
Mengingat semua kejadian yang telah berlalu membuat air mata Jendral Han jatuh dengan sendirinya. Mengingat betapa sedih kehidupan putrinya yang tidak pernah merasakan kaaih sayang seorang ibu membuatnya kian merasakan sakit.
Namun hal sudah mengganjal di hatinya selama bertahun-tahun lamanya belum juga terjawab, bahkan ia sudah melakukan penyelidikan di kediamannya sendiri tanpa di ketahui siapapun. Hasil yang ia dapatkan hanya menunjukkan jika istrinya meninggal karena terdapat unsur kesengajaan dari seseorang yang sengaja memberi racun pada Lea.
Tetapi siapa orang tersebut ia belum dapat memastikannya dengan jelas karena racun yang di berikan berasal dari sebuah tanaman yang hanya ada di puncak pegunungan dan sangat mustahil untuk mendapatkannya. Siapa yang memberi racun itu dan siapa yang mampu mengambilnya dari tempat seperti itu batinnya.
Karena asik dengan lamunannya sendiri, Jendral Han bahkan tidak menyadari jika Min putranya sudah berada di taman tersebut dan memperhatikan semua yang ia tingkahnya. Bahkan ketika Min menghapus air matanya ia belum juga kembali ke dunia nyata dan masih melamun.
Hingga akhirnya Min menepuk Bahunya dan memanggilnya barulah ia tersadar, bahkan hampir saja ia terjatuh dari duduknya jika saja Min tidak memegangnya.
"Ayah" kata Min menahan tubuh ayahnya
"Huh, kenapa tidak beri tahu ayah jika datang kemari?" tanya Jendral Han memperbaiki duduknya
"Apa aku perlu lapor jika masuk sini? biasanya juga tidak perlu" jawab Min santai
"Yah, lalu mengapa kamu kemari ada masalah!" tebak Jendral Han.
"Iya yah dan masalah ini sangat rumit" ucap Min memasang wajah sedih yang membuat ayahnya penasaran karena tidak biasanya putranya itu tidak dapat menyelesaikan masalahnya.
"Tumben sekali, memangnya masalah apa?" penasaran Jendral Han
"Aku rindu Lae kecil yah, dulu aku selalu menjaganya dan melindunginya bahkan jika terjadi sesuatu padanya apapun itu aku pasti tahu, tapi sekarang aku tidak tahu apa pun lagi tentangnya" keluh Min sendu
"Lea kecil kita sudah memiliki orang yang tepat untuk melindunginya, ayah yakin ia akan bahagia dengan kehidupannya sekarang" jelas Jendral Han menenangkan putranya.
__ADS_1
"Aku rindu padanya yah, sebaiknya kita undang saja dia ke acara ulang tahun Eun karena bagaimana pun juga ia tetaplah nona muda disini" kata Min
"Iya kita memang harus mengundangnya, jika tidak ia pasti akan marah pada kita hm" Jendral Han menepuk pundak putranya dan di balas senyuman oleh Min.
Di kediaman Pangeran Jun sendiri sedang ada acara bersih-bersih taman obat atau lebih tepatnya Putri Lie sendiri yang melakukan hal tersebut dengan di bantu beberapa pelayannya. Sedari selesai sarapan Putri Lie sudah mengerahkan anggota paviliunnya untuk membersihkan semua halaman dan lingkungan paviliun.
Bahkan Putri Lie banyak menanam bunga yang dapat memperindah paviliunnya itu. Ada juga beberapa pohon sakura dan persik yang ia tanam di sekitar agar tempat tinggalnya semakin sejuk dan menyenangkan untuk di tinggali.
Tanaman obat Putri Lie di kerjakan langsung oleh si empunya agar tidak ada yang salah, sedangkan pelayannya ia suruh istirahat saja padahal mereka baru satu jam bekerja. Jadilah Putri Lie bekerja dengan banyak mandor di sekitarnya yang melihat yang tidak lain adalah para pelayannya sendiri yang tidak berani meninggalkan tuannya.
Pangeran Jun yang melihat kesibukan di paviliun Putri Lie segera datang menghampiri, ia melihat semua pelayan bekerja sesuai tugas masing-masing. Para pengawalpun tidak luput dari pekerjaan tersebut, pengawal yang sudah di pilih putri Lie bertugas untuk mencari dan menanam pohon yang ia minta.
