Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
62


__ADS_3

Perjalanan berlanjut setelah istirahat untuk mengisi tenaga, butuh waktu lama hingga mereka tiba di kerajaan pada pagi esoknya dan di sambut oleh keluarga kerajaan yang sudah menanti kedatangan mereka.


Raja dan Ratu Xiao tersenyum melihat putra fan menantu yang baru saja turun dan mendekat pada mereka berdua. Dengan tangan yang terbuka lebar Ratu Xiao ingin memeluk menantu yang cantik namun putranya lebih dulu datang memeluknya erat.


Semua orang tentu kaget dengan apa yang di lakukan pangeran mereka yang dingin itu, karena tidak ingin semua orang melihatnya menangis maka ia membawa ibu dan istrinya ke paviliun ibunya.


Sedangkan Raja Xiao yang melihat tingkah aneh putranya sangat ingin ikut dengan mereka tapi ia harus mendengar lebih dulu laporan dari Jendral Han dan Panglima Min yang juga ikut pulang bersama anaknya.


Di paviliun raja dan ratu, Pangeran Jun memeluk ibunya erat dan menggumamkan kata maaf berulang kali seraya menangis. Ratu Xiao tidak dapat menyembunyikan air mata bahagianya lagi mendengar ucapan putranya itu.


"Maafkan aku ibu karena selama ini sudah mengabaikan ibu dan tidak pernah melihat keberadaanmu jika sedang bersamaku, aku selalu bersikap cuek dan jahat pada ibu, maafkan aku ibu" ucap Pangeran Jun menyesal.


Ratu Xiao menepuk pelan pundak tegap anaknya.


"Ibu sudah memaafkan semua salahmu nak, tidak pernah sekalipun ibu mempermasalahkan sikapmu pada ibu, selama kamu baik-baik saja ibu sudah sangat senang" sahut Ratu Xiao.


Putri Lie yang melihat adegan di depannya hanya menunduk dengan sedih karena rindu ibunya yang sudah tiada. Di kehidupan sebelumnya mama tewas terbunuh lalu di sini juga ibuku terbunuh, kenapa semua jadi begini batinnya.


Ratu Xiao tahu kesedihan menantunya itu jadi dia mendekatinya dan memeluk penuh kasih pada istri anaknya itu agar tidak lagi sedih. Kehangatan kembali di rasakan Putri Lie saat ibu mertuanya memeluknya, iapun membalas pelukan itu pula dengan rasa haru karena ia dapat merasakan kembali pelukan seorang ibu setelah kehilangan kedua ibunya.


"Jangan menangis sayang ibu di sini, kamu putri ibu juga jadi jangan pernah merasa kehilangan ibu ya" ucap Ratu Xiao tersenyum yang hanya mendapat anggukan dari menantunya.


Ratu Xiao membawa anak dan menantunya ke paviliun Saga tempat yang dulu di gunakan Pangeran Jun kecil tinggal. Di sana Pangeran Jun segera ingin memanggil tabib tapi di halangi ibunya.


"Pelayan panggil tabib kerajaan" ucap pangerna Jun menimbulkan tanya ibunya.


"Siapa yang sakit Jun?" tanya Ratu Xiao heran karena sepenglihatannya kedua anaknya sehat-sehat saja.


"Aku ingin tahu istriku hamil atau tidak ibu karena perutnya yang sedikit buncit" jawabnya lugas.

__ADS_1


"Tidak perlu" kata Ratu Xiao saat melihat perubahan wajah menantunya.


Perut Putri Lie di pegang dann sedikit di tekan oleh Ratu Xiao, ia tidak merasakan apa pun pada perut menantunya. Jadi bisa di pastikan jika menantunya belum hamil.


"Istrimu belum hamil buat apa panggil tabib, mau istrimu malu karena belum hamil" ketus Ratu Xiao pada Pangeran Jun.


Raut kecewa tampak di wajah Pangeran Jun tetapi ia tidak mau terlalu menunjukkannya karena tidak ingin istrinya berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Kamu kurang manjur seperti ayahmu, bahkan untuk kehadiranmu saja ibu harus menunggu setahun lebih hingga ibu suri yang tidak sabaran itu memberikan ayahmu selir srbanyak itu" lanjutnya kesal.


Sekarang Pangeran Jun tahu kenapa ia belum di beri anak karena ibunya juga dulu seperti iti jadi ia hanya diam dan akan terus berusaha dan bersabar tanpa banyak tuntutan lagi oada istrinya yang belum hamil. Ia tidak ingin punya selir banyak seperti ayahnya, tinggal dua saja pusing bagaimana jika satu harem bisa mati muda aku batinnya.


Sedangkan Putri Lie hanya diam saja mendengarkan perbincangan ibu dan anak itu, ia juga sebenarnya sedih karena belum hamil tetapi mungkin belum rezeki pikirnya. Ia sudah bertekat akan melakukan apa yang sudah ia yakini sebelumnya untuk mengembalikan bentuk tubuh dan tenaganya yang masih lemah karena tubuh yang ia tempati juga sangat lemah akibat banyak obat yang di berikan selir ayahnya.


Aku harus cepat mengembalikan semuanya dan melatih tubuh ini lebih kuat lagi agar bisa menghancurkan siapapun yang menggangguku batinnya bertekat kuat.


Setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan selama beberapa hari ini, Pangeran Jun pergi meninggalkan Putri Lie dan Ratu Xiao di paviliun karena ia akan melaporkan tentang tugasnya yang sudah selesai. Sebelum pergi ia mengecup kening Putri Lie lembut dan tersenyum manis lalu pergi dari kedua wanita yang di cintainya itu.


