Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
120


__ADS_3

"Bagaimana kalau aku ikut menyelidiki masalah ini?" tawar Putri Lie penuh harap.


"Kamu sedang hamil sweety tidak mungkin dapat melakukan apa yang akan kami lakukan" tolak Pangeran Jun halus.


"Hamil juga belum kelihatan dan aku masih bisa bergerak tidak akan menyusahkanmu"


"Tapi itu berbahaya untuk wanita hamil, apa lagi jaraknya sangat jauh kalau kamu belum hamil aku pasti bawa kamu ikut"


"Ini kan permintaan anak kamu gimana sih" kesal Putri Lie karena ditolak.


"Nak kamu jangan minta yang aneh-aneh dulu ya" kata Pangeran Jun mengusap perut istrinya.


"Nggak usah sentuh, kita nggak temenan" tangan Pangeran Jun ditepis begitu saja oleh Putri Lie yang marah.


Pangeran Jun sendiri mulai merasa kelimpungan dengan sikap istrinya yang sangat pembangkang saat ini. Dia merasa rindu dengan sikap manja yang dulu sering dilihatnya dari istrinya ini.


Sekarang apapun yang dia inginkan jika tidka dipenuhi maka satu istana akan kelimpungan dibuatnya.


"Sweety tunggu dulu" panggil Pangeran Jun yang sudah ditinggal masuk lebih dulu.


"Huh aku akan cari jalanku sendiri nanti lihat saja" gumam Putri Lie menghentakkan kaiknya keras pada lantai.


"Hey istriku yang cantik kasihan lantainya kalau begitu menginjaknya" ucap Pangeran Jun menahan tawa karena tingkah istrinya.


"Terserah" ucap Putri Lie duduk dikursi.


"Mei siapkan makanan aku lapar"


"Baik Permaisuri" sahut Mei.


Pangeran Jun duduk disamping Putri Lie yang terlihat datar dengan wajah ditopang pada tangannya.


"Maaf Lie'er kali ini kamu harus menurut pada suamimu ini, baik-baiklah kamu dirumah ayah mertua besok setekah aku mengantarmu" ucap Pangeran Jun membujuk.


"Aku bisa pergi sendiri" tolaknya.


"Aku antar"


"Jangan dekat-dekat kalau begitu dan jangan menyentuhku sebulan penuh" ancamnya.


"Istriku tercinta kalau suamimu ini tidak ikut bagaimana dengan keselamatan kamu juga anak kita ini" Pangeran Jun menyentuh perut Putri Lie.


"Aku bisa sendiri atau tidak akan kembali padamu lagi"


Mata Pangeran Jun membola mendengar ancaman yang baru kali ini diberikan istrinya. Tidak pernah Putri Lie marah sampai begini sebelumnya.

__ADS_1


Sepertinya kali ini istri tercinta Pangeran Jun benar-benar marah.


"Baiklah jika itu kemauanmu, hanya Jei dan Wuse yang akan mengantar kamu kerumah ayah mertua bersama beberapa peng.."


"Cukup mereka berdua" sela Putri Lie yang tidak ingin banyak pengawal.


"Baik-baik sesuai permintaan ibu ratu saja lah" pasrah Pangeran Jun.


Makanan dihidangkan oleh Mei juga pelayan lainnya dimeja, setelahnya mereka mundur agar tuannya bisa makan.


Putri Lie mengambil makanan untuknya sendiri tanpa perduli dengan suaminya.


"Istriku, mana makanan untuk suamimu?"


"Ambil sendiri"


"Biasanya kamu yang ambilkan!"


"Malas kamu bikin kesel"


Huh, Pangeran Jun mengalah dan mengambil makannya sendiri sembari menatap istrinya yang makan sangat lahap. Setidaknya istrinya ini tidak pernah mual seperti yang pernah ayahnya ceritakan padanya tentang kehamilan ibunya dulu ketika mengandung dirinya.


Raja Xiao pernah bercerita pada Pangeran Jun bagaimana ganasnya istrinya sewaktu hamil. Makan sangat banyak, meminta yang aneh-aneh dan diluar dugaan.


Selain itu apapun yang dia inginkan harus dari tangan suaminya sendiri. Jika ada pertemuan pada siapapun maka dia harus ikut.


Selain itu mual muntah tiap pagi dan sore juga tidak selera makan membuat raja sangat tidak tega. Apa lagi hal itu terjadi selama empat bulan pertama kehamilannya.


Setelah masa mual muntahnya hilang giliran suaminya yang kena imbas dengan sering diacuhkan juga tidak dimanja lagi. Namun saat itu raja memaklumi sikap istrinya yang sedang hamil itu.