Kejadian itu tidak lepas pula dari kedua pengawalnya Jei dan Tei yang ikut kotor-kotoran bekerja bersama yang lainnya, bahkan wajah Tei sudah dihiasi tanah hitam dan beberapa rumput yang ia potong.
"Dasar malas, apa kau tidak malu dengan Permaisuri yang bahkan tidak takut kotor dan memilih membersihkan sendiri taman obatnya itu" celetuk Jei geram karena Tei yang sedari tadi berbicara tanpa henti.
Benar apa yang Jei katakan jika Putri Lie membersihkan taman obat dengan tangannya sendiri karena itulah yang memang dilihat oleh Pangeran Jun. Perlahan Pangeran Jun mendekati Putri Lie yang masih belum menyadari ke datangannya karena terlalu menikmati pekerjaannya.
Pelayan yang melihat ke datangan tuan mereka menjadi takut dan hampir bersuara jika saja tidak di beri kode oleh Pangeran Jun agar diam. Akhirnya mereka semua mundur perlahan yang tadinya diam melihat Putri Lie bekerja kini menjauh karena diminta Pangeran Jun menyngkir.
Karena ia juga ingin tahu bagaimana Permaisurinya itu dapat melakukan hal yang tidak mungkin di lakukan oleh wanita berstatus hebat sepertinya, maka Pangeran Jun memilih memperhatikan Putri Lie mengolah taman itu sendiri.
Tangan putih dan mungilnya bergerak lincah mengolah setiap tanah, rumput dan tanaman agar menjadi lebih rapi dan bersih. Bahkan ia tidak takut dengan hewan yang menempel di tangannya dan dengan santai Putri Lie memegang lalu menyingkirkannya.
Pangeran Jun menjadi sangat mengagumi sosok cantik di depannya yang tidak takut kotor dan terluka karena tanah juga tidak takut kulit hitam dan rusak karena panas matahari. Permaisurinya tetap santai melakukan pekerjaannya tanpa perduli sekitarnya.
__ADS_1
Takut istrinya sakit karena kelelahan, akhirnya Pangeran Jun menghentikan pekerjaan Putri Lie untuk membawanya berai-bersih.
"Permaisuri Jun sangat rajin ya" kata Pangeran Jun
"Tidak juga aku hanya senang ketika melihat semua tumbuhan tumbuh sehat dan subur" jawab Putri Lie
"Benarkah, lalu mengapa tidak meminta pelayan saja yang melakukannya?" tanya Pangeran Jun
"Karena aku suka melakukannya dan pelayan-pelayan itu sudah lelah setelah satu jam bekerja jadi biar istirahat dulu" santai Putri Lie belum menyadari keberadaan suamninya.
"Bagaimana jika suamimu tahu hal ini, apa kamu tidak takut di marah?" tanyanya lagi
"Diamlah dan jangan katakan padanya tentang ini, lagi pula untuk apa marah aku tidak melakukan kesalahan" Putri Lie berdiri kemudian berbalik.
Alangkah terkejutnya Putri Lie karena sudah mendapati Pangeran Jun berdiri di belakangnya. Hampir saja ia terjatuh jika saja Pangeran Jun tidak cepat menahan pinggang istrinya agar tidak terjadi sesuatu padanya.
Putri Lie tersenyum masam pada Pangeran Jun karena sudah menyadari apa yang baru saja terjadi. Pelukan Pangeran Jun di pinggang Putri Lie berubah menjadi gendongan yang menyebabkan Putri Lie kaget namun masih dapat di sembunyikan.
"Selesaikan sisanya" kata Pangeran Jun dingin dan membawa Putri Lie yang meronta di gendongannya.
"Turunkan aku suaminku, aku masih bisa berjalan pekerjaanku juga belum siap" ronta Putri Lie
"Sudah cukup bermainya sekarang waktunya bersih-bersih" ucap Pangeran Jun santai tetap membawa istrinya.
"Siapkan semua keperluan Permaisuri" lanjutnya melihat Mei lalu melanjutkan langkahnya. Mei segera menyiapkan semua keperluan yang di minta tuannya karena takut dengan sikap dingin Pangeran Jun.
__ADS_1