Semua yang hadir di sana sedang mendengarkan penjelasan dari Jendral Han mengenai pemberontak yang mereka atasi.


"Keimu dan semua prajuritnya sudah habis dan tidak tersisa lagi Yang Mulia Raja, bahkan desa kecil tempat para prajuritnya itu sudah kami bantai habis yang sebenarnya mereka hanya memanfaatkan Keimu dan orang-orang hutan Barat untuk kesenangan sendiri. Setelah mereka mendapatkan semua keperluan yang di butuhkan barulah mereka akan menghabisi Keimu dan Suhi lalu menyerang kerajaan dengan paukan mereka yang sudah siap tempur" jelas Jendral Han.


Raja Xiao yang mendengar nama Keimu di sebut jadi sangat kaget karena tidak menyangka jika kakaknya yang dulu pernah memberontak itu kembali memberontak lagi dengan cara seperti itu.


"Apa Keimu mengatakan sesuatu pada kalian?" tanya Raja Xiao


"Tidak Yang Mulia Raja karena saat kami tiba di sana keadaan Keimu dan Suhi sudah meninggal dengan mengenaskan karena racun yang selama ini di gunakannya untuk menyiksa warga desa" jawabnya.


"Bagaimana bisa ia memakan apa yang ia berikan pada orang lain untuk menyiksa? setahuku dia bukan orang yang akan dengam bodohnya bunuh diri apa lagi ambisinya belum tercapai" kaget Raja Xiao.

__ADS_1


"Kami juga tidak tahu pasti Yang Mulia Raja, hanya itu saja yang di sampaikan Yang Mulia Pangeran pada kami saat melihat jasad Keimu dan Suhi yang sudah ada di gudang" ucap Jendral Han.


Tidak lama masuklah Pangeran Jun ke dalam aula istana menghadap pada ayahnya.


"Salam hormat ayahanda" kata Pangeran Jun menunduk lalu kembali tegak berdiri.


Melihat anaknya datang membuat Raja Xiao langsung bertanya tentang apa yang terjadi pada Keimu.


"Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi pada Keimu dan temannya! juga bagaimana keadaan desa Ruhai yang sebenarnya?" cecarnya.


Dengan wajah datar dan dinginya Pangeran Jun mulai menjelaskan secara singkat dan padat.


"Air terjun Ruhai di bendung lalu di alirkan pada desa kecil tempat pemberontak tinggal, air yang mengalir ke desa di beri daun yang bergetah sedang getahnya berbahaya bagi kesehatan. Obat yang di berikan tabib desa sudah di campur racun agar warga semakin menderita, pemberontak juga bekerja sama dengan kepala desa untuk mengirim laporan palsu kekerajaan. Penjaga yang bertugas di ikat di dekat air terjun Ruhai" ucap Pangeran Jun.


Karena belum puas dengan apa yang di dengar Raja Xiao bertanya lagi.


"Ceritakan tentang Keimu dengan jelas Pangeran Jun Xiao" desaknya.


Mendengar namanya di sebut demikian lengkap Pangeran Jun hanya bisa menjelaskan semuanya karena jika sudah begitu ia akan terus di desak.


"Keimu dalang di balik semua itu, ia merencanakannya untuk balas dendam melalui desa Ruhai dan menculik keluarga kepala desa dan juga tabib agar mau menuruti semua ucapannya. Demi keluarga mereka melakukan itu semua tetapi warga sangat menderita karenanya dan yang menyebabkan Keimu dan Suhi membusuk di gudang karena obat yang kami berikan padanya, obat itu yang sering di gunakan tabib untuk meracuni warga. Dengan dosisi tinggi juga bekas luka di dadanya karena pedangku maka ia seperti itu" jelasnya.


"Kenapa Keimu bisa kena pedangmu?" tanya Raja Xiao lagi


"Karena dia menyerangku di desa juga akan mencelakai Permaisuriku jadi kami bertarung" jawabnya singkat.


Raja Xiao menghela nafasnya sejenak, tidak masalah Keimu mati itu balasan untuknya yang sudah banyak membunuh batinnya. Pandangannya kembali pada Pangeran Jun yang masih dengan wajah dingin dna datarnya.


"Karena sudah dapat mengatasi bencana di desa Ruhai dan menangani pemberontak itu maka Pangeran Jun akan mendapat tugas baru. Dua minggu lagi Pangeran Jun dan Panglima Min harus pergi ke perbatasan di Utara sedangkan Jendral Han perbatasan Timur, kalian harus mengatasi perselisihan di sana hingga selesai" titah Raja Xiao mutlak pada mereka bertiga.

__ADS_1


"Hakim Zhang pergi ke desa Ruhai dan hukum tabib juga kepala desa itu sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan dan ganti semua pejabat di sana. Umumkan kabar itu pada setiap desa sebagai pelajaran bagi semua pejabat agar tidak mengorbankan warga demi kepentingan pribadi, mereka bisa datang ke istana untuk meminta bantuan jika penjaga di desa tidak mampu mengatasi masalah dan bagi siapa yang melanggar akan di kenakan sangsi sebagai pemberontak negara" tegas Raja Xiao.


Hakim Zhang segera meluncur ke tempat tujuannya sesuai perintah raja, ia juga merasa malu karena semua pejabat desa adalah orang-orang pilihannya atas perintah raja. Tidak akan aku beri ampun kalian yang sudah membuat malu batinnya kesal.


__ADS_2