Pangeran Jun sendiri bersyukur karena istrinya tidak seperti ibuny dulu meski menurut orang tuanya kehamilan istrinya lebih mengerikan dari ibunya dulu tapi Pangeran Jun tidka mempermasalahkan hal itu.


Ia juga berpikir mungkin anaknya akan bersifat lebih galak darinya nanti jika sudah besar. Atau malah lebih beku lagi darinya, apa lagi sifat istrinya yang berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya.


Istrunya sangat suka memanjat dan melakukan hal yang mengerikan hingga dia kesulitan menjaga dan mengawasi gerakannya. Sikapnya juga sering acuh juga sangat dingin padanya tanpa ada sebabnya.


Mungkin ini yang namanya karma berjalan dan nyata. Dulu ketika kecil hingga dewasa diapun bersikap demi kian pada orang tuanya terutama ibunya.


Bahkan ucapan ayahnya dia abaikan jika bukan perintah atas nama raja.


Pangeran Jun tidak pernah mendengarkan nasehat orang tuanya meski dalam diam ia memperhatikan ayah ibunya.


Akan seperti apa sikap anaknya nanti Pangeran Jun sudah dapat menebaknya dan dia harus mencari cara agar hal yang serupa tidka terjadi pada anaknya yang akan menuruni sikapnya itu.


"Jangan jangan" ucapnya tanpa sadar sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Apanya yang jangan?" tanya Putri Lie heran


"Ah tidak ada, aku hanya memikirkan cara pengintaian sekaligus penyerangan jika diperlukan yah itu" jawab Pangeran Jun datar menahan gugupnya.


Putri Lie hanya mengangkat bahunya tidak perduli. Bahkan wajah datar suaminya ia abaikan begitu saja, tidak penting juga pikirnya.


Selesai makan Pangeran Jun masuk kedalam ruang bacanya bersama orang-orangnya yang akan dia bawa menjalankan tugas.


"Jei dan kau Wuse kalian ikut Permaisuri kekediaman Jendral Han besok, sisanya kalian ikut denganku untuk pengintaian tempat yang dikatakan orang itu.."


"Jie siapkan pasukan secukupnya tanpa menimbulkan keributan, bawa mereka kesana nanti seorang prajurit bayangan akan memberimu kode dimana kalian bisa menunggu perintah selanjutnya.."


"Jika semua kabar itu benar, maka kita akan langsung menyerang habis mereka. Aku juga ingin membunuh keluarga Rie sialan itu, ternyata mereka tidak sampai ke pulau pengasingan" geram Pangeran Jun.


"Ternyata wanita itu sangat ahli menggoda ya hingga dapat membuat ketua kelompok itu bertekuk lutut padanya" ujar Jei.


"Lebih tepatnya wanita penggoda itu memberikan janji muluk-muluk pada ketuanya yang ternyata bodoh dan tidak pernah dekat perempuan hingga mampu di kendalikan" sahut Tei.


"Sebenarnya ketuanya bukan dikendalikan tapi karena bujuk rayu juga diberikan tubuh jadi dia mau" sela Jie.


"Yein itukan sebenarnya gadis lengan merah yang berwajah dewi untuk menipu orang, untuk sudah dibuang" ucap Jei.


"Hey kalian aku pernah melihat Yein itu pergi kerumah bordil tanpa sengaja ketika mereka sudah akan dikirim ke pulau pembuangan" kata Wuse yang sejak tadi diam.


"Benarkah lalu!"


"Pagi mereka pergi malam sebelumnya dia berkunjung kesana diam-diam lalu menemui seorang pria yang terlihat sangat kekar dan kuat, kalian tahu apa yang mereka lakukan?" kata Wuse mendramatisir ceritanya.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya ketiga temannya dengan wajah penasaran.


Pangeran Jun juga sebenarnya penasaran tapi dia lebih memansang wajah datar supaya tidak kentara penasarannya.


"Aku saja bertanya pada kalian kenapa kalian balik tanya lalu aku harus tanya siapa lagi" ucap Wuse tenang seakan tidka terjadi apapun.


"Kau yang melihatnya kan?" tanya Jei


"Iya" jawabnya.


"Lalu apa yang mereka lakukan dimalam itu?" tanya Tei penasaran tingkat tinggi.


"Aku tidak tahu, tidak penting juga untuk apa di urusin mending pergi" jawab Wuse santai.


Keempat pria yang tadi penasaran akan kelanjutan ceritanya langsung bubar masing-masing dengan rasa kesal karena dipermainkan oleh Wuse.


"Hey-hey kalian mau kemana?" tanya Wuse heran dengan kepergian teman juga tuannya.

__ADS_1


Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaannya jadi diapun ikut pergi juga dari sana.


__ADS_2