
Ada sesuatu yang masih menjadi pertanyaan dalam pikiran Putri Lie yang sepertinya sulit untuk di keluarkan, entahlah dia hanya takut akan kenyataan yang didengarnya akan sangat menyakitkan.
Pangeran Jun sadar akan apa yang ada di pikiran istrinya.
"Vi kita harus menjelaskan semua pada istriku yang cemburuan ini agar tidak terus salah paham" ucap Pangeran Jun di angguki setuju oleh Selir Nan.
Semakin bingunglah Putri Lie akan keadaan yang sedang terjadi di antara mereka hingga banyak menimbukkan spekulasi buruk di oraknya. Berapa banyak rahasia yang mereka punya? tanyanya dalam hati.
"Permaisuri, namaku adalah Yun Suvi, sebenarnya aku seorang permaisuri dari kerajaan di Utara kalau suamiku dia seorang Putra Mahkota di kerajaan Hun" ucap Selir Nan atau Permaisuri Yun yang membuat Putri Lie semakin tidak mengerti saja.
Melihat kebingungan di wajah Putri Lie, Selir Nan langsung menjelaskan lagi secara singkatnya agar tidak membingungkan.
"Jadi begini Permaisuri Jun, kerajaan Hun itu sebenarnya milik suamiku dan dia yang akan menjadi raja selanjutnya setelah kematian raja Hun terdahulu alias mertuaku. Tapi ternyata anak dari ibu ratu tidak terima dengan hal tersebut dan menggulingkan tahta ayah mertua lalu mengambil alih kerajaan dengan paksa setelah ia membunuh raja juga ratu ibunya" kata Permaisuri Yun sendu.
"Bisa jelaskan intinya saja aku tidak mengerti, kenapa juga dia harus membunuh ayah dan ibunya hanya karena tahta jika dia anak ratu? bukankah dia lebih berhak atas tahta itu?" bingung Putri Lie.
Permaisuri Yun menghela napasnya sejenak lalu kembali menjelaskan semuanya.
"Orang yang sekarang menempati posisi Raja itu bukan anak kandung Raja dalam artian dia anak Ratu dengan orang lain, sedangkan suamiku anak Permaisuri dan memang dia anak laki-laki Raja yang sesungguhnya. Awalnya ayah mertua tidak tahu jika dia bukan anaknya tapi saat acara penobatan Putra Mahkota, Raja mengetahui semuanya ketika tidak sengaja menemukan sebuah surat yang bertuliskan tangan milik Ratu dari seorang pria. Di situ juga tertulis jelas jika pria itu mengatakan anaknya harus jadi Raja saat ayah mertuaku tiada nanti dan dia meminta agar Ratu segera merencanakan pembunuhan pada Raja secara halus agar tidak ada yang mencurigai" tanpa terasa air mata Permaisuri Yun menetes mengingat nasib keluarga yang hancur.
"Jangan di teruskan jika tidak mampu" ucap Putri Lie mengelus tangan Permaisuri Yun.
Permaisuri Yun menggeleng karena ia sudah yakin akan bercerita jadi harus tuntas.
"Intinya ayah mertua marah tapi ditahan hingga saat calon Putra Mahkota akan di nobatkan, ayah mertua memanggil suamiku maju dan menobatkannya sebagai Putra Mahkota. Semua sangat kaget dengan apa yang terjadi bahkan suamiku tidak bergerak sedikitpun, Sun yang tidak jadi di nobatkan sebagai Putra Mahkota sangat marah karena awalnya dia yang akan di nobatkan. Karena tidak ingin ada kekacauan Raja membubarkan acaranya dengan cepat dan mengumpulkan semua anggota keluarga, disitu barulah semuanya ketahuan bahkan Ratu di buang ke istana dingin akibat perselingkuhannya. Sun tidak di salahkan karena dia tidak tahu siapa ayah kandungnya, yang dia tahu hanya Raja ayahnya tapi ternyata dia anak dari seorang Jendral yang langsung mendapat hukuman mati" Permaisuri Yun memeluk Putri Lie agar lebih kuat untuk bercerita.
Sedangkan Putri Lie hanya mampu menenangkan sebisanya dengan mengusap punggungnya pelan.
"Sun berontak saat itu juga bahkan melayangkan pedang pada ayah mertuaku, untung saja suamiku cepat dan menyerangnya balik hingga jatuh lalu beberapa pengawal datang dan menahannya ke penjara untuk di hukum. Tapi sesuatu terjadi saat pagi akan di lakukan putusan sidang padanya, dia menghilang dari penjara tanpa di ketahui, semua keamanan di tingkatkan dan dia jadi buron. Dan ternyata yang membebaskannya pamannya yang sangat berambisi seperti ayahnya, kekasihnya Rene membantunya dengan menjadi pelayan dan meracuni Raja tapi tidak berhasil, akhirnya mereka menyerang di tengah malam saat semua orang lengah. Suamiku memintaku pergi saat mengetahui penyerangan itu meski aku tidak mau tapi aku harus pergi karena sedang hamil, demi kandunganku, aku pergi dari bersama seorang pengawal pribadi suamiku lewat jalan rahasia. Aku tidak tahu sudah sampai dimana jalanku, yang pasti saat aku dan pengawal suamiku bertemu suamimu di jalan mereka saling kenal jadi dia membawaku kemari dan menyamarkan identitasku sebagai Selir Nan juga tambahan ini" Permaisuri Yun menunjuk tahi lalat di dekat matanya juga sedikit kusam di bagian keningnya untuk penyamaran.
