebelah matanya pada Putri Lie yang baru mengerti maksudnya. Ternyata Pangeran Jun meminta Wuse untuk melakukan penyerangan pada Selir Rene.
Dengan tujuan agar mereka bisa bertemu langsung dengan raja tanpa harus melakukan sesuatu yang menguras tenaga lagi. Cara sederhana dan simpel itu mampu membawa mereka masuk istana dengan mudahnya.
__ADS_1