__ADS_1
"Lalu kenapa harus jadi selir?" tanya Putri Lie.
Permaisuri Yun tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Putri Lie.
"Karena hanya dengan begitu dia aman di sini sembari menunggu kabar yang terus di berikan oleh pengawal Putra Mahkota Yun" jawab Pangeran Jun santai.
"Aku tidak tanya kamu!" galak Putri Lie pada suaminya yang hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Bagaiman kabar kerajaan Hun sekarang?" tanyanya lagi.
"Sun menjadi Raja setelah menangkap ayah mertua dan suamiku, mereka di kurung di penjara bawah tanah dalam hutan tempat hukuman bagi para penghianat negara Hun akan di hukum mati" jawab Permaisuri Yun.
"Lalu apa mereka di hukum mati oleh matahari itu?" pertanyaan Putri Lie membuat bingung kedua orang di sisinya
"Ah maksudku oleh Sun" ralatnya.
"Belum pasti karena akses di jaga ketat di sana dan tidak boleh menyebarkan informasi sembarangan jika tidak ingin di bunuh" Permaisuri Yun menundukkan kepalanya sedih memikirkan suami, ayah dan ibu mertuanya.
Perlahan pelukan terlepas, Permaisuri Yun memandang Putri Lie dengan senyuman manisnya yang memang sangat cantik.
"Bolehkah aku bertanya beberapa lagi?" tanya Putri Lie.
"Itu sudah bertanya" jawab Pangeran Jun.
"Diam Jun atau aku benar-benar membunuhmu" ucap Putri Lie galak dengan tampang sangarnya namun tidak mempan bagi Pangeran Jun yang kembali berbaring membiarkan kedua wanita itu saling curhat.
"Bukankah waktu acara penyambutan panen ada kerajan Hun dari Utara itu, apa mereka tidak mengenalimu?" tanya Putri Lie.
"Tidak, samaran ini sangat amouh mengecoh mata mereka yang hanya memandang wanita cantik seperti dirimu yang sudah jadi incarannya" Putri Lie kaget mendengar ucapan itu.
__ADS_1
"Incaran bagaimana?" bingungnya.
Permaisuri Yun membelai wajah Putri Lie lembut dan tersenyum.
"Saat acara itu penutup wajahmu tanggal jadi semua orang memuji kecantikanmu yang mengalahkan adikmu Eun dan Selir lainnya, tidak terkecuali Sun yang berada di sana dia pasti sudah menyusun rencana untuk mendapatkanmu karena dia tidak segan-segan mengorbankan semuanya demi ambisinya, sekalipun anatara kerajaan Xiao dengan kerajaan Hun memilikk kerja sama pangan tapi itu tidak penting baginya yang sangat mengagumi kecantikan wanita" ucap Permaisuri Yun.
Kepala Putri Lie manggut-manggut paham tapi ada satu lagi yang masih jadi misteri baginya.
"Lalu dimana anakmu jika kamu sedang hamil waktu bertemu suamiku?" tanyanya lagi.
Tawa Permaisuri Yun pecah juga karena melihat bagaimana polosnya wajah penasaran wanita di hadapannya itu. Pangeran Jun yang penasaran langsung membuka matanya dan hanya Permaisuri Yun yang tertawa.
"Apa yang lucu?" tanya Pangeran Jun dengan polosnya diangguki Putri Lie, hingga semakin jadilah tawa Permaisuri Yun.
"Aduh perutku sakit, kalian memang sangat cocok ya kalau sedang polos sangat lucu tapi kalau serius sangat menyeramkan" kekehnya.
Putri Lie memutar bola matanya malas kemudian beranjak tapi di tahan.
"Putraku ada di paviliun Mawar bersamaku" ucap Permaisuri Yun.
Mata Putri Lie terlihat senang saat mendengarnya, ia jadi ingin segera kesana dan melihat seperti apa anak dari seorang Putra Mahkota tetangga.
"Jangan coba-coba pergi karena hukumanmu belum aku berikan" kata Pangeran Jun santai.
Permaisuri Yun berdiri dari duduknya.
"Sepertinya lain kali saja dan jika hanya kita berdua panggil aku Vi saja seperti suamimu kalau banyak orang Selir Nan supaya tidak ada yang curiga dan berbuat sesuatu di sini" ucap Selir Nan yang sudah menjadi Selir kembali.
Pandangan Putri Lie masih pada Selir Nan yang menjauh lalu keluar dari kamar Pangeran Jun dengan santainya.
__ADS_1
"Kalau bunglon banyak warna dia banyak nama, sangat cocok dia dengan bunglon" gumam Putri Lie kecil tapi dapat di dengar suaminya yang hanya tersenyum mendengarnya.